Tuesday, April 12, 2011

Tiga Dara : Masalah Jodoh Tak Lekang Dimakan Zaman



Bayangan tentang film Indonesia di awal kemunculannya tentu beragam. Klasik dan penuh nuansa yang konservatif. Karya Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Indonesia tentu tidak perlu diragukan lagi, salah satunya Tiga Dara yang kembali dihadirkan dalam segmen Body of Works: Usmar Ismail bersama enam film lainnya. Kisah tiga kakak beradik yang tinggal bersama ayah dan kakeknya menghadirkan permasalahan yang tidak habis dimakan zaman, jodoh! Nunung, kakak tertua baru saja genap berusia 29 tahun dan membuat nenek begitu ketar-ketir karena sampai nyaris menginjak usia kepala tiga, Nunung tidak menunjukkan tanda-tanda dekat dengan laki-laki. Padahal adiknya, Nana dan Nenny termasuk supel dan mudah bergaul dengan laki-laki. Sang ayah sebenarnya santai menanggapi kekhawatiran nenek tetapi dengan ancaman dan juga permintaan Nenek yang dibuat seperti permintaan terakhir sebelum ajal menjemput mau tak mau membuat Ayah berpikir dua kali. Usaha mencarikan Nunung jodoh pun berjalan, sayangnya perangai Nunung yang terkesan tidak ramah membuatnya sulit diterima di kalangan teman-teman Nana dan Nenny yang notabene laki-laki.

Suatu hari, Nunung tertabrak motor oleh seorang pria bernama Toto. Nunung yang kesal memaki-maki Toto dan menolak diantar pulang sebagai bentuk permintaan maaf. Tidak menyerah begitu saja, Toto mengikuti becak yang ditumpangi Nunung sampai rumah dan berusaha meminta maaf lewat sebuket bunga. Nunung masih saja tidak terima dan menolak kehadiran Toto dengan ketus. Nana justru melihat Toto sebagai pria yang gentlemen dan berusaha mendekati. Alih-alih makin akrab dengan Nunung, Toto justru kian dekat dengan Nana dan Nunung terlihat sedikit cemburu. Sayang, ego Nunung lebih tinggi dari rasa sukanya pada Toto. Toto yang masih berharap pada Nunung mengira akan bisa mendekati Nunung lewat Nana. Kedekatan Toto dan Nana ternyata berlanjut sampai pertunangan. Nenek begitu terkejut dan menolak pertunangan tersebut, ia bilang kalau sampai Nana menikah lebih dulu dari Nunung, Nunung akan menjadi perawan tua seumur hidupnya. Nana begitu marah pada Nunung, akhirnya Nunung memilih pergi ke Bandung di rumah kerabatnya dan berharap mendapat ketenangan di sana.

Sebagai film yang muncul di tahun 50-an lalu dipertontonkan kembali sekarang, ada ekspektasi atau stereotipe yang muncul akibat referensi film yang lebih modern. Cerita yang disuguhkan ketiga dara ini sebenarnya cukup klise dan ratusan film masih mengangkat masalah jodoh sampai era sekarang. Konflik perjodohan yang dirasakan Nunung membuatnya tertekan dan justru menghindar, ignorant. Berbeda karakter dengan kakaknya, Nana justru periang cenderung penggoda. Awalnya ia dekat dengan Herman lalu ketika Toto datang, dengan mudah Nana melepas Herman begitu saja. Nenny diposisikan sebagai karakter yang menetralisir situasi antara Nunung dan Nana. Gaya jenakanya membuat cerita bergulir natural dan tidak dipaksakan. Dialog yang penuh gaya bahasa lama membuat dialognya semakin terasa berbunga-bunga namun masih bisa dimaklumi. Dengan sedikit sentuhan nyanyian, film hitam putih ini sama sekali tidak terasa membosankan.

Potongan dialog Tiga Dara ini cerdas dan tidak mengesankan film lawas tidak lagi relevan dengan kehidupan masa kini. Celetukan-celetukan dari semua tokohnya justru memberikan bukti jelas kalau film klasik memang tidak habis di makan waktu. Hal ini terasa dari dialog Nenek dan Ayah berikut,

Nenek : "Saatnya Nunung menikah sekarang sudah 29 tahun dan tahun depan 30 tahun"
Ayah: "Ah, masih muda itu! Menikah cepat-cepat itu kuno,di zaman dulu!"

Bayangkan, film yang muncul lebih dari 50 tahun lalu menganggap menikah di akhir usia 20-an adalah kuno dan tidak ada masalah melajang sampai usia kepala tiga. Isu yang dianggap melekat di pikiran orang-orang zaman dulu ternyata tidak terbukti lewat film ini. Sebaliknya, di zaman serba canggih saat ini justru isu ini masih saja dipermasalahkan. Melihat gaya Nana dan Nenny yang begitu kontras dengan Nunung yang serba tradisional, film ini juga sepertinya ingin menampilkan bagaimana invasi Eropa masih kental terasa bahkan dalam satu keluarga yang tinggal seatap. Nana dan Nenny seperti lebih bebas dalam berekspresi dan tidak tertutup pada hal-hal baru yang ditemuinya. Nunung seperti merepresentasikan perempuan tradisional dengan segala atributnya, fisik dan juga pikirannya. Ia begitu dalam berpakaian, tidak pernah mengubah penampilan sehari-harinya dari kebaya antiknya, begitu juga ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Nunung cenderung menutup diri, ia memilih berada di dapur memasak, menghibur tamu dengan bermain di balik piano, merawat kedua adik, ayah dan neneknya. Ia lebih baik bersembunyi di balik atribut keibuannya tanpa harus mengeluarkan sisi menariknya seorang perempuan di hadapan laki-laki. Nana yang ceriwis dan centil tidak peduli betapa buruknya ia di dapur atau Nenny yang lebih senang bergurau dengan laki-laki di sekelilingnya, termasuk sang ayah namun interaksi mereka pun menghasilkan kebahagiaan dan begitu lepas menghadapi masalah hidupnya. Masalah ini ternyata tidak basi ketika kita menontonnya kembali di layar perak yang sudah kusam gambarnya karena masalahnya masih akrab dengan kita penonton di masa mendatang.

Lima puluh lima tahun kemudian, pilihan bagi dara lainnya yang berkaca pada tiga dara ini mau menjadi siapa, terperangkap dalam norma dan stereotipe perempuan yang juga sulit lepas dari zona nyamannya atau berani lepas dari segala keterpaksaannya dan siap menerima risikonya?

Wednesday, March 16, 2011

Belkibolang; Saling Tabrak Rambu Jakarta



Jakarta di malam hari memberikan kesan tersendiri bagi masing-masing penduduknya. Penuh sesaknya di siang hari ternyata tidak membuat malam jadi lebih sepi. Hiruk pikuk dan ketegangan ternyata juga memenuhi malam-malam di kota Jakarta. Sembilan kisah tentang Jakarta di malam hari dan hal-hal yang dianggap tidak awam dibahas dalam film omnibus karya sembilan sutradara Belkibolang. Istilah belkibolang bagi pengguna jalanan di Jakarta tentu sudah sangat akrab, belok kiri boleh langsung. Judul sekaligus istilah ini merupakan isyarat dari kesembilan sutradara dan seorang penulis naskah, Titien Watimena bagi penonton untuk silakan langsung menikmati kesembilan cerita yang ‘kiri’ tanpa harus berhenti sejenak karena rambu-rambu norma yang membatasi.

Cerita dibuka dengan Payung, kisah tanpa suara antara laki-laki di tengah hujan dengan gadis kecil ojek payung. Dinginnya hujan di Jakarta sepertinya setara dengan dinginnya hubungan antar individu meskipun salah satunya berusaha mendekatkan diri namun yang satu justru menghindar. Percakapan sepasang tetangga yang berkeluh kesah dengan masalahnya masing-masing dalam Percakapan Ini mencoba memaparkan bagaimana problema tiap orang terkadang berkaitan satu sama lain. Absurditas percakapan yang terjadi karena sama-sama mencoba mengangkat masalahnya sendiri ternyata justru memberi benang merah antar keduanya. Adegan dan dialog yang diceritakan seolah kilas balik, sebenarnya hanya mengulang dan memutarbalikan posisi siapa korban dan pelaku dalam masalah yang ada pada kedua tokoh. Pada akhirnya, keduanya sempat berada di posisi yang sama. Percakapan yang terkesan absurd, mengingatkan pada konsep puisi mbeling yang diperkenalkan oleh Remy Sylado, yaitu konsep sastra (terutama puisi) yang mengabaikan kaidah keindahan dan keteraturan dalam bermain kata. Ketidakteraturan percakapan tersebut justru menciptakan suatu keindahan baru sekaligus menjelaskan keruwetan masalah lagi-lagi antar individu Jakarta. Terkadang tidak selalu harus dimengerti namun hanya untuk didengar.

Keruwetan lain dialami dua individu yang tidak berkaitan sama sekali namun dipertemukan dengan suatu kejadian kriminal yang juga menjadi makanan sehari-hari bagi penduduk Jakarta. Di malam hari, seorang aki-laki yang awalnya datang dengan niat baik menjadi tukang ojek dadakan saat seorang perempuan terlihat kebingungan, justru menjadi korban kriminal berkedok nafsu. Hasilnya, seorang laki-laki ditemukan tak sadarkan diri dan motornya digasak perempuan yang sempat menawarkan susunya! Kalimat tersebut begitu akrab di headline koran-koran kuning. Di Jakarta, ketika malam datang dua hal yang banyak terjadi adalah tindak kriminal dan aktivitas esek-esek. Sebut saja dari mulai kelas jetset yang bisa menikmati aktivitas seks di hotel berbintang atau klub ternama atau sekadar warung remang-remang di pinggiran kota, semuanya awam di Jakarta. Namun ketika adanya kesempatan tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, harusnya kita waspada karena di Jakarta tidak ada yang gratis. Laki-laki yang polos mau menjadi tukang ojek di tengah malam lengah ketika diberi kesempatan nyusu gratis oleh perempuan asing. Perampokan di jalanan dengan seorang perempuan sebagai pelakunya ternyata membuahkan banyak korban, terutama laki-laki hidung belang yang tergoda dan tidak sanggup menahan nafsunya. Nafsu manusia akan harta dan syahwat mencoba digambarkan lewat paparan Tumpal Tampubolon di Mamalia. Mungkin tujuannya mengingatkan kembali pada manusia akan asalnya, mahluk mamalia atau pada akhirnya kita sama dengan anjing atau kucing. Sama-sama binatang, menyusui.
Tema yang masih berkaitan juga mencoba diangkat oleh sutradara Wisnu Pratama dalam Ella. Kisah Ella si pekerja seks komersial yang membanting tulang demi menghidupi keluarganya di kampung. Keluarga Ella hanya tahu Ella bekerja di Jakarta, berpuasa selama bulan Ramadan dan pulang kampung membawa hasil kerjanya di hari raya. Ella tidak seperti apa yang keluarganya bayangkan, Ella menjual tubuhnya agar keluarganya bisa makan dan hidup. Ironi yang muncul dari kaum pekerja di Jakarta, selama pekerjaan itu menghasilkan bagi mereka tidak penting apa pekerjaannya. Stereotip halal atau haram seolah tidak berlaku untuk urusan uang dan perut. Ella bukannya malu pada pekerjaannya, ia begitu terbuka pada temannya yang merupakan penjual bebek bakar. Ella juga menyadari akan adanya penolakan dari keluarganya atas pekerjaan, gaya hidup dan perilakunya selama di Jakarta. Hal ini terlihat ketika Ella mengubah cara bicaranya ketika berbicara dengan ibunya di telepon dan mengganti pakaian yang lebih sopan ketika pulang menuju kampung halamannya. Ella menunjukkan bagaimana Jakarta seperti memberi identitas baru bagi penghuninya, identitas yang mau diakui atau tidak.

Film terakhir yang begitu membekas adalah karya sutradara Edwin, Rollercoaster. Sensasi ketegangan layaknya naik wahana rollercoaster di taman hiburan mencoba dihadirkan lewat aksi dua sahabat berbeda jenis yang selama bertahun-tahun bersahabat tidak pernah melihat masing-masing telanjang bulat. Hanya dengan setting kamar hotel dan berbekal penutup mata, keduanya memulai aksi yang sempat naik turun akibat keduanya masih diliputi sedikit ragu. Aksi yang perlahan justru menaikkan adrenalin penontonnya dan klimaks dari kejadian tersebut justru digantungkan, seolah-olah memberikan ruang bagi penonton untuk menentukan sendiri apakah keduanya berhasil menjalankan ‘misi suci’ mereka tersebut. Ketegangan dibumbui celetukan ringan yang cenderung konyol dan sedikit menghilangkan ketegangan saat kita berada di ‘rollercoaster’ bersama dua tokoh utama.

Dari sembilan film yang ditampilkan tentu tidak semuanya mencuri perhatian, lebih kurang yang dijabarkan di ataslah yang paling memorable. Kekuatan film omnibus yang sifatnya keroyokan ini ada pada ide sederhana namun sanggup menyentak penontonnya. Dengan tema ‘kiri’ yang diambil penulis naskahnya, kisah-kisah nyeleneh yang cenderung tidak penting justru berpotensi diingat dan terasa dalam. Kisah cinta dengan angan-angan romantis plus adanya barang yang bernilai historis dalam Planet Gajah atau kisah pertemuan dua sejoli yang jatuh cinta di Peron cenderung mudah dilupakan terlepas dari gambar indah yang disajikan. Satu hal yang sejenak mengalihkan penonton bahwa Belkibolang ingin berbicara tentang Jakarta sebagai pusat dari kesembilan kisah tersebut adalah pemilihan lokasi yang jauh dari lokasi-lokasi standar di Jakarta. Bisa saja penonton mempertanyakan sendiri, jadi sebelah mana Jakarta yang sebenarnya memperbolehkan belok kiri boleh langsung?

foto dari belkibolang.blogspot.com

Tanpa Kisah Tragis, Apakah ini Cinta?



Bagaimana menceritakan kembali kisah cinta yang seharusnya romantis nan tragis ke dalam bahasa dan gerak gambar yang bisa dipahami semua umur? Film animasi memang identik dihadirkan untuk semua umur terutama menghibur anak-anak. Ketika salah satu drama seorang Shakespeare diadaptasi ke dalam animasi, tentu tidak semua originalitas yang sudah pernah ditampilkan bisa lolos juga. Kisah cinta tragis Romeo & Juliet banyak diadaptasi ke layar lebar dengan berbagai sudut pandang penceritaan. Mulai tahun 1968 diangkat ke layar lebar oleh Franco Zeffirelli dengan nuansa British Italian dan berhasil menyabet Oscar untuk "Best Cinematography" dan "Best Costume". Di era yang lebih modern, Baz Lurhmann menghadirkan duet Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dengan nuansa yang lebih pop sebagai pasangan Romeo & Juliet di tahun 1996. Originalitas dialog Shakespeare tetap terasa meskipun latar yang sudah sangat hip dan kental suasana urban. Film lokal tidak mau kalah mengadaptasi kisah ini, perseteruan fans fanatik sepakbola Persija dan Persib menjadi latar film Romeo & Juliet karya Andi Bachtiar Yusuf dan menghasilkan kisah cinta terlarang ala Verona.

Untuk konsumsi yang lebih luas, tentunya banyak unsur yang berubah di dalam Gnomeo & Juliet ini. Dengan latar dua tetangga yang tinggal di Verona Drive bernama Montague dan Capulet yang selalu berseteru, hidup mahluk-mahluk yang tinggal di taman masing-masing pemilik rumah. Penghuni pekarangan Capulet dengan topi merahnya selalu mengolok-olok Montague yang bertopi biru dengan kata-kata gnome alias mahluk mungil dan terkesan lemah. Awalnya hanya masalah persaingan 'taman siapa yang lebih cantik' jadi berkembang ketika Juliet jatuh cinta pada Gnomeo. Suasana makin memanas ketika masing-masing berusaha menghancurkan taman musuh dan puncaknya ketika Tybalt, sepupu Juliet menantang Gnomeo adu balap mesin pemotong rumput dan Tybalt menabrak dinding lalu hancur berkeping-keping. Capulet tidak tinggal diam dan berusaha alas dendam untuk menghabisi Gnomeo. Cerita bergulir seperti kisah Romeo & Juliet yang kita kenal sebelumnya. Jadi, apa bedanya dengan versi aslinya?

Ketika mahluk-mahluk pekarangan ini hidup, sontak langsung teringat bagaimana mahluk di Night at Museum hidup. Mereka hidup sebagai alter-ego dari apa yang ditampilkan sebelumnya. Capulet dan Montague versi taman ini hadir sebagai karakter lucu yang menghidupkan suasana taman masing-masing. Ceria, ramah, dan gembira. Ketika mereka hidup, muncullah Gnomeo yang nakal, ingin mencoba sesuatu yang dilarang ibunya, Tybalt yang menggemaskan muncul sebagai karakter menyebalkan dan curang. Tokoh paling signifikan, Juliet digambarkan selalu ingin membuktikan bahwa dia tidak lemah dan bisa berdiri sendiri, bosan diremehkan oleh sang ayah yang protektif. Sayangnya, karakter para tokoh kurang kuat ditampilkan karena banyaknya tokoh sampingan yang juga ingin ditonjolkan. Benny dan Shroom sebagai sidekick Gnomeo masing-masing digambarkan bijaksana dan jenaka sedangkan Featherstone layaknya tokoh pendeta yang cukup membuat haru dengan kisah cintanya sekaligus penasehat bijaksana. Tokoh sampingan lainnya berperan sebagai minion tiap kubu yang begitu menggemaskan. Misalnya saja sekumpulan kelinci yang berkomunikasi hanya dengan mengatupkan kedua telinganya atau boneka mini yang selalu setuju dengan segala tindak tanduk Tybalt.

Bagi anak-anak di bawah umur, tontonan ini menjadi menyenangkan didukung oleh grafis yang apik menggabungkan animasi tiga dimensi dan dua dimensi penuh warna yang objeknya dekat dengan keseharian.Lalu di mana sisi romansa tragisnya? Rasanya tak lengkap Romeo & Juliet tanpa adegan ciuman membara atau bunuh dirinya. Mungkinkah adegan tersebut ditampilkan? Apakah tega mengingatkan anak-anak bahwa tidak semua kisah cinta berakhir bahagia? Atau sebenarnya film animasi ini bukanlah konsumsi anak-anak pada umumnya? Mungkin juga setelah menonton film ini, generasi pecinta hiburan digital akan mencari tahu apa saja sebenarnya yang tertulis dalam kisah terdahulu lewat hiburan primer ala tradisional, buku sastra.

Thursday, February 24, 2011

A Valentine Afternoon With Duncan Sheik



Masih ingat Duncan Sheik yang dikenal dengan hits singlenya di tahun 90-an seperti Wishful Thinking, Bite My Tongue, dan Barely Breathing? Empat belas tahun kemudian, ia bersama Rachael Yamagata menggelar konser di Denpasar & di Jakarta tepat di hari Valentine 2011.

Duncan dan Indonesia

Tidak seperti kebanyakan musisi asing yang hanya menghabiskan satu dua malam di negara tujuan konsernya, Sheik sudah berada di Indonesia selama lebih kurang tiga minggu di Bali. Tidak heran, kulitnya tampak merah terbakar setibanya di Jakarta. Baginya, Indonesia ternyata bukanlah negara asing karena teman semasa kuliahnya tidak lain adalah orang Indonesia. Bahkan di New York, ia mengaku cukup akrab dengan makanan Indonesia seperti ayam bakar dan nasi goreng! Kalau kebanyakan orang asing anti dengan makanan pedas, tidak untuk Sheik “I only eat spicy food!”. Setelah menutup konsernya di Jakarta, Sheik akan kembali menikmati cerahnya matahari Ubud.

Duncan dan Hantu di Album Whisper House

Sering mengusung musik rock alternative, Sheik justru memenangi Grammy Awards 2008 untuk kategori Best Musical Show Album untuk album Spring Awakening. Sheik sendiri mengaku tidak begitu mencintai musik teatrikal itu, karena awalnya ia hanya membantu temannya di album Spring Awakening dengan satu syarat, “If only I can express my own aesthetic in music”. Tentang album teranyarnya, Whisper House yang dianggap orang lebih gloomy dibanding album-album terdahulunya, Sheik hanya menjawab sambil berkelakar, “That album is a ghost story. Ghosts are gloomy, right?”. Baginya, genre musiknya tidak perlu dikotak-kotakan selama ia masih bisa menikmati karya jenius lintas era mulai dari Peter Gabriel, Depeche Mode, The Smith, sampai New Order.

Duncan dan ‘World Peace’

Sheik masih percaya musik adalah cara terbaik menyebarkan cinta apalagi sejak ia mendalami ajaran Budha yang membuatnya jauh lebih tenang dan positif. “It’s simply, will be less war, less stupidity, less cruelty if the first thing to do is simply change yourself!’


Also featured on Geeksbible.com

Thursday, February 03, 2011

For The Golden Era of Rabbit

3 Februari 2011 saatnya merayakan tahun baru China 2562 dan masuk ke tahun kelinci logam. Sebagai orang yang kebetulan bershio kelinci, tentunya saya cukup menyambut tahun ini dengan banyak pengharapan. Sayangnya, menurut salah satu ahli fengshui Tan Hoat Sun yang saya undang di acara Breakfast Club Cosmopolitan FM, rabu lalu, untuk tahun kelinci justru yang bershio kelinci kurang beruntung. Shio yang menanjak tahun ini adalah babi dan kambing. Untuk peruntungan bisnis juga baik peluangnya di sektor minyak dan investasi. Akhir 2010 lalu, saya sempat berpikir untuk mencoba bisnis online kecil-kecilan. Niat itu nampaknya perlu saya tunda dulu, bukan sekadar karena prediksi Koh Tan tetapi juga alasan menabung kepentingan lainnya, misalnya menggantinya dengan berkunjung ke negeri China,AMIN!

Well, lepas dari semua prediksi permulaan tahun kelinci logam ini, mari kita buat pengharapan sebesar-besarnya, dengan niat yang tulus semurni logam emas and let it shine!

Zhu Nimen Xin Nian Kuai Le ;)








Duo Produser Breakfast Club


Xiao Mei yang beneran Imlek :p

Beberapa hasil photoshoot tim Cosmopolitan FM

Saturday, January 22, 2011

Which One is Part of Ne-Yo's List?

2011 konon dibanjiri konser musisi mancanegara sejak kwartal pertama tahun ini. Antrian mengular di beberapa lokasi yang ditentukan para promotor dengan harga yang tidak murah itu ternyata tidak menyurutkan minat calon penonton yang haus akan hiburan musik tersebut.
Tahun 2011 ini, musim konser dibuka oleh Ne-Yo, solois R&B asal Amerika akhirnya benar-benar menjejakkan kaki di Jakarta dan menggelar konser perdananya sejak album teranyarnya, Libra Scale dirilis. Konser yang sempat heboh karena tadinya Ne-Yo sempat mau disandingkan dengan Chris Brown beritanya masih simpang siur bahkan sampai tiketnya sudah terjual. Calon penonton dikejutkan dengan pernyataan di akun twitter Chris Brown yang menyatakan ia tidak akan mengadakan tur ke Indonesia. Tentunya publik merasa tertipu tetapi akhirnya Sentralive, promotor konser Ne-Yo benar-benar mendatangkan penyanyi sekaligus penulis lagu yang populer dengan lagu 'So Sick' ini.



Sabtu 22 Januari 2011 dengan lokasi Istoran Senayan, ribuan fans Ne-Yo sudah hadir sejak pintu dibuka jam 4 sore. Pintu Istora Senayan sendiri baru dibuka jam 7 malam,lebih kurang 3 jam penonton 'dipaksa' menikmati makanan & minuman serta lounge khusus yang dibuat layaknya festival musik yang sering diadakan.



Jam 8 malam, mulai terdengar hingar bingar dari dalam venue. Bukan Ne-Yo tetapi Soulvibe, salah satu band pembuka dari 3 band dan 2 DJ yang disiapkan untuk memanaskan suasana Istoran Senayan. Lanjut, Maliq and The Essentials dan Ello. Ello sudah mencapai titik didih penonton yang tak sabar menyorakkan nama Ne-Yo terus menerus, tapi masih ada 2 DJ, Mikey Moran dan Twist yang masih ingin mengaduk-aduk emosi penonton. Di tengah sorak sorai penonton yang seakan-akan sudah tidak menginginkan kehadiran duo DJ tersebut, lagu 'Like A G6' dimainkan oleh DJ Twist. Sontak penonton langsung berteriak histeris begitu juga dengan beberapa lagu yang begitu familiar mulai dari B.E.P, Katy Perry, dan Sean Kingston membuat penonton seperti lupa dengan kebosanannya.



Hampir jam 10 ketika Ne-Yo naik ke panggung, memainkan lagu pertamanya Because of You dan menyapa "What's Up Jakarta!". Histeria penggemarnya tak tertahan lagi dan seperti koor, semuanya menyanyikan lagu-lagu hits yang dibawakan, mulai dari So Sick, Sexy Love, Single, Miss Independent, Beautiful Monster, Champagne Life dan diakhiri dengan One in A Million hits single dari album terbarunya, Libra Scale, sebelum Ne-Yo pamit dan encore. Tidak sampai 10 menit, penyanyi bernama asli Shaffer Chimere Smith, Jr. ini kembali masih dengan kostum yang sama, rompi hitam dengan kemeja ungu lengkap dengan topi andalannya.
Ne-Yo melanjutkan konser dengan Go-On Girl dan Closer sebagai closure.

Highlight konser ini ketika Ne-Yo membawakan beberapa lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Rihanna, Mario,dan Beyonce. Irreplaceable, Take A Bow, Hate That I Love You dan Let me Love You dibawakan secara medley. Lagu-lagu ini tentu mengingatkan kepiawaian Ne-Yo menciptakan lagu yang membawa penyanyinya sukses menduduki Billboard Chart selama berminggu-minggu.

Sayangnya, vokalitas dan koreografi yang maksimal kurang didukung oleh tata panggung yang terkesan minimalis dan seadanya. Panggung untuk 3 pemain musiknya terasa kosong dan minim efek visual yang hanya mengandalkan potongan video klip saja. Ne-Yo juga tidak membawa penyanyi latar atau penari latar yang kiranya bisa menambah aksi panggung Ne-Yo yang cukup teatrikal layaknya beberapa video klipnya.




Nampaknya promotor ini masih perlu banyak belajar bagaimana mengolah konser eksklusif tanpa embel-embel opening act yang berjubel, membuka beberapa pintu masuk yang efisien dan nyaman, sampai yang terpenting kepercayaan calon penonton terutama saat sudah berani menjual tiket seharusnya sudah ada kesepakatan antara artis dan promotornya karena meskipun ribuan orang memadati konser yang tiketnya mulai dari 700.000 rupiah, di luar sana mungkin ada puluhan orang lain juga kecewa dengan pengalaman buruk yang pernah Sentralive lakukan.

Bagi saya, kekecewaan terbesar saya adalah lagu Part of The List tidak masuk setlist untuk konser Ne-Yo yang mungkin hanya terjadi sekali ini saja.

Friday, January 21, 2011

Heaven's on Your Plate #3

Minggu ketiga bulan Januari 2011. Sejauh ini, makanan apa yang Anda dirindukan karena sudah lama tidak menemukannya?
Sejak 2 tahun lalu, saya menjadi penggemar baru mie Aceh. Mie yang konon mengandung ganja dalam bumbunya itu menjadi favorit saya karena pedasnya yang 'menampar' dan cara masaknya digoreng atau tumis dengan sedikit kuah atau istilahnya 'nyemek'.
Setelah satu tahun lebih absen menikmati mie Aceh, saya kembali bertemu kangen dengannya. Bisa ikut menyicipi makanan eksotik ini dan pilihan lain di bawahnya, Enjoy!

Mie Aceh Ayah, Saharjo

Perjumpaan saya kembali dengan mie Aceh! Untuk yang belum 'kenalan', mie Aceh ini bisa digoreng, rebus atau tumis (goreng dengan sedikit kuah). Biasanya dilengkapi dengan pilihan daging, seafood, polos atau kepiting. Sekadar peringatan, mie Aceh ini juaranya pedas jadi siapkan lidah Anda untuk rasa pedas yang cukup di atas rata-rata.

Total kerusakan 15.000 (daging) 25.000 (kepiting)

Iga Panglima, Gandaria

Ingin menikmati makanan Barat dengan harga miring? Iga panggang Panglima adalah pilihannya! 2 iga panggang ukuran jumbo disajikan dengan jagung dan kentang goreng hadir dengan pilihan rasa original, black pepper atau lemon. Awalnya mungkin Anda memilih untuk sharing 1 porsi berdua, tapi saya yakin di kunjungan kedua nanti satu porsi akan Anda habiskan sendiri!

Total kerusakan 65.000


Kentang Goreng Rendang, Ruma Kopi

Ingin minum kopi sambil santai browsing di seputaran Senopati? Silakan mampir ke Ruma Kopi yang letaknya tidak jauh dari lapangan Blok S. Tepatnya di lantai 2 resto Pizza Boutique, suasana cozy dan nyaman bisa didapat lengkap dengan pilihan kopi yang variatif. Kalau biasanya kopi Anda ditemani oleh pastry atau sajian ala barat lainnya, coba sahabat baru yang ada di Ruma Kopi, Kentang goreng rendang! Yes, bumbu rendang membalut kentang goreng panas lengkap dengan kelapanya. Untuk Anda yang tidak terlalu suka pedas, perpaduan East meets West cappuccino dan kentang rendang ini bisa jadi sahabat baru!

Total kerusakan 15.000

Pancake Durian, Honeymoon Dessert

Pecinta durian pasti tidak asing lagi dengan pancake durian yang terkenal di Medan, Sumatera Utara. Untuk Anda yang berada jauh dari kota tersebut, pancake yang satu ini layak coba. 2 buah pancake dengan isi krim dan durian terasa lembut dan wanginya tidak terlalu menusuk tetapi rasa asli durian tetap menancap di lidah. Rasa manisnya pas dan tidak meninggalkan after taste yang eneg.
Silakan coba di Plaza Indonesia, Mal Taman Anggrek atau Mal Kelapa Gading.

Total kerusakan <30.000


Apple Strudel, Corica

Masih dari ranah buah-buahan, franchise terkenal dari Australia, Corica terkenal dengan strudelnya. Favorit saya, Apple Strudel dengan layer pastrynya yang renyah dan krim yang pas manisnya bisa jadi pilihan untuk santap sendiri atau oleh-oleh untuk dinikmati di rumah. Nikmati langsung di Corica Mahakam dengan atmosfir yang nyaman untuk teman minum teh.

Total kerusakan 40.000 (slice)

Have a great weekend, fellas!

Saturday, January 15, 2011

Heaven's on Your Plate #2

Minggu ini saya kembali mencoba memberi beberapa review makanan yang bisa dinikmati akhir pekan ini. Ada beberapa jenis makanan berat dan pencuci mulut yang layak coba, salah satunya ada poin plus dengan dekorasi unik dan menarik untuk jadi lokasi tea-time sore hari.

Pasta di Kuningan Village
Anda pecinta pasta dengan saus tinta hitam? Papardelle ini awalnya cukup saya underestimate,setelah saya cicipi ternyata paduan sausnya dengan kerang jauh di atas rata-rata perkiraan saya.
Saya lupa nama restorannya, berlokasi di Kuningan Village nampaknya hanya ada satu gerai pasta di sana.

Total kerusakan Rp 40.000


Selain sushi, apa yang biasanya Anda cicipi di restoran Jepang spesialisasi Sushi? Saatnya cicipi sajian udang yang biasanya diolah dengan berbagai cara. Kali ini saya mencicipi Grilled Cheese Ebi di Sumo Sushi, Menteng Central. 3 buah udang yang ditaburi keju parut lalu dipanggang sampai meleleh benar-benar menu baru yang kadang saya abaikan di daftar menu resto Jepang. Porsinya tidak terlalu besar jadi bisa side dish untuk pilihan sushi lainnya.

Total kerusakan Rp 30.000

Mau duduk-duduk cantik ditemani dessert manis atau brunch yang mengenyangkan?
Mampirlah ke Apettite Senopati yang benar-benar pettite! Coba sandwhich baconnya. Berhubung tempatnya benar-benar kecil,siap-siap saja waiting list di jam-jam sibuk

Total kerusakan Rp 35.000

Tempat yang cukup populer di Kemang sejak rekolasi di tempat sebelumnya, Koi adalah tempat yang cukup menarik
Untuk disambangi. Cocok untuk afternoon tea atau teman minum cocktail, Rhubarb Crumble atau MilleFeuille *entah kenapa selalu gagal mengejanya* porsinya yang besar cukup untuk berdua.

Total kerusakan Rp 30.000- Rp 40.000

My favorite place this week goes to Ketjil Kitchen di kompleks Grand Lucky, SCBD. Apple Crumblenya terasa pas dengan porsi individunya dan dilengkapi dengan pilihan Mocktailnya, Mojito.
Interiornya yang menarik dengan sentuhan vintage.

Total kerusakan Rp 22.500 (mocktail) Rp 20.000 (apple crumble)

Enjoy your heavens on plate, people!

#BFCFashWeek : Everyday is Halloween

Selama 4 Hari, Breakfast Club Cosmopolitan FM bikin suatu 'permainan' kecil dengan Cosmoners (pendengarnya-red)yang bukan hanya bisa dinikmati lewat audio tetapi juga streaming www.cosmopolitanfm.com Steny Agustaf, akan ditantang memakai kostum-kostum yang sudah dipilih oleh Cosmoners dan juga 2 produsernya, saya dan Dennis dibantu oleh Titi.

Keseruan ini dimulai ketika Cosmoners memilih lewat vote SMS dan Twitter @CosmopolitanFM meminta Steny memakai kostum selam. #BFCFashweek ini memang ditujukan untuk Steny, tapi partnernya Novita Angie ternyata mendapat tantangan #Berbagi dari Ina Gibol yang bersedia menyumbang 500 buku tulis yang akan disalurkan lewat Cosmopolitan FM bagi yang membutuhkan. Angie harus memakai baju ballet selama 4 jam siaran! Apalagi kostum-kostum seru yang dipakai Steny dan Angie di #BFCFashWeek seminggu lalu dan membuat slogan 'Everyday is Halloween' di Cosmopolitan FM?


Day 1
Baju Selam yang pilih lewat vote sukses membuat Steny kegerahan dan jalan seperti bebek dengan kaki kataknya.



Marcell Siahaan yang jadi bintang tamu hari itu nampaknya cukup terhibur dengan kostum Steny hari itu :p


Day 2
Baju ballerina untuk Angie hadir memenuhi tantangan dan Steny kembali merasa muda dengan baju ala streetball lengkap dengan nickname 'Bad Boy' di punggungnya


Day 3
Temanya adalah baju daerah!
Tentu bukan baju daerah Steny dan Angie bukan pula teroris. Alih-alih ingin meniru baju tradisional India, Steny justru dikira Osama!


Day 4
Yang paling rempong! Mumi berumur 7425 tahun ini kembali bangkit menghantui Greek Goddess.

Saya dan tim cukup puas dengan #BFCFashWeek minggu ini meskipun ada beberapa kostum yang gagal dipakai tetapi minimal saya tahu ada beberapa orang yang cukup puas dengan kerja keras Steny dan Angie itu.



And that was the end of #BFCFashWeek Cycle 1! We might do it again,later :D

Saturday, January 08, 2011

What's Your Heaven on Earth?

Bagaimana Anda menggambarkan 'surga'? Benarkah ada di telapak kaki ibu?
Tak perlu berpikir jauh, bagi saya surga salah satunya berada di atas piring dengan asap yang mengepul di atasnya.

Makanan selalu bisa menghadirkan surga untuk saya, minimal bagi perut saya. Banyak yang bilang saya perlu mereview makanan-makanan yang sudah saya kompilasi di album Facebook. Mereka, yang sering menganggap saya Yellowpages, bertanya ketika ingin mencoba makanan yang baru.

Well, i've tasted various new foods in 2010, i can sum up some of them here and i promise (yes,i will) to post some 'heaven' here :)

Kuetiau Sapi A Ciap

Beberapa kali melewati kiosnya di Senopati dan di Casablanca, akhirnya sempat juga menyicipi kuetiau sapi kuahnya. Kiosnya sederhana dan khas restoran China.
Pilihan lainnya ada Kuetiau Goreng, Kuetiau Yam (agak asam) dan beberapa pilihan mie-nya. Anda juga bisa tambahkan ati, ampela atau jeroan lain sesuai selera.


Total kerusakan 25.000++ per porsi


Makanan Khas Sulawesi

Beralih ke makanan Makassar, saya tidak sengaja menyantap sajian seafood Makassar di Panglima Polim tepat di seberang Apotik Jaya. Standart, ikan bakar, cumi, kepiting dan telur ikan? Agak ajaib, karena biasanya saya menyantap telur ikan goreng di restoran Aceh atau Medan. Ternyata bentuknya pun ajaib, telur ikan ini diacar dengan bawang merah. Rasanya agak asam dan terkesan tidak matang. Padahal rasanya enak dan agak lucu, seperti tobiko, telur ikan yang banyak dijumpai di resto sushi.
Telur ikan, yang dalam bahasa Makassar disebut tuing-tuing ini dijadikan makanan pembuka atau bisa juga side dish


Total Kerusakan 20.000an per porsi


Gule Kepala Ikan, Medan Baru

Masih dari keluarga ikan-ikanan, gule kepala ikan tentu tidak asing bagi penggemar masakan Aceh dan Medan. Restoran Medan Baru di Krekot, Pasar Baru juga tentu sangat familiar. Lengkapi nikmatnya bersantap gule kepala ikan dengan sambal ganja (warna putih di gambar) dan dendeng yang justru terasa manis, berbeda dengan dendeng Padang.


Total Kerusakan 60.000-80.000 perporsi


Kepiting Banjarmasin

Teman atau kerabat berkunjung ke Banjarmasin? Jangan lupa titip kepiting yang terkenal di sana! Untungnya saya hanya tinggal menikmati oleh-oleh kepiting saus tiram dan lada hitam ini. Berdasarkan pencarian di Google dan milis Jalansutra, salah satu kepiting yang bisa dicicipi di Banjarmasin adalah kepiting kelapa di Pondok Asian, Banjarmasin.


Total kerusakan 40.000 per porsi


Auntie Annie's Pretzel

Mari beralih ke cemilan! Dulu, pretzel ini bisa ditemukan di lantai basement Pasaraya, sayangnya tidak laku dan tutup. Akhirnya, saya bisa kembali mencicipi Auntie Annie's Pretzel ini di Bangkok, Oktober 2009 lalu. Ternyata seorang teman membawa kabar baik, tak perlu jauh-jauh ke Thailand, cukup ke Mall Taman Anggrek saya sudah bisa menikmati berbagai variasi rasa pretzel ini. I always pick my fave; cinnamon and sour cream, Yumm!


Total kerusakan 7.500-10.000 per buah

Eclairs Farmer's Market

Pencuci mulut ini bentuknya sungguh menggoda! Eclair dengan buah-buahan seperti strawberry dan kiwi ini terasa segar dan mengenyangkan. Cicipi untuk teman minum-minum cantik di sore hari di Farmer's Market Grand Indonesia East Mall.


Total kerusakan 18.000 per buah

Nuria's Kitchen Macaroons

Terakhir, it's my personal favorite! Saya termasuk orang yang tidak suka makanan manis, tapi suatu saat teman saya yang baru pulang dari Prancis membawakan macaroons yang dibuatnya hasil belajar masaknya di sana. Ternyata saya langsung jatuh cinta pada rasa pistachio dan greentea (ya, saya penggemar macha). Macaroon buatan teman saya ini authentic macaroons yang memang merupakan cemilan asli Prancis. Untung saya tak perlu jauh-jauh ke Prancis untuk menikmati keaslian rasanya, di nuriaskitchen.blogspot.com saya bisa pilih kesukaan saya dan langsung diantar ke depan pintu rumah!

Total kerusakan 72.000 per box isi 12

So, have you found your heaven yet?

Hoi Hoi Hoi, Gantooong!



Siapa sangka, berawal dari tulisan tentang kehidupan masa kecil di Gantong, Belitong sekarang kisah 'Laskar Pelangi' yang sukses diangkat oleh Andrea Hirata ini bisa dinikmati bukan hanya di layar lebar tetapi juga lewat teater musikal dengan judul yang sama.

Meningkatnya produksi drama musikal di Indonesia menunjukkan geliat positif bagi orang-orang yang terlibat di baliknya dan juga penontonnya. Digelar sepanjang akhir Desember 2010 sampai Januari 2011, Musikal Laskar Pelangi mendapat sambutan yang meriah bahkan tiketnya sendiri sudah habis dipasaran sebelum pertunjukannya selesai digelar*. Presiden RI SBY ikut menunjukkan apresiasinya dengan menonton serta standing ovation selama 15 menit setelah menyaksikan bocah-bocah bersuara emas itu tampil di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jumat 7 Januari silam.

Musikal Laskar Pelangi (MLP) mengangkat kisah yang lebih kurang sama persis dengan film dan bukunya. Lintang, Ikal, Mahar, Kucai, dan Bu Muslimah lebih ekspresif lewat nyanyian dan lagu-lagu yang aransemennya dimotori oleh Erwin Gutawa dan orkestranya. Riri Riza masih menjadi sutradara bersama dengan Mira Lesmana menyajikan suguhan yang alur cerita dan dialognya disampaikan lewat nyanyian yang menghentak tapi bisa dengan jelas tersampaikan maknanya. Ada 3 pemeran Bu Muslimah yang bergantian memerankan, Dira Sugandi, Lea Simanjuntak dan Eka Deli. Ketiganya punya pamornya tersendiri di dunia musik Indonesia. Kebetulan di pertunjukan yang saya tonton malam itu, Dira Sugandilah yang berperan sebagai Bu Mus. Kekuatan suaranya tidak perlu diragukan lagi! Saya sendiri cukup menantikan penampilannya karena selama ini Dira Sugandi sukses membuai penonton musik jazz kelas internasional tetapi mampukah dia mengambil hati penonton 'asli' Indonesia lewat debut teaternya ini. Tidak perlu ditanya, jawabannya tentu saja!

Meskipun beberapa orang di balik layar MLP tidak sefamiliar nama-nama lainnya, satu hal yang membuat saya terkesima sepanjang hampir 3 jam durasinya adalah setting panggung yang luar biasa. Jay Subiyakto adalah seorang genius yang ada di balik ini semua. Setelah lama tidak terdengar namanya, setting panggung MLP sanggup membuktikan eksistensi dan juga kualitasnya. Bayangkan panggung yang dibuat seperti 3 dimensi sehingga bayangan alam Gantong cukup terasa dengan padang rumput luas dan pantai berciri khas batu-batu besarnya. Belum lagi penggambaran cerita Pak Harfan ketika menceritakan kisah Nabi Nuh dengan kapal besarnya divisualisasikan lewat layar hitam yang menerawang di tengah-tengah para laskar pelangi. Ingat adegan cerdas cermat saat Lintang menjabarkan kembali soal yang diberikan kembali lewat layar hitam yang menghadap langsung ke penonton.



Lepas dari kekecewaan calon penonton yang gagal mendapatkan tiket, MLP memang layak diperebutkan tiketnya. Mencoba mengajak semua orang dari berbagai lapisan, anak-anak, orangtua, pecinta seni atau orang awam untuk berduyun-duyun menyaksikan gambaran Belitong dari Andrea Hirata dibawah arahan Riri Riza. Anak-anak ikut menyanyi pasca menonton sedangkan orangtuanya kembali menantikan musikal apalagi yang bisa dinikmati sekaligus menghibur untuk mengisi liburan buah hatinya.
MLP yang menurut saya promosinya tidak segencar beberapa musikal lainnya, ternyata tidak perlu khawatir kalah pamor atau menyisakan bangku kosong tanpa penonton selama hampir 2 minggu penuh. Entah berkat nama besar di baliknya, estimasi pemilihan waktu yang tepat atau memang pecinta tetralogi Laskar Pelangi yang begitu loyal mengikuti perkembangan karya tersebut, yang pasti MLP menyuguhkan kualitas yang tak perlu dibandingkan dengan yang lain tanpa embel-embel popularitas.

Inilah salah satu keberuntungan saya menjadi satu dari ribuan penonton yang berhasil mendapat tiket! Saatnya berseru, "Hoi..Hoi..Hoi.."





*dari akun twitter @Musikal_LP 080111

Thursday, December 30, 2010

2010, You're Just Not That Good Enough!

Biasanya menjelang pergantian tahun, saya mencoba mengingat-ingat kejadian menarik yang terjadi tiap bulannya lalu merangkumnya dalam sebuah tulisan. Entah mengapa, tahun 2010 ini tidak memberikan banyak kepuasan bagi saya. Saya sempat mendiskusikannya dengan beberapa orang terdekat, katanya saya kurang bersyukur dengan apa yang terjadi di tahun ini dan memiliki beberapa standar yang cukup tinggi. Saya sendiri menemukan pola lain yang terjadi di tahun 2010. Mungkin beberapa orang juga pernah merasakan ini;

Apakah kita memiliki resolusi saat memasuki tahun yang baru?
Ya, saya punya!
- Stay di pekerjaan terakhir dan jangan sampai berhenti di tengah jalan
- Banyak minum air putih.

That's it!

Did i accomplished it? YES I DID!

Alasan kenapa memilih resolusi yang sangat simple, karena mungkin pada saat itu saya tidak mau terlalu muluk untuk mencapai yang luar biasa.
Turns out those mind set leads to an effortless year and unknown goals. I can really feel not so passionate i was or just let it flow without any plan. That's so unusual me! I need more exciting resolutions to challenge myself and achieve meaningful goals. That's what i should do in 2011!

Tidak perlu mengeluh lagi ke belakang, dengan beberapa evaluasi yang sudah direnungi akhirnya saya menyadari mungkin sebelumnya saya terlalu mudah puas dengan diri sendiri dan tanpa sadar lupa untuk mengasah pisau yang mungkin sudah tumpul sekarang. Puas dengan sesuatu yang mungkin belum mencapai standar memuaskan. I set the bar so high but the effort just too low.

There's nothing you can do at last and i don't wanna turn back time either. Better to remember some cool things that happened this year, let's start people!

1. After my very 1st interview with international artist Lenka, last 2009 i interviewed Eric Bennet on Java Jazz Festival 2010. He's such a hottie and i can make some people jealous by took a picture with him lol and with John Legend as well, Wohooo!

2. Join the dance group, Sekar Tari Pesona Buddhayah. This is a group of people (girls actually) who really really into traditional dance and so far we finished 2 and (not even)half dancing, Lenggang Nyai, Nandak Ganjen and we're working on Bajidor Kahot. so happy to finally dance again after last class i took in uni it's been a while. Too bad i only performed once because of unmatched schedule but i hope i can make it more next year, Amen!

3. Accidentally Met my former idol in broadcast world, Irfan Ihsan. OMG,why would i wrote this? Anywho, to finally meet him it's kinda awesome beacause i adore him since i was little. It makes list-of-my-idol-i-should-meet getting smaller :p

4. Cantar Caravelas finished the 3rd recording this year. After high and low circumstances finally we did our this year goals. Some people come and go but i remain the same, well i gotta hang in there but i don't know how long i can stay. At least, i gave my best this year after 4 years joining this Portuguese Culture group. Wehad performances at Jakarta Food and Fashion Festival,Portugal National Day, Welcoming Portuguese Sailors, Women's International Bazaar, Festival Kampoeng Toegoe,etc. Boa Suerte em 2011, Amigos!

5. Start to do more exercise,swimming! Actually i tend to do it once a week but depends on weather and my period, turns out it didn't make me any slimmer but happier thou. Should do it more often next year :)

6. So many concerts, gigs , and rave on 2010! King's of Convenience, Imogen Heap, Empire of The Sun on Gatecrasher, John Legend on Java Jazz Festival, The Raptures, Kelly Clarkson, Ian Brown, Kula Shaker, Playground Festival, Smashing Pumpkins & Stereophonics on Java Rocking Land, Simply Red and Les Nubians on Soulnation. Konser terbanyak dalam satu tahun dan terbanyak pula dapat gratisan :p I only pay for Imogen Heap, Java Rocking Land, and Kelly Clarkson. And the best ones : Imogen Heap & Simply Red!

7. Menonton film terbanyak di JIFFEST saat bukan jadi volunteer! Waiting for Superman, Incendies, Scott Pilgrim VS The World, Belkibolang, Jakarta Magrib, Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Life, When We Leave, Biutiful, Alangkah Lucunya Negeri Ini, The Wedding Photographer, and Turk's Head. My favorites are Belkibolang, Incendies, and Waiting For Superman. Too bad i only watched one movie on INAFFF 2010;
The Girl Who Kicked the Hornet's Nest and Europe on Screen's Soul Kitchen and missed QFilm Festival.

8. Met POTUS, Barack Obama! Woho-hoooo! This might be once in a lifetime experience and thanks to Yayasan Pita Kuning for the invitation :D

9. The most exciting move i did on 2010 is.. cut my long hair to super short hair! Last time i had short hair it was on 7th grade so THIS-IS-HUGE! lol

And the 2011's plans are....

* Take TOEFL preparation and search for scholarship info as much as i can
* Getting closer to my passion; film industry! Contribute! at least keep on writing
* Read more and more books
* Watch more and more, and MORE movies!
* TRAVELING! Bali on April, Beijing on May (AMEN) and one more spot left. Gili? Manado? Australia? We'll see..
* Giveback to my community! This could be anything and anywhere, i hope January will be a good kick-start.
* More exercise! Swim swim..or anything less boring than gym class :/
* Less soda or unhealthy beverage and greasy food. Alcohol? Hmm..
* Join movie club or course and also improve my Chinese
* Improving my show as well ;)
* Put shopping habit into another useful habit or activity
* ..or simply less shopping!
* Nabung..nabung! Mulai mengatur keuangan, Mariiii!
* Erasing (or decrease) 'HARSH' and 'SARCASTIC' from my middle name.
* Start thinking about career instead of job. Seek for any possibility of opportunities.
* Looking for side job
* Change my blog design
* Write more..
* Doa dan sholat, bukan cuma pas susah aja, Amin Ya Allah!
* Curse less :p
* Cek kolesterol (deg-degan..)

Oh well that's quiet a plan.

Let's seize the day!

Wednesday, December 22, 2010

Working Girls, Just Like You!



Seberapa sering kita mengganti channel televisi tiap ada tayangan musik dangdut atau kontes bakat? Seberapa sering kita menolak ajakan menonton pertunjukan sarat kedaerahan? Atau setiap kali waria yang muncul di depan kaca mobil kita sambil mengamen tangan kita hanya melambai lalu abaikan?

Ternyata puluhan jiwa berada di belakang tiga pekerja tersebut yang mayoritas adalah pekerja perempuan. Mereka yang hidupnya konon bisa berubah dari sebuah kontes adu bakat, mereka yang hidupnya berkisar di satu lokasi saja demi mempertunjukkan yang sepi penonton dan minim bayaran, dan juga mereka yang bertaruh nyawa karena pilihan hidup sebagai waria.

Working Girls adalah film antologi hasil workshop Kalyana Shira Foundation dan Kalyana Shira Film yang berusaha mengemas dan menyuarakan tiga isu tersebut lewat tangan 5 sutradaranya. Menyoroti para perempuan pekerja yang ternyata memikul beban berat sepanjang mereka mencari nafkah. Hasilnya? bisa segenggam berlian atau hanya sekadar sesuap nasi. Working Girls berisi 5 Menit lagi ah..ah..ah karya Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak , Asal Tak Ada Angin karya Anggi C. Noen , dan Ulfie Pulang Kampung karya Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C.Noer.

Riana, gadis belia yang memenangkan kontes bakat 'Stardut' hidupnya berubah 180 derajat dengan uang 100 juta yang didapatnya sebagai hadiah. Sontak keluarganya langsung mengubah ini-itu dari mulai merenovasi rumah sampai biaya berobat sang Ayah, Oces. Berjalannya waktu, popularitas Riana hanya bertahan dua tahun saja. Untuk menambal kebutuhan hidup keluarga, Riana pun menerima tawaran menyanyi di panggung-panggung lokal. Masalah makin terasa ketika Riana harus meneruskan sekolah dan biaya makin menipis. Di saat genting itu hadirlah Ayah Tito, laki-laki yang mengaku menyukai keluguan Riana dan bersedia mengangkat Riana jadi anak serta membiayai semua kebutuhan keluarga Riana.

Lain lagi dengan para pemain Ketoprak yang berisi senior citizen yang masih setia mengabdi pada paguyuban ketoprak yang sehari-hari hanya bisa memberikan upah 2000-8000 rupiah. Diceritakan dalam Asal Tak Ada AnginMereka yang rata-rata sudah lebih dari 10 tahun bermain ketoprak rela tinggal beratapkan seng yang sudah bobrok dan ringkih jika tertiup angin.

Transgender ibukota ternyata tidak merasa bebas dengan kehidupan urbannya. Di balik identitas yang dengan bebas mereka beberkan, ada identitas lain yang berusaha mereka tutupi yaitu sebagai ODHA lewat Ulfie Pulang Kampung Zulfikar alias Ulfie alias Koko harus memendam rahasia tentang kesehatannya ketika pulang kampung ke Aceh. Ia bahkan sudah terbuka dengan perubahan jenis kelaminnya tetapi tidak untuk yang satu itu. Ulfie juga berusaha menyelamatkan teman-teman warianya setelah satu persatu meninggal karena AIDS. Mereka yang tersisa sepertinya belum teredukasi akan pentingnya memakai kondom dan memilih berdiam di fase in denial tanpa mencoba melalukan tes darah.

Ketiga sosok perempuan tersebut berusaha menopang hidupnya dengan cara masing-masing dan dengan cobaannya masing-masing pula. Hubungan Riana dan Ayah Tito sekilas terasa akrab di telinga kita, mengingatkan kisah pedofilia yang kerap menimpa gadis-gadis lugu yang hidupnya jauh dari kota. Kasih sayang Ayah Tito yang menganggap dirinya 'ayah' terasa berbeda saat tertangkap di kamera. Bagaimana dia memangku Riana, bergandengan, memanggil 'Yang' sampai memeluk dan mencium kepala Riana tidak selayaknya kasih sayang Ayah pada anaknya. Kekhawatiran Oces justru dibantah dengan kepolosan ibu Riana. Tidak ada prasangka dari sang ibu mengamini apa kata Oces.

Para pemain ketoprak yang sudah puluhan tahun mengabdi tidak berpikir untuk pindah untuk mendapat kehidupan yang lebih layak dan semuanya dinikmati dengan tawa dan canda saja. Sosok transgender seperti Ulfie mungkin banyak mendapat cercaan dari keluarganya karena dianggap menyalahi kodrat tapi Ulfie pada akhirnya sama seperti manusia biasa yang begitu cinta pada keluarganya dan ingin melakukan giveback pada
komunitasnya, para kaum trangender.

Penayangan Working Girls yang bertepatan pada Hari Ibu 22 Desember lalu seperti ingin memaparkan bagaimana kuatnya perjalanan yang dilalui para perempuan pekerja tersebut bahkan tanpa mereka sadari. begitu juga dengan lingkungan yang memanfaatkannya, meremehkannya, menolak dan mengabaikannya. Mereka yang bekerja, menghidupi sendiri seperti yang dilakukan perempuan lain dengan pekerjaan 'konvensional' lainnya. Pada akhirnya, perempuan bekerja demi sebuah kesetaraan dirinya sendiri.

*dari berbagai sumber

Monday, November 29, 2010

Onrop Yang Pop!


*from onropmusikal.com

Hiburan apa yang biasanya ditunggu dan dinantikan masyarakat urban kala akhir pekan? Beberapa dari mereka masih menghabiskan waktunya untuk mengantri ke bioskop menonton film-film box office yang di Hollywood sudah diputar beberapa hari terlebih dahulu. Mungkin sebagian juga menantikan penampilan musisi asing yang mengadakan konser tunggal atau kolaborasi dalam sebuah festival musik. Entah mereka paham atau tidak esensi cerita dari film yang mereka tonton atau jenis musik obrolan tentang acara yang dialami menjadi sebuah kepuasan tersendiri, terutama dalam kelompok sosial.

Kini, tak yang dimainkan, kadang berada dalam situasi hingar bingar dan nantinya berseru dalam lagi perlu menunggu jeda beberapa hari film box office diputar di Hollywood atau antrian kota besar dalam jadwal konser musisi anyar atau legendaris, warga Jakarta nampaknya dengan sangat mudah menemukan dan menikmati hiburan populer di sekitarnya. Seberapa populernya? Sebanyak mungkin orang yang membicarakannya, sepanjang mungkin orang yang mengantri tiketnya, seramai mungkin muncul di timeline Twitter atau secepat mungkin berita menyebar. Orang-orang awam atau beberapa tokoh yang dianggap penting.

Salah satu hiburan yang mungkin cukup populer tahun 2010 ini adalah drama musikal. Sebut saja, Gita Cinta The Musical dari Artswara yang membawa romansa tahun 70-an ke panggung 2000-an, Dream Girls dibawa langsung lisensinya dari panggung Broadway ke Balai Kartini oleh sekumpulan anak muda Jakarta Broadway Team, ada juga EKI Dance Company dengan Jakarta Love Riot-nya. Itu baru segelintir saja, belum lagi musikal Diana karya Garin Nugroho, dan mungkin musikal lain yang tidak tersorot media.

Bulan November ini, kepopuleran sebuah pertunjukan kembali diuji lewat dengungan di social media. Joko Anwar, sutradara yang dikenal lewat Janji Joni, Kala, dan Pintu Terlarang sudah lama menggembar-gemborkan Onrop, sebuah pertunjukan drama musikal yang audisinya cukp menyita perhatian. Penari, penyanyi dan pemain teater bergabung untuk satu tontonan yang berbeda dari tontonan sebelum-sebelumnya.
Joko Anwar berkolaborasi dengan Eko Supriyanto, koreografer andal yang dikenal sampai negeri Paman Sam, bukan hanya kehebatan akting aktor dan aktrisnya yang menawan tetapi juga penari yang digembleng khusus di ‘Pulau Onrop’ menuai decak kagum penonton selama hampir seminggu penuh di Teater Jakarta. Ary Kirana, Aimee Saras, Ichsan Akbar, Giandra Hartajaya, Ario Bayu dan Yudi Firmansyah bergantian memainkan 3 peran utama dalam cerita cinta yang penuh unsur kritik sosial dan politik seputar kebebasan berekspresi yang belakangan ini seolah semakin dikekang oleh pihak yang berwenang.
Standing ovation konon terjadi tiap hari pertunjukan. Selama 5 menit penonton memberikan penghargaan pada semua pendukung acara, mereka begitu terpukau dengan tontonan yang tidak pernah terasa begitu berbeda sebelumnya. Onrop berani memberikan kritik sosial ke dalam tontonan publik yang selama ini mungkin hanya berani diungkapkan publik lewat akun Twitter pribadinya atau segelintir blogger pada pembaca setianya. Lewat pertunjukan musikal ini, penonton urban yang mungkin kebanyakan manusia serba sibuk dan mobile bisa lebih mudah dihadapkan protes-protes yang selama ini mungkin tidak sempat mereka simak di kerumunan pengunjuk rasa, novelis, atau teater lain yang tergolong lebih serius. Onrop menyuguhkan kesegaran lewat protesnya yang pop. Tidak perlu menyerenyitkan dahi berpikir keras atau larut dalam bahasa yang sulit dimaknai. Onrop begitu mudah dinikmati tapi tetap terasa berisi.



Bagian termegah dari musikal ini yang cukup mendapat perhatian adalah koreografi Eko Supriyanto yang seolah menjadi nyawa utama Onrop dilengkapi dengan orkestra. Hasilnya sungguh mewah! Jakarta yang sudah akrab di mata penonton urban makin terasa dramanya dengan musik yang mendayu-dayu, penarinya pun ikut berperan mendramatisir tiap dialognya. Kekuatan Joko Anwar dalam menuturkan dialog layaknya di film-filmnya juga terasa kental di sini. Celetukan yang terasa sangat dekat dengan penonton juga membuat drama ini makin menyentil. Salah satu adegan yang menampilkan signature scene ala Joko Anwar, ketika dialog dua anak kecil membicarakan pelajaran biologi di tengah-tengah obrolan pemain utama. Adegan anak-anak itu lekat sekali dengan film Janji Joni, yang banyak menampilkan dialog selewat tapi mengena.



Lewat Onrop penonton jelas diberi pencerahan secara langsung apa saja yang menghimpit kaum urban terutama pekerja seni dengan peraturan yang cenderung tidak masuk akal dan kebebasan berarti memberi ruang berekspresi yang lebih luas dan berujung bisa membuat lebih bahagia dan ‘kaya’.
Pasca Onrop apakah penonton musikal lebih ‘kaya’ dalam menikmati seni? Apakah nantinya musikal lain yang ditampilkan lebih ‘berat’ akan diterima sama seperti ini? Atau pada akhirnya popularitas mengalahkan segalanya?

Monday, October 04, 2010

Three Stages of Heartbroken Women's Life




Literatur dalam layar perak memang bukan sesuatu yang baru untuk disuguhkan ke pecinta film layar lebar. Tantangan membawa tulisan penulis buku yang ada di tangan sutradara dan penulis skenario itu sendiri. Tulisan Elizabeth Gilbert ada di tangan Ryan Murphy(Sutradara) dan Jennifer Salt (Penulis Naskah), gaungnya sudah mendunia dan seluruh dunia (atau Indonesia saja?) menunggu hadirnya Eat, Pray, Love buku yang laris nyaris 7 juta kopi di seluruh dunia*.
Kisah sang penulis, Liz (Julia Roberts)yang mencari pijakan hidup pasca perceraiannya dengan Steven (Billy Crudup). Ia sempat menjalin cinta dengan penggila Yoga, David Picollo (James Franco) namun kembali terusik dengan berbagai pikiran yang menunjukkan ketidakbahagiaan dengan apa yang ia punya saat itu. Berdialog dengan Tuhan yang selama ini jarang dilakukannya, membuat Liz seolah mendapat jawaban untuk menjauh dari semua 'cinta'nya di New York termasuk sahabat-sahabatnya. Alasannya, meskipun banyak cinta untuk Liz dari mereka, Liz tidak bisa memberikan cinta yang setimpal bagi mereka.
Terbanglah Liz ke Roma, Itali untuk memenuhi hasrat makan yang konon hilang seiring hilangnya kebahagiannya. Spaghetti Bolonaise, Carbonara, Margerita Pizza sampai kudapan khas Itali, Napoleon sukses membuat Liz melupakan cintanya di New York. Makanan yang membuat ia bahagia. Sampai di India, Liz ternyata merasakan jiwanya kosong. Meskipun tujuannya ke India untuk bertemu Gurugita yang dipujanya bersama David, Liz merasa jiwanya masih terfokus di New York. Liz berusaha melepaskan diri dari cintanya di masa lalu dan meneruskan perjalanan ke Bali, untuk kembali bertemu Ketut Liyer yang sebelumnya pernah meramal tentang kehidupannya. Liz kembali diguncang, pijakan yang kiranya sudah seimbang kembali dipertanyakan, sudahkah ia siap menjejak ke cinta berikutnya?

Film yang agaknya over exposed ini memang menyuguhkan banyak eksotisme.
Sisi-sisi feminin Liz juga banyak terungkap lewat kehidupannya di 3 kota yang begitu berbeda. Nampaknya hampir semua perempuan pernah merasakan apa yang dirasakan Liz, mulai dari keragu-raguan, patah hati, bersenang-senang, dan kembali pada fase ragu-ragu. Tiga kota yang dikunjungi Liz sepertinya mewakili perasaan dan fase hidup apa yang sebenarnya sedang dirasakan perempuan pasca sakit hati. Meskipun mungkin tidak terjadi pada semua orang, fase sakit hati akan mengarahkan kita pada pencarian kesenangan, mungkin tidak abadi tetapi setidaknya cukup bisa mengobati. Kemudian kita bisa disadarkan dengan kesendirian, betapa asingnya dunia yang berbeda dan keadaan yang berubah. Saat itu tantangan yang perlu dihadapi, bisakah kita fokus pada apa yang akan kita cari berikutnya? Ketiga, perburuan kembali dilakukan namun apakah hati kita siap untuk kembali berjumpa dengan guncangan itu? Guncangan akibat kupu-kupu yang siap menari dan membuat perut kita bergejolak atau guncangan akibat dihadapkan dengan sesuatu yang tidak pasti, akankah ini bertahan? Pada akhirnya kita kembali pada fase yang pertama, keragu-raguan dan kehidupan akan kembali berulang pada 3 fase hidup itu. Pertanyaannya, apakah siap menjejak pada suatu yang tidak seimbang lagi?


"To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life.- Ketut Liyer"

*Dari berbagai sumber

Wednesday, September 08, 2010

Dengan Menyebut Nama Allah



Musim film Indonesia kembali dimulai di H-2 Lebaran tahun 2010 ini. Dibuka dengan film yang cukup dinanti,salah satunya Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Film epik yang merupakan biografi tokoh pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diramaikan oleh banyak aktor papan atas, seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya Mecca, Ikranegara, sampai Sudjiwo Tedjo. Perjuangan Dahlan sebagai santri di Kauman, Yogyakarta ketika merasakan beberapa keganjila agama yang dianutnya sejak kecil pasca melaksanakan rukun Islam kelima, melakukan ibadah haji ke tanah suci. Dahlan berusaha mendalami dan memisahkan ajaran Islam yang diyakini dengan tradisi kejawen yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa.

Kisah sejarah dan juga bagaimana perjuangan menegakkan ajaran Islam yang tidak sekadar di permukaan menghadirkan kasus-kasus yang banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia saat ini. Perdebatan tentang arah kiblat atau pemahaman ajaran Islam yang tidak melulu dimaknai secara harfiah dijabarkan dalam adegan-adegan yang seperti mencoba menyentil umat muslim yang hidup di zaman liberal ini. Ketika Islam berkembang di era penjajah, sering kali jika dikaitkan dengan pemerintah Belanda, semuanya jadi dibuat haram bahkan dilabelkan kafir. Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, tahun 1800-an yang masih minim, jika bersentuhan dengan Belanda atau pengetahuan baru berbau kebarat-baratan langsung identik dengan kafir.

Adegan ini mengingatkan kita pada kasus fatwa haram yang beberapa kali dilontarkan MUI, mulai dari jejaring sosial atau hak pilih dalam politik. Kasus lain, Penyerangan kelompok Kyai Penghulu terhadap langgar Kidoel milik Dahlan juga menunjukkan simbol tidak adanya kebebasan beragama, bahkan dalam sesama Islam. Kyai penghulu yang merasa 'tradisi' ajaran Islamnya dipatahkan oleh Dahlan yang berusaha menyederhanakan ajaran Islam dianggap murtad dan melangkahi kewenangan Kyai Penghulu sebagai kyai terhormat di Yogyakarta. Kembali diingatkan kita pada kejadian anarki beberapa ormas di Jakarta yang kerap menganggap kelompoknya benar dan merasa 'baik-baik saja' menyerang kelompok atau bahkan agama lain yang dianggap sepaham. Pemblokiran jalan atau pemukulan pun dibenarkan atas dasar nama Tuhan.

Ternyata sejarah pernah terjadi di masa lalu dan sesungguhnya kita diingatkan lewat karya Bramantyo ini, kekerasan tidak akan menyelesaikan segalanya. Di awal film muncul pertanyaan murid Dahlan, "Apa itu agama?" Dahlan tidak menjawab, justru ia memainkan biolanya dan bertanya balik pada santrinya, "Apa yang ia rasakan?", si santri menjawab, "Damai, Tenang, Seperti bermimpi". Dahlan menjawab, Itulah agama. Ketika tidak memiliki pemahaman tentangnya, makan jadinya berantakan.
Itulah seharusnya agama Islam, damai, tenang dan tidak berantakan. Ketika hal itu belum terjadi, jangan atas namakan agama sebagai tonggak untuk pembenaran atas segala tindakan anarki yang menentang humanisme. Tidak perlulah nama Tuhanmu dijadikan alasan atas sikap yang masih berantakan memahami agama yang kita anut, agama Islam. Semoga ini mencerahkan!

Tuesday, August 17, 2010

And The Remaining Memories

I couldn't be happier when i found this articles from official website Chinese Childrenhome Shelter and Association, place that i spent volunteering on several childrenhomes on 2008.

I wrote this article when i finished my service on first shelter,Taiwan Christian Faith, Hope, Love: Children’s Home in Ping-Tung County before i started another service at Hsin-Chuang Agape Children Home in Taipei County. It brings back my memories behind.

Feel free to comment :)

Until last night, two days after I left 31 kids in Ping Tung, I still can remember everything single thing they did even in small details.

I can adlibbing every words as they sang Backstreet Boys song and Old McDonald song.

I can feel them tapping in my head like a drumbeat as they danced the tap dance.

I can hear their laughter echo in my ears.

I can't remove all of that from my memory.

Three weeks ago, me and my team started this project in Faith Hope Love Children Home in Ping Tung, Taiwan. This is my first experience visiting Taiwan and do this volunteer work. Before i met them, i imagined about unattractive, shy, not energetic kids. Those pictures ruined in the very first time we played the game to know each other. They were so powerful energetic and lots of laughters. Me, as foreigner knew nothing about them, about their background and things related to that issue. All i know is i have to be with them 24 hours in three weeks. We stick to their schedule from 6.20 in the morning gather around for breakfast, courses at 9 to 11, lunch at 12, take a nap until 3, dinner at 7, and go back to our room at 9. every schedule is fixed and sharp right on time. I really shocked about this at the very first time, i can’t even have my breakfast so early in the morning, and i can’t sleep early either. The first three days was the hardest part and devastated for me. I can’t even understand what they were talking about. When they were laughing i just freeze and have no idea what were they laughing at, and it might be me.

I want to know what they’re talking about, even the little kid just mumbling things that they can even barely understand it, im curious about it.

I want to join and share every laughter they had so i can laugh at hilarious things or even silly jokes they made.

My curiosity about everything about them lead me to enter their world. The world of their own that was isolated from outsider and we, the foreigners, tried to getting into it. At the very beginning it was only my curiousity about live in another country and learn different custom of living took me to Taiwan. But now since i know them, i want to love them and shared what i had to them, hopefully can fulfill their needs.

My curiosity about how they can cover their pain with laughter and joy. I never knew before about their stories and how they can struggle with the stories behind it.

We taught them how to be creative with art such as paper folding, drawing, painting, singing, dancing, and even acting. They were amazingly creative. Right when we just arrived, they just practiced their break dance and they got their style! I don’t know where they learn that moves since they are in a county but it must be because they had lots of limitation but they don’t want to trap in that situation. We also played basketball with them and they beat us every time. In other games they can beat us easily and after that they still had energies to play other things like one wheel bike or just running all around the playground. We tried to open their horizon with taught them dances like tap dance and Saman, Indonesian traditional dance from Aceh. We tried to show them new things that they can learn improved themselves and they have to show us at the farewell party. The emotional part was the farewell thing. After amused the audience by showed all the things we taught them from sang Old McDonald, performed both Tap and Saman Dance, their own drama, and imitating former well known boyband, Backstreet Boys, i felt so sad and hard to leave them in the next day. The fact that they can catch what we taught them for almost three weeks, the fact that they did very great job in every single thing, and the most, the fact that i can’t see them improved their knowledge because i will leave them and may not see each other for the rest of my life.

I remember when the second batch kids were leaving for their home and left a cute message which totally touched everyone’s heart there. I remember the kid who can imitate every dancing move that i taught them and he becomes the best dancer among the others. I keep remember meals that i got in last couple days which is special made because i can’t eat pork and the chef made it for me super big plate of veggie noodle. And i won’t never ever forget when they were crying after sang the goodbye song at the farewell party and the next day they waved goodbye in front of the door then saw them as small kids which finally faded as our way go back to Taipei. But here, in my heart they never fade away, they just stayed.