Thursday, February 24, 2011

A Valentine Afternoon With Duncan Sheik



Masih ingat Duncan Sheik yang dikenal dengan hits singlenya di tahun 90-an seperti Wishful Thinking, Bite My Tongue, dan Barely Breathing? Empat belas tahun kemudian, ia bersama Rachael Yamagata menggelar konser di Denpasar & di Jakarta tepat di hari Valentine 2011.

Duncan dan Indonesia

Tidak seperti kebanyakan musisi asing yang hanya menghabiskan satu dua malam di negara tujuan konsernya, Sheik sudah berada di Indonesia selama lebih kurang tiga minggu di Bali. Tidak heran, kulitnya tampak merah terbakar setibanya di Jakarta. Baginya, Indonesia ternyata bukanlah negara asing karena teman semasa kuliahnya tidak lain adalah orang Indonesia. Bahkan di New York, ia mengaku cukup akrab dengan makanan Indonesia seperti ayam bakar dan nasi goreng! Kalau kebanyakan orang asing anti dengan makanan pedas, tidak untuk Sheik “I only eat spicy food!”. Setelah menutup konsernya di Jakarta, Sheik akan kembali menikmati cerahnya matahari Ubud.

Duncan dan Hantu di Album Whisper House

Sering mengusung musik rock alternative, Sheik justru memenangi Grammy Awards 2008 untuk kategori Best Musical Show Album untuk album Spring Awakening. Sheik sendiri mengaku tidak begitu mencintai musik teatrikal itu, karena awalnya ia hanya membantu temannya di album Spring Awakening dengan satu syarat, “If only I can express my own aesthetic in music”. Tentang album teranyarnya, Whisper House yang dianggap orang lebih gloomy dibanding album-album terdahulunya, Sheik hanya menjawab sambil berkelakar, “That album is a ghost story. Ghosts are gloomy, right?”. Baginya, genre musiknya tidak perlu dikotak-kotakan selama ia masih bisa menikmati karya jenius lintas era mulai dari Peter Gabriel, Depeche Mode, The Smith, sampai New Order.

Duncan dan ‘World Peace’

Sheik masih percaya musik adalah cara terbaik menyebarkan cinta apalagi sejak ia mendalami ajaran Budha yang membuatnya jauh lebih tenang dan positif. “It’s simply, will be less war, less stupidity, less cruelty if the first thing to do is simply change yourself!’


Also featured on Geeksbible.com

Thursday, February 03, 2011

For The Golden Era of Rabbit

3 Februari 2011 saatnya merayakan tahun baru China 2562 dan masuk ke tahun kelinci logam. Sebagai orang yang kebetulan bershio kelinci, tentunya saya cukup menyambut tahun ini dengan banyak pengharapan. Sayangnya, menurut salah satu ahli fengshui Tan Hoat Sun yang saya undang di acara Breakfast Club Cosmopolitan FM, rabu lalu, untuk tahun kelinci justru yang bershio kelinci kurang beruntung. Shio yang menanjak tahun ini adalah babi dan kambing. Untuk peruntungan bisnis juga baik peluangnya di sektor minyak dan investasi. Akhir 2010 lalu, saya sempat berpikir untuk mencoba bisnis online kecil-kecilan. Niat itu nampaknya perlu saya tunda dulu, bukan sekadar karena prediksi Koh Tan tetapi juga alasan menabung kepentingan lainnya, misalnya menggantinya dengan berkunjung ke negeri China,AMIN!

Well, lepas dari semua prediksi permulaan tahun kelinci logam ini, mari kita buat pengharapan sebesar-besarnya, dengan niat yang tulus semurni logam emas and let it shine!

Zhu Nimen Xin Nian Kuai Le ;)








Duo Produser Breakfast Club


Xiao Mei yang beneran Imlek :p

Beberapa hasil photoshoot tim Cosmopolitan FM

Saturday, January 22, 2011

Which One is Part of Ne-Yo's List?

2011 konon dibanjiri konser musisi mancanegara sejak kwartal pertama tahun ini. Antrian mengular di beberapa lokasi yang ditentukan para promotor dengan harga yang tidak murah itu ternyata tidak menyurutkan minat calon penonton yang haus akan hiburan musik tersebut.
Tahun 2011 ini, musim konser dibuka oleh Ne-Yo, solois R&B asal Amerika akhirnya benar-benar menjejakkan kaki di Jakarta dan menggelar konser perdananya sejak album teranyarnya, Libra Scale dirilis. Konser yang sempat heboh karena tadinya Ne-Yo sempat mau disandingkan dengan Chris Brown beritanya masih simpang siur bahkan sampai tiketnya sudah terjual. Calon penonton dikejutkan dengan pernyataan di akun twitter Chris Brown yang menyatakan ia tidak akan mengadakan tur ke Indonesia. Tentunya publik merasa tertipu tetapi akhirnya Sentralive, promotor konser Ne-Yo benar-benar mendatangkan penyanyi sekaligus penulis lagu yang populer dengan lagu 'So Sick' ini.



Sabtu 22 Januari 2011 dengan lokasi Istoran Senayan, ribuan fans Ne-Yo sudah hadir sejak pintu dibuka jam 4 sore. Pintu Istora Senayan sendiri baru dibuka jam 7 malam,lebih kurang 3 jam penonton 'dipaksa' menikmati makanan & minuman serta lounge khusus yang dibuat layaknya festival musik yang sering diadakan.



Jam 8 malam, mulai terdengar hingar bingar dari dalam venue. Bukan Ne-Yo tetapi Soulvibe, salah satu band pembuka dari 3 band dan 2 DJ yang disiapkan untuk memanaskan suasana Istoran Senayan. Lanjut, Maliq and The Essentials dan Ello. Ello sudah mencapai titik didih penonton yang tak sabar menyorakkan nama Ne-Yo terus menerus, tapi masih ada 2 DJ, Mikey Moran dan Twist yang masih ingin mengaduk-aduk emosi penonton. Di tengah sorak sorai penonton yang seakan-akan sudah tidak menginginkan kehadiran duo DJ tersebut, lagu 'Like A G6' dimainkan oleh DJ Twist. Sontak penonton langsung berteriak histeris begitu juga dengan beberapa lagu yang begitu familiar mulai dari B.E.P, Katy Perry, dan Sean Kingston membuat penonton seperti lupa dengan kebosanannya.



Hampir jam 10 ketika Ne-Yo naik ke panggung, memainkan lagu pertamanya Because of You dan menyapa "What's Up Jakarta!". Histeria penggemarnya tak tertahan lagi dan seperti koor, semuanya menyanyikan lagu-lagu hits yang dibawakan, mulai dari So Sick, Sexy Love, Single, Miss Independent, Beautiful Monster, Champagne Life dan diakhiri dengan One in A Million hits single dari album terbarunya, Libra Scale, sebelum Ne-Yo pamit dan encore. Tidak sampai 10 menit, penyanyi bernama asli Shaffer Chimere Smith, Jr. ini kembali masih dengan kostum yang sama, rompi hitam dengan kemeja ungu lengkap dengan topi andalannya.
Ne-Yo melanjutkan konser dengan Go-On Girl dan Closer sebagai closure.

Highlight konser ini ketika Ne-Yo membawakan beberapa lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Rihanna, Mario,dan Beyonce. Irreplaceable, Take A Bow, Hate That I Love You dan Let me Love You dibawakan secara medley. Lagu-lagu ini tentu mengingatkan kepiawaian Ne-Yo menciptakan lagu yang membawa penyanyinya sukses menduduki Billboard Chart selama berminggu-minggu.

Sayangnya, vokalitas dan koreografi yang maksimal kurang didukung oleh tata panggung yang terkesan minimalis dan seadanya. Panggung untuk 3 pemain musiknya terasa kosong dan minim efek visual yang hanya mengandalkan potongan video klip saja. Ne-Yo juga tidak membawa penyanyi latar atau penari latar yang kiranya bisa menambah aksi panggung Ne-Yo yang cukup teatrikal layaknya beberapa video klipnya.




Nampaknya promotor ini masih perlu banyak belajar bagaimana mengolah konser eksklusif tanpa embel-embel opening act yang berjubel, membuka beberapa pintu masuk yang efisien dan nyaman, sampai yang terpenting kepercayaan calon penonton terutama saat sudah berani menjual tiket seharusnya sudah ada kesepakatan antara artis dan promotornya karena meskipun ribuan orang memadati konser yang tiketnya mulai dari 700.000 rupiah, di luar sana mungkin ada puluhan orang lain juga kecewa dengan pengalaman buruk yang pernah Sentralive lakukan.

Bagi saya, kekecewaan terbesar saya adalah lagu Part of The List tidak masuk setlist untuk konser Ne-Yo yang mungkin hanya terjadi sekali ini saja.

Friday, January 21, 2011

Heaven's on Your Plate #3

Minggu ketiga bulan Januari 2011. Sejauh ini, makanan apa yang Anda dirindukan karena sudah lama tidak menemukannya?
Sejak 2 tahun lalu, saya menjadi penggemar baru mie Aceh. Mie yang konon mengandung ganja dalam bumbunya itu menjadi favorit saya karena pedasnya yang 'menampar' dan cara masaknya digoreng atau tumis dengan sedikit kuah atau istilahnya 'nyemek'.
Setelah satu tahun lebih absen menikmati mie Aceh, saya kembali bertemu kangen dengannya. Bisa ikut menyicipi makanan eksotik ini dan pilihan lain di bawahnya, Enjoy!

Mie Aceh Ayah, Saharjo

Perjumpaan saya kembali dengan mie Aceh! Untuk yang belum 'kenalan', mie Aceh ini bisa digoreng, rebus atau tumis (goreng dengan sedikit kuah). Biasanya dilengkapi dengan pilihan daging, seafood, polos atau kepiting. Sekadar peringatan, mie Aceh ini juaranya pedas jadi siapkan lidah Anda untuk rasa pedas yang cukup di atas rata-rata.

Total kerusakan 15.000 (daging) 25.000 (kepiting)

Iga Panglima, Gandaria

Ingin menikmati makanan Barat dengan harga miring? Iga panggang Panglima adalah pilihannya! 2 iga panggang ukuran jumbo disajikan dengan jagung dan kentang goreng hadir dengan pilihan rasa original, black pepper atau lemon. Awalnya mungkin Anda memilih untuk sharing 1 porsi berdua, tapi saya yakin di kunjungan kedua nanti satu porsi akan Anda habiskan sendiri!

Total kerusakan 65.000


Kentang Goreng Rendang, Ruma Kopi

Ingin minum kopi sambil santai browsing di seputaran Senopati? Silakan mampir ke Ruma Kopi yang letaknya tidak jauh dari lapangan Blok S. Tepatnya di lantai 2 resto Pizza Boutique, suasana cozy dan nyaman bisa didapat lengkap dengan pilihan kopi yang variatif. Kalau biasanya kopi Anda ditemani oleh pastry atau sajian ala barat lainnya, coba sahabat baru yang ada di Ruma Kopi, Kentang goreng rendang! Yes, bumbu rendang membalut kentang goreng panas lengkap dengan kelapanya. Untuk Anda yang tidak terlalu suka pedas, perpaduan East meets West cappuccino dan kentang rendang ini bisa jadi sahabat baru!

Total kerusakan 15.000

Pancake Durian, Honeymoon Dessert

Pecinta durian pasti tidak asing lagi dengan pancake durian yang terkenal di Medan, Sumatera Utara. Untuk Anda yang berada jauh dari kota tersebut, pancake yang satu ini layak coba. 2 buah pancake dengan isi krim dan durian terasa lembut dan wanginya tidak terlalu menusuk tetapi rasa asli durian tetap menancap di lidah. Rasa manisnya pas dan tidak meninggalkan after taste yang eneg.
Silakan coba di Plaza Indonesia, Mal Taman Anggrek atau Mal Kelapa Gading.

Total kerusakan <30.000


Apple Strudel, Corica

Masih dari ranah buah-buahan, franchise terkenal dari Australia, Corica terkenal dengan strudelnya. Favorit saya, Apple Strudel dengan layer pastrynya yang renyah dan krim yang pas manisnya bisa jadi pilihan untuk santap sendiri atau oleh-oleh untuk dinikmati di rumah. Nikmati langsung di Corica Mahakam dengan atmosfir yang nyaman untuk teman minum teh.

Total kerusakan 40.000 (slice)

Have a great weekend, fellas!

Saturday, January 15, 2011

Heaven's on Your Plate #2

Minggu ini saya kembali mencoba memberi beberapa review makanan yang bisa dinikmati akhir pekan ini. Ada beberapa jenis makanan berat dan pencuci mulut yang layak coba, salah satunya ada poin plus dengan dekorasi unik dan menarik untuk jadi lokasi tea-time sore hari.

Pasta di Kuningan Village
Anda pecinta pasta dengan saus tinta hitam? Papardelle ini awalnya cukup saya underestimate,setelah saya cicipi ternyata paduan sausnya dengan kerang jauh di atas rata-rata perkiraan saya.
Saya lupa nama restorannya, berlokasi di Kuningan Village nampaknya hanya ada satu gerai pasta di sana.

Total kerusakan Rp 40.000


Selain sushi, apa yang biasanya Anda cicipi di restoran Jepang spesialisasi Sushi? Saatnya cicipi sajian udang yang biasanya diolah dengan berbagai cara. Kali ini saya mencicipi Grilled Cheese Ebi di Sumo Sushi, Menteng Central. 3 buah udang yang ditaburi keju parut lalu dipanggang sampai meleleh benar-benar menu baru yang kadang saya abaikan di daftar menu resto Jepang. Porsinya tidak terlalu besar jadi bisa side dish untuk pilihan sushi lainnya.

Total kerusakan Rp 30.000

Mau duduk-duduk cantik ditemani dessert manis atau brunch yang mengenyangkan?
Mampirlah ke Apettite Senopati yang benar-benar pettite! Coba sandwhich baconnya. Berhubung tempatnya benar-benar kecil,siap-siap saja waiting list di jam-jam sibuk

Total kerusakan Rp 35.000

Tempat yang cukup populer di Kemang sejak rekolasi di tempat sebelumnya, Koi adalah tempat yang cukup menarik
Untuk disambangi. Cocok untuk afternoon tea atau teman minum cocktail, Rhubarb Crumble atau MilleFeuille *entah kenapa selalu gagal mengejanya* porsinya yang besar cukup untuk berdua.

Total kerusakan Rp 30.000- Rp 40.000

My favorite place this week goes to Ketjil Kitchen di kompleks Grand Lucky, SCBD. Apple Crumblenya terasa pas dengan porsi individunya dan dilengkapi dengan pilihan Mocktailnya, Mojito.
Interiornya yang menarik dengan sentuhan vintage.

Total kerusakan Rp 22.500 (mocktail) Rp 20.000 (apple crumble)

Enjoy your heavens on plate, people!

#BFCFashWeek : Everyday is Halloween

Selama 4 Hari, Breakfast Club Cosmopolitan FM bikin suatu 'permainan' kecil dengan Cosmoners (pendengarnya-red)yang bukan hanya bisa dinikmati lewat audio tetapi juga streaming www.cosmopolitanfm.com Steny Agustaf, akan ditantang memakai kostum-kostum yang sudah dipilih oleh Cosmoners dan juga 2 produsernya, saya dan Dennis dibantu oleh Titi.

Keseruan ini dimulai ketika Cosmoners memilih lewat vote SMS dan Twitter @CosmopolitanFM meminta Steny memakai kostum selam. #BFCFashweek ini memang ditujukan untuk Steny, tapi partnernya Novita Angie ternyata mendapat tantangan #Berbagi dari Ina Gibol yang bersedia menyumbang 500 buku tulis yang akan disalurkan lewat Cosmopolitan FM bagi yang membutuhkan. Angie harus memakai baju ballet selama 4 jam siaran! Apalagi kostum-kostum seru yang dipakai Steny dan Angie di #BFCFashWeek seminggu lalu dan membuat slogan 'Everyday is Halloween' di Cosmopolitan FM?


Day 1
Baju Selam yang pilih lewat vote sukses membuat Steny kegerahan dan jalan seperti bebek dengan kaki kataknya.



Marcell Siahaan yang jadi bintang tamu hari itu nampaknya cukup terhibur dengan kostum Steny hari itu :p


Day 2
Baju ballerina untuk Angie hadir memenuhi tantangan dan Steny kembali merasa muda dengan baju ala streetball lengkap dengan nickname 'Bad Boy' di punggungnya


Day 3
Temanya adalah baju daerah!
Tentu bukan baju daerah Steny dan Angie bukan pula teroris. Alih-alih ingin meniru baju tradisional India, Steny justru dikira Osama!


Day 4
Yang paling rempong! Mumi berumur 7425 tahun ini kembali bangkit menghantui Greek Goddess.

Saya dan tim cukup puas dengan #BFCFashWeek minggu ini meskipun ada beberapa kostum yang gagal dipakai tetapi minimal saya tahu ada beberapa orang yang cukup puas dengan kerja keras Steny dan Angie itu.



And that was the end of #BFCFashWeek Cycle 1! We might do it again,later :D

Saturday, January 08, 2011

What's Your Heaven on Earth?

Bagaimana Anda menggambarkan 'surga'? Benarkah ada di telapak kaki ibu?
Tak perlu berpikir jauh, bagi saya surga salah satunya berada di atas piring dengan asap yang mengepul di atasnya.

Makanan selalu bisa menghadirkan surga untuk saya, minimal bagi perut saya. Banyak yang bilang saya perlu mereview makanan-makanan yang sudah saya kompilasi di album Facebook. Mereka, yang sering menganggap saya Yellowpages, bertanya ketika ingin mencoba makanan yang baru.

Well, i've tasted various new foods in 2010, i can sum up some of them here and i promise (yes,i will) to post some 'heaven' here :)

Kuetiau Sapi A Ciap

Beberapa kali melewati kiosnya di Senopati dan di Casablanca, akhirnya sempat juga menyicipi kuetiau sapi kuahnya. Kiosnya sederhana dan khas restoran China.
Pilihan lainnya ada Kuetiau Goreng, Kuetiau Yam (agak asam) dan beberapa pilihan mie-nya. Anda juga bisa tambahkan ati, ampela atau jeroan lain sesuai selera.


Total kerusakan 25.000++ per porsi


Makanan Khas Sulawesi

Beralih ke makanan Makassar, saya tidak sengaja menyantap sajian seafood Makassar di Panglima Polim tepat di seberang Apotik Jaya. Standart, ikan bakar, cumi, kepiting dan telur ikan? Agak ajaib, karena biasanya saya menyantap telur ikan goreng di restoran Aceh atau Medan. Ternyata bentuknya pun ajaib, telur ikan ini diacar dengan bawang merah. Rasanya agak asam dan terkesan tidak matang. Padahal rasanya enak dan agak lucu, seperti tobiko, telur ikan yang banyak dijumpai di resto sushi.
Telur ikan, yang dalam bahasa Makassar disebut tuing-tuing ini dijadikan makanan pembuka atau bisa juga side dish


Total Kerusakan 20.000an per porsi


Gule Kepala Ikan, Medan Baru

Masih dari keluarga ikan-ikanan, gule kepala ikan tentu tidak asing bagi penggemar masakan Aceh dan Medan. Restoran Medan Baru di Krekot, Pasar Baru juga tentu sangat familiar. Lengkapi nikmatnya bersantap gule kepala ikan dengan sambal ganja (warna putih di gambar) dan dendeng yang justru terasa manis, berbeda dengan dendeng Padang.


Total Kerusakan 60.000-80.000 perporsi


Kepiting Banjarmasin

Teman atau kerabat berkunjung ke Banjarmasin? Jangan lupa titip kepiting yang terkenal di sana! Untungnya saya hanya tinggal menikmati oleh-oleh kepiting saus tiram dan lada hitam ini. Berdasarkan pencarian di Google dan milis Jalansutra, salah satu kepiting yang bisa dicicipi di Banjarmasin adalah kepiting kelapa di Pondok Asian, Banjarmasin.


Total kerusakan 40.000 per porsi


Auntie Annie's Pretzel

Mari beralih ke cemilan! Dulu, pretzel ini bisa ditemukan di lantai basement Pasaraya, sayangnya tidak laku dan tutup. Akhirnya, saya bisa kembali mencicipi Auntie Annie's Pretzel ini di Bangkok, Oktober 2009 lalu. Ternyata seorang teman membawa kabar baik, tak perlu jauh-jauh ke Thailand, cukup ke Mall Taman Anggrek saya sudah bisa menikmati berbagai variasi rasa pretzel ini. I always pick my fave; cinnamon and sour cream, Yumm!


Total kerusakan 7.500-10.000 per buah

Eclairs Farmer's Market

Pencuci mulut ini bentuknya sungguh menggoda! Eclair dengan buah-buahan seperti strawberry dan kiwi ini terasa segar dan mengenyangkan. Cicipi untuk teman minum-minum cantik di sore hari di Farmer's Market Grand Indonesia East Mall.


Total kerusakan 18.000 per buah

Nuria's Kitchen Macaroons

Terakhir, it's my personal favorite! Saya termasuk orang yang tidak suka makanan manis, tapi suatu saat teman saya yang baru pulang dari Prancis membawakan macaroons yang dibuatnya hasil belajar masaknya di sana. Ternyata saya langsung jatuh cinta pada rasa pistachio dan greentea (ya, saya penggemar macha). Macaroon buatan teman saya ini authentic macaroons yang memang merupakan cemilan asli Prancis. Untung saya tak perlu jauh-jauh ke Prancis untuk menikmati keaslian rasanya, di nuriaskitchen.blogspot.com saya bisa pilih kesukaan saya dan langsung diantar ke depan pintu rumah!

Total kerusakan 72.000 per box isi 12

So, have you found your heaven yet?

Hoi Hoi Hoi, Gantooong!



Siapa sangka, berawal dari tulisan tentang kehidupan masa kecil di Gantong, Belitong sekarang kisah 'Laskar Pelangi' yang sukses diangkat oleh Andrea Hirata ini bisa dinikmati bukan hanya di layar lebar tetapi juga lewat teater musikal dengan judul yang sama.

Meningkatnya produksi drama musikal di Indonesia menunjukkan geliat positif bagi orang-orang yang terlibat di baliknya dan juga penontonnya. Digelar sepanjang akhir Desember 2010 sampai Januari 2011, Musikal Laskar Pelangi mendapat sambutan yang meriah bahkan tiketnya sendiri sudah habis dipasaran sebelum pertunjukannya selesai digelar*. Presiden RI SBY ikut menunjukkan apresiasinya dengan menonton serta standing ovation selama 15 menit setelah menyaksikan bocah-bocah bersuara emas itu tampil di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jumat 7 Januari silam.

Musikal Laskar Pelangi (MLP) mengangkat kisah yang lebih kurang sama persis dengan film dan bukunya. Lintang, Ikal, Mahar, Kucai, dan Bu Muslimah lebih ekspresif lewat nyanyian dan lagu-lagu yang aransemennya dimotori oleh Erwin Gutawa dan orkestranya. Riri Riza masih menjadi sutradara bersama dengan Mira Lesmana menyajikan suguhan yang alur cerita dan dialognya disampaikan lewat nyanyian yang menghentak tapi bisa dengan jelas tersampaikan maknanya. Ada 3 pemeran Bu Muslimah yang bergantian memerankan, Dira Sugandi, Lea Simanjuntak dan Eka Deli. Ketiganya punya pamornya tersendiri di dunia musik Indonesia. Kebetulan di pertunjukan yang saya tonton malam itu, Dira Sugandilah yang berperan sebagai Bu Mus. Kekuatan suaranya tidak perlu diragukan lagi! Saya sendiri cukup menantikan penampilannya karena selama ini Dira Sugandi sukses membuai penonton musik jazz kelas internasional tetapi mampukah dia mengambil hati penonton 'asli' Indonesia lewat debut teaternya ini. Tidak perlu ditanya, jawabannya tentu saja!

Meskipun beberapa orang di balik layar MLP tidak sefamiliar nama-nama lainnya, satu hal yang membuat saya terkesima sepanjang hampir 3 jam durasinya adalah setting panggung yang luar biasa. Jay Subiyakto adalah seorang genius yang ada di balik ini semua. Setelah lama tidak terdengar namanya, setting panggung MLP sanggup membuktikan eksistensi dan juga kualitasnya. Bayangkan panggung yang dibuat seperti 3 dimensi sehingga bayangan alam Gantong cukup terasa dengan padang rumput luas dan pantai berciri khas batu-batu besarnya. Belum lagi penggambaran cerita Pak Harfan ketika menceritakan kisah Nabi Nuh dengan kapal besarnya divisualisasikan lewat layar hitam yang menerawang di tengah-tengah para laskar pelangi. Ingat adegan cerdas cermat saat Lintang menjabarkan kembali soal yang diberikan kembali lewat layar hitam yang menghadap langsung ke penonton.



Lepas dari kekecewaan calon penonton yang gagal mendapatkan tiket, MLP memang layak diperebutkan tiketnya. Mencoba mengajak semua orang dari berbagai lapisan, anak-anak, orangtua, pecinta seni atau orang awam untuk berduyun-duyun menyaksikan gambaran Belitong dari Andrea Hirata dibawah arahan Riri Riza. Anak-anak ikut menyanyi pasca menonton sedangkan orangtuanya kembali menantikan musikal apalagi yang bisa dinikmati sekaligus menghibur untuk mengisi liburan buah hatinya.
MLP yang menurut saya promosinya tidak segencar beberapa musikal lainnya, ternyata tidak perlu khawatir kalah pamor atau menyisakan bangku kosong tanpa penonton selama hampir 2 minggu penuh. Entah berkat nama besar di baliknya, estimasi pemilihan waktu yang tepat atau memang pecinta tetralogi Laskar Pelangi yang begitu loyal mengikuti perkembangan karya tersebut, yang pasti MLP menyuguhkan kualitas yang tak perlu dibandingkan dengan yang lain tanpa embel-embel popularitas.

Inilah salah satu keberuntungan saya menjadi satu dari ribuan penonton yang berhasil mendapat tiket! Saatnya berseru, "Hoi..Hoi..Hoi.."





*dari akun twitter @Musikal_LP 080111

Thursday, December 30, 2010

2010, You're Just Not That Good Enough!

Biasanya menjelang pergantian tahun, saya mencoba mengingat-ingat kejadian menarik yang terjadi tiap bulannya lalu merangkumnya dalam sebuah tulisan. Entah mengapa, tahun 2010 ini tidak memberikan banyak kepuasan bagi saya. Saya sempat mendiskusikannya dengan beberapa orang terdekat, katanya saya kurang bersyukur dengan apa yang terjadi di tahun ini dan memiliki beberapa standar yang cukup tinggi. Saya sendiri menemukan pola lain yang terjadi di tahun 2010. Mungkin beberapa orang juga pernah merasakan ini;

Apakah kita memiliki resolusi saat memasuki tahun yang baru?
Ya, saya punya!
- Stay di pekerjaan terakhir dan jangan sampai berhenti di tengah jalan
- Banyak minum air putih.

That's it!

Did i accomplished it? YES I DID!

Alasan kenapa memilih resolusi yang sangat simple, karena mungkin pada saat itu saya tidak mau terlalu muluk untuk mencapai yang luar biasa.
Turns out those mind set leads to an effortless year and unknown goals. I can really feel not so passionate i was or just let it flow without any plan. That's so unusual me! I need more exciting resolutions to challenge myself and achieve meaningful goals. That's what i should do in 2011!

Tidak perlu mengeluh lagi ke belakang, dengan beberapa evaluasi yang sudah direnungi akhirnya saya menyadari mungkin sebelumnya saya terlalu mudah puas dengan diri sendiri dan tanpa sadar lupa untuk mengasah pisau yang mungkin sudah tumpul sekarang. Puas dengan sesuatu yang mungkin belum mencapai standar memuaskan. I set the bar so high but the effort just too low.

There's nothing you can do at last and i don't wanna turn back time either. Better to remember some cool things that happened this year, let's start people!

1. After my very 1st interview with international artist Lenka, last 2009 i interviewed Eric Bennet on Java Jazz Festival 2010. He's such a hottie and i can make some people jealous by took a picture with him lol and with John Legend as well, Wohooo!

2. Join the dance group, Sekar Tari Pesona Buddhayah. This is a group of people (girls actually) who really really into traditional dance and so far we finished 2 and (not even)half dancing, Lenggang Nyai, Nandak Ganjen and we're working on Bajidor Kahot. so happy to finally dance again after last class i took in uni it's been a while. Too bad i only performed once because of unmatched schedule but i hope i can make it more next year, Amen!

3. Accidentally Met my former idol in broadcast world, Irfan Ihsan. OMG,why would i wrote this? Anywho, to finally meet him it's kinda awesome beacause i adore him since i was little. It makes list-of-my-idol-i-should-meet getting smaller :p

4. Cantar Caravelas finished the 3rd recording this year. After high and low circumstances finally we did our this year goals. Some people come and go but i remain the same, well i gotta hang in there but i don't know how long i can stay. At least, i gave my best this year after 4 years joining this Portuguese Culture group. Wehad performances at Jakarta Food and Fashion Festival,Portugal National Day, Welcoming Portuguese Sailors, Women's International Bazaar, Festival Kampoeng Toegoe,etc. Boa Suerte em 2011, Amigos!

5. Start to do more exercise,swimming! Actually i tend to do it once a week but depends on weather and my period, turns out it didn't make me any slimmer but happier thou. Should do it more often next year :)

6. So many concerts, gigs , and rave on 2010! King's of Convenience, Imogen Heap, Empire of The Sun on Gatecrasher, John Legend on Java Jazz Festival, The Raptures, Kelly Clarkson, Ian Brown, Kula Shaker, Playground Festival, Smashing Pumpkins & Stereophonics on Java Rocking Land, Simply Red and Les Nubians on Soulnation. Konser terbanyak dalam satu tahun dan terbanyak pula dapat gratisan :p I only pay for Imogen Heap, Java Rocking Land, and Kelly Clarkson. And the best ones : Imogen Heap & Simply Red!

7. Menonton film terbanyak di JIFFEST saat bukan jadi volunteer! Waiting for Superman, Incendies, Scott Pilgrim VS The World, Belkibolang, Jakarta Magrib, Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Life, When We Leave, Biutiful, Alangkah Lucunya Negeri Ini, The Wedding Photographer, and Turk's Head. My favorites are Belkibolang, Incendies, and Waiting For Superman. Too bad i only watched one movie on INAFFF 2010;
The Girl Who Kicked the Hornet's Nest and Europe on Screen's Soul Kitchen and missed QFilm Festival.

8. Met POTUS, Barack Obama! Woho-hoooo! This might be once in a lifetime experience and thanks to Yayasan Pita Kuning for the invitation :D

9. The most exciting move i did on 2010 is.. cut my long hair to super short hair! Last time i had short hair it was on 7th grade so THIS-IS-HUGE! lol

And the 2011's plans are....

* Take TOEFL preparation and search for scholarship info as much as i can
* Getting closer to my passion; film industry! Contribute! at least keep on writing
* Read more and more books
* Watch more and more, and MORE movies!
* TRAVELING! Bali on April, Beijing on May (AMEN) and one more spot left. Gili? Manado? Australia? We'll see..
* Giveback to my community! This could be anything and anywhere, i hope January will be a good kick-start.
* More exercise! Swim swim..or anything less boring than gym class :/
* Less soda or unhealthy beverage and greasy food. Alcohol? Hmm..
* Join movie club or course and also improve my Chinese
* Improving my show as well ;)
* Put shopping habit into another useful habit or activity
* ..or simply less shopping!
* Nabung..nabung! Mulai mengatur keuangan, Mariiii!
* Erasing (or decrease) 'HARSH' and 'SARCASTIC' from my middle name.
* Start thinking about career instead of job. Seek for any possibility of opportunities.
* Looking for side job
* Change my blog design
* Write more..
* Doa dan sholat, bukan cuma pas susah aja, Amin Ya Allah!
* Curse less :p
* Cek kolesterol (deg-degan..)

Oh well that's quiet a plan.

Let's seize the day!

Wednesday, December 22, 2010

Working Girls, Just Like You!



Seberapa sering kita mengganti channel televisi tiap ada tayangan musik dangdut atau kontes bakat? Seberapa sering kita menolak ajakan menonton pertunjukan sarat kedaerahan? Atau setiap kali waria yang muncul di depan kaca mobil kita sambil mengamen tangan kita hanya melambai lalu abaikan?

Ternyata puluhan jiwa berada di belakang tiga pekerja tersebut yang mayoritas adalah pekerja perempuan. Mereka yang hidupnya konon bisa berubah dari sebuah kontes adu bakat, mereka yang hidupnya berkisar di satu lokasi saja demi mempertunjukkan yang sepi penonton dan minim bayaran, dan juga mereka yang bertaruh nyawa karena pilihan hidup sebagai waria.

Working Girls adalah film antologi hasil workshop Kalyana Shira Foundation dan Kalyana Shira Film yang berusaha mengemas dan menyuarakan tiga isu tersebut lewat tangan 5 sutradaranya. Menyoroti para perempuan pekerja yang ternyata memikul beban berat sepanjang mereka mencari nafkah. Hasilnya? bisa segenggam berlian atau hanya sekadar sesuap nasi. Working Girls berisi 5 Menit lagi ah..ah..ah karya Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak , Asal Tak Ada Angin karya Anggi C. Noen , dan Ulfie Pulang Kampung karya Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C.Noer.

Riana, gadis belia yang memenangkan kontes bakat 'Stardut' hidupnya berubah 180 derajat dengan uang 100 juta yang didapatnya sebagai hadiah. Sontak keluarganya langsung mengubah ini-itu dari mulai merenovasi rumah sampai biaya berobat sang Ayah, Oces. Berjalannya waktu, popularitas Riana hanya bertahan dua tahun saja. Untuk menambal kebutuhan hidup keluarga, Riana pun menerima tawaran menyanyi di panggung-panggung lokal. Masalah makin terasa ketika Riana harus meneruskan sekolah dan biaya makin menipis. Di saat genting itu hadirlah Ayah Tito, laki-laki yang mengaku menyukai keluguan Riana dan bersedia mengangkat Riana jadi anak serta membiayai semua kebutuhan keluarga Riana.

Lain lagi dengan para pemain Ketoprak yang berisi senior citizen yang masih setia mengabdi pada paguyuban ketoprak yang sehari-hari hanya bisa memberikan upah 2000-8000 rupiah. Diceritakan dalam Asal Tak Ada AnginMereka yang rata-rata sudah lebih dari 10 tahun bermain ketoprak rela tinggal beratapkan seng yang sudah bobrok dan ringkih jika tertiup angin.

Transgender ibukota ternyata tidak merasa bebas dengan kehidupan urbannya. Di balik identitas yang dengan bebas mereka beberkan, ada identitas lain yang berusaha mereka tutupi yaitu sebagai ODHA lewat Ulfie Pulang Kampung Zulfikar alias Ulfie alias Koko harus memendam rahasia tentang kesehatannya ketika pulang kampung ke Aceh. Ia bahkan sudah terbuka dengan perubahan jenis kelaminnya tetapi tidak untuk yang satu itu. Ulfie juga berusaha menyelamatkan teman-teman warianya setelah satu persatu meninggal karena AIDS. Mereka yang tersisa sepertinya belum teredukasi akan pentingnya memakai kondom dan memilih berdiam di fase in denial tanpa mencoba melalukan tes darah.

Ketiga sosok perempuan tersebut berusaha menopang hidupnya dengan cara masing-masing dan dengan cobaannya masing-masing pula. Hubungan Riana dan Ayah Tito sekilas terasa akrab di telinga kita, mengingatkan kisah pedofilia yang kerap menimpa gadis-gadis lugu yang hidupnya jauh dari kota. Kasih sayang Ayah Tito yang menganggap dirinya 'ayah' terasa berbeda saat tertangkap di kamera. Bagaimana dia memangku Riana, bergandengan, memanggil 'Yang' sampai memeluk dan mencium kepala Riana tidak selayaknya kasih sayang Ayah pada anaknya. Kekhawatiran Oces justru dibantah dengan kepolosan ibu Riana. Tidak ada prasangka dari sang ibu mengamini apa kata Oces.

Para pemain ketoprak yang sudah puluhan tahun mengabdi tidak berpikir untuk pindah untuk mendapat kehidupan yang lebih layak dan semuanya dinikmati dengan tawa dan canda saja. Sosok transgender seperti Ulfie mungkin banyak mendapat cercaan dari keluarganya karena dianggap menyalahi kodrat tapi Ulfie pada akhirnya sama seperti manusia biasa yang begitu cinta pada keluarganya dan ingin melakukan giveback pada
komunitasnya, para kaum trangender.

Penayangan Working Girls yang bertepatan pada Hari Ibu 22 Desember lalu seperti ingin memaparkan bagaimana kuatnya perjalanan yang dilalui para perempuan pekerja tersebut bahkan tanpa mereka sadari. begitu juga dengan lingkungan yang memanfaatkannya, meremehkannya, menolak dan mengabaikannya. Mereka yang bekerja, menghidupi sendiri seperti yang dilakukan perempuan lain dengan pekerjaan 'konvensional' lainnya. Pada akhirnya, perempuan bekerja demi sebuah kesetaraan dirinya sendiri.

*dari berbagai sumber

Monday, November 29, 2010

Onrop Yang Pop!


*from onropmusikal.com

Hiburan apa yang biasanya ditunggu dan dinantikan masyarakat urban kala akhir pekan? Beberapa dari mereka masih menghabiskan waktunya untuk mengantri ke bioskop menonton film-film box office yang di Hollywood sudah diputar beberapa hari terlebih dahulu. Mungkin sebagian juga menantikan penampilan musisi asing yang mengadakan konser tunggal atau kolaborasi dalam sebuah festival musik. Entah mereka paham atau tidak esensi cerita dari film yang mereka tonton atau jenis musik obrolan tentang acara yang dialami menjadi sebuah kepuasan tersendiri, terutama dalam kelompok sosial.

Kini, tak yang dimainkan, kadang berada dalam situasi hingar bingar dan nantinya berseru dalam lagi perlu menunggu jeda beberapa hari film box office diputar di Hollywood atau antrian kota besar dalam jadwal konser musisi anyar atau legendaris, warga Jakarta nampaknya dengan sangat mudah menemukan dan menikmati hiburan populer di sekitarnya. Seberapa populernya? Sebanyak mungkin orang yang membicarakannya, sepanjang mungkin orang yang mengantri tiketnya, seramai mungkin muncul di timeline Twitter atau secepat mungkin berita menyebar. Orang-orang awam atau beberapa tokoh yang dianggap penting.

Salah satu hiburan yang mungkin cukup populer tahun 2010 ini adalah drama musikal. Sebut saja, Gita Cinta The Musical dari Artswara yang membawa romansa tahun 70-an ke panggung 2000-an, Dream Girls dibawa langsung lisensinya dari panggung Broadway ke Balai Kartini oleh sekumpulan anak muda Jakarta Broadway Team, ada juga EKI Dance Company dengan Jakarta Love Riot-nya. Itu baru segelintir saja, belum lagi musikal Diana karya Garin Nugroho, dan mungkin musikal lain yang tidak tersorot media.

Bulan November ini, kepopuleran sebuah pertunjukan kembali diuji lewat dengungan di social media. Joko Anwar, sutradara yang dikenal lewat Janji Joni, Kala, dan Pintu Terlarang sudah lama menggembar-gemborkan Onrop, sebuah pertunjukan drama musikal yang audisinya cukp menyita perhatian. Penari, penyanyi dan pemain teater bergabung untuk satu tontonan yang berbeda dari tontonan sebelum-sebelumnya.
Joko Anwar berkolaborasi dengan Eko Supriyanto, koreografer andal yang dikenal sampai negeri Paman Sam, bukan hanya kehebatan akting aktor dan aktrisnya yang menawan tetapi juga penari yang digembleng khusus di ‘Pulau Onrop’ menuai decak kagum penonton selama hampir seminggu penuh di Teater Jakarta. Ary Kirana, Aimee Saras, Ichsan Akbar, Giandra Hartajaya, Ario Bayu dan Yudi Firmansyah bergantian memainkan 3 peran utama dalam cerita cinta yang penuh unsur kritik sosial dan politik seputar kebebasan berekspresi yang belakangan ini seolah semakin dikekang oleh pihak yang berwenang.
Standing ovation konon terjadi tiap hari pertunjukan. Selama 5 menit penonton memberikan penghargaan pada semua pendukung acara, mereka begitu terpukau dengan tontonan yang tidak pernah terasa begitu berbeda sebelumnya. Onrop berani memberikan kritik sosial ke dalam tontonan publik yang selama ini mungkin hanya berani diungkapkan publik lewat akun Twitter pribadinya atau segelintir blogger pada pembaca setianya. Lewat pertunjukan musikal ini, penonton urban yang mungkin kebanyakan manusia serba sibuk dan mobile bisa lebih mudah dihadapkan protes-protes yang selama ini mungkin tidak sempat mereka simak di kerumunan pengunjuk rasa, novelis, atau teater lain yang tergolong lebih serius. Onrop menyuguhkan kesegaran lewat protesnya yang pop. Tidak perlu menyerenyitkan dahi berpikir keras atau larut dalam bahasa yang sulit dimaknai. Onrop begitu mudah dinikmati tapi tetap terasa berisi.



Bagian termegah dari musikal ini yang cukup mendapat perhatian adalah koreografi Eko Supriyanto yang seolah menjadi nyawa utama Onrop dilengkapi dengan orkestra. Hasilnya sungguh mewah! Jakarta yang sudah akrab di mata penonton urban makin terasa dramanya dengan musik yang mendayu-dayu, penarinya pun ikut berperan mendramatisir tiap dialognya. Kekuatan Joko Anwar dalam menuturkan dialog layaknya di film-filmnya juga terasa kental di sini. Celetukan yang terasa sangat dekat dengan penonton juga membuat drama ini makin menyentil. Salah satu adegan yang menampilkan signature scene ala Joko Anwar, ketika dialog dua anak kecil membicarakan pelajaran biologi di tengah-tengah obrolan pemain utama. Adegan anak-anak itu lekat sekali dengan film Janji Joni, yang banyak menampilkan dialog selewat tapi mengena.



Lewat Onrop penonton jelas diberi pencerahan secara langsung apa saja yang menghimpit kaum urban terutama pekerja seni dengan peraturan yang cenderung tidak masuk akal dan kebebasan berarti memberi ruang berekspresi yang lebih luas dan berujung bisa membuat lebih bahagia dan ‘kaya’.
Pasca Onrop apakah penonton musikal lebih ‘kaya’ dalam menikmati seni? Apakah nantinya musikal lain yang ditampilkan lebih ‘berat’ akan diterima sama seperti ini? Atau pada akhirnya popularitas mengalahkan segalanya?

Monday, October 04, 2010

Three Stages of Heartbroken Women's Life




Literatur dalam layar perak memang bukan sesuatu yang baru untuk disuguhkan ke pecinta film layar lebar. Tantangan membawa tulisan penulis buku yang ada di tangan sutradara dan penulis skenario itu sendiri. Tulisan Elizabeth Gilbert ada di tangan Ryan Murphy(Sutradara) dan Jennifer Salt (Penulis Naskah), gaungnya sudah mendunia dan seluruh dunia (atau Indonesia saja?) menunggu hadirnya Eat, Pray, Love buku yang laris nyaris 7 juta kopi di seluruh dunia*.
Kisah sang penulis, Liz (Julia Roberts)yang mencari pijakan hidup pasca perceraiannya dengan Steven (Billy Crudup). Ia sempat menjalin cinta dengan penggila Yoga, David Picollo (James Franco) namun kembali terusik dengan berbagai pikiran yang menunjukkan ketidakbahagiaan dengan apa yang ia punya saat itu. Berdialog dengan Tuhan yang selama ini jarang dilakukannya, membuat Liz seolah mendapat jawaban untuk menjauh dari semua 'cinta'nya di New York termasuk sahabat-sahabatnya. Alasannya, meskipun banyak cinta untuk Liz dari mereka, Liz tidak bisa memberikan cinta yang setimpal bagi mereka.
Terbanglah Liz ke Roma, Itali untuk memenuhi hasrat makan yang konon hilang seiring hilangnya kebahagiannya. Spaghetti Bolonaise, Carbonara, Margerita Pizza sampai kudapan khas Itali, Napoleon sukses membuat Liz melupakan cintanya di New York. Makanan yang membuat ia bahagia. Sampai di India, Liz ternyata merasakan jiwanya kosong. Meskipun tujuannya ke India untuk bertemu Gurugita yang dipujanya bersama David, Liz merasa jiwanya masih terfokus di New York. Liz berusaha melepaskan diri dari cintanya di masa lalu dan meneruskan perjalanan ke Bali, untuk kembali bertemu Ketut Liyer yang sebelumnya pernah meramal tentang kehidupannya. Liz kembali diguncang, pijakan yang kiranya sudah seimbang kembali dipertanyakan, sudahkah ia siap menjejak ke cinta berikutnya?

Film yang agaknya over exposed ini memang menyuguhkan banyak eksotisme.
Sisi-sisi feminin Liz juga banyak terungkap lewat kehidupannya di 3 kota yang begitu berbeda. Nampaknya hampir semua perempuan pernah merasakan apa yang dirasakan Liz, mulai dari keragu-raguan, patah hati, bersenang-senang, dan kembali pada fase ragu-ragu. Tiga kota yang dikunjungi Liz sepertinya mewakili perasaan dan fase hidup apa yang sebenarnya sedang dirasakan perempuan pasca sakit hati. Meskipun mungkin tidak terjadi pada semua orang, fase sakit hati akan mengarahkan kita pada pencarian kesenangan, mungkin tidak abadi tetapi setidaknya cukup bisa mengobati. Kemudian kita bisa disadarkan dengan kesendirian, betapa asingnya dunia yang berbeda dan keadaan yang berubah. Saat itu tantangan yang perlu dihadapi, bisakah kita fokus pada apa yang akan kita cari berikutnya? Ketiga, perburuan kembali dilakukan namun apakah hati kita siap untuk kembali berjumpa dengan guncangan itu? Guncangan akibat kupu-kupu yang siap menari dan membuat perut kita bergejolak atau guncangan akibat dihadapkan dengan sesuatu yang tidak pasti, akankah ini bertahan? Pada akhirnya kita kembali pada fase yang pertama, keragu-raguan dan kehidupan akan kembali berulang pada 3 fase hidup itu. Pertanyaannya, apakah siap menjejak pada suatu yang tidak seimbang lagi?


"To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life.- Ketut Liyer"

*Dari berbagai sumber

Wednesday, September 08, 2010

Dengan Menyebut Nama Allah



Musim film Indonesia kembali dimulai di H-2 Lebaran tahun 2010 ini. Dibuka dengan film yang cukup dinanti,salah satunya Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Film epik yang merupakan biografi tokoh pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diramaikan oleh banyak aktor papan atas, seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya Mecca, Ikranegara, sampai Sudjiwo Tedjo. Perjuangan Dahlan sebagai santri di Kauman, Yogyakarta ketika merasakan beberapa keganjila agama yang dianutnya sejak kecil pasca melaksanakan rukun Islam kelima, melakukan ibadah haji ke tanah suci. Dahlan berusaha mendalami dan memisahkan ajaran Islam yang diyakini dengan tradisi kejawen yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa.

Kisah sejarah dan juga bagaimana perjuangan menegakkan ajaran Islam yang tidak sekadar di permukaan menghadirkan kasus-kasus yang banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia saat ini. Perdebatan tentang arah kiblat atau pemahaman ajaran Islam yang tidak melulu dimaknai secara harfiah dijabarkan dalam adegan-adegan yang seperti mencoba menyentil umat muslim yang hidup di zaman liberal ini. Ketika Islam berkembang di era penjajah, sering kali jika dikaitkan dengan pemerintah Belanda, semuanya jadi dibuat haram bahkan dilabelkan kafir. Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, tahun 1800-an yang masih minim, jika bersentuhan dengan Belanda atau pengetahuan baru berbau kebarat-baratan langsung identik dengan kafir.

Adegan ini mengingatkan kita pada kasus fatwa haram yang beberapa kali dilontarkan MUI, mulai dari jejaring sosial atau hak pilih dalam politik. Kasus lain, Penyerangan kelompok Kyai Penghulu terhadap langgar Kidoel milik Dahlan juga menunjukkan simbol tidak adanya kebebasan beragama, bahkan dalam sesama Islam. Kyai penghulu yang merasa 'tradisi' ajaran Islamnya dipatahkan oleh Dahlan yang berusaha menyederhanakan ajaran Islam dianggap murtad dan melangkahi kewenangan Kyai Penghulu sebagai kyai terhormat di Yogyakarta. Kembali diingatkan kita pada kejadian anarki beberapa ormas di Jakarta yang kerap menganggap kelompoknya benar dan merasa 'baik-baik saja' menyerang kelompok atau bahkan agama lain yang dianggap sepaham. Pemblokiran jalan atau pemukulan pun dibenarkan atas dasar nama Tuhan.

Ternyata sejarah pernah terjadi di masa lalu dan sesungguhnya kita diingatkan lewat karya Bramantyo ini, kekerasan tidak akan menyelesaikan segalanya. Di awal film muncul pertanyaan murid Dahlan, "Apa itu agama?" Dahlan tidak menjawab, justru ia memainkan biolanya dan bertanya balik pada santrinya, "Apa yang ia rasakan?", si santri menjawab, "Damai, Tenang, Seperti bermimpi". Dahlan menjawab, Itulah agama. Ketika tidak memiliki pemahaman tentangnya, makan jadinya berantakan.
Itulah seharusnya agama Islam, damai, tenang dan tidak berantakan. Ketika hal itu belum terjadi, jangan atas namakan agama sebagai tonggak untuk pembenaran atas segala tindakan anarki yang menentang humanisme. Tidak perlulah nama Tuhanmu dijadikan alasan atas sikap yang masih berantakan memahami agama yang kita anut, agama Islam. Semoga ini mencerahkan!

Tuesday, August 17, 2010

And The Remaining Memories

I couldn't be happier when i found this articles from official website Chinese Childrenhome Shelter and Association, place that i spent volunteering on several childrenhomes on 2008.

I wrote this article when i finished my service on first shelter,Taiwan Christian Faith, Hope, Love: Children’s Home in Ping-Tung County before i started another service at Hsin-Chuang Agape Children Home in Taipei County. It brings back my memories behind.

Feel free to comment :)

Until last night, two days after I left 31 kids in Ping Tung, I still can remember everything single thing they did even in small details.

I can adlibbing every words as they sang Backstreet Boys song and Old McDonald song.

I can feel them tapping in my head like a drumbeat as they danced the tap dance.

I can hear their laughter echo in my ears.

I can't remove all of that from my memory.

Three weeks ago, me and my team started this project in Faith Hope Love Children Home in Ping Tung, Taiwan. This is my first experience visiting Taiwan and do this volunteer work. Before i met them, i imagined about unattractive, shy, not energetic kids. Those pictures ruined in the very first time we played the game to know each other. They were so powerful energetic and lots of laughters. Me, as foreigner knew nothing about them, about their background and things related to that issue. All i know is i have to be with them 24 hours in three weeks. We stick to their schedule from 6.20 in the morning gather around for breakfast, courses at 9 to 11, lunch at 12, take a nap until 3, dinner at 7, and go back to our room at 9. every schedule is fixed and sharp right on time. I really shocked about this at the very first time, i can’t even have my breakfast so early in the morning, and i can’t sleep early either. The first three days was the hardest part and devastated for me. I can’t even understand what they were talking about. When they were laughing i just freeze and have no idea what were they laughing at, and it might be me.

I want to know what they’re talking about, even the little kid just mumbling things that they can even barely understand it, im curious about it.

I want to join and share every laughter they had so i can laugh at hilarious things or even silly jokes they made.

My curiosity about everything about them lead me to enter their world. The world of their own that was isolated from outsider and we, the foreigners, tried to getting into it. At the very beginning it was only my curiousity about live in another country and learn different custom of living took me to Taiwan. But now since i know them, i want to love them and shared what i had to them, hopefully can fulfill their needs.

My curiosity about how they can cover their pain with laughter and joy. I never knew before about their stories and how they can struggle with the stories behind it.

We taught them how to be creative with art such as paper folding, drawing, painting, singing, dancing, and even acting. They were amazingly creative. Right when we just arrived, they just practiced their break dance and they got their style! I don’t know where they learn that moves since they are in a county but it must be because they had lots of limitation but they don’t want to trap in that situation. We also played basketball with them and they beat us every time. In other games they can beat us easily and after that they still had energies to play other things like one wheel bike or just running all around the playground. We tried to open their horizon with taught them dances like tap dance and Saman, Indonesian traditional dance from Aceh. We tried to show them new things that they can learn improved themselves and they have to show us at the farewell party. The emotional part was the farewell thing. After amused the audience by showed all the things we taught them from sang Old McDonald, performed both Tap and Saman Dance, their own drama, and imitating former well known boyband, Backstreet Boys, i felt so sad and hard to leave them in the next day. The fact that they can catch what we taught them for almost three weeks, the fact that they did very great job in every single thing, and the most, the fact that i can’t see them improved their knowledge because i will leave them and may not see each other for the rest of my life.

I remember when the second batch kids were leaving for their home and left a cute message which totally touched everyone’s heart there. I remember the kid who can imitate every dancing move that i taught them and he becomes the best dancer among the others. I keep remember meals that i got in last couple days which is special made because i can’t eat pork and the chef made it for me super big plate of veggie noodle. And i won’t never ever forget when they were crying after sang the goodbye song at the farewell party and the next day they waved goodbye in front of the door then saw them as small kids which finally faded as our way go back to Taipei. But here, in my heart they never fade away, they just stayed.

Friday, August 06, 2010

Sakit yang Tersisa dari Dua Belas Tahun Lalu



Apa yang tersisa dari kejadian Mei 1998? Tentu banyak yang tersakiti dan banyak pula yang terkubur ceritanya dan tidak berharap pernah membukanya lagi. Memoar tentang kejadian ini salah satunya ditulis oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya, Clara. Cerpen tersebut bercerita tentang gadis Tionghoa yang menjadi korban kebejatan warga pribumi yang memperkosa dan merampas hartanya. Bukan hanya itu, petugas yang seharusnya membantu Clara menyelesaikan masalahnya justru seolah tidak peduli dengan penderitaan Clara dan menambahkan cibiran pada penderitaan yang diderita gadis itu.

Dalam sinema Indonesia, bulan Mei 1998 menorehkan cerita dalam layar, salah satunya film MAY karya Viva Westi yang sudah beberapa kali diputar salah satunya di Jakarta International Film Festival 2009. Setelah 2 kali terlewatkan, akhirnya MAY kembali diputar di layar Kineforum "Identitas Untuk Semua", 3 Agustus lalu.

Film yang memenangkan 11 dari 12 nominasi pada Festival Film Indonesia 2008 * ini mengangkat kisah-kisah di balik tragedi 13 Mei 1998. Etnis Tionghoa yang banyak menjadi korban disimbolkan oleh (lagi-lagi) perempuan yang menjadi korban perkosaan dan harus menanggung derita terpisah dengan keluarganya. May (Jenny Chang) gadis yang sedang menjalin cinta dengan Ares (Yama Carlos) laki-laki pribumi yang sedang meniti karir menjadi pembuat film documenter terjebak dalam kerusuhan 13 Mei 1998 ketika ia sedang casting di sebuah rumah produksi. Ares yang berjanji menjemputnya tidak datang dan naasnya May pun menjadi korban perkosaan. May ditolong oleh seorang jurnalis asing yang akhirnya merawat anak yang dilahirkan May.

Petaka tidak hanya menimpa May, ibu May Cik Bing (Tutie Kirana) terjepit dalam situasi kehilangan jejak May dan usaha menyelamatkan diri ke luar negeri. Dengan berbekal selembar sertifikat tanah, Cik Bing pun meninggalkan tanah air demi keselamatannya.
Tahun berlalu, tragedi itu masih menyisakan pertanyaan dan perih korban-korbannya. May yang bekerja menjadi penyanyi kafe di Malaysia ternyata masih menarik perhatian Ares yang mencarinya untuk meminta maaf. Cik Bing pun masih terperangkap dengan kesendiriannya. Tiba-tiba muncul tokoh Gandang (Lukman Sardi) yang entah darimana hubungannya dengan May atau Ares. Ternyata, munculnya tokoh Gandang inilah awal dari keperihan yang lebih mendalam dari tragedi ini.

Gandang adalah salah satu korban yang dijadikan alat oleh orang-orang yang memanfaatkan keterbatasan akomodasi dalam aksi penyelamatan diri etnis Tionghoa dari chaos 1998. Bekerja di sebuah hotel, Gandang menjadi saksi kebejatan seorang staff hotel yang tega menjual 3 lembar tiket pesawat dengan sebuah mobil sedan bahkan 1 lembar tiket pesawat dengan sepetak tanah. Kala itu Gandang yang hanya buruh cuci tentu tergoda, apalagi ia diiming-imingi naiknya nilai tanah yang bisa ia nikmati tanpa harus susah-susah bekerja. Gandang beberapa tahun kemudian menyesali perbuatannya. Masih melekat di pikirannya wajah ibu yang kebingungan, Cik Bing yang masih tidak mengetahui keberadaan May akhirnya menyerahkan harta benda satu-satunya demi keselamatannya di negeri orang. Tak heran Cik Bing dan beberapa keluarga etnis Tionghoa yang saat itu memang menjadi korban merasa lebih baik melarikan diri karena di negara yang tercetak di paspor sebagai kewarganegaraannya, keamanan adalah barang langka. Menyakitkan melihat rasisme menjadi alat untuk merasakan kenikmatan sesaat. Alat untuk menikmati barang jarahan yang selama ini hanyalah mimpi dari sebuah kemewahan untuk memiliki, alat untuk memuaskan nafsu yang selama ini bersembunyi di balik pakaian tertutup, dan juga kekuatan untuk memeras dalam suasana terjepit yang selama ini kekuatan mereka tidak pernah dipedulikan. Berapa lama kemewahan, kepuasan, dan kekuatan itu bertahan? Sekejap. Sakitnya? Abadi.

*sumber inilah.com
Foto berbagai sumber

Friday, April 02, 2010

Good Friday :)

I need to do an exercise this week so i went to My Body Gym,Talavera Building to swim. Turns out it supposed to be closed, but since we were already there, they open the pool for us. YIAY!
It's like having a private pool on rooftop :D






Thursday, April 01, 2010

Aha!

Setelah hanya berangan-angan, pasca kedatangan Phoenix Agustus 2009 lalu,akhirnya mimpi saya menjadi kenyataan untuk kedua kalinya. Imogen Heap yang juga vokalis dari Frou Frou menjejakkan kakinya di Jakarta untuk Ellipse World Tour, 31 Maret lalu dengan Mahaka Entertainment sebagai promotornya.



Menurut saya konser ini sedikit mengejutkan-sekaligus menyenangkan tentunya- mengingat fanbase Imogen Heap di Jakarta tidak bisa dipastikan banyaknya (yang betul-betul suka yah!) Tapi keberanian Mahaka membuahkan kebahagian buat saya.
Dengan 2 opening acts, konser dibuka dengan hits pertama dari album Ellipse, First Train Home. Agak mengagetkan salah satu lagu andalan dimainkan sebagai pembuka. Disusul oleh Wait it Out dan Little Birds, keapikan konser malam itu bukan hanya terdengar dari alat-alat musik ajaib yang dimainkan tetapi juga lay out panggung yang disetting entah seperti hutan, taman bermain, atau tempat tinggal peri.



Sorot lampu warna-warni dan efek bayangan ikut mempercantik panggung dan makin mendramatisir lagu-lagu yang dinyanyikan solois Inggris tersebut.
Di lagu Little Bird, bunyi-bunyian burung dibantu dengan efek bayangan burung-burung terbang kian membuat penonton di Balai Kartini terhanyut dalam dongengan Immy.
Kejutan lain juga hadir di lagu Aha! ketika seorang cellois lokal, Rahman Noor ikut tampil setelah lolos audisi yang dilakukan khusus untuk musisi lokal.
Kejutan lain, Imogen Heap memainkan Let Go, lagu dari Frou Frou, bandnya terdahulu bersama Guy Sigsworth.
Dengan hanya menggunakan instrumen piano, penonton ikut bersenandung dalam nada-nada melankolis. Imogen Heap bisa dikatakan sangat komunikatif dibanding musisi-musisi lain yang biasanya hanya menyapa Halo, Apa Kabar, Selamat Malam, dan Terima Kasih. Banyak cerita dari lagu-lagu yang dibawakan dan juga gaya bercerita ala fairy tale membuat penonton tertawa dan tidak henti-henti berteriak 'I Love You'.

Ia juga mengajak penonton ikut dalam choir lagu Just For Now dan Hide and Seek.
Setelah menghilang dengan lagu yang dianggap sebagai 'lagu terakhir', Imogen Heap kembali dengan Hide and Seek beserta 2 lagu berikutnya, lalu menutup malam dengan janji manis akan kembali ke Jakarta.
Thank you, we enjoyed your lullaby in your wonderland then having sweet dreams as a gift!

Setlist Imogen Heap @ Balai Kartini Jakarta
(Thanks to Yarra Aristi, Music Director Cosmopolitan FM )
First Train Home
Wait It Out
Between Sheets
Headlock
Bad Body Double
Speeding Cars
Little Bird
Let Go
AHA!
Canvas
The Walk
Swoon
2-1
Goodnight And Go
Tidal

ENCORE

Hide and Seek
Just For Now
The Moment I Said It