Sunday, January 29, 2012

Ummi Aminah : Bermain-main dengan Masalah Sinetron di Layar Lebar



Film-film bertema keluarga nampaknya menjadi tema yang banyak ditampilkan dalam beberapa film Indonesia. Tahun 2011 lalu, bisa kita nikmati Garuda di Dadaku, kisah seorang anak yang harus menerima ketika sang ibu menemukan sosok baru pengganti ayahnya. Ada Lovely Man, pencarian seorang anak perempuan ke ibukota demi bertemu sang ayah yang hadir dengan identitas baru. Masih seputar anak dan hubungan dengan keluarganya, awal tahun 2012 sosok ibu kembali hadir menyapa penonton film Indonesia lewat film Ummi Aminah. Kali ini, dalam konflik keluarga yang lebih luas dan rumit, anak-anak Ummi Aminah mengambil peran dalam segala masalah yang muncul sepanjang film ini.

Ummi adalah seorang ustazah alias penceramah yang populer di kalangan pengajian lokal. tentunya banyak imej yang menempel padanya sebagai tokoh agama yang menjadi panutan. Tinggal bersama suami keduanya dan anak-anaknya yang beranjak dewasa, Ummi merasa cukup bahagia meskipun aktivitasnya berceramah tidak membuatnya kaya harta. Anak-anaknya sigap membantu dan berada di sampingnya, meskipun di balik itu semua ketujuh anaknya mengemban masalahnya sendiri. Sebut saja Zainal (Ali Zainal) yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama kedua orangtuanya. Zainal memiliki kesulitan ekonomi dan memilih bekerja mengantar Ummi ke manapun Ummi membutuhkannya. Keadaannya makin terjepit ketika istrinya (Revalina S.Temat) mengandung anak kedua dan kebutuhan finansial tidak lagi terelakkan. Zainal pun mencari sambilan berjualan sepatu wanita yang laris manis dijual kepada jamaah Ummi yang hadir di acara ceramah. Zidan (Ruben Onsu) harus menghadapi ayah kandungnya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zidan lebih terlihat kemayu dibanding saudara laki-laki lainnya. Zidan yang punya usaha salon memilih keluar dari rumah sambil perlahan-lahan mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang ayah. Lain lagi dengan Zarika (Paramita Rusady), anak kedua Ummi yang masih melajang ini begitu ambisius mengejar karier dan menjalin hubungan dengan pria beristri. Keadaan makin merumit ketika berita seputar anak-anak Ummi muncul ke permukaan dan menjatuhkan nama Ummi sebagai ustazah. Berbagai problema terasa makin rumit dan tak asing lagi, seperti menonton kisah sedih sinetron lokal. Bagaimana masalah yang layaknya kita temui di layar kaca televisi ini bisa diselesaikan ala layar lebar Indonesia?

Ada banyak masalah yang berpusat pada kehidupan Ummi dengan anak-anaknya. Ummi digambarkan sebagai sosok yang tidak tahu menahu soal masalah anak-anaknya sampai mereka mengungkapkannya sendiri pada Ummi atau orang lain yang memberitahunya. Di sini begitu terlihat, Ummi diposisikan sebagai korban dari anak-anaknya sendiri. Korban yang hanya tahu kalau seisi rumahnya baik-baik saja ketika anak-anaknya memilih tidak menyakiti Ummi dengan kenyataan pahit yang mereka derita sendiri-sendiri. Sayangnya, efeknya justru lebih fatal. Ummi merasakan kesakitan tiga kali lipat karena merasa tidak mengenal anak-anaknya sendiri dan tidak bisa lebih sensitif merasakan kejanggalan yang terjadi serta berusaha mencegah kejadian lebih fatal terjadi. Penonton dibiarkan menikmati satu persatu masalah tiap anak muncul dan menyambangi kehidupan mereka. Sayangnya, ada pembagian yang tidak merata bagi ketujuh anak-anaknya. Kita tengok Ziah (Zee Zee Shahab), sebagai asisten Ummi ia digambarkan sebagai sosok yang cantik, digemari banyak laki-laki dan berpendidikan tinggi. Di tengah segala masalah merebut suami orang, tuntutan ekonomi, perdagangan narkoba, sampai sulitnya cari kerja, Ziah ‘hanya’ dibebani dilema meninggalkan pekerjaan sebagai asisten Ummi dan menyerahkan tahtanya pada sang kakak, Zubaidah. Ia juga sempat menjadi penghubung dari segala penilaian publik terhadap anak-anak Ummi yang dianggap gagal menjadi panutan. Ziah yang berada di posisi penting dan selalu berada di samping Ummi tidak dilibatkan dalam situasi signifikan. Duduk sepanjang 104 menit film ini membuat kita sejenak berpikir dan mencoba menghubung-hubungkan kisah Ummi dengan sinetron yang biasa tayang di layar kaca. Penuh plot masalah yang seolah tidak ada habisnya, akting pemainnya yang kadang berlebihan dan dibuat-buat, atau para pemainnya yang memang bisa kita temui di beberapa judul sinetron atau FTV. Satu hal yang menarik ketika judul utama bukanlah menjadi peran utama. Sosok Ummi memang seperti dijual dalam poster dan cerita sepanjang film tetapi masalah Ummi justru berpusat dari hal-hal di luar dirinya di sini, Ummi berperan penting sebagai pusat dari segala pergerakan yang ada dalam film. Bukan sekadar masalah saja. Dinginnya hubungan antara Zidan dan ayahnya, membuahkan keberanian dan turunnya gengsi ayah Zidan untuk menemui Zidan di salonnya. Tidak ada tendensi lain kecuali membuat Ummi merasa para supporting system dalam keluarganya bisa berjalan selaras. Tidak pernah diungkapkan secara verbal kalau Ummi mau ayah dan Zidan berbaikan. Sayangnya beberapa pemain berakting secara dipaksa dan berlebihan, inilah yang kembali membuat Ummi Aminah kembali dianggap layaknya sinetron, salah satunya adalah Paramita Rusadi.

Satu catatan penting, nampaknya sutradara Aditya Gumay perlu belajar bagaimana menyudahi filmnya tanpa harus mengungkapkan segala sesuatu secara eksplisit. Sesekali, biarkan penonton menikmati imajinasi yang ada di kepalanya ketika layar berubah jadi hitam dan masuk credit title. Harusnya akhir dari film inilah yang menjadi pembeda kisah sinetron yang kerap mengaduk-aduk emosi penonton secara eksplisit yang tidak menjadi akhir perjalanan atau masalah Ummi.

Welcoming The Year of Dragon

Perjalanan perdana tahun 2012 ini diawali dengan kunjungan ke negri tetangga Singapura. Sebenarnya saya bukan tipe yang suka mengunjungi satu tempat yang sama dalam kurun waktu berdekatan. Terkahir saya ke SG tahun 2010 dan 2007, memang cukup lama jaraknya tetapi saya masih bisa mengingat cukup jelas beberapa tempat yang sudah saya kunjungi. Kali ini, tujuan utamanya adalah menonton drama musikal Broadway Wicked yang pentas sepanjang Desember – April di Marina Bay Sand. Awalnya saya merencanakan pergi sendiri karena tidak berniat mengelilingi kota tersebut tetapi di tengah jalan, salah satu teman baik saya, Fauzan tertarik bergabung. Jadilah, perjalanan yang awalnya hanya berkisar menonton teater tidak lebih dari semalam diperpanjang menjadi tiga malam, tentu dengan agenda perjalanan yang lebih banyak. Pilihan waktu berlibur ini ternyata tanpa saya sadari bertepatan dengan perayaan Imlek, lengkaplah sudah. Saatnya saya mewujudkan cita-cita menikmati suasana tahun baru China di negara yang mayoritas merayakan xin jia ini.


Sebelum perjalanan dimulai, ada satu pakem yang harus dilakukan menyangkut partner perjalanan saya. Meskipun sudah berteman cukup lama, ada hal mendasar yang harus didiskusikan, bujet dan tujuan perjalanan. Mengingat saya adalah seorang control freak, jadi saya harus memahami apa keinginan partner saya kali ini dan batasan apa yang sama-sama kita miliki. Setelah didiskusikan, Fau menyerahkan itinerary perjalanan pada saya. Ya, termasuk pemesanan tiket pesawat, hotel, nonton Wicked sampai rencana perjalanan harian. Sama-sama kami akui kalau perjalanan ini merupakan perjalanan irit, yang sebenarnya memang selalu jadi prinsip ekonomi saya saat trip apapun. Saya bahkan lebih fair, menyebutkan angka nominal yang saya bawa selama perjalanan. Tujuannya supaya tahu kemampuan satu sama lain tanpa harus merasa sungkan atau jadi sensitif. Mengingat kurs SGD sendiri cukup tinggi, kami harus pintar-pintar memotong bujet agar tetap bisa menikmati liburan tanpa sengsara.

Untuk perjalanan yang direncanakan lebih kurang sebulan dalam suasana peak season, kami cukup beruntung mendapat harga tiket dan hostel yang terjangkau. Tiket nonton Wicked pun kami memilih yang termurah. Asumsi kalau gedung teater yang bagus tentu memadai semua penontonnya untuk menikmati pertujukan dengan nyaman, bukan?

Tiger Airways USD 210
Feel At Home Hostel (3 Nights,6 Mixed Dorm) USD 90,17
Wicked tickets SGD 110,88 USD 91,8
Total USD 391,7 : 2 persons = USD 195,9

Total pengeluaran memang terasa besar karena tiket nonton teater yang jadi tujuan utama. Jadilah di sini pintar-pintarnya menghitung dan berhemat, pilihan saya waktu itu adalah menghemat pengeluaran makan-makan dan transportasi. Mengingat lokasi hostel berada di Bugis, transportasi sangat bisa dihemat dengan MRT, Bus atau jalan kaki saja.

Bagaimana kisah perjalanan super irit kali ini?

Mulai dari hari pertama, penghematan sudah dilakukan dari urusan makan. Ternyata, Fau punya pengalaman lebih gila soal penghematan. Dalam trip sebelumnya ke KL, ia dan beberapa temannya sampai nekat bawa bekal nasi beserta lauk pauknya untuk bertahan sampai 2 hari! Cara yang cukup ekstrim dan saya bersyukur ia tidak melakukannya dalam trip kali ini. Kebayang masuk ke pesawat dengan tas penuh nasi putih dan bau rendang yang merebak ke seluruh penjuru pesawat. Tidak hilang akal, ternyata Fau mengantisipasinya dengan membawa bekal roti siap makan untuk bekal dua hari. Saya cukup terselamatkan, di hostel kami menyediakan sarapan sebelum jam 10 pagi dengan menu roti panggang selai srikaya dan menu tambahan sesuai selera (dan mood) pemilik hostel. Untungnya saya tidak bosan menikmati menu itu selama empat hari berturut-turut. Ide hemat lainnya, beli air mineral di hostel juga bisa menghemat barang 50-80 sen sama seperti yang terjadi di hostel Ho Chi Minh City. Misalnya sering naik MRT kadang kita tidak sadar jarak tempuh yang terjangkau walking distance-nya dihargai SGD 1-2 padahal bisa jalan 5-15 menit saja. Coba rajin-rajin baca peta, kira-kira berapa blok yang harus ditempuh jalan kaki daripada harus naik MRT atau bus. Setelah menonton Wicked dan berkeliling Singapore River, waktu sudah menunjukkan tengah malam, tentunya opsi moda transportasi yang tersisa hanya taksi atau bus. Bagi saya, bus adalah opsi utama untuk tersesat di kota dan taksi tentu punya ongkos tambahan jika lewat tengah malam. Kami pun menyusuri Esplanade sampai Bugis yang jaraknya lebih kurang 6 blok dengan berjalan kaki. Selama 20-25 menit, perjalanan tidak terasa lelah karena jalan santai dan menikmati suasana Singapura di malam hari yang cukup aman.
href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggpiaBBNlFS4QABEKlu2d7gBaQhgn_gEiMmUqMbKBt9Xg9xOEyldU0SmwgBKwk506BI_xxN3a4Zrtx9vKJeaxEVLzp5QvmG72HDka8ThdEnPX27lvzEU0-RSZkFz-l5FGBiotU/s1600/Sing+Panorama.jpg">
Perjalanan Hemat Bukan Berati Tanpa Hura-Hura Bukan?


Selama dua kali mampir ke SG bersama teman, kebanyakan hanya melihat daerah pertokoan di Orchard, kafe cantik di Clarke Quay, dan menikmati resor populer di Sentosa.

Kali ini saya tidak mau sia-siakan, saya sudah menargetkan menjelajahi museum, daerah pecinan, sampai pelosok yang jauh dari keramaian apalagi perbelanjaan. Dengan waktu yang minim memang lokasi yang dijelajahi lebih terbatas, National Museum of Singapore (NMOS), Singapore Art Museum (SAM) dan Chinatown menjadi target utama saya.
Dengan membayar masing-masing SGD 10, saya menikmati museum yang begitu megah dan penuh dengan koleksi unik termasuk film dan kuliner Singapura di National Museum. Di SAM malah sedang berlangsung kompetisi bagi seniman Asia termasuk Indonesia.

Mulai dari lukisan, fotografi, seni visual, sampai video dipamerkan di museum sebanyak tiga lantai dan satu gedung annex. Karya yang memikat hati saya, film dari Taiwan tentang sulitnya menembus visa Amerika dan kebijakan kewarganegaraan Taiwan dan China. Selain itu, di NMOS terdapat museum film dan wayang yang berisi sejarah dan perjalanan perkembangan film di Singapura.



Di Chinatown, saya juga sudah mengincar beberapa lokasi makan yang direkomendasikan, sayangnya lokasinya begitu padat dan saya sudah keburu tidak nafsu dengan ramainya perayaan pergantian tahun kelinci ke tahun naga, apalagi hujan tidak habisnya mengguyur kota. Sudah tentu, perayaan Imlek menjadi atraksi utama yang saya tunggu apalagi banyak objek yang bisa diabadikan lewat foto.


Keuntungan lain yang tak terduga, setelah puncak acara kembang api perayaan Imlek, hujan deras dan jalanan yang ditutup sana-sini sempat membuat saya dan Fau memutuskan mencari taksi. Sambil menunggu, kami mencoba melirik stasiun MRT. Logikanya, MRT trakhir ada di jam 11 malam sedangkan saat itu waktu menunjukkan jam 1 malam. Ternyata, khusus di malam pergantian tahun MRT beroperasi lebih malam dari biasanya ke semua jurusan! Sukses berhemat lebih dari SGD 10 untuk pulang.

Every Penny Counts!

Sepanjang menyusuri Singapura yang serba mahal (dibandingkan perjalanan sebelumnya ke Ho Chi Minh City), tentu harus ada trik-trik yang bisa digunakan saat perjalanan ke negara yang biaya hidupnya tinggi. Kali ini ada beberapa tips supaya tetap bisa hidup nyaman & tenang. Kalau kata Ligwina Hananto, masa liburannya udah selesai tapi hutangnya belum beres-beres?

* Kenali kemampuan finansial partner liburanmu. Ini penting, apalagi uang masalah yang sensitif. Gak lucu dong kalau ternyata kamu hura-hura padahal partner kamu keuangannya menipis? Dari awal fair-fairan aja,berapa persiapan uang saku sepanjang perjalanan. Daripada ada yang sakit hati nantinya?

* Maksimalkan fasilitas hostel (atau hotel bila mampu), mulai dari sarapan gratis, wifi, loker, sampai refill air mineral. Sudah jadi hak kamu kok dengan uang yang sudah kamu keluarkan itu.

* Ini yang saya juga baru tahu, ada beberapa hostel yang punya website sendiri untuk booking. Ternyata, mereka bisa kasih diskon kalau kamu booking langsung ke websitenya dan bukan dari booking agent seperti hostel.com, hostelworld.com atau agoda dan sebagainya. Kalau baru pertama kali, lebih baik di booking agents karena urusan keamanan kartu kredit kamu terjamin.

* Beberapa booking agents juga punya harga berbeda, jadi pilih yang harganya paling rendah. Saya sempat coba bandingkan hosteworld dan hostel.com, untuk hostel Feel at Home Bugis, hostelworld.com menawarkan harga lebih murah lebih kurang 20.000 rupiah permalam-per orang. Lumayan kan?

* Habiskan koinmu! Ini yang kadang-kadang jadi jebakan, uang koin yang berceceran kalau dikumpulkan bisa jadi uang makan siang atau naik bus kamu. Perjalanan kemarin saya benar-benar menghabiskan uang koin sampai 10 sen terakhir.

* Jangan lupa refund kartu MRT, Octopus, atau sejenisnya. Walauu hanya 1 dollar itu sangat berharga karena senilai sebotol air mineral.

* Kalau mau menonton pertujukan, drama atau teater, kadang mereka juga punya harga yang lebih murah untuk pertunjukan weekdays atau siang hari. Perbedaanya bisa sampai SGD 10-20!

* Buat shoppaholic, coba jadwalkan agenda belanja di hari terakhir saja. Asumsikan belanja itu bisa dilakukan kalau ada sisa uang. Dengan trik seperti ini, kamu bisa hemat di awal karena ingin belanja di akhir tetapi kalau ternyata tidak ada barang menarik, justru kamu punya sisa uang banyak yang tak terpakai :D

* Targetkan dan jangan tergoda! Saya selalu berusaha menargetkan untuk tidak menggesek kartu kredit atau membuka dana cadangan selama perjalanan. Tujuannya supaya disiplin dan tidak boros. Kalau dari awal hanya berniat memakai uang jajan USD 200, jangan tergoda menukarkan rupiah saat uang mulai menipis. Prinsipnya: "Saya bisa bertahan dengan sisa uang!" jangan, "Kan masih ada cadangan rupiah yang belum dituka!"

新年快乐 !

Monday, January 09, 2012

Get Lost and Find Your Way Back, Solo!

Pernah gak menyadari selama kamu liburan, akan ada 4 jenis orang yang akan kamu temui,
1. Orang yang selalu punya standart sendiri yang tinggi, buat dia semuanya serba kurang memuaskan dan akhirnya komplain terus. "Duh, foto di angle kaya gini di depan menara Eiffel kurang oke yah?" "Duh, kotor banget deh hotelnya, gak bisa dapet suite aja yah kita?". Capek gak sih denger yang kaya gini selama perjalanan 2 minggu tur bareng?

2. Orang yang selalu takut mencoba hal yang baru di destinasi liburan. Misalnya menolak mencicipi makanan lokal atau terlalu takut mencoba bungy jumping di Bali. So, where's the excitement of trying something new then?

3. Orang yang selalu excited dengan segala tourist attraction dan siap berfoto di mana pun. Gak peduli di mana pun kapan pun, lokasi mulai dari Jembatan Ampera sampai toko kelontong di Palembang semuanya dijadikan objek foto.
Hmm..sebenarnya lagi eksplorasi liburan atau sesi foto yah?

Sebenarnya gak masalah sih sesekali bertemu partner liburan kayak gini, tapi apakah kamu yakin mau menghabiskan semua waktu liburanmu bersama orang-orang itu?
Demi mendapatkan kepuasan liburan yang maksimal nampaknya pilihan travelling solo bisa menjadi alternatif untuk kamu yang selama ini terbiasa liburan sama keluarga, teman atau ikutan tur!

Why solo traveling?
Untuk kedua kalinya saya melakukan solo trip Mei 2011 lalu ke Beijing,China. Alasannya dari dulu saya suka sekali dengan sejarah dinasti China dan penasaran dengan gimana peninggalan kerajaan mereka. Saya juga ingin mempraktikan bahasa Mandarin yang sudah lama dipelajari tapi jarang dilatih. Gak gampang nemuin teman yang mau pergi ke sana bareng apalagi biayanya juga cukup besar, akhirnya saya rencanakan liburan ini sejak November 2010 lalu untuk nabung dan cari info sebanyak-banyaknya. Tekad sudah bulat, saya akan ke Beijing dengan atau tanpa teman!
Mungkin kamu ada yang terobsesi untuk kelilingi Pulau Sumatera sampai ke kota terpencilnya? Atau penasaran sama India tapi langsung ditolak sama temen-temen karena dianggap gak oke? Nah, mungkin ini kesempatan buat solo trip supaya obsesi liburan ke tempat eksotis atau ngulik suatu lokasi liburan tercapai. Liburan bareng sahabat atau rame-rame segeng emang seru, tapi kalau setiap direncanain akhirnya gagal karena ada salah satu teman yang gagal nabung untuk liburan, gak mau dong usaha nabung kamu ikut sia-sia? Biasanya sih solo trip terjadi karena tidak adanya kesamaan tujuan destinasi. Selain itu, petualangan solo trip akan lebih menantang karena kamu harus siapkan semuanya sendiri dan gak bergantung sama siapapun. Menegangkan ya?

How to plan?

Enaknya solo trip kamu bisa nentuin semuanya apa aja sesuai keinginan, kebutuhan dan kemampuan kamu. Pertama tentu tentukan destinasi dan mencari tiket pesawat atau kereta. Sekarang banyak budget airlines yang selalu kasih promo, pesan tiket minimal 1 bulan sebelum berangkat dan jangan malas untuk cek terus tiket di beberapa website karena reservasi online harganya bisa 30% lebih murah dibanding beli langsung ke gerainya. Kedua, pilih youth hostel sebagai tempat menginap kamu. Di sana akan banyak solo traveler lainnya yang juga melakukan solo trip. Selain tergolong murah (mulai $5 per malam) youth hostel sudah dilengkapi dengan segala fasilitas yang serba self-service dan harganya lebih terjangkau. Untuk booking youth hostel, saya selalu memperhatikan lokasi dan juga review dari orang-orang yang sudah menginap di sana. Di hostels.com mereka biasanya akan menunjukkan review dan deskripsi lokasi.
Tiga, siapkan itinerary tujuan wisata mana saja yang mau kamu kunjungi. Suka berantem selama liburan sama sahabat gara-gara kamu lebih milih hunting foto sekaligus menonton pertunjukan seni sedangkan dia lebih milih belanja? Saatnya kamu bebaskan semua keinginan kamu untuk menjelajah. Dengan itinerary yang jelas dan lengkap, kamu juga bisa lebih pede mau melangkah ke mana selama solo trip. Browsing di internet, buku panduan seperti Lonely Planet atau bisa juga curi-curi itinerary yang umum dibuat oleh travel agent. Mumpung travel sendirian, saya bisa memadatkan satu hari mengunjungi Forbiden City, Jingshan Park, Beihai Park dan Olympic Stadium di Beijing. Pegel dan capek sih karena total jalan kaki nyaris 14 jam tapi puasnya luar biasa!
Last but not least, gabung di forum. Merencanakan liburan sendiri bukan berarti gak cek-cek ombak dengan traveler lainnya kan? Banyak banget forum jalan-jalan yang bisa membantu kamu menentukan tujuan bahkan bisa menawarkan tempat tinggal selama kamu liburan. Mau meminta pendapat atau masukan seputar rencananya liburan kamu? Gabung di milis Jalansutera atau couchsurfing.org kamu juga bisa ketemu guide gratis kalau beruntung! Awalnya saya mau mengunjungi China saat Imlek untuk merasakan festivenya tapi setelah tukar info di milis, ternyata Imlek adalah waktu yang tidak tepat karena akan sangat berisik dan banyak tempat wisata yang tutup.

It’s not really traveling solo anyway!

Meskipun rencana awalnya memang menghabiskan waktu liburan sendirian, praktiknya nanti akan banyak orang yang berpotensi untuk diajak berpetualang bersama tapi pilihannya tetap ada di tangan kamu. Waktu solo trip ke Taipei, saya bertemu hostel mates orang Amerika dan Korea. Berawal dari sharing pengalaman liburannya, kami sempat menghabiskan waktu bersama ke Taipei 101 dan menikmati nightmarket di Shilin. Di Beijing lain lagi, roommate saya orang Tunisia awalnya terkesan sombong dan pemarah. Ternyata ia sudah cukup bosan jalan sendiri setelah 3 minggu mengunjungi 4 kota di China dan akhirnya saya mengajaknya nonton Chinese Acrobat bersama-sama. Saya bergabung ke grup Beijing di Couchsurfing.com ternyata banyak sekali acara seru yang bisa diikuti, seperti Chinese Lesson kilat, Monday Meeting sampai dinner Weekly Wednesday yang jadi ajang gathering puluhan surfer di kota tersebut. Seru!

Final Note!
- Takut kesasar atau terlihat bingung? Intinya pede aja! Itinerary yang lengkap dan buku panduan bisa jadi survival kit dan obat pede! Kadang kebaikan orang suka gak diduga, setelah naik bus 2 kali bolak balik karena nyasar saat nyari alamat, mas-mas delivery McD berbaik hati nganterin saya selamat sampai ke tempat tujuan!
- Laguange is not really a barier! Gak bisa bahasa setempat? Jangan khawatir, bahasa Tarzan masih lebih ampuh dari bahasa apapun di dunia. Selalu siapkan catatan dan bawa kartu nama alamat hotel dan nomer telepon untuk keadaan darurat.
- Suka deg-degan dengan petugas imigrasi setempat? Santai saja dan rileks. Selama dokumen kamu lengkap semuanya lancar. Untuk jaga-jaga kalau paspor dicuri atau hilang, simpan fotokopi paspor dan visa kamu dan cari tahu di mana lokasi kedutaan Indonesia di kota tersebut.

So, are you ready to get lost and find your way back alone?

Published for Spice! Magazine in June 2011

Thursday, January 05, 2012

Demi Ucok: Anak, Bunda, dan Mimpi yang Tenggelam


Siapa sih sosok perempuan yang kadang menjadi momok bagi perempuan lain? Di film Eliana, Eliana diceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk mencari dan bertemu dengan anak perempuannya yang lama ditelan ibukota. Kisah Eliana dengan ibunya menampilkan hubungan antar perempuan, di mana terasa ada gesekan tetapi tidak melepaskan hubungan yang saling membutuhkan. Ibu dan anak perempuannya kerap digambarkan begitu erat meskipun ada love-hate relationship yang mewarnainya.

Isu seputar hubungan ibu-anak masih menarik perhatian, salah satunya bagi Sammaria Simanjuntak, sutradara film Cin(T)a yang mengangkat tema cinta dan perbedaan agama. Cin(T)a konon menyentuh banyak pihak yang merasa dekat dengan kisah cinta beda agama. Seperti mencoba peruntungan dengan formula yang dekat dengan kehidupan hampir semua perempuan usia dua puluhan, Sammaria kali ini menghadirkan Demi Ucok, film komedi yang mengangkat hubungan antara ibu dan anak perempuannya. Pemutaran pertama film tersebut bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember 2011 lalu di Bandung.

Keluarga Atau Karier?

Glo alias Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga Batak yang tinggal dengan ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung). Pasca kematian sang ayah, Mak Gondut begitu terobsesi menikahkan anaknya dengan laki-laki Batak apalagi di usianya yang nyaris masuk kepala tiga, Glo belum menunjukkan tanda-tanda mau memulai kehidupan rumah tangga. Bagi Mak Gondut, ia tidak akan bisa mati dengan tenang kalau Glo belum mendapat jodoh orang Batak.

Sayangnya, Glo tidak menunjukkan ketertarikannya pada laki-laki manapun. Glo lebih tertarik pada film dan membuat film. Ironisnya, Glo tidak punya cukup uang untuk mendanai filmnya sendiri. Mak Gondut pun memanfaatkan situasi yang kurang menguntungkan itu. Ia menawarkan uang asuransinya senilai satu milyar asalkan Glo mau menikah dengan laki-laki Batak pilihannya. Dengan estimasi waktu satu tahun, Mak Gondut yang sakit-sakitan melancarkan usahanya mencarikan jodoh Batak untuk Glo. Pilihan pun ada di tangan Glo, apakah ia termakan rayuan Mak Gondut demi sebuah film yang masih dalam angan-angannya?

Sepanjang perjalanan cerita Glo, penonton disuguhkan curahan hati seorang perempuan yang ambisinya dianggap hanya sekadar main-main oleh orangtuanya. Karakter Glo sendiri ditelanjangi lewat dialog-dialog yang dipaparkan lewat cerita Mak Gondut. Mulai dari sikapnya yang tidak ramah, tidak disukai lawan jenis, sampai terlalu banyak bermimpi ingin membuat film. Sebaliknya, tokoh Mak Gondut sendiri cukup mendominasi lewat narasi Glo yang dibuat cukup komikal.

Unsur komedi dinarasikan lewat gerak-gerik Mak Gondut. Misalnya, sebagai perempuan Batak yang konon harus dijodohkan dengan laki-laki Batak, Mak Gondut memainkan perannya dalam sebuah acara pernikahan Batak yang lengkap dengan tarian, pesta prasmanan sajian serba babi, dan ulos yang dikenakan para undangan. Latar-latar tersebutlah yang membantu penonton memahami letak humor yang ditampilkan lewat Mak Gondut, lengkap dengan celetukannya yang terasa segar dan menohok.

Beberapa adegan membutuhkan konteks pemahaman situasi dan stereotipe kultur Sumatera Utara yang beredar di masyarakat. Misalnya, Mak Gondut berkali-kali menyatakan Glo harus mendapat laki-laki asli Batak bukan campuran. Ketika Nikki (Saira Jeihan) teman Glo muncul di tengah keluarga Glo dan mengatakan kalau ia masih keturunan Batak. Mak Gondut pun berceletuk, “Lho, kau Batak? Kok cantik?” Dari dialog tersebut ada praanggapan perbandingan tampilan fisik antara Nikki yang merupakan Batak campuran lebih menarik dari Glo yang Batak tulen.

Adegan demi adegan dibentuk lewat pemahaman bagaimana kultur Batak yang ada dalam keluarga Mak Gondut terjadi. Meskipun dijelaskan secara gamblang apa saja tujuan hidup perempuan Batak, penonton disuguhkan adegan dan dialog yang trivial seputar kebiasaan dan pola pikir perempuan Batak ala Mak Gondut, yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Dilengkapi juga dengan pola pikir Glo yang cenderung cuek.

Puas mencecoki penonton dengan segudang trivia seputar adat Batak, cerita pun dipenuhi dengan obsesi Glo yang berkali-kali menyebutkan ingin membuat film. Tidak ingin menikah, tetapi ingin membuat film. Dalam film, pernyataan tersebut seperti tidak ada habisnya disampaikan oleh sang pemeran utama. Dalam perjalanannya penonton seperti dihadapkan pada masalah Glo, langkah apa yang sebenarnya mau diikuti Glo? Apakah ia akan mengikuti idealismenya untuk mencari seribu satu cara demi mewujudkan filmnya, atau berbalik menjadi anak Batak yang berbakti demi ketenangan hidup dan mati Mak Gondut? Sayangnya, masalah Glo sebagai kisah utama dalam film ini terkesan berputar-putar tanpa penyelesaian masalah yang terarah.

Tak Jelas Arah

Nampaknya, curhatan utama sang penulis dan sutradara tergambar dalam masalah ketidakbisaan Glo membuat film akibat minimnya dana dan dukungan orang terdekat. Sang sutradara Demi Ucok nampaknya mengalami hal yang sama. Tidak hilang akal, berbagai cara dilakukan termasuk mencoba merekrut 10.000 calon co-producer yang mau menyumbang uang senilai Rp 100.000, dengan timbal balik namanya akan terpampang di poster film dan merchandise yang dibuat khusus untuk film ini. Hal tersebut tidak hanya disampaikan langsung oleh Sammaria kepada penonton. Dalam film pun Glo mencoba cara yang sama demi terwujudnya film impiannya.

Masalah yang diungkapkan dalam film cenderung berkisar di situ-situ saja, tanpa ada arah yang jelas, tanpa ada prioritas mana yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Tokoh-tokoh pendukung yang meramaikan kehidupan Glo pun tidak terlalu berdampak signifikan bagi penyelesaian masalah Glo. Misalnya saja, A Cun (Sunny Soon) di awal berkali-kali ditampilkan sebagai orang terdekat Glo. Makin ke tengah dan akhir film, A Cun justru mengalami malfungsi. Seolah menjadi pemanis saja, A Cun tampil sesekali tanpa maksud dan peran yang jelas dalam hidup Glo.

Berbeda lagi dengan Nikki, ia terlihat menjadi sidekick Glo yang sesekali mendorong semangat Glo, walau sesekali melakukan konfrontasi terhadap tindakan Glo. Sebagai karakter yang digambarkan begitu keras, Glo seolah membutuhkan tokoh lain yang membuatnya menampilkan sisi halus, dan bisa mengungkapkan apa keinginannya lebih dari sekadar memaksakan ambisi semunya. Tokoh Nikki ini pulalah yang cukup kuat tampil sebagai pemeran pembantu dibandingkan tokoh A Cun.

Beberapa bagian dari Demi Ucok sebenarnya bisa dimaksimalkan lewat minimalisir adegan dan juga dialog-dialog pemainnya. Misalnya saja, beberapa kali digambarkan Mak Gondut masuk-keluar rumah sakit. Saat pertama kali begitu terasa dramatis dan mengena bagi Glo, namun lama-kelamaan tidak terasa jelas tujuan sebenarnya adegan tersebut ditampilkan berkali-kali.

Sebaliknya, beberapa adegan yang indah dan bisa dinikmati secara perlahan justru ditampilkan hanya sekelebat saja, seperti percakapan Glo dengan sang ayah lewat pusaranya. Adegan tersebut bisa menjadi bagian yang menyentuh di tengah adegan-adegan komedi yang diciptakan Glo dengan sang ibu. Entah apakah ada alasan teknis yang membuat adegan tersebut dan beberapa adegan lain terasa kasar terpotong sehingga berkurang rasa ke dalam adegan-adegan selanjutnya.

Secara keseluruhan, Demi Ucok mencoba menampilkan curhat seorang perempuan di tengah mimpinya, dan juga ambisi orangtua yang kadang menghimpit jati diri serta kebebasan untuk berekspresi. Hubungan anak perempuan dan ibunya dijadikan sebuah latar belakang yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan kedua belah pihak. Nyatanya, yang tampil di layar justru sebaliknya. Sang ibu menjadi aktor utama dalam kehidupan sang anak dan secara tidak sadar anak dijadikan boneka sebagai perpanjangan tangan ambisi ibunya sendiri. Banyaknya mimpi dan pesan yang berusaha disampaikan kadang tidak membuat penonton mencerna dengan seksama. Sebaliknya, malah membuat penonton merasa dicecoki sesuatu yang berlebihan dan kemudian justru kehilangan esensinya.

Demi Ucok | 2011 | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Negara: Indonesia | Pemain: Geraldine Sianturi, Lina Marpaung, Sunny Soon, Saira Jeihan

Also featured on cinemapoetica.com

Tuesday, January 03, 2012

Doomsday Is Coming!

“When everyone believe that doomsday is coming on 2012, why would i believe that good things are coming on upcoming year?”

Tahun 2012 itu momok. Konon tahun depan sudah kiamat. Tapi, sejak 1997 komik Jepang menggembar-gemborkan kalau tahun 2000 bumi akan hancur. Jadi, sebenarnya kiamat ada di tangan Tuhan yang mana? Roland Emmerich atau Steven Spielberg yang sering membuat film-film bertema kehancuran dunia?

Well, selama doomsday belum terjadi tidak ada salahnya kita menaruh harapan pada tahun baru yang lebih menjanjikan dan semangat baru yang biasa muncul di penghujung tahun untuk melepaskan sisa-sisa energi negatif bersambut sesuatu yang lebih positif. Tentunya, tidak afdol sebelum merangkum sedikit hal-hal menarik yang menyangkut di hati selama 365 hari di tahun 2011 ini.

Bagi saya, tahun ini merupakan tahun yang menyadarkan di beberapa aspek. Kembali ke masalah yang terjadi di tahun sebelumnya, tahun ini difokuskan untuk lebih fokus dalam menjalani sesuatu. But again, godaan itu selalu hadir untuk mencoba hal-hal baru. Selama tidak dosa, why not? Pencapaian terbesar bagi saya tahun ini adalah soal traveling dan pindah jalur. Dengan traveling saya menemukan sisi lain dari diri saya yang menambah kepercayaan diri saya sekaligus proses dari melihat dunia. Beberapa orang terheran-heran dengan kebiasaan saya yang ‘mengumpulkan uang untuk dihabiskan jalan-jalan’. Bagi saya, traveling itu bukan sekadar jalan-jalan. Petualangan baru sudah menanti saya di tiap destinasi baru dan prinsipnya, selama masih bisa bekerja, uang masih bisa dicari untuk kegiatan yang satu ini. Soal pindah jalur, saya sudah berbicara banyak di blog ini beberapa waktu lalu. Tahun ini, saya seperti menemukan ‘jodoh’ yang selama ini saya cari. Perjalanan menemukan ‘jodoh’ inilah yang menarik sampai akhirnya saya berani pindah jalur. Satu lagi, begitu banyak konser yang saya tonton tahun ini dan mengurangi musisi yang harus saya tonton di bucket list saya :D

JANUARI

Ini merupakan tahun kedua merayakan ulangtahun Cosmopolitan FM. Di usia ke sembilan kali ini, tema yang diambil adalah Back To 90’s. Tugas kali ini cukup berat, mengingat generasi saya punya idola berbeda dengan generasi Cosmoners. Untungnya, sukses juga mengundang model legendaris Elmo dan Susan Bachtiar, penulis Lupus, Hilman dan juga duo Denny – Didan yang hits dari boyband ME.

Salah satu resolusi saya juga tercapai bulan ini, give back to my community. Kegiatan voluntir Berburu (Berbudaya itu Seru) dimulai bulan ini. Di Januari ini saya menonton konser Ne-Yo, mungkin satu-satunya musisi R&B yang saya suka. And it was great!

FEBRUARI

Kali ini saya berkesempatan mewawancarai Duncan Sheik, penyanyi yang dikenal lewat lagu Wishful Thinking. Biarpun gak begitu ngefans, interview ini saya manfaatkan untuk mengasah bahasa Inggris dan tingkat kepedean saya saja. Februari yang bertema cinta juga membawa saya ke acara Love Garage. Di konser ini awalnya saya tertarik nonton Flight Facilities, ternyata justru Two Door Cinema Club yang membuat saya jatuh hati, sampai hari ini!

MARET

Salah satu bulan terpenting dalam tahun ini. Dalam rangka Bulan Film Nasional yang rutin diadakan DKJ, tahun ini ada coaching clinic yang dibuka khusus untuk kritik film. Beruntungnya saya terpilih jadi salah satu dari lima peserta yang lolos seleksi. Duo mentor yang mengajar juga tidak main-main, JB Kristanto, wartawan senior dan kritikus film dan.. *drumroll* salah satu rockstar saya, Eric Sasono. Jadilah tanggal 26 Maret itu menjadi titik balik saya menemukan apa yang sebenarnya saya mau. Peserta lainnya juga tidak main-main, duo Makbul Mubarak & Adrian Jonathan dari CinemaPoetica.com sempat membuat saya jiper karena tulisan mereka yang maha dasyat di blognya. Belum lagi Angga Rulianto & Doni Agustan yang memang terjun ke dunia produksi film. Kebanggaan saya, saya menjadi satu-satunya peserta wanita saat itu. Lepas dari klinik kritik, saya banyak belajar dari para mentor dan fellow pasien-pasien yang masih ‘rawat jalan’. Kesempatan makin terbuka, ketika CinemaPoetica menawarkan untuk berkontribusi di blognya.

Alasan apalagi yang membuat bulan ini penting? Hampir sebulan ini padat jadwal konser; Java Jazz (Santana, Peabo Bryson, Corrine-Bailey Rae,etc), Suede, Mark Ronson dan... *drumroll lagi* MGMT!!!! Jadilah tanggal 26 itu keramat karena konser MGMT tepat di hari yang sama dengan klinik kritik. Oia, di konser Mark Ronson pun, ada bintang tamu Andrew Wyatt dari Miike Snow yang hadir!

APRIL

Perjalanan pertama di 2011 ini dimulai! Awal April yang akrab dengan April Mop mendatangkan ‘kejutan’ tersendiri sebelum liburan ke Bali dimulai. Saya, Aldy, Olla dan Aussie yang nekat mengambil cuti bersama-sama dianggap melakukan konspirasi di kantor. Sebenarnya ini bukan hal besar, tetapi karena ada event kantor yang butuh banyak SDM, jadilah ini suatu masalah. Akhirnya, konspirasi ini berbuah manis. Perjalanan lima hari di Bali menyegarkan otak saya yang terakhir menginjakkan kaki di Bali sebelas tahun lalu. Pantai Geger, Rockbar, Potato Head, Kuta, Seminyak, Legian jadi saksi ‘kelengketan’ kami berempat.

Bulan ini juga saya menjadi saksi yang beruntung menikmati aksi Adam Levine dkk tampil di Jakarta setelah puluhan ribu orang kecewa kehabisan tiket Maroon 5. Saya? Maaf, saya hanya duduk manis menerima tiket yang sudah diantrikan sebelumnya dengan harga normal saja. Satu lagi keberuntungan, menyaksikan Justin Bieber dengan selembar tiket gratis dan menikmati sorak sorai bersama puluhan ribu abg lainnya!

MEI

Another month and journey to remember this May! Seperti sudah direncanakan tahun sebelumnya, 2011 akan diisi oleh tiga perjalanan dan salah satunya adalah big solo trip. Apa bedanya dengan trip lainnya? Bagi saya, big trip bisa dari durasi perjalanannya dan uang yang dibutuhkan. Sengaja saya pilih solo trip supaya bisa memenuhi kepuasan dan keinginan saya. Sejak November 2010, saya sudah menabung untuk perjalanan ini dan pilihan tertuju pada Beijing. Jujur, kepercayaan diri saya meningkat dan ini membuat saya nagih lalu berjanji tiap tahun akan menabung demi another big solo trip. Bagi saya tidak ada yang sia-sia, ada pelajaran yang saya dapat dari tiap petualangan. Eventhou i was alone, i’m not afraid to get lost because the journey is all about find the right way back home with all those obstacles and limitations,eh?

Di bulan yang sama, ada Switchfoot yang kembali menyambangi Jakarta dan kali ini berkesempatan nonton konsernya :D

JUNI

Setelah sebulan sebelumnya i feel good about myself, ada sedikit undakan yang iseng mampir ke perasaan menyenangkan itu. Kalau baca postingan sebelumnya, ada kekecewaan ketika sudah latihan nyaris dua bulan untuk misi budaya Kalimantan Barat ke Prancis, mendadak ada kebijakan dari panitia yang membuat saya memilih mundur. Ada kejanggalan yang membuat saya tidak sreg dan ragu-ragu. Tuhan masih sayang, setelah saya mundur, beberapa teman dikabarkan batal diberangkatkan karena alasan sponsor yang tidak cukup. Rasa kesal dan capek saya mungkin tidak seberapa besar dibandingkan mereka yang bekerja keras lebih kurang lima bulan. itu proses pendewasaan dan puncak kalau saya memang harus fokus dalam memilih kegiatan (dan percaya pada orang baru). Proses pendewasaan ini bertepatan dengan momen bertambah usia saya ke dua puluh empat. Masih di bulan yang sama, ada konser Fat Boyslim dengan tata panggung dan lampu yang keren!

JULI

Bulan ini, ada perjalanan impulsif yang terjadi karena keinginan nonton Harry Potter and The Deathky Hallow Part 2. Saya mengunjungi Hongkong untuk kedua kalinya. Berhubung tidak begitu suka dengan destinasinya, perjalanan itu terasa datar saja apalagi tidak banyak perubahan di sana. Gara-gara perjalanan itu juga, saya melewatkan konser David Archuletta yang sebenarnya sudah saya nantikan dan akhirnya HP 2 pun diputar di Jakarta. Juli bukan hanya satu trip, tetapi juga trip dalam kota ke Pulau Pramuka untuk pertama kalinya!

AGUSTUS

Sejak bergabung di Couchsurfing Mei lalu, saya jadi tertarik menjadi host untuk para traveler asing yang ke Jakarta. Bulan ini bertepatan dengan bulan puasa, ada dua tamu agung yang sempat menjejakkan kakinya di rumah saya. Alice dari Inggris dan Kashmir dari Shanghai. Lewat keduanya, saya mulai merasakan bagaimana hosting merupakan salah satu proses perjalanan pasif menjelajahi dunia dan juga mengenal kota sendiri lebih jauh. Bulan yang sama, saatnya menikmati Java Rocking Land dengan The Cranberries.

SEPTEMBER

Jujur, gak inget ada kejadian penting apa di bulan ini selain menonton Sophie Ellis Bextore di Java Soulnation.

OKTOBER

Another trip this month! Setelah melalui perdebatan alot, akhirnya terjadilah perjalanan saya dengan dua perempuan ambisius, Idha & Ucy ke Vietnam. Perjalanan seru dan relatif terjangkau ini menghabiskan waktu 5 hari dengan kunjungan ke kota Ho Chi Minh dan Mui Ne. Masih di bulan yang sama, keputusan penting keluar dari Cosmopolitan FM terjadi dan ditutup dengan outing ke Pulau Bidadari. Bulan Oktober ini juga saya menonton konser salah satu musisi favorit saya, Owl City dengan perjuangan berat melawan ABG-ABG berburu tiket.

NOVEMBER

Memulai kehidupan di kantor baru Kalyana Shira, saatnya menata hidup sesuai tujuan yang disebut-sebut sebagai passion. Latihan yoga rutin dimulai juga bulan ini, lumayan dua kali seminggu membuat saya bangun pagi. Bulan ini juga mulai memangku tanggung jawab penuh sebagai kotributor di salah satu website, FIMELA.com. pekerjaan yang menyenangkan dan lebih membanggakan lagi ketika saya bisa mendapat kesempatan eksklusif mewawancarai Adam Liaw, pemenang Masterchef Australia musim kedua khusus untuk Fimela.com sekaligus menyicipi masakannya!

DESEMBER

Menutup tahun dengan banyak pemikiran yang mungkin bisa berguna untuk pergerakan tahun berikutnya. Yes, we can’t have it all but yet we can fight and make the best of all. My recent notes is about communicating all the relationship matters. Maybe both of us were to busy concentrating to other things.

What to do next?

1. Setelah tahun ini berkesempatan jadi kontributor, kali ini mau coba menulis film untuk media berbahasa Inggris.
2. Another solo trip. Berhubung kantor baru, solo trip ke dua negara Eropa itu harus ditunda dulu. Mari memilih rute yang lebih dekat dan bisa ditempuh dengan waktu singkat. First stop, Singapore in January for Wicked next, Gili, Seoul or more!
3. Mencoba (lagi) aplikasi beasiswa. Kali ini harus bisa melihat lebih luas, bukan satu negara tertentu saja.
4. Mengembangkan ide soal website film, semoga bisa dijalankan sesuai misi dan visi yang sesuai.
5. Komunikasi itu penting! Gak usah alasan sibuk, lagi ribet, ini bukan waktu yang tepat. Definitely, ignorance is a bliss mode OFF!
6. Mencari jalan dan menemukan apa sebenarnya tujuan dari passion yang selama ini dikejar. Gak lucu juga, kejar-kejaran tapi gak tahu mau ke mana!
7. Nonton film sampe enek, mengisi kepala!
8. IN-VES-TA-SI! Sudah tertunda setahun lho..
9. Berolahraga rutin lagi! Yoga seminggu jadi tiga kali sanggup?
10. Berenang nampaknya cukup terlupakan tahun ini.
11. Xuexi zhongwen! Makin lama makin lupa nanti..
12. Sholat & berdoa!
13. Get raise and maybe a promotion?
14. Not to get panic with all those ‘a quarter life crisis’ thingy.
15. Be HAPPY! Do what i wanna do happily with no pressure J

Amin ya?

I might regret few things that happened this year, but hell yeah it’s already happened anyway no need to look back in anger, eh?

Monday, January 02, 2012

When The Universe Conspire



My whole life waiting for the right time
To tell you how I feel.
Know I try to tell you that I need you.
Here I am without you.
I feel so lost but what can I do?
'Cause I know this love seems real
But I don't know how to feel.

We say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

Alright, everything is alright
Since you came along
And before you
I had nowhere to run to
Nothing to hold on to
I came so close to giving it up.
And I wonder if you know
How it feels to let you go?

You say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

So you change your mind
And say you're mine.
Don't leave tonight
Stay.

Say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

Stay with me, stay with me,
Stay with me, stay with me,
Stay, stay, stay, stay with me.

(Hurts - Stay)

I don't want you to stay, i want you to leave, go find your guts and step up for yourself.
Because sometimes, leaving is not always about disappearing, you may collide with the universe.


Film Berkesan, Lebih dari Sekadar Terbaik dan Terburuk di 2011

Memilih film terbaik atau terburuk nampaknya agak kurang adil, mengingat belum semua film saya tonton tahun ini. Banyak juga film yang kabarnya bagus namun ada keinginan untuk menikmatinya di layar lebar agar lebih terasa sensasinya. Selama satu tahun munculnya ratusan film yang menarik ditonton, berikut sederet film yang cukup mengena bagi saya secara pribadi.

A Separation

Tema keluarga dengan latar sederhana merupakan salah satu tema favorit saya dalam film. Kadang hasilnya lebih menimbulkan efek yang tidak biasa. Film karya Ashgar Farhadi bercerita tentang sepasang suami istri yang memutuskan berpisah karena Nader, sang suami menolak ikut istrinya pindah ke luar negeri karena Nader harus mengurus ayahnya yang mengidap alzheimer. Menyuguhkan konflik keluarga yang terasa akrab di hampir semua orang termasuk keinginan perempuan yang mau diperjuangkan ketika laki-laki berjuang sendiri untuk demi label seorang kepala keluarga. Memisahkan berbagai macam masalah yang ada dengan logika dan perasaan cinta memang bukan hal mudah. A Separation mencoba mengaduk-aduk dua unsur tersebut sepanjang menonton film ini.

Shelter

Berawal dari kicauan beberapa orang di linimasa twitter, diketahui kalau film ini merupakan salah satu film yang masuk dalam festival bergengsi Berlinale Film Festival. Film pendek berdurasi lebih kurang 15 menit ini berlatar sangat sederhana, perjalanan sebuah bus di malam hari. Kesederhanaan film ini tercipta dari minimnya dialog dan latar yang perlahan-lahan menggugah imajinasi penonton untuk menerka-nerka, sebenarnya kisah apa yang sedang berjalan?

FISFIC : Rumah Babi

Salah satu segmen di FISFIC inilah yang paling menempel di hati dibanding lima film lainnya. Kisah tentang pembantaian sekeluarga etnis China menjadi pusat dari film ini. Unsur mistik, reliji, adat berpadu jadi satu menciptakan kisah misteri lewat akting pemeran utama yang cukup maksimal. Ada sedikit twist yang terpikir saat menonton film ini, apakah ini film hantu atau slasher? Isu yang ditampilkan juga termasuk isu favorit saya, berhubungan dengan etnis China. Film ini juga banyak mengangkat unsur-unsur semiotik yang berkaitan kuat dengan isu pembataian etnis China yang marak terjadi pra reformasi.

Hobo With A Shotgun

Film slasher atau horor bukanlah genre favorit saya, tetapi di salah satu festival film tahun ini, INAFFF 2011 nampaknya saya sudah cukup tahan dengan berbagai adegan sadis atau munculnya mahluk-mahluk ajaib dalam film-film yang disuguhkan. Salah satu yang begitu sadis tapi bisa dinikmati adalah film ini. Film yang awalnya merupakan pemenang kontes fake trailer dari House of Terror & Grindhouse ini, menampilkan seorang Hobo yang berusaha menjadi pahlawan dengan shotgunnya melawan hierarki di sebuah kota yang tak mengenal perikemanusiaan. Bagi saya, film ini lebih dari sekadar film slasher, banyak simbol yang menyindir situasi politik yang banyak mengekang sebuah kelompok masyarakat. Warna yang ditampilkan dan juga wardrobenya mengingatkan saya dengan kejayaan band Pet Shop Boys.

Drive


Waktu mewawancarai sutradara The Raid, Gareth Evans, ia berpesan untuk segera menonton salah satu film terbaik tahun ini, Drive. Beberapa bulan kemudian saya dibuat ternganga dengan akting Ryan Gosling yang dingin di tengah film yang beralur lambat tetapi menyayat hati di film ini. Tanpa banyak bicara dan penuh adegan gory yang berturut-turut, Drive memberikan sensasi tersendiri bagi penonton untuk menunggu apa yang dialami Gosling di film ini dengan dada berdebar-debar. Salah satu unsur yang juga mendapat perhatian adalah scoring yang mencoba membawa penonton kembali ke sepuluh sampai dua puluh tahun ke belakang.

Tree of Life


Pemenang Golden Palm Cannes Festival 2011 ini hanya diputar beberapa layar saja di Jakarta. Pengalaman menonton film Sean Penn, Brad Pitt dan Jessica Chastain ini terasa begitu personal bagi setiap orang lewat sinematografi dan potongan-potongan dialognya. Beberapa menganggap film ini sangat relijius, bagi saya film ini merefleksikan hubungan manusia dengan semesta yang tidak bisa diduga dan digambarkan. Efeknya yang begitu berbeda tiap satu adegan yang terkesan acak, membebaskan penonton menilai sendiri bagaimana rasanya. Satu yang pasti, Terrence Malick membuat 139 menit film ini terasa indah!


Killer Elite

Satu genre yang juga bukan favorit saya adalah film laga. Lewat film ini, pertama kalinya sebuah film laga bisa terasa keindahannya. Meskipun plot cerita dan pemainnya tidak terlalu mengena, laga dalam tiap adegannya terasa berharga dan memanfaatkan ruang saat adegan berkelahi atau baku hantam secara maksimal. Setelah film ini, memahami dan menikmati film laga tidak lagi menyebalkan dan monoton bagi saya.

The Raid

Merasa beruntung menjadi satu dari lima ratus penonton eksklusif yang berkesempatan menonton untuk pertama kalinya! Film yang memenangkan People Choice Awards di Midnight Madness Toronto Film Festival begitu dinanti oleh khalayak Indonesia. Lewat adegan laga yang diciptakan khusus oleh Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais, film ini menjadi salah satu penyegar di kala film lokal penuh dengan genre drama atau horor yang menbuatnya kadang dipandang sebelah mata. Tanpa menyisakan ruang bernafas bagi penontonnya, film ini sukses membuat pengalaman menonton film laga yang menyenangkan dan tentu menegangkan plus menghadirkan Ray Sahetapy sebagai jawara sepanjang film.
Review The Raid di sini


Rise of The Planet of The Apes

Yes, it’s James Franco that i adored so much in this movie but yet Andy Serkis gave one of his best performances here. Film franchise ini sebelumnya sudah pernah dibuat dengan judul Planet of The Apes, satu versi Charlton Heston tahun 1968 dan Mark Walberg tahun 2001 dengan sentuhan yang berbeda. Lewat film karya Rupert Wyatt ini, tergambar bagaimana evolusi sekawanan primata berjuang untuk berevolusi demi kaumnya sendiri. Film ini juga memberikan efek mengerikan tersendiri terhadap kelompok binatang yang sempat merasakan kenikmatan hidup sebagai manusia lalu kemudian merasa terbuang.
Review Rise of The PLanet of The Apes di

Garuda di Dadaku 2

Film ini merupakan film Indonesia pamungkas yang ditonton di penghujung tahun. Film sekuel Garuda Di Dadaku menampilkan permasalahan baru Bayu (Emir Mahira) yang mulai menjejakkan kaki di lapangan hijau sebagai kapten timnas junior dan juga di dunia yang lebih dewasa. Lewat berbagai masalah yang dihadapi Bayu, Rudi Soedjarwo memberikan formula lamanya ketika menggodok Ada Apa dengan Cinta yang menjadikan penyelesaiannya sebuah film yang memberikan rasa nyaman, kehangatan, dan tepat di sasaran hati para penonton.


Most Anticipated Movies This Year!


Masih banyak deretan film yang ingin saya tonton, terutama di layar besar. Alasan belum ditontonnya film-film berikut, mostly karena film-film tersebut belum (atau tidak) menyambangi bioskop di Jakarta. Walaupun selalu ada versi download, dvd atau streaming, beberapa saya tahan karena masih percaya bisa menontonnya di bioskop. Mungkin ini saatnya menyerah!

Melancholia
Warna dalam trailer film ini begitu menggoda, nampaknya mata bisa terhibur secara maksimal. Meski banyak yang mengomentari film ini secara negartif, keinginan menikmati film ini di layar besar masih sangat besar, mungkinkah?


The Ides of March


Setelah Drive dan Crazy, Stupid, Love, rasanya akan lengkap menikmati akting Gosling di film ini sebagai penutup. Nampaknya, Gosling menjadi idola baru bagi saya tahun depan setelah selama setahun ini begitu tergila-gila dengan James Franco.

One Day

Komentar buruk mengiringi penampilan Anne Hathaway dan Jim Sturgess di film ini. Kabarnya, Hathaway gagal menampilkan aksen Inggris mengimbangi Sturgess yang memang terlahir dengan aksesn Inggrisnya. Nevermind, saya masih mau nonton film ini.

127 Hours


Pengakuan dosa terbesar, sebagai penggemar Franco saya belum menonton film yang membuatnya masuk ke dalam nominasi Oscar awal tahun ini. Sensasi film yang sudah saya tunggu hancur berantakan ketika gagal menontonnya di pertunjukan midnight dan hilang di peredaran karena kasus pajak film impor. Sekarang sungguh sangat terlambat mau menontonnya di layar televisi yang kecil!

Tuesday, December 20, 2011

Garuda di Dadaku 2 : Menikmati Permainan Formula Lama dalam Lapangan Hijau



Sembilan tahun lalu merupakan awal perkenalan publik secara luas dengan lima sekawan dengan balutan seragam SMA yang dinamis dan enerjik. Cinta, Maura, Alya, Milly, dan Karmen adalah kelompok ideal bagi remaja yang sedang menikmati masa sekolah menengah dengan segala intriknya yang mengharubiru. Ada kisah romansa antar dua sejoli yang seolah begitu rumit, ada tekanan batin dalam masalah keluarga yang kompleks, belum lagi konflik pertemanan yang sebenarnya saling membutuhkan. Formula dari film Ada Apa dengan Cinta? Yang digarap Rudi Soedjarwo tersebut seperti memberi tempat tersendiri bagi penonton untuk meletakkan memori seputar masa sekolah yang abu-abu, perjalanan memaknai apa sebenarnya ‘cinta’ itu. Memori yang menyenangkan, menyedihkan, dan juga ada ruang kekesalah dibalut dalam jalinan cerita yang menghangatkan hati di ujung kisah.

Begitulah Rudi Soedjarwo membuat formula film yang mengena bagi penontonnya. Kali ini kehangatan tersebut kembali dirasakan dalam film sekuel Garuda Di Dadaku 2 yang seri pertamanya disutradarai Ifa Isfansyah. Masih seputar kisah Bayu (Emir Mahira) yang akhirnya menjadi kapten di tim nasional junior Indonesia. Kali ini ia dihadapkan dengan berbagai masalah yang lebih pelik, mulai dari menurunnya prestasinya sebagai pemain timnas, pergantian pelatih yang melibatkan unsur politik di lapangan hijau, sampai tuntutan untuk mengejar ketinggalan pelajarannya di sekolah. Timnas junior ini harus beradaptasi dengan pelatih baru, Pak Wisnu (Rio Dewanto) yang datang dengan segala inovasi untuk melatih anak-anak tersebut. Pak Wisnu tidak sekadar memperjuangkan nasib Garuda di lapangan hijau tetapi juga menjaga Bayu dkk agar tidak terjebak dalam permainan politik para pengurus timnas sepakbola yang bisa mempengaruhi stamina dan konsentrasi bertanding. Bayu pun berjuang demi timnya di tengah masuknya Yusuf, seorang pemain baru yang langsung melejit permainan dan popularitasnya. Ia juga berjuang mempertahankan persahabatannya dengan Heri (Aldo Tansani) yang selama ini selalu menjadi wingman dan pendukung setia namun mendadak menjadi sahabat Yusuf. Belum lagi, prestasi Bayu mulai dipertanyakan di sekolah dan perlakuan Anya (Monica Sayangbati), teman sekelasnya yang tidak peduli dengan segala kesibukan Bayu mengemban tugas negara. Bayu, pemain timnas junior di bawah usia tigabelas tahun itu harus bertemu dengan segala masalah tersebut dan berusaha melepaskannya di lapangan hijau. Tentunya, Bayu yang dulu tidak akan bisa semudah itu mengatasi semua masalah yang ia hadapi sekarang.


Mengambil tema sepakbola memang nampaknya mudah menarik perhatian penonton, dewasa dan anak-anak. Keduanya punya kesenangan tersendiri dengan isu sepakbola tersebut. Film ini bukan sekadar menampilkan perjuangan seorang anak meraih mimpinya mencetak gol dan menjadikan Garuda juara. Rudi menambahkan isu-isu nasional berkaitan dengan sepakbola dalam beberapa adegan. Mungkin kita masih bisa merasakan sakitnya dikalahkan tim Malaysia saat piala AFF lalu atau SEAGAMES dengan lawan yang sama. Permainan politik yang konon melatari kekalahan timnas kembali disebut dalam GDD2, untuk mengingatkan dan menjadi koreksi bagi siapapun yang terlibat. Dari situ, emosi penonton sudah bisa terbawa ke dalam suasana yang lebih mendalam dan merasa adanya ikatan dengan Bayu dkk.

Tokoh Bayu sendiri mengalami perkembangan karakter yang tadinya hanya seorang anak-anak dengan impian tinggi, kini harus memanggul beban berat lebih dari sekadar urusan membuat gol di lapangan. Bayu dihadapkan dengan situasi pelik layaknya orang dewasa. Pendewasaan Bayu tidak lagi dilihat dari apa yang nampak secara visual, seorang anak berseragam putih-biru dengan rambut ala penyanyi populer masa kini. Bayu berhadapan dengan masalah hidup yang sesungguhnya dan Pak Wisnu ada untuk menggiringnya menyelesaikan sendiri semua. Ketika Yusuf masuk ke dalam timnas, sebagai kapten Bayulah yang seharusnya mengetahui semua timnya secara mendalam dan menjadikannya pengatur strategi agar timnya juara. Bayu tidak lagi berpikiran layaknya anak-anak, ia memahami politik yang terjadi di lapangan hijau. Politik siapa yang lebih unggul dari siapa dan politik siapa yang harus dihilangkan dari aksinya di lapangan. Pikiran-pikiran tersebut membuat Bayu kemudian juga harus memutar otak agar semua masalah di luar hal turnamen sepakbola perlahan-lahan menghilang. Anya, teman sekelasnya menanggap Bayu tidak bisa menentukan prioritasnya sebagai pelajar dan atlet. Sentakan dari Anya membuat Bayu tertampar ketika Bayu dalam posisi putus asa dan berencana meninggalkan teman-tema satu timnya berlaga tanpa dirinya. Lewat Anya jugalah, Bayu mencoba memahami sebenarnya apa yang sebaiknya dilakukan seorang laki-laki sejati, minimal di mata gadis pujaannya tersebut. Lagi, masalah di rumah menghadapkan Bayu dengan sosok laki-laki lain dalam kehidupan keluarganya. Sang ibu mulai mengenalkan sosok baru yang mungkin nantinya akan bernama ‘ayah’. Di tengah segala kekisruhan hidup Bayu, ia lupa masih ada nasib Garuda beserta keduapuluh orang temannya yang punya kepercayaan penuh padanya.

Masalah demi masalah dihadirkan lebih kurang selama 90 menit dan sedikit mengingatkan pada formula Rudi pada AADC? dalam bentuk yang berbeda. Menariknya, di GDD2 menampilkan bagaimana satu persatu masalah memiliki celah yang siap dimasuki oleh sang aktor utama. Celah itu bisa menghadirkan suatu sudut pandang baru dalam masalah tersebut. Misalnya saja, ketika Bayu berusaha menjegal posisi Yusuf yang dielu-elukan penggemar dan teman-temannya. Bayu ditinggalkan pada situasi, ia mendengarkan saran Heri yang mengetahui kekuatan Yusuf di lapangan atau justru membiarkan hal itu menjadi kelemahan Yusuf dan membuat dirinya kembali bersinar. Celah yang muncul adalah apakah Bayu mau dianggap pahlawan atau menjadikan dirinya pahlawan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut nyaris muncul di semua situasi permasalahan Bayu. Pak Wisnu juga menunjukkan perannya yang ikut mendewasakan Bayu dkk. Ketika pertandingan final, Pak Wisnu menyerahkan segala permasalahan saat pertandingan kepada anak-anaknya. Suasana secara visual juga dibangun saat Pak Wisnu berada di ruang ganti sedangkan anak-anak sedang bertanding. Pak Wisnu benar-benar memisahkan diri secara fisik namun ada suara latar yang menandakan apakah pertandingan saat itu dimenangkan oleh Garuda atau tidak. Saat itu jugalah Rio Dewanto mengeksplorasi emosinya sebagai Pak Wisnu yang ditonjolkan sisi galak dan hangatnya secara bergantian. Justru saat adegan itu Rio menampilkan sisi Pak Wisnu tanpa embel-embel pelatih yang adaa di depan anak didiknya. Emosi kesal, marah, ketakutan, senang, dan bingung ditampilkan secara total.

Antusiasme yang dibangun dalam film ini nampaknya perlu mendapat perhatian lebih. Membayangkan tim sepakbola berlaga membawa nama bangsa, tentu membayangkan gemuruh yang diciptakan suporter Garuda yang memerah dan penuh gegap gempita. Sayangnya suasana yang sering nampak di berbagai pertandingan bola nasional tidak terlalu kuat terlihat sekilaspun. Kekosongan penonton yang semangatnya sudah terasa, menjadi sedikit buyar saat melihat bangku-bangku di Gelora Bung Karno tampak melompong. Dengan sedikit trik, seharusnya Rudi dkk bisa mengakali hal tersebut. Secara rasa, film ini memberikan rasa hangat ketika semua permasalahan satu persatu diselesaikan dengan perlahan tapi pasti. Masing-masing tokoh mampu memberikan nyawa pada tiap karakter yang dimainkan dan memberikan rasa nyaman saat mengikuti perjalanannya. Sang sutradara dan penulis nampaknya berhasil menciptakan gol bukan hanya pada mata, tetapi juga pada hati penonton tepat pada sasaran. Ketegangan-ketegangan yang dibangun ikut memanaskan bagian dari tiap adegan menjadi kumpulan yang menyatu dari keseluruhan cerita. Dari semua karya Aghi Narottama, Bembi Gusti, dan Ramondo Gascaro dalam film, GDD2 inilah yang paling berhasil menyulap potongan adegan secara dramatis tanpa perlu didramatisir secara berlebihan. Menariknya, selama tiga perempat film berjalan menuju akhir cerita, ada kenyamanan sendiri yang muncul justru sebelum film berakhir. Klimaksnya justru terasa bukan di akhir film dan membuat adegan akhir dalam film ini tidak terlalu dinantikan. Entah ini menjadi sesuatu yang baik atau tidak, pastinya klimaks tersebut memberikan rasa nikmat dalam pengalaman menonton film ini. Tidak lupa, memberikan ruang tersendiri bagi penonton untuk meletakkannya dalam pikiran masing-masing sebagai film yang dekat dengan keluarga atau film yang berusaha berbicara atas nama sepakbola.

Tuesday, December 13, 2011

I had The Coolest Job Ever... (part2)

Masuk tahun 2011, tantangan bertambah dengan satu lagi show tentunya dengan satu penyiar dengan karakter lain yang harus saya handle. Dave Hendrik, imejnya sering muncul bersama Angie beberapa tahun lalu. Bersama dia, saya mencoba menggodok show baru Ladies First yang mengangkat tokoh-tokoh penuh inspirasi. Kadang, colongan juga bintang tamu special request dari saya atau Dave. :p


Perjalanan #DiaryDave Nyaris Sepuluh Bulan,What A Baby!

Ngomongin soal bintang tamu, banyak banget bintang tamu yang hadir mulai dari yang ajaib, seru, ngeselin sampai bikin mood drop. Mulai dari penyanyi yang minta lift Sarinah dibuka khusus buat dia, bintang tamu yang gak tau siapa Chantal DeLa Concetta dan arti kata neglecting, bintang tamu yang suaminya lebih menarik dari si bintang tamu itu sendiri (ehm) sampai bintang tamu yang bikin saya ternganga karena bikin kebun di rumahnya sendiri. Tentu lebih banyak yang inspiratif yang saya ingat.


Ultah ke 9 Cosmopolitan FM Temanya Back to 90s

Salah satu kejadian menarik adalah ketika kita berusaha mengejar salah satu bintang tamu yang hanya punya waktu sempit dan saat itu saya berobsesi mengundangnya. Dia adalah Gareth Evans, sutradara film The Raid yang saat itu lagi dipuja-puja karena memenangkan Toronto Film Festival 2011 lalu. Saat itu saya melihat dia di premiere film Badai Di Ujung Negeri, awalnya agak ragu-ragu takut salah orang. AKhirnya dengan nekat saya sapa dan kasih kartu nama saya ke dia. Beberapa hari kemudian, manajemennya menelpon dan menyanggupi interview sebelum ia kembali ke negara asalnya. Nampak kesempatan eksklusif wawancara selama satu jam akhirnya harus dibagi dengan salah satu radio saudara, bagi saya tidak masalah apalagi segmen kami berbeda tetapi tidak bagi beberapa orang saat itu. Kekesalan orang tersebut, terbaca oeh saya di akun twitternya ketika harus berbagi narasumber pagi itu.


Bintang Tamu yang Jadi Rebutan, Gareth Evans


Bintang Tamu yang Paling Dicari, BePe aka Bambang Pamungkas

Pengalaman tidak enak juga sempat terjadi saat saya mengundang salah satu penulis kontroversial. Beberapa minggu sebelumnya, penulis ini mempromosikan bukunya ke beberapa media di Jakarta tetapi caranya sungguh tidak biasa! Ia mengirimkan peti mati lengkap dengan nomer serinya. Tentu saja kehebohan terjadi di timeline twitter dan tidak sedikit yang menghujatnya. Sabagai jurnalis, saya melihatnya sebagai celah berita dan saya pun mengundangnya. Selama wawancara berlangsung, handphone saya, kedua penyiar BFC ternyata tidak berhenti berbunyi karena banyak pertanyaan dan pernyataan tidak suka atas narasumber itu. Saya saat itu tetap bertahan sebagai bentuk konsistensi saya menjalankan wawancara dan saya pun sudah mengantongi izin dari program director saya jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ada sih sedikit kekhawatiran, saya cuma takut narasumber saya ini tidak pulang dengan selamat. Kontroversi itu akhirnya memang tidak berlangsung lama dan suasana kembali kondusif dengan beberapa pihak terkait. Satu kontroversi lagi, saat harus mengangkat salah satu narasumber dalam segmen Follow Friday. Di akhir segmen, narasumber harus menyebutkan akun twitter yang lebih baik diunfollow. Tersebutlah salah satu socialite Jakarta. Seperti biasa tentu acara onair akan ditweet di akun @CosmopolitanFM. Sialnya, beberapa follower si socialite itu me-RT tweet tersebut tidak lengkap. Jadilah si socialite ngambek dan menuduh Cosmopolitan FM mengadu domba. Konsekuensinya, saya terpaksa meminta maaf karena kesalahpahaman tersebut dengan cara semanis mungkin, hal yang paling sulit saya lakukan apalagi kalau bukan salah saya. Akhirnya, socialite yang sempat mengancam saya dengan cara mau mengadu ke Biggest Boss saya ini pun mau berdamai. Lega....

Satu interview pamungkas yang juga tidak mungkin saya lupakan, Jamaica Café yang jadi bintang tamu penutup BFC terakhir saya dan bikin terharu dengan acapellanya yang kece. Saya mengidolakan mereka sejak zaman kuliah, dengan jadwal manggung mereka di Jakarta yang lumayan jarang, senangnya saya saat mereka menyanyikan lagu favorit saya "Untuk Dia" di show terakhir makin terasa mengharu biru.

All Time Favorite Band: Jamaica Cafe!

Bukan Cuma pelajaran di dalam Lantai 8 yang bikin saya mengerti apa arti radioslave sesungguhnya. Saya bersyukur punya kesempatan mewawancarai beberapa musisi luar dan bintang tamu lain yang bikin saya deg-degan. Pertama kali saya disuruh wawancara Lenka round table interview bersama teman-teman dari Hard Rock FM dan Trax FM. Hari itu saya datang terlambat sekitar 10 menit ke Hotel Mulia, lokasi interview. Nampaknya salah satu partner interview saya sudah menunggu lama dan mulai BT, saya ikut deg-degan. Antara takut sama si senior itu sama deg-degan wawancara dengan bahasa Inggris full. Untungnya semua lancar dan di ujung wawancara Lenka memuji dress yang saya pakai. Setelah itu masih ada Duncan Sheik, Arrested Development, Eric Benet, Les Nubians, dan Ben Folds. Mungkin tidak sebanyak radioslave lainnya tetapi pengalaman ini cukup berharga!

1st interview ever: Lenka!

Bukan cuma keseruan, pastinya ilmu-ilmu dari para expert yang selalu bikin saya mikir. Mulai dari Ligwina Hananto, dulu waktu saya baru rencanain perjalanan solo ke Beijing saya begitu ketar-ketir memulai budgeting saya pun konsultasi ke dia, ada juga Reliza Kodri yang juga tempat saya nanya ini-itu seputar dana pension dan investasi yang sebelumnya tidak pernah melintas di kepala saya. Mas Reza Gunawan pakar holistik yang selalu punya cara menenangkan pikiran sampai menyembuhkan secara fisik. Terakhir, mas Alexander Sriewijono yang selalu punya jawaban seputar karier dan hubungan sosial, tahun terpuruk saya di 2010 mendapat jawaban tajam dan pasti darinya. Setelah itu semangat saya menjadi kembali memuncak, makasih Mas!

Mas Alex yang Selalu Inspiratif

Sebagai Creative Assistant tentunya kreativitas itu penting, lepas dari hubungannya dengan pekerjaan. Di kantor, tidak jarang kami menonton beberapa film horror di meja saya yang disebut Pojok Horor karena memang posisinya dipojokkan.

My Pojokan Horor
Belanja online juga wajib dilakukan di awal bulan dan wajib melibatkan semua penghuni Cosmopolitan FM dengan alasan kebersamaan (padahal biar gak jatuh miskin sendiri:p) salah satu kegiatan kreatif lainnya adalah melakukan perjalanan-perjalanan pendek bersama. Selama dua tahun, kita sempat ke Bandung dengan voucher menginap gratis, menyusuri kuliner kota Bandung dan tempat-tempat kece lainnya. Bertiga bersama Amy dan Intan Cindi Tiara ke pulau Pramuka, bagi saya ini pengalaman seru yang berbeda lagi.

Bandung #1 Trip!

Nonton Bareng Piala AFF Bareng Cosmoners!

We Had Fun at Dufan!

Perjalanan paling kreatif yang pernah saya lakukan adalah perjalanan konspirasi bersama Olla, Aldy dan Ausie karena sempat membuat ricuh suasana kantor. Akhirnya semuanya (maksudnya, kami berempat) senang , terutama saya karena ini perjalanan saya ke Bali setelah terakhir sebelas tahun lalu.

The Beauty of Conspiracy Theory

Belum lagi kisah supermultikural yang ada di Cosmopolitan FM, mulai dari yang China, Sunda, Jawa, Bule, Batak, Flores, sampai orientasi seks yang semua ada! Kadang suka terasa kalau becanda keterlaluan tapi (kayaknya) tidak ada yang sakit hati tuh..
Perjalanan kuliner, pesta pora, sale hunting, sampai perjalanan ke Pulau punya kesan tersendiri dan cerita 'ajaib' yang jadi rahasia kita bersama alias bocor ke sana-sini. Well, also we remain such a good friendship :)

Cosmoners, Cosmonaut, dan Cosmonceu di Pulau Bidadari

Pastinya terlalu banyak pengalaman dan pelajaran yang didapat dan gak semuanya bisa saya share di sini. Di Lantai 8 terlalu banyak cerita senang, sedih, menyebalkan, dan tentunya drama dengan begitu banyak bumbu yang bikin seru. Bakal kangen banget dengan ritual jaga siaran pagi buta, sarapan yang diantar sama Cosmoners, live broadcast dari café-café atau perkantoran, live report, interview artis, bikin printilan produksi, ngajak VO dan diajak VO, ngumpul di meja bundar penuh makanan, dan seseruan lainnya.

The Closure, Definitely Not The End
I left it's not because i possessed a conflict or disappointment to this company. I loveeeee to do all those works and tasks,but in the end my passion asked me to move on, to pursue the goal. Saya bisa aja bertahan di zona nyaman karena posisi sebagai produser yang sudah cukup lama membuat saya mengetahui celah apa saja yang bisa saya manfaatkan di pekerjaan saya. Tapi saya butuh tantangan baru, saya butuh lingkungan tempat saya menimba ilmu baru, ilmu yang saya idam-idamkan. Bekerja di radio itu menyenangkan, tetapi buat yang merasa ingin bekerja santai sebaiknya lupakan saja. Radio itu berkejaran dengan deadline dalam hitungan detik. That's why i always proud to be one of radio journalist!

I admit it, I had one of the coolest job ever, but now I’m on the right track. Lantai 8, you’ll be missed!


Home will always be here, unseen, outta sight Where I disappear and hide
I think dreamy things as I'm waving goodbye So I'll spread out my wings and fly
-Owl City, Umbrella Beach