Showing posts with label Mata dan Telinga Lalu Hati Berbicara. Show all posts
Showing posts with label Mata dan Telinga Lalu Hati Berbicara. Show all posts

Friday, November 13, 2009

MACABRE : Young And Talented, Killer..


Malam tadi, 13 November 2009 tepat hari Jumat Kliwon, di tengah hujan yang mengguyur kota Jakarta makin lengkap ketika saya ikut mengantri nonton film Macabre alias Rumah Dara. Belum masuk ke bioskop saja, saya sudah membayangkan pertumpahan darah yang akan muncul di layar bioskop. Yah, akhirnya saya memberanikan diri menonton film pembuka Indonesia International Fantastic Film Festival 2009.

Suguhan malam itu adalah karya The Mo Brother, alias duo Timothy Tjahjanto dan Kimo Stamboel, yang merupakan pengembangan film pendek Dara tahun 2007. Sounding film Macabre ini sebenarnya sudah terdengar sejak lama terutama karena film pendeknya dianggap terlalu sadis oleh LSF. Ternyata memang film ini lebih dulu diputar di festival-festival luar negeri. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk thriller menegangkan malam itu.
Kisah perjalanan Ladya (Julie Estelle) dan Adjie (Ario Bayu) yang tengah menyelesaikan konflik keluarga menjadi tragis. Bersama Astrid (Sigi Wimala), istri Adjie yang sedang hamil, Jimmy (Daniel Manantha), Alam (Mike Muliadro) dan Eko (Dendy Subangil) yang mempertemukan mereka dengan Maya (Imelda Therine). Eko yang 'mata keranjang' bersedia mengantar Maya pulang karena kasihan. Sampainya di rumah Maya, mereka disambut dengan keramahan kakak Maya (Arifin Putra) dan suguhan khas Dara, mama Maya (Shareefa Danish). Tak bisa menolak mereka pun bersantap malam dengan rasa yang luar biasa. Ternyata, suguhan itu memang spesial, mereka pun tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sesadarnya Ladya, Jimmy, dan Eko menemukan diri sedang terikat di gudang belakang, dan menyaksikan mutilasi yang dialami oleh Alam.
satu persatu mereka pun berkejar-kejaran dengan penghuni Rumah Dara itu.
Selanjutnya, cerita bergulir seperti apa yang sedang dibayangkan Anda di benak kepala.

Film horror thriller ini sudah menandakan daerahnya dengan 'darah' sejak awal film. Permainan darah pun jadi suatu kekuatan yang sudah dijanjikan dan akhirnya diumbar sepanjang hampir 100 menit. Adegan-adegan vulgar seperti mutilasi ditampilkan layaknya penjagal di peternakan. Selain kekuatan detail khas film horor seperti samurai, dan rumah tua, ekspresi tokoh-tokoh antagonisnya cukup membuat bergidik.
Imelda dan Arifin mungkin masih belum bisa menghilangkan imej 'manis' dalam karakter yang harusnya terlihat sadis. Tapi, kekakuan Arifin cukup mengimbangi karakter Dara yang entah sengaja dibuat terlihat kaku atau sosok yang tertangkap seperti itu akibat suara layaknya ibu-ibu tua yang tidak terdengar natural. Danish,yang aslinya kelahiran 1982 harus memerankan wanita tua yang lahir tahun 1800-an. Suara yang harus diberat-beratkan dan ekspresi wajah yang kaku plus signature body language memiringkan kepala ke samping, membuat sosok Dara makin misterius dan menyeramkan. Saat adegan Dara bergulat dengan Ladya, sosok yang dimunculkan makin menyeramkan, dengan balutan terusan putih polos dan rambut hitam panjang terurai mengingatkan kita pada sosok-sosok hantu khas Indonesia. Paduan Dara dengan gergaji mesin seolah ingin memadukan sosok hantu Indonesia di tengah senjata-senjata pembunuh yang makin canggih. Ekspresi wajah Danish yang menyeramkan menunjukkan dingin dan kakunya Dara, sekaligus hasrat membunuh yang besar. Puncaknya, ekspresi wajah saat Dara menempel di mobil Ladya dan akhirnya tertabrak pohon menjadi 'gong' yang mungkin mengantar Danish memenangkan Best Actress di Puchon Fantastic Film Festival, Juli lalu.
Angkat topi untuk Shareefa Danish.

Tokoh lain yang menjadi sorotan, Julie Estelle. Awalnya, kawan sebelah saya sempat menyeletuk, "Yah, cuma jadi pelayan?" dan saya pun tertawa, mengingat sang aktris memang tidak terlalu disorot di media promosi film ini. Ternyata, sosok Ladya disiapkan menjadi pahlawan di akhir film ini, seperti yang sudah saya bayangkan di menit ke dua puluhan saat film berlangsung. Tapi,Julie Estelle bisa tetap menunjukkan sisi ketakutan tokoh Ladya. Setelah Macabre, saya seperti melihat dia menjadi aktris spesialis horor dibandingkan drama meskipun wajahnya cenderung mellow.

Tokoh lainnya? Saya rasa tidak perlu, sama tidak perluanya dengan sorotan tokoh-tokoh bawahan lain yang sebebarnya terlalu banyak dan sempat membuat penokohan jadi tidak fokus. Sama seperti ketika adegan polisi yang menggerebek rumah Dara dan justru mementahkan kecemasan penonton dan berbalik tertawa,mungkin karena Aming yang imej komedinya sudah terlalu melekat muncul lebih dari 2 adegan.

Sisanya, Macabre cukup membuat bulu roma saya bergidik dan keparnoan saya muncul seketika saat melihat daging segar disajikan di atas meja makan.
Kira-kira darimana asal daging itu?

*berbagai sumber

Monday, November 09, 2009

The Ting Tings : Shut Up And Let Me Go (to Playground!)


Akhir tahun 2009 ini, Jakarta kembali kebanjiran musisi asing dan kali ini The Ting Tings ikut memeriahkan festival musik soul dan hip-hop, Java Soulnation. Pertunjukan yang seharusnya mulai pukul 9 malam, molor satu jam sampai jam 10 lewat.
Crowd yang sudah berdesak-desakan dan nggak sabar, akhirnya bersorak ketika intro musik yang sangat familiar dan akhirnya Jules de Martino, sang drummer sekaligus gitaris The Ting Tings muncul di atas panggung. Selama hampir sepuluh menit, Martino memainkan instrumen-instrumen yang ada bergantian. Penonton pun makin bersoraksorai melihat kepiawaian Martino. Makin jelas intro lagu We Walk dimainkan, Katie White sang vokalis pun muncul dengan teriakan dan tepuk tangan penggemarnya.
White yang tampil stylish dengan balutan baju hitam, tights ungu plus topi hitamnya menyapa penonton beberapa kali sampai akhirnya mendendangkan lagu-lagu hits seperti
Fruit Machine, Keep Your Head, dan Traffic Light. Antusiasme penonton terlihat cukup mereda setelah lagu Great DJ, mungkin karena kebanyakan penonton bukan penggemar band asal London ini, atau mereka memang penggemar musik R&B yang hanya coba-coba menonton aksi panggung The Ting Tings.
Di lagu ke delapan, penonton kembali memanas. Lagu single perdana Shut Up and Let Me Go membuat penonton yang terdiri dari abg berdandan lengkap ala Katie White sampai laki-laki paruh baya jejingrakan tak peduli sekitar. Impacilla Carpisung kembali membuat panggung utama di Istora Senayan memanas, White dan Martino bergantian menghilang dari atas panggung dan sempat terjadi adegan ‘pause’ yang membuat penonton penasaran. Sorakan penonton makin terasa saat dentuman drum Martino mengahantarkan lagu terakhir The Ting Tings malam itu. Yael NaimThat’s Not My Name sukses menjadi encore dan mengentaskan malam yang makin cantik dengan efek visualisasi eklektiknya. The Ting Tings, mungkin tidak akan kembali ke Soulnation. Kami ingin mereka ada di taman bermain atau pesta lainnya!

Setlist Soulnation, Jakarta
• We Walk
• Great DJ
• Fruit Machine
• Keep Your Head
• Traffic Light
• Be the One
• We Started Nothing
• Shut Up And Let Me Go
• Impacilla Carpisung
• That's Not My Name

Sunday, September 20, 2009

Perempuan Berkalung Sorban : Untuk Maju,Jadi Alien

Lebaran, biasanya tv swasta memutar film-film Indonesia yang (cukup) bagus. Heran juga sih,kalau memang bagus harusnya bisa ditonton di bioskop bukan di tv yang jaraknya cukup lama,bukan?

Anyway, malam ini tepat malam Idul Fitri Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo menyita perhatian saya.
Ceritanya, Anisa gadis pesantren yang berusaha mencari kebebasan di luar pesantren karena sistem pendidikan yang cenderung merugikan perempuan. Anisa kerap mengalami hambatan, mulai dari tuduhan zinah,dianggap perempuan liar, sampai puncaknya ia kehilangan ayah tercinta.
Anisa akhirnya bisa melepaskan belenggu yang mengekangnya selama ini dan mengekspresikan lewat tulisannya dan juga dukungan Khudori,suaminya.

Di tengah kebebasannya mengekspresikan pikirannya, Anisa terpaksa kembali ke pesantren yang setelah 17 tahun ternyata tidak memberikannya pencerahan ataupun jendela bagi imajinasinya untuk melihat dunia.Tujuan Anisa membuat perubahan. Hal itu sulit apalagi pesantren memiliki stereotipe yang konservatif dan cenderung mengikuti norma-norma yang biasanya sudah turun temurun dijalankan.
Ada ketidaksetaraan yang disampaikan dalam film ini melalui pikiran dan perjuangan Anisa dengan murid-muridnya yang ingin belajar lewat membaca dan menulis. Anisa dengan keinginannya bisa berdiri sebagai istri dan wanita yang utuh dan mengesampingkan ketakutannya untuk memenuhi kodrat sebagai ibu. Dan, Anisa dengan keyakinannya bahwa meskipun dalam Islam, Allah menjanjikan surga bagi wanita, tetap saja perjuangan tidak berarti berhenti di situ saja. Wanita pun berhak dan wajib mendidik anak dan lingkungannya untuk bisa menyalurkan kebebasannya dengan tanggung jawab yang sudah semestinya memberikan faedah.

Anisa mungkin sudah banyak ada di antara kita,yang selalu merasa tidak bebas dan tidak sanggup melepaskan apa yang selama ini menyesakkan. Banyak yang berkoar-koar meminta kesetaraan,tetapi pahamkah apa itu kesetaraan? Dalam film ini, penggambaran kesetaraan sebenarnya cukup sederhana mengingat latar yang diambil di desa kecil di Jawa Tengah. Mungkin kita sebenarnya sudah merasakan apa yang Anisa ingin capai. Bisa menjadi apa saja, belajar apa saja, dan tahu tentang apa saja. Tidak lagi ada keharusan wanita kembali ke dapur,karena menurut Khudori dalam film hal tersebut bukanlah hal natural,tetapi kembali ke budaya masing-masing.

Berbicara budaya, wanita kerap dihadapkan pada fase membentuk keluarga yang dianggap sebagai salah satu 'kodrat' wanita. Dalam film ini juga ditekankan, wanita harus berada di kodratnya agar saat menjadi istri atau memiliki keluarga menjadi istri yang patuh dan keluarganya sakinah. Apakah membentuk keluarga dan pernikahan merupakan tujuan dari adanya wanita? Apakah perjuangan memncari kebebasan itu berhenti sampai ia menjadi istri atau ibu? Bagaimana jika ia dapat membentuk lingkungan lain yang sakinah tanpa harus berada dalam situasi itu,berkeluarga? Bila itu menjadi salah satu pilihannya sebagai ekspresi kebebasan,apakah dengan cara yang berbeda itu menjadikannya sebagai alien di antara manusia lainnya?
Apakah berbeda untuk memajukan diri dan masyarakat artinya menyerahkan diri pada kotak hitam yang membelenggunya dan justru menjerumuskan wanita pada kebalikan dari kebebasan?

Sorban, sebagai inisial dari kelelakian yang ada di kepala, letak yang teratas, dalam film ini begitu kental melambangkan bagaimana kuatnya diikatkan pada leher wanita untuk membelenggu dan berada dalam bayang-bayangan maskulinitas. Siap menunggu saatnya terlepas.

Monday, August 24, 2009

All American Rejects Live in Jakarta!


Terbukti! Musisi asing tidak takut mengunjungi Indonesia dan menampilkan performa terbaiknya di depan khalayak ramai Jakarta. Bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, The All American Rejects datang menghadirkan pertunjukan special untuk penggemarnya. Band asal Oklahoma ini juga menginap di hotel Ritz Carlton sebagai bentuk peduli dan bukti mereka tidak takut. Konser perdana AAR di Indonesia ini digelar Senin 17 Agustus 2009 di IStora Senayan Jakarta pukul 20.50 WIB. Meskipun diguyur hujan, penggemar fanatik AAR tetap datang ke I Wanna Rock Tour 2009 malam itu. Meskipun terlambat hampir satu jam dari jadwal seharusnya, konser ini dibuka dengan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia raya oleh penonton dan disambut dengan Tyson Ritter, vokalis AAR yang berlari di atas panggung dengan membawa bendera Republik Indonesia. Penonton yang histeris melihat kemunculan Tyson tidak lebih lama lagi dibuat menunggu. Hits Dirty Little Secret langsung membuat penonton bernyanyi bersama. Setelah itu lagu-lagu hits seperti Swing Swing, My Paper Heart, The Last Song, It Ends Tonight, dan Real World. Penonton yang kebanyakan berusia 17-20 tahun tidak henti-hentinya jejingkrakan mengikuti irama lagu yang menghentak. Tyson yang begitu atraktif menunjukkan kemampuan menyanyinya hanya dibalut celana skinny merah dengan berbagai gaya. Mulai dengan merangkak meliuk-liukkan badannya, sampai memanjat tiang penyangga panggung. Penonton pun ikut histeris melihat kelakuan ajaib sang vokalis yang kontras dengan Nick Wheeler, sang bassis yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan rompi hitam. Mike Kennerty dan Chris Gaylor pada gitar dan drum tak kalah atraktifnya dengan Tyson. Tyson juga tak henti-hentinya menyuarakan ‘MERDEKA’ di sela-sela lagu malam itu. Setelah encore penonton diajak bernyanyi lagu Move Along bersama dan puncaknya, ketika Tyson membacakan sebuah surat yang ditujukan untuk teroris yang tak hentinya mencoba menakut-nakuti masyarakat Indonesia dan orang asing yang ingin datang ke Indonesia. Dengan lantang ia menyerukan ‘F&%#* Terorist!!’ dan diikuti oleh seruan penonton yang ikut bersorak-sorai. Lagu Gives You Hell seperti ditujukan untuk mereka, teroris yang gagal menakut-nakuti masyarakat Indonesia begitu pula musisi-musisi asing yang malam itu menutup konsernya di lagu keduabelas pukul 22.30.

Thursday, August 06, 2009

A Jihad For Love

Musim festival film di Indonesia sudah dimulai! Dari bulan Juni lalu, Goelali Film Festival yang menampilkan film-film bertemakan anak digelar di Museum Bank Indonesia dan kemudian disusul oleh Kidfest yang acaranya berdekatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu. Sayangnya saya melewatkan kedua acara yang digelar perdana tahun ini tersebut. Agustus ini akhirnya saya bisa ikut keriaan yang digelar oleh Q-munity dalam Q Film Festival 2009. Acara yang sudah dimulai sejak 26 Juli lalu ini berakhir 5 Agustus lalu. Dua film yang sempat saya tonton, Jihad For Love dan antologi film Love Man Love Woman,Diana,dan Le Turkey.



Film Jihad For Love yang disutradarai oleh Parvez Sharma merupakan film produksi Amerika di tahun 2007. Film documenter ini bercerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di negara Islam dan mereka sudah mengaku kalau mereka homoseksual. Amir, Muchsin, Maryam, dan Mazen adalah warga dunia. Mereka lahir dan besar di Turki, Mesir dan Iran yang dikenal sebagai negara dengan populasi Islam yang terbesar. Muchsin, laki-laki asal Mesir ini telah menikah dan punya tiga anak. Ia merupakan imam di salah satu mesjid dan ia membuat pengakuan bahwa ia gay di sebuah media cetak. Aksinya itu berdampak panjang dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Muchsin pernah berpikir bagaimana kalau ia terkena hukuman mati karena homoseksual dilarang di Mesir. Amir harus menerima siksaan di Iran dan akhirnya pindah ke Turki karena homoseksual dianggap sebagai suatu kejahatan. Ia pun bertemu dengan Payam, Mojtaba, dan Arsham. Akhirnya, secara bertahap mereka mendapat suaka dan pindah ke Kanada untuk hidup yang lebih manusiawi. Mazen belum berani membuka kedoknya setelah ia masuk penjara karena ia seorang homoseksual dan diperlakukan layaknya binatang. Potret kehidupan manusia yang berjuang karena mereka ‘berbeda’ ini disajikan dalam bentuk yang cukup kontradiktif. Seperti yang banyak dipahami umat muslim, pandangan terhadap kaum homoseksual tertulis di kitab suci Al-qur’an dan dianggap sesuatu yang dilarang. Perilaku kaum Sodom dan Gomorrah menggambarkan bagaimana homoseksual adalah sesuatu deviasi seksual.

Keempat tokoh sentral dalam film ini merupakan umat yang takwa pada ajaran agama dan giat melaksanakan kewajiban ibadah. Hal ini menjadi sangat kontradiktif, di tengah ketaatan mereka shalat, mengkaji isi Al-qur’an, puasa, dan menutup auratnya, mereka dihadapkan pada sesuatu yang dianggap haram namun tidak bisa mereka hindari secara naluriah. Pertanyaan-pertanyaan muncul apakah memang Tuhan menciptakan kaum homoseksual di dunia ini? Kalau iya, mengapa seolah mereka diciptakan seolah berbeda dari manusia lainnya? Muchsin pernah meminta dan berdoa untuk ditunjukkan jalan apabila homoseksual itu salah. Pernikahan Muchsin dengan seorang wanita bukanlah jawaban dari pertanyaan yang justru makin menyiksanya. Muchsin akhirnya menerima keadaannya dan begitu pula anak-anaknya yang tetap berada di sisinya.

Simbol deviasi yang dialami tokoh-tokoh ini ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Saat Amir harus pindah dari Iran ke Turki, ia digambarkan sedang mengenakan pakaian dan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia adalah laki-laki di balik atribut perempuan itu. Sosok yang ditampilkan dengan hijab adalah wanita, namun atribut itu hanyalah topeng yang berusaha ditonjolkan untuk berlindung. Amir seolah merasa aman di balik jubah kewanitaannya padahal atribut wanita itulah yang membuat Amir tersiksa. Ironi. Perbedaan tempat tinggal juga ditunjukkan dengan perbedaan warna tembok warna hijau dan oranye yang bersebelahan. Rumah yang berada dalam satu wilayah itu seolah tidak mau disamakan antara kaum hetero dan homoseksual. Pandangan masyarakat atas penyimpangan itu membuat mereka ingin mengotak-kotakan kaum homoseksual di luar lingkungan mereka. Simbol lain muncul dalam adegan tiga sahabat Payam, Amir, dan Mojtaba. Mereka kerap bercerita bagaimana pernikahan mereka berlangsung sambil bersantai di atas bukit. Ketika ada iring-iringan jenazah, mereka berdiri di atas bukit dan memandang jenazah itu. Sosok ketiga lelaki tersebut tidak digambarkan dengan jelas tetapi hanya lewat siluet bayangan yang ada di atas bukit, berbeda dengan orang-orang yang sedang menggiring jenazah. Bagi orang lain, keberadaan Payam dkk menjadi bayangan yang tidak dapat tersentuh dan berbeda dari mereka yang seolah benar-benar ‘nyata’. Kelompok homoseksual seolah hidup dalam dunia yang tidak nyata dan terbatas. Dunia mereka seakan gelap dan tertutup. Simbol agama yang terasa sangat dalam adalah adegan terakhir ketika mereka semua mencoba menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun jadi jangan pernah berhenti memohon ampun atas apa yang dilakukan umat-Nya. Tidak ada yang bisa menghakimi umat manusia bahwa ia berdosa atau tidak selain Sang Pencipta. Dialog ini diiringi dengan adegan duduk tahiyat saat shalat.Saat mereka mengeluarkan telunjuknya dan mengucapkan bacaan tahiyat yang bermakna bahwa umat Muslim yang berjanji menyembah Allah dan selanjutnya adalah bentuk pengabdian manusia terhadap Tuhannya. Begitu pula dengan janji Allah yang berjanji mengampuni hamba-Nya. Tanpa perlu orang lain menghakimi dan berusaha membuat perhitungan dosa umatnya, urusan religi selalu menjadi hubungan yang pribadi bagi manusia dan Tuhan yang menciptakannya. Sesuai dengan judulnya, mereka sedang berjuang, berjihad. Berjuang atas cintanya terhadap Tuhan dan sesamanya. Mereka tidak mau kehilangan cinta Allah karena perbedaan yang dimilikinya karena bagi mereka cinta Allah lah yang terbesar dan bentuk pengabdian manusia pada Sang Pencipta.

source www.ajihadforlove.com

Monday, August 03, 2009

Lets Have Phoenix, On Your Favorite Weekend Ending*


Sabtu 1 Agustus 2009, puluhan muda-mudi memenuhi kawasan SCBD Jakarta tepatnya Bengkel Night Park. Mereka yang sudah berdandan begitu fashionable ini berkumpul sejak pukul 6 sore, padahal pintu arena konser Beatfest ini baru akan dibuka pukul 7 malam. Pukul 7 lewat, antrian mulai bergerak dan calon penonton sudah mulai bergerak masuk. Lorong menuju panggung berupa lorong penuh kaca dan disoroti black light yang menimbulkan warna-warna elektrik dan menyala dalam gelap. Sebelumnya, setelah pengecekan tiket di pintu masuk, penonton ditawari dengan untuk memasang tattoo temporary berbentuk stiker yang dapat menyala dalam gelap terutama saat disorot black light. Semuanya gratis! Voice over di dalam Bengkel Night Park mulai menyapa penonton yang berkerumun di stan merchandise dan bar lalu mengumumkan kalau Naif akan muncul sebagai artis pembuka pertama.Acara yang bekerja sama dengan toko buku Aksara dan A Mild ini mengusung nama Soundshine yang kerap menampilkan artis-artis indie dari dalam dan luar negeri. Membawakan lagu-lagu hits seperti Air dan Api dan Ajojing, Naif mengajak pemuda-pemudi untuk ‘pemanasan’ sebelum bintang utama konser itu tampil. Setelah Naif, band asal Bandung,The Sigit langsung menghentak dengan lagu-lagu Money Making, Black Amplifier, dan The Party. Dalam balutan kostum hitam-hitam, The Sigit makin memanaskan suasana dan penonton ikut menyanyi bersama. The Sigit sudah, saatnya Rock and Roll Mafia mengantar penonton ke 45 menit menuju band utama asal Perancis itu. Dengan musik yang khas dengan sentuhan synthesizer, RNRM berhasil membuat penonton berada di puncak kenikmatan musik dance electronica yang dibawakannya. Akhirnya, sekitar pukul 22.30 Phoenix bintang utama dengan empat personilnya membuka konser perdananya di Jakarta dengan hits Lisztomania dari album terbarunya, Wolfgang Amadeus Phoenix. Penonton yang hafal dengan lagu teranyar mereka langsung serentak koor mengikuti sang vokalis, Thomas Mars. Phoenix yang terdiri dari Thomas Mars (vokal), Deck D’Arcy (bass), Laurent Brancowitz dan Christian Mazzalai (gitar) pun memainkan hits-hits dari album terdahulu United, Alphabetical, It’s Never Been Like That dan pastinya lagu terbaru dari album Wolfgang Amedeus Phoenix yang rilis tahun 2009 ini. Sambil sesekali menyapa penonton, Mars mengungkapkan ia sangat excited menggelar konser pertama Phoenix di Jakarta. Ia pun sempat berterimakasih dengan Bahasa Indonesia logat Perancisnya. Konser dilanjutkan dengan Run,Run,Run, Everything is Everything, Long Distance Call, Lasso dan Love Like a Sunset yang merupakan lagu terminim lirik di album keempat mereka. Layaknya trik konser pada umumnya, mereka pamit meninggalkan panggung dan penonton yang berteriak-teriak “We Want More, We Want More!” yang haus encore. Kurang dari lima belas menit rehat, Thomas dan sang gitaris muncul menyambut histeria penonton dan melantunkan hits milik Air, duo asal Perancis, Playground Love dengan versi akustik. Mars menyebut ini sebagai kejutan untuk Jakarta. Kejutan belum selesai, tiga lagu berturut-turut If I Ever Feel Better, Too Young, dan akhirnya 1901 menjadi encore penutup konser malam itu. Selain ‘panas’ karena aksi panggung yang atraktif dan komunikatif, penggemar Phoenix pun terpuaskan karena sorotan lampu artistik ikut menyemarakkan dan menambah panasnya suasana Bengkel Night Park malam itu, literally.

So, Jakarta is totally safe and Phoenix already prove it they’re also not afraid!
We Love You Phoenix!!



*from Lisztomania lyrics

Saturday, June 27, 2009

Ketika Cinta Romeo & Juliet Bertasbih Di Dadaku






Akhirnya, saya menonton juga film Garuda di Dadaku, Sabtu 27 Juni 09 ini. Untuk ketiga kalinya antri dan gagal mendapatkan tiket, malam ini terpuaskan sudah hasrat untuk menonton film yang (katanya) sangat direkomendasikan ini.
Sebelumnya, saya sudah menonton Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang sempat heboh dengan tagline 'ASLI MESIR' itu. Sebenarnya saya tidak begitu ingin menonton film ini, apalagi dua teman saya, Ucan & Dian cerita panjang lebar sepanjang Jakarta-Anyer betapa 'sinetron'-nya film ini. Saya pribadi mencoba selalu menonton semua film Indonesia (yang cukup bermutu pastinya) dan juga karena ada teman saya yang main di KCB.


Secara keseluruhan saya memberikan nilai 4 dari 10 buat KCB
Kekuatan film ini memang ada di pemainnya. Aktingnya oke dan terkesan natural, malah cenderung lucu terutama pemain yang menjadi teman-temannya Azzam.
Sayangnya, alur cerita membuat saya bingung apalagi saya memang bukan pembaca bukunya.
Ada bagian yang seolah-olah terasa melompat. Pertanyaan saya, sebenarnya Sarah yang meneror Furqon itu siapa dan mengapa Furqon diteror (at the first place)?
Sinematografi yang paling disayangkan dari film Asli Mesir ini, blue screen yang terlihat sangat film tahun 70-an (since it looks so vintage in technology). Ketika Adegan ketika Azzam sedang masak di pinggir laut. Entah apakah akan terjawab di KCB 2, we'll see. Satu lagi, begitu banyak hard-sell yang ditampilkan dalam film ini menjadi kesinetronan film ini makin menjadi.
To KCB producers and (especially) writer please remember this is movie not soap opera,but i do remember this is business as well!
Saya jadi ingat kata-kata Kang Abik,sang penulis, ketika film Ayat-Ayat Cinta (AAC) meledak tahun lalu. Ia ingin film berikutnya (KCB) lebih mendekati dengan bukunya, termasuk pemainnya. Oke, pemain KCB sudah cukup baik tetapi unsur lainnya jadi sangat berbanding terbalik, Sorry..
I prefer AAC than KCB.

Film berikutnya ternyata juga masih menjual beberapa produk sponsor di dalamnya, untung saja mereka tidak 'sekuat' itu menjualnya.
Mengomentari Garuda Di Dadaku (GDD), Sepertinya semua orang bisa menilai isi cerita dan pesan moral yang sangat universal dalam film ini. Simple,touchy and it belongs to everybody!
Film Indonesia yang berusaha memperhatikan realitas anak-anak di negara ini sejauh ini baru film ini dan Laskar Pelangi. Lagi-lagi kita disuguhkan kenyataan ketika seseorang yang punya mimpi tinggi harus terhalang oleh orang lain atau uang.
Saya cukup tersentuh melihat persahabatan Bayu dan Heri yang sangat tulus apalagi latar belakang Heri yang anak orang kaya sedangkan Bayu sebaliknya.
Sayangnya, karakter Heri kurang diperdalam dengan konflik dirinya sendiri atau dengan Bayu. Satu lagi, saya sedikit bertanya-tanya, apakaha benar anak seusia itu bisa berbicara banyak tentang mimpi dan hidup sampai setinggi itu? Kalau iya, saya acungi empat jempol!
Klimaks bagi saya, jelas di adegan ketika pengumuman Bayu lolos seleksi timnas.
Tanpa ada dialog panjang lebar, akhir film tersebut benar-benar seperti apa yang saya bayangkan.
Baju merah dengan garuda di dada kiri sudah dipakai Bayu dan ia siap berlaga di bawah sorotan lampu stadion. I can imagine how does it feel to be there!
GDD mendapat 8.5 dari 10


Lalu, kenapa ada Romeo&Juliet (R&J) di tengah-tengah itu semua?
Beberapa waktu lalu, saya dan dua teman nekat nonton R&J di bioskop terpencil dekat rumah. Sudah tidak ada lagi yang memutar R&J kala itu.
Setelah menonton, teman saya yang memang bukan penggemar bola Indonesia tapi fans Bayer Munchen, berkomentar film ini terlalu 'berani' mengangkat isu sensitif ke dalam film.
Saya,yang sama sekali tidak paham bola, berpendapat mungkin memang tujuannya memberikan gambaran kehidupan yang paling nyata dari penggemar bola.
Bedanya dengan GDD, yah memang beda.
Kalau GDD mengusung bola sebagai 'mimpi' yang ingin dicapai dengan cara apapun, R&J justru menjadikannya sebagai 'sekte' yang membuat penggemarnya mau melakukan apapun demi bola.

Bayu bisa berkata 'tidak' bahkan pada Heri dan impian menjadi pemain nasional dengan bakat terpendamnya itu demi cintanya pada sang Kakek, tetapi ternyata cinta Rangga pada Desi masih terkalahkan dengan cintanya pada Persija.

Thursday, March 20, 2008

Alang-Alang, easy dining

Beberapa kali lewatin daerah Kemang, gue dan my so called eating buddy, Rya, selalu penasaran sama satu tempat yang lokasinya berada di bangunan yang sama dengan The Bedroom.
Alang-alang.
Tempatnya di lantai dua, dan di depan kacanya ada signboardyang ada 'alang-alangnya'. So, I'm expecting about Indonesian food. Tapiii, setelah melihat menu di lantai satu, ternyata nggak cuma makanan Indonesia aja, kebanyakan malah western dan oriental.
Pas gue masuk, interiornya terkesan pewe banget. Ada sofa-sofa menghadap ke jalan, bagus banget apalgi pas malem banyak citylights trus ada juga versi lesehannya, penuh sama bantal-bantal gede yang empuk. Sayangnya, ada keanehan buat gue, jadi disebrang bagian lesehan, ada kursi-kursi kayu yang ngingetin sama rumah Joglo ala Betawi plus payung-payung jadulnya yang dipajang di dinding. Wew, menurut gue agak nggak matching nih! Yasudalah, akhirnya gue milih duduk di lesehan.
Mari kita jelajahi menunya! Awalnya gue tertarik sama nachos with cheese, atau mozarella cheesenya. Tapi pas lihat-lihat main coursenya, ternyata banyak yang menarik. Menu westernya ada steak, ribs, chicken cordon bleu, pasta carbonara, sampe pizza. Kalo tertarik makanan oriental, ada chicken hainan, kungpao chicken dan makanan tahu-tahuan (maap, lupa namanya!). Jangan lupa juga menu Indonesianya, dari mulai soto ayam, soto tangkar, nasi goreng seafood, tongseng juga ada di Alang-alang.
Akhirnya gue dan Rya pesen spagetti aglio olio (for Rya, as always) spagetti tom yam buat gue, trus side dishesnya fried champignon plus mushroom soup,yang salah order.
Minumnya Ice lemon Tea dan Snowy Ice Lychee. Buat Pizza dan Ribsnya harganya sekitar 30.000-an, kalo nasi-nasinya 15.000-25.000an.

Daan akhirnya pesenan datang juga! Hore!
FYI, hari itu gue dan Rya makan siang dengan menu seafood di tempat yg terpisah. terus pas sebelum ke Alang-Alang, sempet 'nyicip' pizza di Marzano, about 2-3 slices. Jadi sebenernya kita nggak laper-laper amat, tapi kenapa langsung nge-babon pesennya? hehe ;)

Pas liat penataan spagettinya, menarik banget! Spagettinya di tengah piring putih lebar plus garnish daun-daunan keliatan model penataan di hotel gitu. Spagetti tomyamnya pedes banget! Isinya lumayan lengkap ada udang, jamur sama cumi. Cuminya juga nggak pelit. Terus aglio olionya lumayan pedes lada, dan porsinya lebih banyak daripada yang tomyam.
Fried champignonnya berisi sekitar 6-8 balls, sayangnya agak kecil ukuran jamurnya dan kebanyakan tepung panirnya. Saus tar-tarnya pun juga agak nanggung kaya mayonaisse biasa. Mushroom soupnya lumayan. Tadinya gue pikir bakal kaya soup instant yang warnanya putih gitu, ternyata warnanya item pekat which means..real mushroom!Rasanya agak pahit tapi pas, nggak keasinan atau nggak berasa. Sayangnya roti taburannya terlalu kering dan tipis banget.
Buat minumannya, Ice Lemon Tea standart laah, tapi yang bikin shock, dengan gelas seukuran semi gelas bir, cuma dihargai Rp 5.500 aja!!! WOW!
Snowy Ice Lychee-nya standart, malah Rya bilang kaya buavita x) tapi Lycheenya banya dan gede-gede kok!But, basically, gue puas sama Tom Yamnya, pedes, berasa banget Tomyamnya tapi juga seger, kerasa daun jeruknya. Porsinya pas buat yang nggak gitu laper tapi ngebabon ;)

Ini bagian paling penting!
Total kerusakan:
Spagetti aglio Olio 16.500
Spagetti Tom Yam 16.500
Mushroom Soup 13.500
Fried Champignon 9.500
Snowy Ice Lychee 14.500
Ice Lemon Tea 5.500
TOTAL dengan tax 15% = 86.000-an!!!

Menurut gue di daerah Kemang lo makan dengan harga less than 20.000 udah jarang banget! apalagi tempatnya sepi, nggak kaya Food Fest.
Boleh dateng lagi nih besok-besok, cobain duduk di sofa pluss bawa Laptop karena free wi-fI!!

Well, sepulangnya gue ngerasa fuuuuuuuuullllllllll banget karena rencana awal nyari 'dessert' aja akhirnya malah 'fine dining' beginiiii x)