Sunday, October 30, 2011

Vanilla Sky on Owl City's Concert



What is your concert bucketlist?
Ini daftar konser cita-cita saya,

The Postal Service
Coldplay
Feist
MGMT
Phoenix
Owl City
Ash
Miike Snow
Muse
Boyzone

Sejauh ini hampir setengahnya sudah tercapai, dan saya baru saja mengurangi daftarnya lagi semalam.
Yes, Adam Young a.k.a Sky Sailing a.k.a Swimming With Dolphins, Port Blue, Seagull Orchestra, Relient K, Matt Thiessen, Lights a.k.a Owl City konser di Jakarta 28 Oktober lalu. Penantian konser ini cukup lama dan menegangkan. Dia dibawa oleh promotor Java Musikindo, awalnya saya cukup sebal karena beberapa konser sebelumnya dengan promotor yang sama ternyata memakai sistim penjualan tiket yang bikin ribet dan melelahkan. Mereka menjual tiketnya lewat antrian di rumah sang empunya, Adrie Subono. Tentunya saya malas harus repot-repot antri dari subuh yang konon hanya ada limited tickets. Akhirnya tiga cara dicoba, minta tolong orang antri, beli di website JAVA dam beli di JakartaConcert.com. Alhamdulilah usaha berbuah dapat 2 tiket (ini versi singkat dan gak ada bagian marah-marah sama orang JAVA ya..:p). Dan..itu terjadi sudah dari bulan Mei! Yap, five months worth waiting!

Long story short, last night was great, awesome and legend *wait fot it* dary concert! Dua puluh satu lagu dari empat album Of June, Maybe I’m Dreaming, Ocean Eyes dan All Things Bright and Beautiful selama hampir 75 menit tidak ada yang mengecewakan. Saya sempat menonton video mini concertnya saat di Filipina tahun lalu, terlihat sangat sederhana tanpa terlihat membawa band-nya. Kali ini, ia tampil full band lengkap dengan pemain cello dan biolanya yang terdengar layaknya orkestra. Membayangkan musisi bergenre electro dance pop bisa ditampilkan dengan full band yang sedikit memberikan kesan electro pop dan sentuhan orkestra memberi kepuasan tersendiri bagi saya. Dibuka dengan lagu “The Real World” disambung berturut-turut dengan “Cave In” langsung menghentak Tennis Indoor Senayan berisi 5000 penonton. Lagu ketiga langung membuat saya tersentak, “Hello Seattle” one of my favorite song was played early last night. In that moment, i was so happy that i wanna puke. Yeah, call me crazy and lebay :p. Sepanjang konser, Young memamerkan talenta memainkan beberapa instrumen musik seperti piano, drum, gitar, bass dan tentunya synth. Aransemen musik di beberapa lagu dibuat sedikit berbeda, di lagu “Fireflies” yang menjadi single andalannya, ia menambahkan suara serangga yang direkam live dan dijadikan bagian lagu tersebut. Intronya pun dibuat sedikit berbeda, lebih menghentak dan sedikit tidak tertebak. Lagu “Meteor Shower” yang hanya berdurasi dua menit juga dibuat sedemikian syahdu dengan lampu sorot yang membuat suasana terasa cocok dengan cuaca di luar setelah diguyur hujan. Layaknya konser kebanyakan, Young juga menghujani penonton yang kebanyakan berusia di bawah 20 tahun dengan kata-kata “I Love you!” “This is the best show!” “We love you Jakarta!” tentunya dijawab dengan teriakan histeria penggemar setia Young. Sebelum encore, Young silam setelah lagu “The Yacht Club” dan kembali dengan encore “How I Became The Sea” dan “If My Heart Was A House” sebagai penutup apik.



Meskipun merasa aneh di antara lautan ABG yang kebanyakan masih diantar orangtua bahkan perlu digendong supaya bisa melihat aksi panggung Young dkk, saya menikmati konser yang sudah saya tunggu sejak dua tahun lalu. Ada sedikit pertanyaan sih dalam hati, selera musik siapa yang salah, saya atau penonton ABG ini? Ah, nevermind. Lepas dari anomali itu dan lagu favorit saya Dear Vienna, Strawberry Avalanche, On The Wing dan To The Sky yang alpa malam itu, this concert was tragically beautiful. I can still recall a goosebumps!

Tuesday, October 18, 2011

A Solo Runner, A Ladylike, and A Bolang In A 'Nguyen' Mission (part 1)



Akhirnya terjadilah sudah rencana liburan ketiga tahun ini! Awalnya sempat merencanakan ke Chiang Mai, Thailand dengan beberapa calon partner liburan yang sempat berganti-ganti. Setelah pemikiran panjang secara itinerary dan finansial, tujuannya berubah menjadi Ho Chi Minh City alias Saigon bersama dua fellow-girlfriend, Idha dan Ucy. FYI, kita memang sudah berteman sejak kuliah, tapi liburan terjauh yang pernah saya tempuh dengan mereka hanya Bandung dan Anyer. Pastinya, muncul rasa deg-degan dan excited secara bersamaan.


To have a trip with these two and coming back in one piece is priceless!

Rencana liburan ini sudah ada sejak sekitar 3-4 bulan lalu, dengan bujet minimalis akhirnya sukses mendapatkan tiket Jakarta-Saigon-Jakarta hanya dengan 1 juta rupiah saja! Tentunya, dengan bujet airlines. Itinerary pun disusun sedemikian rupa supaya semua senang dan puas. Sedikit profil dua teman saya ini, Ucy itu adalah bolang alias bocah petualang di antara kelompok kami. Pemenang ACI Detik 2010 ini sudah sering keliling Indonesia untuk menikmati wisata alam terutama laut dan pantai. Nah, kalo Idha ini Queen Bee :p semuanya harus teratur dan jelas. Posisi saya sebenarnya ada di tengah-tengah, buat saya traveling itu perlu persiapan matang dan selama menjelajah alamnya bukan hiking, I'm on board! Mereka berdua sejauh ini belum pernah traveling solo sedangkan saya lebih banyak di grup kecil atau solo trip. Jadi kebayang lah bagaimana menggabungkan semua keinginan kita semua?

Menjelang perjalanan sampai tiba di HCMC sih tidak ada masalah, hostel ada di lokasi backpacker yang ramai dan dikenal, referensi dari hostelworld.com tidak jauh dari kondisi asli, dan suasana yang masih mirip Indonesia cukup memudahkan kami. Kota HCM sendiri adalah kota populasi terpadat di Vietnam meskipun bukan ibukotanya. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Jakarta terutama urusan trafficnya. Untuk menyebrang jalan perlu keberanian penuh dan kepercayaan diri. Motor-motor yang konon berjumlah 5 juta buah itu seperti tidak menaruh ampun pada pejalan kaki plus arus lalu lintas yang berkebalikan dari Jakarta sedikit bikin pusing. Transportasi umum di sana juga belum teratur layaknya Singapura atau Bangkok, jadi bagi turis hanya bisa mengandalkan bus, taksi, atau sejenis becak. Namun, prinsip utama saya ketika naik bis di negara yang tidak berbahasa Inggris adalah "Taking bus is the ultimate way to get lost" jadi opsi bus sudah pasti dihilangkan. Atas saran juga dari beberapa traveler yang sudah ke HCMC, sebaiknya manfaatkan fasilitas tur yang ada di hostel untuk menghemat waktu dan tenaga. Untungnya tur nya sendiri beragam dan harganya terjangkau. Kami pun sepakat mengambil tur untuk menikmati kota Saigon ini.


Baca bismillah dulu kalo mau nyebrang

City Tour ($8= 147.000d= Rp 75.000)
War Remnant Museum - Tea Shop - Pagoda in Chinatown - Old Resident - Notredame Church - Central Post Office - Ben Tham Market

Tur keliling kota ini tergolong relatif singkat, mengingat museum dan atraksi dalam kotanya sendiri tidak terlalu besar dan butuh waktu lama dijelajah. Museum sisa perangnya saja ternyata tidak semegah Museum Gajah di Jakarta atau Museum Nasional Beijing. Tiket masuk museumnya juga relatif murah hanya 30.000d tiap museumnya dan belum termasuk di dalam paket tur.


Always my favorite, Pagoda or temple



Notredame Cathedral

Dua atraksi wajib di HCMC adalah Mekong Delta, yaitu menyusuri sungai Mekong dengan sampan lewat perjalanan dua jam dari HCMC. Satu lagi adalah melihat peninggalan perang Vietnam - Amerika di Chuchi Tunnel. Keduanya menarik, keduanya seru. Sayang, waktu yang terbatas tidak memungkinkan kami mengunjungi keduanya, so another whin win solution. Idha ke Chuchi Tunnel sendiri, saya dan Ucy ke Mekong Delta.

Mekong Delta Tour ($8 = 147.000d = Rp 75.000)
Bus to dock (return) - Boat to 3 islands (return) - lunch - freebies tester for candy & fruits

Perjalanan Mekong Delta ini menghabiskan 2 jam naik bus menuju pelabuhan, lalu disambung dengan kapal kecil ke 3 pulau di area My Tho lalu naik sampan menyusuri rute floating market. Kalau pernah ke Hong Kong Disneyland, kira-kira lokasinya mirip dengan atraksi George In the Jungle.
Mengelilingi 3 pulau dengan keunikan masing-masing, saya seperti melihat pulau seribu dengan sumber daya alamnya. Kali ini, ada Unicorn Island tempat lebah dibudidayakan jadi madu, Phoenix Island tempat kelapa dijadikan workshop coconut candy alias dodol, dan Happy Island, di mana bisa ditemukan banyak buaya.


What they do in countryside

Sampai di Happy Island, saya masih belum merasa terpuaskan dengan perjalanan ke Mekong Delta. Sempat terbersit "Ah, gini doang? Tahu gitu ke Chuchi aja, rekomendasi Lonely Planet, gitu..."
Untungnya perjalanan naik sampan bermuatan empat penumpang plus dua pengayuh sampan itu akhirnya memuaskan saya, meskipun sempat deg-degan kalau mendadak bertemu buaya di sungai itu.


Mekong Delta!

Sampai hari itu, saya cukup menikmati perjalanan dan plesiran di kota Paman Ho tersebut. Tapi, saya merasa ada yang kurang. Terbiasa melakukan perjalanan lebih dari satu minggu seorang diri membuat saya harus survive sendiri tetapi juga ada kebutuhan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal atau fellow traveler. Ini belum terjadi sampai di hari kedua. Ikut tur membuat semuanya serba mudah dan diatur, kalau biasanya saya coba cari-cari jalan sendiri untuk menemukan lokasi yang saya tuju, itu juga belum terjadi. Menikmati kuliner lokal juga saya percaya sebagai bentuk menyatu dengan budaya setempat, sayangnya belum banyak lokasi yang kami jangkau di HCMC. Satu lagi, traveling is incomplete without drama. Oh well, hampir semuanya terjawab di dua hari berikutnya. Details soon!


Local food stall

The Smurfs : Reuni Kebiru-biruan Dari Masa Kecil


Di desa Smurf, 99 Smurf dan 1 Smurfette dengan karakter masing-masing hidup tenteram dan bahagia. Bagi mereka sedih itu tidak ada dalam kamus, bahkan kesedihan bisa berubah menjadi suatu kebahagiaan. Di tengah keharu-biruan para Smurf, ada Gargamel si penyihir jahat yang sudah lama mengincar Smurf untuk dijadikan ekstrak penambah kekuatan sihirnya. Selama ini Gargamel tidak bisa menemukan keberadaan Smurfs karena mereka seolah hidup di hutan rahasia. Suatu hari Clumsy Smurfs berjalan-jalan keluar Hutan Smurfs dan keberadaannya tidak sengaja terdeteksi Azrael, kucing kesayangan Gargamel. Adegan kejar-kejaran pun tak terhindarkan, sayang akhirnya Gargamel berhasil masuk ke Hutan Smurf. Semua hutan dan rumah jamur Smurfs pun porak poranda, termasuk ramuan Papa Smurfs.

Papa Smurf, Smurfette, Grouchy, Brainy, Gutsy dan Clumsy akhirnya terseret pada situasi pertarungan dengan Gargamel yang membuat mereka sampai di kota New York dan harus mencari jalan pulang lewat buku sihir yang ada di kota itu. Perjalanan itu tentu tidak mudah apalagi dengan adanya Gargamel yang begitu ambisius mengejar The Smurfs. Tanpa sengaja, The Smurfs bertemu dengan Patrick (Neil Patrick Harris) dan langsung saja Papa Smurfs meminta bantuan Patrick untuk menemukan buku sihir tersebut sekaligus melenyapkan Gargamel. Padahal Patrick sendiri sedang berjuang mempertahankan pekerjaannya atau ia terancam akan dipecat. Otomatis pertemuannya dengan The Smurfs makin membuat rumit kehidupan Patrick. Bagaimana petualangan The Smurfs menghadapi kota New York yang sibuk dan juga Gargamel? Apakah mereka sukses kembali ke desa mereka yang tenang atau terpaksa menetap di the Big Apple?

Bukan hanya kekonyolan Clumsy atau centilnya Katy Perry sebagai Smurfette yang bisa kita nikmati sepanjang film tetapi juga duet Neil Patrick Harris dengan Jayma Mays. Duet ini seperti membentuk sebuah reuni kecil antar pemain serial televisi yang sedang populer How I Met Your Mother dan Glee juga Tim Gunn dari Project Runway yang sempat muncul di awal film.

Pastinya keenam mahluk biru ini akan memberikan sedikit kesegaran tanpa feeling blue.

The Smurfs| 2011| Sutradara: Raja Gosnell| Pemeran: Hank Azaria, Neil Patrick Harris & Katy Perry

Also featured on Fimela.com http://bit.ly/qCiSUy

Sunday, October 09, 2011

Badai Di Ujung Negeri: Mencari Klimaks Dalam Pecahan Aksi



Menikmati film bukan hanya sekadar berkutat di dalam plot cerita yang disuguhkan. Kini menikmati indahnya alam Indonesiajuga bisa menjadi alasan tepat untuk menikmati sebuah film. Kali ini suguhannya cukup spesial: menikmati tampilan alam di pulau Sumatera, sekaligus aksi peperangan tentara marinir di laut bebas. Setelah beberapa film laga Indonesia dipuja-puji di beberapa festival film internasional, hadir lagi satu karya anak bangsa, Badai Di Ujung Negeri, yang mengedepankan laga sebagai sajian utama.

Film ini dibuka dengan percakapan dua sahabat di pinggir laut. Badai (Arifin Putra) bersama Nugi menikmati laut, tanpa ada ombak melintasi mereka berdua. Tahun berlalu, Badai pun tidak lagi tenang seperti dulu. Ia kehilangan Nugi yang meninggal di laut. Pengalaman pahit itu meninggalkan luka mendalam. Kakak Nugi, Joko (Yama Carlos), masih menyalahkan Badai atas insiden itu. Secara perlahan mereka berdua memisahkan diri namun tetap berada di jalur yang sama. Keduanya menjadi tentara dan bertemu kembali saat Badai bertugas di Pulau Sumatera. Ketegangan keduanya tidak bisa dihindari. Joko memilih untuk menjaga jarak dengan Badai agar luka lamanya tak lagi terkoyak. Badai pun memilih lebih dekat dengan Anisa (Astrid Tiar), gadis asli pulau tersebut yang membuatnya betah lebih lama menjalani tugasnya sebagai tentara.

Masalah pun datang satu persatu. Warga dibuat resah dengan munculnya korban tewas tak dikenal di laut pesisir.Puncaknya ketika Dika, anak penduduk lokal, tewas tertembak. Badai dan kawan-kawan pun mencoba mencari tahu siapa pelaku di balik kejahatan ini. Ternyata masalah yang ditemukan bukan sekadar pembunuhan belaka saja. Ada sindikat perdagangan manusia dan senjata yang terlibat. Celakanya lagi, Anisa tidak sengaja ikut terseret ke dalamnya.

Badai Di Ujung Negeri berusaha menampilkan aksi kepahlawanan seorang laki-laki yang dibalut rasa bersalah yang tinggi. Di awal film, Badai digambarkan sebagai sosok yang tenang, dan menjadi penengah bagi kakak beradik Nugi-Joko. Sayangnya karakter itu seolah tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya Nugi yang menyebabkan kematian. Sejak itu, Badai seperti menutup dirinya dan berusaha membayarnya dengan pengabdian pada masyarakat pesisir. Usaha-usaha penyelamatan dan penyelidikan Badai dan kawan-kawan juga merupakan bentuk tanggung jawab atas tragedi yang menimpa Nugi. Joko juga berperan menjatuhkan kepercayaan diri Badai setiap kali Badai berusaha bertindak. Hal ini terlihat saat Badai menggendong salah satu pasien balita di klinik pesisir, Joko refleks mengatakan, “Hati-hati pegang anak orang, nanti celaka.” Ucapan itu merupakan sindiran terhadap masa lalu Badai. Puncaknya saat kematian Dika. Badai seperti mengalami deja vu kembali kehilangan orang terdekatnya.

Dua unsur yang sangat ingin ditampilkan sang sutradara nampaknya adalah sisi melankolis seorang Badai sekaligus peran heroiknya sebagai tentara. Akibat minimnya, sinkronisasi adegan-adegan baku hantam, unsur melankolis nampaknya lebih dominan dibandingkan sisi heroiknya. Sesaat kita disuguhkan adegan baku hantam, mendadak adegan berpindah ke adegan lain sebelum menemukan titik puncak di adegan baku hantam tersebut. Hal ini tentu akan mempengaruhi adrenalin penonton. Di tengah-tengah adegan aksi yang tegang adegan, film mendadak pindah ke adegan romantis antara Badai dan Anisa. Ketegangan yang dibangun lewat percakapan dan scoring jadi kedodoran sendiri akibat rangkaian adegan yang terkesan tidak bersambungan. Tersisa celah bagi penonton dan akhirnya justru menjadikan turunnya adrenalin yang sebenarnya sudah terbangun secara perlahan, dan membutuhkan titik puncak untuk bisa melepaskan energi awal tersebut. Sayangnya juga, celah itu akhirnya justru membuat adegan-adegan dalam film tersebut seperti terpecah-pecah dan tidak utuh.

Jalannya film Badai Di Ujung Negeri sebenarnya terasa mulus di awal lewat percakapan Badai dan Nugi, namun perlahan seperti melepaskan diri satu persatu. Entah hal ini akibat editing yang membuat adegannya berjalan sendiri-sendiri, entah pembuat film yang kurang telaten menyatukan adegan laga dengan drama. Hal tersebut membuat penonton sulit merasakan klimaks saat dari sejumlah adegan kunci dalam film. Sebut saja adegan baku tembak, adegan drama cinta Badai dengan Anisa, dan adegan ketegangan persahabatan Badai dengan Joko, yang sama-sama berusaha memperjelas masalah yang selama ini mereka hadapi.

Badai sebagai tokoh utama layaknya bisa lebih mengekspresikan emosi dan juga karakter secara mendalam, sayangnya Arifin Putra tampaknya belum total menampilkan karakter tersebut. Kekuatan tokoh Badai sebagai pemeran utama seolah tertutup oleh pemeran pembantu dari segi totalitas emosi karakter yang ditampilkan. Dari awal, Badai muncul sebagai tokoh utama yang begitu menunjukkan sikapnya sebagai pahlawan sejati, baik bagi penduduk lokal maupun Anisa. Kisah masa lalunya bersama Nugi dan Joko terkadang muncul sebagai bagian dari sisi melankolisnya dan menunjukkan emosi yang tertahan selama ini. Sikap dramatis Badai tidak langsung terlihat saat amarahnya muncul. Ia menahannya sejenak, sebelum akhirnya melepaskan segalanya. Hal ini bisa kita lihat saat Badai menemukan Dika tewas tertembak. Ia menunjukkan kesedihan yang mendalam berbaur dengan amarah yang luar biasa. Namun yang tampak jelas justru Badai seperti kehilangan arah dan putus asa. Barulah setelah meluapkan kekesalannya pada penembak yang tertangkap, emosi Badai baru memuncak dan diluapkan dengan sangat berapi-api.

Berbeda dengan Badai, Joko yang diperankan Yama Carlos menunjukkan konsistensinya lewat karakter yang kaku, dingin, sekaligus menyimpan dendam pada Badai. Sikap itu ia tunjukkan pasca kematian Nugi sampai akhirnya ia kembali bertemu Badai. Bukan hanya kekakuan sikapnya tetapi juga pemilihan kata-kata untuk menyerang Badai: tidak perlu panjang lebar namun langsung menohok. Penonton seolah diajak oleh Joko untuk ikut membenci Badai dan sulit untuk memaafkan kesalahannya. Lain lagi dengan Anisa. Peran Astrid Tiar ini mengalir begitu natural dan begitu menyatu sebagai penduduk lokal, yang terkadang begitu membenci para aparat yang bertugas tetapi juga tidak jarang membutuhkan bantuan mereka. Sikap Anisa yang sesekali keras perlahan-lahan melunak di depan Badai. Karakter Anisa justru sebenarnya bisa menjadi benang yang mengaitkan keseluruhan film, lewat ketegangan yang ia lalui sekaligus drama-drama yang menjadi pemanis film ini.

Satu tokoh yang sangat mencuri perhatian adalah karakter yang diperankan Jojon. Perannya yang selama ini dikenal sebagai komedian seolah luruh dalam topeng Pak Piter, yang keji dan merupakan tokoh di balik skandal perdagangan senjata dan manusia di Pulau Sumatera tersebut. Lewat permainan ekspresi dan juga watak Pak Piter, Jojon menampilkan konsistensi tokoh antagonis yang diingat sepanjang film.

Terlepas dari segala klimaks yang sulit ditemukan antar adegan sepanjang film, satu bagian yang tidak boleh luput dari perhatian adalah aransemen musiknya. Sejak awal film, scoring yang ditampilkan menunjukkan identitasnya sebagai musik etnik dan memperjelas latar yang dipakai Badai Di Ujung Negeri. Musik tersebut yang akhirnya memegang peran penting sebagai perekat jalannya film, baik saat momen-momen dramatisnya maupun saat ketegangan aksi peperangan. Suasana yang dibangun dengan musik mulai dari suasana tenang percakapan Badai & Nugi di awal, romantisme Badai dan Anisa, sampai ketegangan perang tentara dengan komplotan penjahat diceritakan lewat musik yang mengalir. Musik layaknya menjadi pelengkap adegan-adegan dalam film tetapi dalam Badai Di Ujung Negeri justru berperan menyatukan adegan yang berjalan masing-masing. Lewat emosi yang dihadirkan musik, emosi dalam adegan muncul dan bisa tersampaikan serta akhirnya dirasakan penonton.

Makin maraknya film Indonesia ber-genre action menjadikan pemicu beragamnya genre serupa yang muncul dan siap dinikmati penonton film Indonesia. Bukan sekadar mencoba menampilkan adegan penuh tembakan, ledakan atau baku hantam saja tetapi sepatutnya juga keunikan dari adegan action itu sendiri. Tanpa harus berkilah dengan alasan minim teknologi dibandingkan film asing, film action lokal harusnya bisa lebih berani menampilkan adegan-adegan yang berani, serta tidak memberikan ruang bagi para penonton untuk bernafas meski hanya sejenak. Adegan yang penuh aksi ekstrim, dan koreografi baku hantam yang tidak ragu-ragu tentu membutuhkan keberanian untuk ditampilkan ke hadapan penonton. Koreografi atau strategi bela diri bisa jadi kekuatan dalam film aksi, sekaligus menunjukkan esensi lokal sebagai identitas action lokal. Ketegangan bisa dipicu dari runutan adegan laga tanpa henti dan makin memuncak tiap menitnya. Nantinya, ketegangan itu akan menjadikan sebuah aksi klimaks dalam film, tanpa mementingkan siapa sebenarnya pahlawan atau lawan yang nantinya memenangkan pertarungan.
.
Badai Di Ujung Negeri | 2011 | Sutradara: Agung Sentausa | Negara: Indonesia | Pemain: Arifin Putra, Astrid Tiar, Yama Carlos, Deddy Murphy Avivu, Edo Borne, Priady Muzy, Adrian Alim H, Jojon, Ida Leman

also published on cinemapoetica.com

The Hangover Part II : Menyusuri Kota Bangkok Sembari Menyusun Puzzle Ingatan

Berbagai film menyajikan gambaran indah tentang suatu lokasi yang konon bisa menaikkan popularitas pariwisata negara tersebut. Masih hangat di kepala bagaimana film adaptasi novel Elizabeth Gilbert, Eat Pray Love sukses meningkatkan turis asing yang berkunjung ke Bali. Ada juga The Beach yang mengenalkan Phi Phi Island pada publik Hollywood dan meningkatkan pamor wisata bahari Thailand tersebut. Eskotisme Asia inilah yang tidak ingin dilewatkan oleh empat sekawan yang kembali menjelajahi hiruk pikuk malam hari dan berakhir menyusun kembali puzzle perjalanan mencengangkan di The Hangover Part II. Masih ingat pesta bujang di Las Vegas yang membuat Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms), Alan (Zach Galifianakis) terpaksa berurusan dengan kriminal internasional Mr.Chow dan menantang maut demi menemukan sahabat mereka Doug (Justin Bartha) yang hilang menjelang hari pernikahannya? Kali ini, Bangkok menjadi playground permainan petak umpet untuk menemukan kembali ingatan yang hilang akibat hangover empat sekawan ini.

Stu akan menikahi Lauren di sebuah pulau di Thailand, tentunya Phil, Alan dan Doug ikut serta di hari bahagia itu. Dua hari sebelum pernikahan, mereka menikmati sebotol bir di tepi pantai dan bangun di sebuah kamar hotel kumuh dengan beragam kejutan yang tidak bisa mereka ingat satupun. Dibuka dengan kalimat “It happen again” kilas balik perjalanan Las Vegas sepertinya siap dimulai dengan kejutan lain yang lebih berbahaya dan menegangkan. Kali ini, mereka harus menemukan Teddy, adik Lauren yang menghilang tanpa jejak. Tentunya masa depan dan cinta Stu akan jadi taruhan kalau ia gagal menemukan Teddy.



Menyusuri perjalanan kota Bangkok, kita akan disuguhkan pemandangan yang cukup familiar dan mengingatkan pada kota Jakarta. Ya, Bangkok dan Jakarta keduanya berpopulasi padat, polusi tinggi dan kumuh di beberapa area. Di bagian kedua ini, Hangover Part II menyuguhkan sisi lain dari sebuah kota yang makin mempersulit pencarian ingatan dan puzzle untuk dirangkai. Tidak seperti Vegas yang penuh dengan gemerlap kasino, Phil dkk harus menghadapi keruwetan Bangkok beserta isinya dengan culture gap yang makin membuat mereka kewalahan. Pertemuan kembali mereka dengan Mr.Chow juga diwarnai dengan beberapa tokoh lain, mulai dari pemilik klub malam, tattoo artist, rahib, sampai pengedar narkoba yang justru membuat keadaan makin rumit dan berbahaya. Kejadian-kejadian yang tak terduga dan mencengankan bagi mereka ditanggapi dengan santai oleh penduduk lokal. Di mata orang banyak Bangkok mempunyai kekuatan tersendiri untuk menangkap dan mengelabui tiap individu untuk masuk ke perangkap kota Bangkok. Meskipun lebih banyak mengambil lokasi yang kurang apik di kota Bangkok, mata kita akan tetap dimanjakan lewat gambar cantik seperti vihara-vihara yang dipenuhi taman bunga warna-warni dan eksotisme Thailand yang utama, pantai serta laut yang nyaris tak tertandingi.

Setelah menonton The Hangover yang juga memenangkan Golden Globe Awards tahun 2010 lalu, tentu penonton berharap suguhan yang bisa mengocok perut mereka di seri kedua ini. Beberapa formula nampaknya dengan mudah diidentifikasi dari 10 menit pertama film berjalan. Salah satu tokoh menikah, berkumpul menikmati malam sampai larut, dan akhirnya terbangun tanpa mengingat apapun yang mereka lakukan sebelumnya. Unsur komedi dan petualangan justru dibangun lewat minimnya ingatan dan petunjuk-petunjuk yang tersisa. Kali ini Mr.Chow dan seekor monyet cerdik menjadi kunci utama dari perjalanan Phil dkk menyusuri Bangkok yang kusut.

Bagaimana akhirnya misi penyelamatan Teddy dan rencana pernikahan Stu bisa berhasil? Apakah empat sekawan itu kapok dengan kegilaan mereka yang mengorbankan nyawa, cinta, dan harga dirinya? Nikmati perjalanan mereka sekaligus sedikit kejutan di ujung cerita lewat tokoh yang sudah lama tak terdengar gaungnya.

The Hangover Part II | Sutradara: Todd Phillips | Pemain: Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha| 2011 |

Thursday, September 01, 2011

Tendangan Dari Langit: Nasionalisme Berbalut Produk Impor


Nikmatnya sepak bola di negeri ini tidak hanya bisa disaksikan di lapangan hijau saja. Serunya menyerukan semangat bagi tim nasional yang mencoba mencetak gol kini bukan hanya milik penggemar fanatik olahraga ini saja, tetapi juga menjadi salah satu pemicu menyeruaknya semangat nasionalisme di negeri ini. Lewat layar lebar pula semangat itu ditularkan bagi penggemar film. Dua tahun lalu, Salto Film mempersembahkan Garuda Di Dadaku yang berkisah tentang mimpi seorang anak dan dunia sepak bola. Tahun 2011 ini, mimpi itu kembali muncul lewat bakat seorang remaja asal Gunung Bromo dengan arahan sutradara Hanung Bramantyo produksi Dapur Film.

Sepak bola sebagai olahraga yang begitu dekat dengan masyarakat Indonesia ternyata masih terlalu jauh untuk diraih bagi remaja asal Langitan, Wahyu (Yosie Kristanto). Konon ia punya bakat besar dan mimpi yang sama besarnya untuk bisa bergabung di Persema (Persatuan Sepak Bola Malang) bersama dua nama besar yang sedang populer, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Wahyu mungkin mewakili beberapa jiwa anak muda yang ingin menjadikan sepak bola sebagai pilihan kariernya. Berawal dari pemain bayaran untuk Desa Karangsari di lereng Gunung Bromo, Wahyu beruntung bisa bertemu dengan Coach Timo sang pelatih Persema ketika menolong anaknya yang diganggu anak jalanan di Malang. Pertemuan mereka memang hanya sekilas saja. Namun, ‘jodoh’ mempertemukan mereka kembali saat Coach Timo melihat Wahyu yang sedang berlatih bola di Gunung Bromo.

Menganggap bakatnya bisa diasah, Coach Timo mengajak Wahyu ikut try out Persema, tentunya bersama Bachdim dan Kurniawan. Masalah mulai muncul pasca tes kesehatan ditemukan penyakit osgoodschlatter di kaki kanan Wahyu. Harapan mulai pupus bagi Wahyu untuk membuktikan bahwa anak Langitan bisa bersanding dengan para pemain naturalisasi di lapangan hijau Gajayana sampai nantinya di Gelora Bung Karno. Ini bukan masalah pertama yang dihadapi Wahyu, sang ayah Darto (Sujiwo Tejo) terang-terangan menolak sepak terjang Wahyu di lapangan sepak bola. Baginya, sepak bola hanyalah memberikan angan-angan palsu tanpa ada hasil yang konkret. Namun hati Darto akhirnya luluh setelah Wahyu memenangkan pertandingan besar dan menghadiahkan kuda untuk membantu ayahnya bekerja.

Menonton film ini bagi penonton awam sepak bola tentu menjadi kesenangan tersendiri, apalagi melihat bagaimana pencapaian anak daerah menuju mimpi lapangan hijau kota besar, Malang dan Jakarta, berkali-kali disebut. Tanpa bermaksud membandingkan, Tendangan memiliki kemiripan pola mengejar mimpi karier sepak bola dengan Garuda. Berawal dari hobi, ‘dikompori’ orang terdekat untuk bisa meraih mimpi lebih tinggi tetapi terbentur dengan larangan keluarga.

Di Tendangan begitu banyak tokoh yang berperan menjadi ‘kompor’ untuk memanasi Wahyu pilihan mana yang sebaiknya dipilih. Awalnya, ketika Wahyu berseteru dengan Darto yang terus melarangnya bermain bola, Hasan (Agus Kuncoro) selalu berada di belakang Wahyu mendukung setiap pilihan langkahnya. Hasan bahkan mempertemukan Wahyu dengan Gatot (Toro Margens), yang akhirnya menghadiahinya kuda setelah memenangkan pertandingan. Hasan selalu muncul di saat-saat terburuk Wahyu, termasuk saat amarah Darto memuncak Hasan juga membongkar kenapa Darto begitu membenci sepak bola. Saat itu Wahyu merasa ada dalam lindungan Hasan, sang Pak Le yang bisa menyelamatkan mimpinya di lapangan hijau.

Keadaan menjadi berbalik ketika Darto mulai luluh dan mengizinkan Wahyu main sepak bola. Awalnya terkesan mendukung Wahyu bermain bola untuk mengejar impian sekaligus mendapat uang tambahan, Hasan justru sempat menghalangi niat Wahyu untuk menerima tawaran Coach Timo di Persema. Hasan memang sempat mengantar Wahyu menuju markas Persema, tapi ketika di tengah jalan ban motor Hasan pecah dan Wahyu nyaris terlambat, Hasan masih berniat membuat Wahyu mengurungkan niatnya itu.

Perlahan-lahan karakter Hasan terlihat memiliki hidden agenda terhadap Wahyu. Ia ingin Wahyu tetap bermain sebagai pemain bayaran sebagai bahan taruhan bola warga Karangsari. Hal ini baru terungkap jelas di akhir film ketika ia berhasil mengumpulkan banyak uang taruhan saat Wahyu kembali bermain untuk Karangsari. Padahal, bagi saya sendiri tokoh yang diperankan Agus Kuncoro ini begitu menarik perhatian. Mulai dari sikapnya yang provokatif bagi Wahyu, terkadang jenaka kala bercanda, sampai sikapnya yang agak penakut ketika berhadapan dengan Gatot. Terlihat dari dialognya dengan Wahyu yang cukup mendominasi di awal film. Ia juga memposisikan dirinya sebagai pelindung Wahyu dengan berkali-kali menyebut dirinya “Pak Le” alias paman untuk mengesankan kedekatannya dengan Wahyu. Didukung dengan ketidakakuran Wahyu dengan Darto, situasi tersebut sangat menguntungkan posisi Hasan di mata Wahyu.

Ketamakan Hasan terbongkar seiring dengan perubahan sikap Darto yang melunak. Sang ayah yang sudah terbuka dan mengizinkan Wahyu bergabung di Persema ditunjukan dengan mimik Sujiwo Tejo yang makin mengumbar senyum. Pemilihan kata-kata yang seperti berpantun makin menguatkan sosok Darto yang justru sudah berada di pihak Wahyu dan membebaskan pilihannya. Hal ini terlihat ketika Wahyu didera kebingungan memilih antara cintanya dengan Indah (Maudy Ayunda), sang gadis impian atau sepak bola. Darto hanya memberikan nasihat “Cinta itu harus memilih salah satu, yang satunya lagi hanya menghormati” atau cara Darto yang berusaha menggoda Wahyu dengan pantunnya, “Kalau cinta melekat, tai kucing terasa cokelat”. Guyonan Darto tersebut seolah meruntuhkan karakternya yang sebelumnya ditampilkan sebagai ayah yang kaku, pemarah dan tidak suportif.

Celetukan Sujiwo Tejo yang banyak menyelipkan kritik sosial seputar sepak bola, politik dan percintaan remaja memberikan kesegaran tersendiri bagi tokoh Darto dan dialog yang dilontarkannya. Selipan nyeleneh Darto ini seperti ingin menyindir masalah-masalah persepakbolaan Indonesia yang kini penuh dengan campur tangan beberapa pihak. Di sisi lain, tidak dipungkiri sepak bola masih dianggap sebagai salah satu alat pemicu nasionalisme di negeri ini. Hal ini juga terlihat di awal film ketika menampilkan pertandingan sepak bola zaman dulu sampai kekalahan tim nasional Indonesia di piala AFF dengan Malaysia. Masyarakat pun menyatukan suara dan semangat untuk tetap mendukung Indonesia.

Kembali ke film, dua tokoh Hasan dan Darto ini membantu menguatkan karakter Wahyu yang masih nampak datar dan tidak dominan. Wahyu mungkin memang tidak digambarkan sebagai sosok yang ekspresif atau jenaka seperti kedua temannya yang diperankan oleh Jodi Onsu dan Joshua Suherman. Namun, tokoh Wahyu justru menonjol akibat munculnya karakter-karakter lain yang menguatkan sosok Wahyu itu sendiri.

Adegan Wahyu yang menangis akibat vonis kaki kanannya makin terasa emosional saat Darto berusaha menenangkan sekaligus ikut marah lewat kata-katanya yang menyalahkan sistim politik dan sepak bola Indonesia. Adegan tersebut melibatkan Wahyu, Darto dan ibu Wahyu pada tiga tempat berbeda namun mereka semua merasakan kepedihan yang sama. Selain itu, adegan Wahyu-Darto-Hasan yang berkelahi di depan warung kopi lapangan Karangsari juga memanas lewat dialog-dialog Darto dan Wahyu. Kembali emosi penonton dipancing lewat amarah Darto dan pernyataan tulus Wahyu tentang keinginannya membahagiakan sang ayah. Boleh diakui, dialog antar tokoh inilah yang menjadi salah satu kekuatan film yang cukup membuat mengharubiru.

Terlepas dari dialog-dialog yang memorable, beberapa detail adegan nampaknya luput dari perhatian. Kaki kanan Wahyu divonis osgoodschlatter, namun ketika Wahyu tumbang saat main bola di Karangsari, ia terlihat memegang kaki kirinya. Di adegan berikutnya ia baru memegang kaki kanannya. Film yang kental unsur Jawa Timur ini seperti ingin masuk sampai logat para pemainnya. Sayangnya logat Maudy Ayunda justru terkesan dipaksakan. Terasa perbedaan signifikan dengan Melly atau Wahyu sendiri.

Lepas dari semua itu, Tendangan merupakan salah satu film yang menyenangkan ditonton di musim libur Lebaran ini. Unsur lokal yang kental lewat lokasi dan dialognya, nuansa sepak bola yang penuh pesan nasionalisme sekaligus ajang jualan para pemain naturalisasi yang sedap dipandang mata. Meskipun Bachdim dan Kurniawan dipajang sebagai ‘dagangan’ utama film ini, bagi saya dua bule abg itu tidak membuat ingin menatap mereka lebih lama, atau mendengar mereka berdialog dalam bahasa Indonesia barang sepatah dua patah kata. Tidak perlu produk impor untuk membuat film ini enak dipandang dan didengar. Cukup memandang indahnya lereng Bromo, mendengar celetukan nyeleneh khas Sujiwo Tejo maka lengkaplah film ini untuk bisa nendang bagi penikmat film tanpa perlu menjadi pecinta sepak bola.
.
Tendangan Dari Langit | 2011 | Sutradara: Hanung Bramantyo | Negara: Indonesia | Pemain: Yosie Kristanto, Maudy Ayundya, Agus Kuncoro, Sudjiwo Tejo, Yati Surachman, Timo Scheunemann, Irfan Bachdim

also posted in cinemapoetica.com

Di Bawah Lindungan Ka'Bah : Film Cinta Nan Islami


Di pertengahan bulan puasa lalu, saya sempat menghadiri diskusi seputar Islam dan Film di Salihara bersama kritikus Eric Sasono dan produser film Putut Wijanarko. Pembahasan malam itu sempat menyebut-nyebut beberapa film yang menghadirkan tema Islam dan pembaharuan Islam di dalamnya, termasuk Para Perintis Kemerdekaan, film karya Asrul Sani yang diilhamid dari novel Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah. Dalam diskusi tersebut sempat dibahas pergantian judul dari novel ke film karena beberapa alasan politik. Saat film ini dirilis kebetulan bertepatan dengan pemilihan umum tahun 1977 dan konon, kata-kata ka’bah sebagai judul novel dinilai merepresentasikan partai tertentu di masa orde baru tersebut. Jadilah Para Perintis dipilih sebagai judul baru film adaptasi karya sastra tersebut. Meskipun belum menonton film tersebut, dari beberapa resensi menyatakan film tersebut memang cukup banyak muatan politik seputar perjuangan melawan penjajah Belanda.

Tiga puluh empat tahun kemudian, MD Pictures kembali mengangkat kisah Hamid dan Zainab ke layar lebar. Kali ini disutradarai Hanny R.Saputra yang sebelumnya sudah menyutradarai film Virgin & Heart. Masih seputar kisah cinta terlarang antara Hamid (Herjunot Ali) dan Zainab (Laudya C.Bella) dengan latar tahun 20-an. Hamid adalah pemuda desa yang sederhana tinggal dengan ibunya yang sakit-sakitan bersama keluarga Jafar (Didi Petet). Pasca menyelesaikan pendidikan agamanya dengan predikat lulusan termuda, Hamid kemudian mengajar di desa setempat sebagai bentuk baktinya pada masyarakat. Hubungan Hamid dan Zainab diam-diam tetap terjalin tanpa diketahui oleh orang di sekitarnya. Suatu hari, Hamid mengikuti pertandingan debat di surau desa, tentunya Zainab ingin melihat aksi Hamid dan menyemangatinya. Sayang di tengah jalan, sepeda Zainab terlempar ke sungai dan ia pun tenggelam. Di tengah kerumunan penduduk desa dan para santri lelaki, Rosna (Niken Anjani), sahabat Zainab berteriak minta tolong dan saat itulah Hamid datang layaknya superhero menyelamatkan Zainab yang tidak sadarkan diri. Berbagai usaha menyadarkan Zainab ditempuh Hamid termasuk memberikan CPR atau nafas buatan kepada Zainab. Akibat pertolongan Hamid, Zainab selamat dari bencana tenggelam yang mengegerkan itu. Apakah bencana selesai di situ saja? Tidak bagi Hamid. Segenap masyarakat desa ternyata menganggap tindakan Hamid tidak pantas dilakukan bagi dua laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Akibat perbuatannya itu, Hamid harus menjalani hukuman dari tetua desa yang membuatnya harus menghilangkan angan-angannya untuk bisa bersatu dengan Zainab.

Melihat judul yang kental nuansa Islamnya, tentu ada sedikit harapan melihat bagaimana Islam dibawakan dalam film ini apalagi penayangannya nyaris bertepatan di libur Lebaran 2011. Dengan membawa nama besar Hamka yang memang sudah dikenal sebagai salah satu sastrawan dan ulama di Indonesia tentu tidak main-main ketika novelnya diangkat (lagi) ke layar lebar. Sayangnya, esensi Islam yang ditampilkan di Di Bawah lebih banyak berbicara seputar latar belakang para tokohnya yang memang dibesarkan di lingkungan pesantren dan impian mengunjungi rumah Allah di Mekkah. Fokus utama tetap pada cinta terlarang si kaya dan si miskin, Hamid yang berasal dari keluarga miskin dan sang ibu (Jenny Rachman) mengabdi pada keluarga Haji Jafar yang sudah menyekolahkan Hamid sampai lulus. Zainab, anak Haji Jafar yang juga mencintai Hamid ternyata harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Arifin, pemuda tampan nan pintar yang masih sanak keluarganya. Besarnya cinta Hamid & Zainab ternyata mampu melumpuhkan keduanya, bahkan pasca perginya Hamid dari desa, Zainab seperti kehilangan separuh jiwanya. Terkesan cerita cinta keduanya mendapat porsi besar layaknya kisah cinta anak muda di film era modern saat ini. Lepas dari rezim politik apa yang sedang berjalan saat film ini diedarkan, nampaknya tidak perlu khawatir ada unsur politik tertentu yang dimuat di balik film ini. Dua pemeran utama juga nampak mewakili era penonton masa kini yang menampilkan sosok apik dan dicintai penonton film maupun layar kaca. Herjunot Ali memang memainkan perannya dengan cukup maksimal meskipun ada beberapa bagian yang terkesan tidak seimbang. Tokoh Hamid digambarkan sebagai pribadi yang sempurna sebagai sosok yang tampan, cerdas, dan dicintai. Lepas dari ketidakberuntungannya secara ekonomi dan percintaan yang terhalangi status sosial serta norma masyarakat. Namun ia tidak menunjukkannya pada penonton, sepanjang film yang saya rasakan tokoh ini cenderung nrimo dan tidak merasa tertekan atau sedih. Entah ini memang sosok yang ingin ditampilkan para penulis atau tidak. Bersanding dengan beberapa aktor kawakan seperti Didi Petet, Widyawati dan Jenny Rachman, tentu memberikan kesan tersendiri apalagi film ini mengambil latar tahun sebelum kemerdekaan. Ketika adegan Hamid dengan Zainab, yang muncul justru sepasang muda mudi yang mungkin biasa kita lihat di layar kaca sinema elektronik atau film-film bertema chic-flick. Terlihat saat adegan Hamid dan Zainab berada di halaman belakang rumah Zainab dibatasi tembok, mereka tertawa bersama menyadari kebersamaannya tetap bisa terjadi dan berbagi canda tawa. Sayangnya adegan yang penuh dengan ‘dialog’ tertawa bersama itu terkesan begitu dibuat-buat akibat durasi yang terlampau panjang. Begitu juga dengan adegan saat Hamid dan Zainab kehujanan di tengah pasar, mereka seolah ingin menampilkan sisi lain remaja yang seolah tertekan dengan segala norma agama dan sosial yang berlaku di desa itu.

Lalu di manakah ka’bah yang dijanjikan di awal? Memang bukan “ka’bah” secara harfiah yang ditampilkan sampai penghujung film tetapi esensi sebagai film Islam, selain berlatar Islam nampaknya cukup terlupakan. Sepanjang film penonton akan disuguhi perjuangan cinta muda mudi yang mempertaruhkan nasibnya dengan berpasrah diri pada jalan Tuhan dan takdir. Impian menyambangi tanah suci Mekkah dijadikan suatu alat yang konon akan mempertemukan takdir mereka. Selain itu, kabar yang mengatakan film ini berbujet 25 miliar kurang tampak secara visual terutama menyoroti suasana Mekkah yang ternyata ‘hanya’bermodalkan manipulasi teknologi greenscreen. Nampaknya kali ini adaptasi karya sastra termasyur Hamka ini harus berhenti pada titik cinta masih menaungi semuanya, tentunya masih terbatas cinta sesama manusia.

Di Bawah Lindungan Ka’Bah | 2011 | Sutradara: Hanny R. Saputra | Pemain: Herjunot Ali, Laudya C.Bella, Didi Petet, Jenny Rachman, Widyawati Sophiaan| Rating: 5.5/10

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2: Seruan Menuju Kematian yang Abadi


Tujuh novel, delapan film dan sepuluh tahun kebersamaan dalam dunia sihir fantasi akhirnya harus ditutup dengan perpisahan yang penuh ketegangan antara hidup dan mati. Selama satu dekade, empat sutradara berperan mengangkat novel-novel tebal J.K Rowling ke layar lebar dan membuat fantasi pembaca setia Harry Potter seolah jadi nyata. Tentunya tidak mudah menyuarakan akhir perpisahan tiga sekawan Ron, Hermione dan pastinya Harry pada puluhan peran penting dalam film ini serta pembaca atau penontonnya. Sebagai penonton yang bukan pembaca ketujuh novelnya, kenikmatan saya selama lebih kurang seratus dua puluh menit tidak memerlukan komparasi yang signifikan. Rasanya dari awal tetap sama: menegangkan dan ada perasaan tidak siap mengucapkan selamat tinggal pada franchise film ini.

Pencarian horcrux dari Part 1 diteruskan dengan melibatkan peran-peran penting dan juga usaha mencari titik lemah You-Know-Who, yang akhirnya mulai menemukan titik terang. Bukan hanya itu, rahasia lain mulai satu persatu terbongkar tanpa disengaja. Kekuatan Harry sebagai the boy who lived come to die makin terasah, apalagi Harry seperti berbagi pikiran dan kekuatan dengan Voldemort. Kemunculan kata-kata dari trailer Part 2 tersebut seperti menjadi penekanan tentang gambaran film keseluruhan. Selain itu, perjalanan Harry menuju medan pertempuran dibayang-bayangi ancaman pasukan Voldemort untuk menghabisi Harry. Lalu tokoh-tokoh yang berperan penting dalam hidup Harry pun memunculkan jejaknya. Hal itu seperti membukakan jalan pada kematian yang konon disiapkan Voldemort untuk bocah yang paling dicari selepas kematian Dumbledore.

Munculnya orangtua Harry dan juga Sirius Black sebelum Harry memulai pertempurannya seperti memberikan kode-kode atas situasi yang mungkin dihadapi Harry. Di sisi lain, mungkin juga pertarungan Harry dengan Voldemort secara tidak ia sadari adalah ajang balas dendam atas apa yang telah menimpa orang terdekatnya. Alam bawah sadar Harry saat itu seperti mendorong dirinya sendiri untuk mengumpulkan keberanian melawan Voldemort. Munculnya sosok-sosok Lily, James dan Sirius seperti hanya dalam pikirannya saja, sama ketika ia bertemu Dumbledore. Pertanyaan Harry pada Dumbledore ”Apakah ini atau nyata?” dijawab dengan ”Semuanya ada di pikiranmu.” Ada keinginan dalam diri Harry yang begitu kuat untuk bertemu Dumbledore dengan segala kebingungan yang luar biasa atas apa yang harus ia lakukan.

Pada akhirnya, Dumbledore pun tetap menyerahkan semua keputusan di tangan Harry. Bangun dan kembali pada pertarungan yang mempertaruhkan hidupnya atau Harry bisa menyerah pada Voldemort tanpa mengadakan perlawanan dan melewati jembatan kematian itu dengan sambutan orang-orang terkasihnya yang lebih dulu tewas dengan tragis.

Bukan hanya seputar kematian dirinya yang menjadi taruhan, misteri kematian orang terdekat Harry satu persatu terbongkar kebenarannya dan juga membongkar misteri lainnya yang telah terkubur. Kebencian Harry atas matinya petinggi Hogwarts, Albus Dumbledore ternyata harus dibayar mahal dengan sebuah rahasia yang dibuka pasca kematian Snape. Tentunya tanpa membaca bukunya, ini merupakan salah satu kejutan apik di penghujung sepak terjang Severus Snape. Mendadak ada sedikit simpati yang muncul berbalik 180 derajat setelah sepanjang enam seri sebelumnya banyak kebencian yang muncul pada tokoh yang diperankan Alan Rickman ini.

Seruan kematian juga menghantui Hogwarts yang seolah redup dan tidak lagi bernyawa pasca kepemimpinan Snape. Guru, staf dan murid Hogwarts seolah kehilangan nyawa dan merasa terancam karena misteri keberadaan Harry. Sekembalinya Harry ke Hogwarts, ternyata ada kepanikan yang melanda karena mereka tahu pasti ada korban ketika Harry muncul. Namun, kepanikan atas serangan dementor dan pasukan Pangeran Kegelapan seolah memicu team Potter untuk mengentaskan nyawa Voldemort dan menjadikan Harry pahlawan sejatinya. Sayangnya, Harry Potter bukan lagi laki-laki lugu yang dibesarkan lewat latar sihir warna-warni. Ia tumbuh dalam kecaman penguasa abadi kegelapan yang konon tidak memberikannya pilihan untuk hidup atau mati, untuk menjadi pahlawan atau pengecut. Apakah mungkin kematian adalah jalan pintas yang abadi? Atau hanya sebagai jalan pembuka bagi seseorang untuk menyebut dirinya pahlawan?

Meskipun tidak banyak berekspektasi, tentu masih ada rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana pertarungan terakhir Harry dan Voldemort akan berlangsung. Sebagai bagian terakhir dari seri yang akan menutup perjalanan cerita Potter dan juga menutup akhir hidup dari salah satu tokohnya, pertarungan hebat diharapkan bisa menjadi tutupan megah. Sejak adegan pertama sebagai sambungan dari Part 1, suasana yang dibangun adalah kelam. Dengan warna yang ditampilkan penuh kegelapan, lalu ketika pertahanan Hogwarts dibangun dengan matera yang dibuat oleh para profesornya makin menambah kegelapan dan kekelaman yang terjadi. Pertarungan massal antara Potter versus Voldemort juga membuat penonton bergidik dan menyiapkan diri siapa pun bisa tewas dari pertarungan hebat itu.

Sayangnya pertarungan hebat yang selayaknya sarat dengan adegan berdarah-darah, yang mungkin sayang dilewatkan meski hanya satu detik saja. Pertarungan sepertinya terfokus pada hancurnya horcrux satu persatu dan juga usaha untuk menghabisi Nagini. Adegan ini beberapa kali dimunculkan, saat Ron & Hermione mengambil taring Basilisk sebagai salah satu senjata ampuh untuk menghabisi Nagini. Adegan tersebut cukup terasa efek dasyatnya sama seperti ketika tiara milik Rowena Ravenclaw musnah di Ruang Penyimpanan. dan juga saat Voldemort merasakan efek pasca hancurnya horcrux tersebut. Kedahsyatan pertarungan secara satu persatu itulah yang lebih terasa daripada pertarungan ketika Harry dan Voldemort berhadapan satu sama lain. Seolah energi mereka telah habis sebelum mereka berdua bertatapmuka.

Sebagai penonton –dan bukan pembaca– perlu banyak merangkum sendiri rangkaian cerita yang kadang terlalu detail dan butuh kerja ingatan lebih kuat untuk bisa mengikuti jalannya cerita. Secara garis besar, plot yang digambarkan dalam film cenderung panjang dan berliku. Hubungan Antar tokoh satu sama lain bukan hanya dikaitkan dalam satu seri filmnya saja tetapi ketujuh seri secara lengkap. Penceritaan yang dilakukan lewat rangkaian petualangan tiga sekawan tersebut juga begitu banyak perkembangan sejalan dengan perkembangan kemampuan Harry, Ron dan Hermione menyusun puzzle misteri seputar intrik kawanan Voldemort. Penonton diminta juga membantu merangkai sendiri jalonan cerita yang tidak mungkin dijabarkan lebih detail lagi lewat layar lebar. Tentunya usaha itu tidak mudah dilakukan.

Beberapa penonton yang mungkin kecewa pasca menonton akhir dari kisah ini, karena bayangan akan kedasyatan pertarungan babak akhir Potter versus Voldemort. Konon, ketegangan dalam membaca buku yang penuh adegan pertarungan lebih memicu adrenalina ketimbang dinikmati secara visual. Nampaknya konsep theater of mind lebih berhasil ketimbang divisualisasikan. Adilnya memang nikmatilah film Harry Potter tanpa adanya perbandingan atau ekspektasi yang mengarah ke bukunya. Namun, layaknya sebuah adaptasi karya seni memang orisinalitas tulisan ribuan halaman memang takkan bisa tergantikan secantik apapun karya adaptasi tersebut. Akhirnya Harry Potter memang sudah saatnya menggantung tongkat, atau lebih tepat mematahkan tongkat yang menjadi senjata segala kericuhan yang muncul selama sebelas tahun karenanya. Seperti layaknya ia mematahkan hati ribuan penggemar yang takkan bisa sepenuh hati mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 | 2011 | Sutradara: David Yates | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Pemain: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Helena Bonham Carter, Jim Broadbent, Robbie Coltrane, Warwick Davis, Ralph Fiennes, Michael Gambon, John Hurt, Jason Isaacs, Alan Rickman, Maggie Smith

also posted in Cinemapoetica.com

Friday, June 10, 2011

To Make Yourself Feels Good is a 100% Commitment

Common sense, women can do multitasking that men cannot do. Siapa yang setuju dengan pendapat ini? Pasti semua perempuan bersorak sorai setuju termasuk saya. Dari skala terkecil, mulai dari menelpon atau dandan sambil nyetir atau mendengarkan orang lain curhat sambil BBM-an. Skala besarnya, mengurus ini-itu di waktu yang bersamaan. Yep, perempuan memang punya keahlian melakukan hal-hal yang kadang membuat pria Cuma bisa geleng-geleng kepala. Tidak terkecuali perempuan yang satu ini (dalam hal ini, saya) yang seringkali berada dalam situasi multitasking yang membuat saya hanya memberikan kontribusi kurang dari seratus persen dalam semua hal yang saya ikuti.

Kalau mau kilas balik, sejak zaman kuliah dulu saya sering ikut kepanitian acara kampus. Dalam setahun bisa dua sampai tiga kepanitiaan yang saya ikuti. Belum termasuk grup folklore Cantar Caravelas dan juga UKM radio RTC UI FM. Sampai saya lulus, semuanya berjalan beriringan, aman, tentram, sentosa. Lepas dari bangku kuliah, saya mulai mencari kesibukan di luar kantor. Bagi saya, merugilah orang-orang yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di luar jam kantor. Somehow i believe, joy is coming outside from your routines. Untungnya saya menemukan grup tari tradisi yang mengisi kekosongan waktu luang dan mengobati rindu menari. Sampai awal tahun 2010 saya merasa ‘aman’ dan baru tersadar di akhir 2010 betapa ‘datar’nya hidup saya tanpa resolusi yang jelas. Padahal di luar sana, beberapa orang sudah mulai berkomentar bagaimana sibuknya saya dan geleng-geleng kepala ketika saya berniat menambah keinginan ikut ini-itu lainnya.

Di tahun 2011 rasa-rasanya tidak lagi ingin menyianyiakan dua belas bulan yang ada, apalagi tahun ini saya akan menginjak usia 24 tahun. Mulai mencoba fokus pada keinginan utama di dunia film dan lebih serius di bidang pekerjaan saya, broadcasting. Sampai pada suatu titik saya mencoba apa yang dilakukan Jim Carrey di film Yes,Man! Mengatakan ‘Ya’ pada tawaran apapun. Sejujurnya, kenapa saya melakukan ini karena ada sedikit kejenuhan dengan apa yang sedang saya lakukan saat itu. Ternyata, justru saya sendiri kena batunya.

Berawal pada tawaran menarik dari seorang guru tari tradisi saya untuk mengikuti misi budaya ke Prancis, mendadak saya kehilangan kehidupan sosial saya. Sayangnya, pengorbanan saya tidak diikuti dengan excitement yang bisa membayar pengorbanan itu. Bukannya saya tidak menikmati proses latihan menari itu. Tarian tradisional adalah salah satu passion saya, meskipun tidak sebesar film atau radio. Proses yang saya harapkan bisa membukakan mata saya dan memberikan insight tentang proses dari nol sampai bisa menarikan 7 tarian asal Kalimantan Barat di hadapan penonton asing sebagai bukti kecintaan saya pada budaya lokal. Terkesan klise dan muluk, tapi jujur itulah yang bisa saya banggakan dari sikap nasionalisme saya. Ternyata belum sampai proses itu berjalan lebih dari 50% saya mendadak merasa proses ini jalan di tempat dan saya merasa tidak nyaman luar biasa. Saya dihadapkan oleh pilihan keseriusan di kantor atas apa yang sudah kerjakan hampir dua tahun di perusahaan dan keseriusan di tempat menari. Jujur, otak saya terbelah dua karena tidak ingin usaha saya selama dua tahun di MRA terbuang sia-sia tetapi seperti janji saya di awal, komitmen pada misi budaya ini juga tidak bisa dilepaskan begitu saja. Lalu apa yang saya rasakan?

Di kantor pikiran melayang ke tempat latihan, di tempat latihan pikiran kembali ke Sarinah lantai 8. Satu hal lagi yang membuat saya makin tertekan, lingkungan di tempat latihan tidak membuat saya terpacu untuk tetap pada komitmen saya. Padahal saat itu saya baru saja kembali ke Jakarta pasca melakukan solo trip ke Beijing dan momen itu merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri di dunia luar. Masih dalam euforia yang menyenangkan, justru di lingkungan tari itu saya merasa tidak dihargai dan diabaikan keberadaannya.

Mendadak saya merasakan ada yang keluar jalur dalam pengorbanan saya sebulan terakhir di anjungan Kalimantan Barat itu. Sebagian jiwa saya seperti tidak menginginkan berada di sana. Komitmen yang saya coba pegang terasa makin menekan karena dukungan orang terdekat tidak terasa karena waktu bersosialisasi makin berkurang. Bahkan satu hari, saya merasa deg-degan luar biasa dan tidak pernah bisa tenang ketika memasuki tempat latihan. Sedikit psikosomatis rasanya.

Akhirnya, tepat setelah menginjak usia duapuluh empat, saya memutuskan kembali ke jalan yang benar (menurut saya). Tidak mau lagi pikiran saya terpecah untuk hal yang saya belum tahu seberapa worth it-nya. Bagaimana orang lain menghargai usaha kita, tenaga, waktu yang sudah dikeluarkan. Dan yang terpenting, seberapa jauh mereka menghargai keberadaan kita di tengah-tengah mereka. If our absence makes them feel much better, maybe it’s time for you to walk away.

Kalau selama ini saya hanya menganggap fokus pada satu hal terletak pada komitmen, sekarang saya mencoba tidak mudah berkata ‘iya’ pada tawaran yang menggiurkan. Bisa mengatakan ‘tidak’ artinya juga siap menjaga konsentrasi dan energi pada tujuan utama tanpa harus merasa dikorbankan oleh diri sendiri atau orang lain.



Simply makes yourself feels super-good!

Apa yang saya rasakan seminggu pasca melepaskan komitmen yang satu itu?
Lega, tenang, lepas, dan yang terpenting i make myself feel better and not even France can take that away from me!

Wednesday, May 25, 2011

Finally, Beijing!

Akhirnya! Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan awal perjalanan solo trip kali ini ke Beijing,China. Awal 2011 saya sudah bertekad mau melakukan 3 liburan, pertama Bali di bulan April bersama rekan sejawat Cosmopolitan Fm dan berikutnya saatnya menikmati perjalanan sendiri ke destinasi yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. Kenapa China? Sejak kelas 5 SD budaya China begitu akrab bagi saya terutama lewat novel, tontonan dan seni lainnya. Kelas 1 SMP saya jatuh cinta dengan tulisan Qiong Yao, roman klasik kisah Xiao Yanzi, putri dari dinasti Qing era pemerintahan Kaisar Qianlong. Tidak ada yang begitu spesial dari HuanZhu Gege ini, novel fiktif ini mengambil latar belakang kehidupan istana dengan segala atribut tradisi dan berbagai hal yang dianggap tabu. Meskipun semuanya fiktif, saya ingin mengenal lebih jauh bagaimana negara yang berkuasa sebagai macan Asia mempunyai historia klasik
melibatkan kaisar dan mitos-mitos negeri China lainnya.



Selain itu setelah mempelajari bahasa Mandarin hampir 5 tahun, saya ingin benar-benar merasakan pengalaman mengunjungi tempat-temapt yang selama ini hanya saya kenal di buku. Destinasi ini bukan yang populer di antara teman-teman saya, selain jauh, butuh visa dan cukup mahal, China kalah populer dibanding Hongkong atau Thailand yang relatif murah. Jadi saya putuskan untuk melakukan perjalanan ini sendiri.



Forbiden City atau The Palace museum adalah tujuan utama dan pertama saya. Hari kedua setelah mendarat di Beijing Capital Airport, saya langsung melangkah ke Forbiden City yang lokasinya berseberangan dengan Tian'An Men Square. Di depan pintu gerbang, saya disambut oleh foto Mao Tze Dong atau Chairman Mao. Konon, ia adalah bapaknya-China pasca berakhirnya kekuasaan dinasti China. Dengan tiket seharga 60Y perjalanan dimulai.

Mulai dari lapangan yang memisahkan tiap bangunan, fungsinya begitu beragam. Upacara, pesta, sampai untuk pertahanan.

Tepat di belakang Forbiden City, terdapat Jingshan Park dan Beihai Park dengan White Dagobanya. Pemandangan dari puncak taman ini langsung mengarah ke Forbiden City. Kalau kita tarik lebih jauh lagi, agak jauh dari Beihai Park, kita bisa mengunjungi Bell and Drum Tower. Dari puncak bangunan inilah kita bisa melihat secara lurus tiga lokasi sebelumnya.



Houhai Park, Menanti Sunset yang Cantik



Beihai Park dan White Pagoda

Tempat lain yang juga jadi destinasi menarik di Beijing adalah Summer Palace yang menjadi lokasi istirahat musim panas keluarga kerajaan.

Di puncak Summer Palace ini ada Frangrance Budha yang menghadap ke danau Kunming. Sayangnya hari itu cuaca sedikit berkabut jadi pemandangan tidak begitu cerah.

Kalau punya hobi daki gunung sebenarnya destinasi yang juga bisa dilakukan setelah mengunjungi Summer Palace adalah Fragrance Hills yang terletak tidak begitu jauh. Konon, pemandangannya di musim semi luar biasa cantik.





Temple of Heaven



Pretty Spring!

Ke China belum sah rasanya kalau belum ke Great Wall. Ada beberapa pintu yang bisa dilalui di Beijing untuk menyusuri Great Wall ini. Pintu yang paling populer untuk turis, Badaling terletak lebih kurang 30km dari pusat kota. Untuk saya yang bukan pecinta olahraga daki gunung, Badaling cocok karena tidak terlalu curam dan bisa dicapai dengan cable car. Jadi saya tidak perlu khawatir capek mendaki atau takut kepeleset yah?



Well, setelah perjalanan nyaris 6 jam sekaligus mengunjungi Ming Tomb alias makam Kaisar Dinasti Ming saya akhirnya bisa mendapatkan cukup banyak informasi seputar China lewat tour guide yang selama ini saya hindari. Pasca mengunjungi Changcheng, saya bisa dinyatakan SAH sebagai turis China!



Wednesday, May 04, 2011

Beliebers: I Will Never Let You Go, Bieber!


Kehebohan lain di dalam masih berdekatan dengan beberapa konser yang digelar di penghujung April lalu tidak lain dan tidak bukan adalah fenomena Youtube, Justin Bieber. Isu kedatangannya sudah sempat membuat kehebohan di salah satu mal di Jakarta Pusat karena antriannya sudah ditunggu oleh para Beliebers sejak jam 3 pagi!
Tiket yang dijual mulai 500.000 sampai 1.750.000 ludes dalam beberapa hari saja. Kekisruhan juga sempat terjadi ketika promotor yang menggelar konser ini mendadak 'menghilang' dan digantikan oleh koalisi 5 promotor dengan Berlian Entertainment sebagai penjaga gawangnya. Konser tanggal 23 April di Sentul City ini sebenarnya dimulai baru jam 7 malam dengan band pembuka, Gruvi. Namun, sejak sore penonton sudah memadati lokasi dengan seragam berwarna ungu, warna favorit Bieber. Kebanyakan penonton adalah ABG perempuan dan ibu muda yang menggandeng anaknya yang berusia di bawah remaja. Beberapa di antara mereka bahkan sudah standby sejak jam 12 siang, alasannya tidak ingin kena macet dan ingin segera bertemu idolanya!

Acara cukup ontime dengan dibuka oleh band pembuka, Gruvi. Untungnya mereka hanya menyanyikan 4 lagu mengingat animo penonton yang nampak tidak sabar bernyanyi bersama. Akhirnya jam 20.10 layar di atas panggung memulai countdownnya selama 15 menit dan akhirnya konser dibuka dengan lagu Love Me. Penonton yang menjerit-jerit histeris dengan suara high pitch kemudian ikut bernyanyi dalam 16 lagu yang dibawakan dengan sangat hafal.


Selain menyanyi, Bieber juga pamer aksi menari dan juga breakdancenya tak lupa kemampuan main gitar ditunjukkan di lagu Never Let You Go versi akustik. Setiap jeda rehat Bieber silam dari panggung, penonton tidak dibiarkan menunggu begitu saja. Video montage perjalanan karier Bieber sudah disiapkan untuk memicu histeria para Beliebers. Tidak hanya itu, ada kejutan dari Jamie Aditya, mantan VJ era 90-an yang tampil menyanyikan beberapa lagu R&B secara acapella bersama backing vocal Bieber, Legaci.


Tidak berlama-lama rehat, Bieber kembali memanaskan panggung dengan 10.000 penonton dan akhirnya setelah lebih kurang 90 menit lagu Baby dijadikan pamungkas konser My World Bieber di Jakarta.

Stutter Over Maroon 5

Akhir bulan April kemarin menjadi salah satu minggu yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, terutama mereka yang sudah mengantri di dua konser yang cukup menghebohkan; Maroon 5 dan Justin Bieber. 4 bulan sebelum konser, 6000 tiket yang disiapkan promotor Maroon 5 ludes terjual dalam kurang dari 24 jam saja sedangkan para Beliebers juga sudah menborong tiket bocah 17 tahun ini sejak awal tahun 2011 lalu. Bagi saya excitement menonton Adam Levine dkk adalah ingin menikmati konser yang (katanya) sing along dan aksi panggung serta tata panggung yang menawan. Selain itu, setelah menunggu berbulan-bulan tentu rasa penasaran saya sudah terlalu menumpuk untuk konser yang satu ini. Mengingat banyaknya animo penonton yang membludak dan kekecewaan calon penonton yang gagal mendapatkan tiket, tentu ini seolah menjadikan saya salah satu yang beruntung bisa menjadi satu dari enam ribu penonton yang memenuhi Istora Senayan 27 April lalu.


Dimulai dengan Misery, Adam Levine yang tampil sederhana dengan atasan putih polos kemudian menggeber hits-hits Maroon 5 seperti Harder to Breath, Wake Up Call, She Will Be Loved, This Love dan beberapa lagu dari album terbarunya, Hands All Over.


Setelah drama pamit ala encore, Levine kembali ke panggung dan menutup konser dengan Makes Me Wonder dan Sunday Morning.

That's the sweetest goodbye!

Tuesday, April 12, 2011

Tiga Dara : Masalah Jodoh Tak Lekang Dimakan Zaman



Bayangan tentang film Indonesia di awal kemunculannya tentu beragam. Klasik dan penuh nuansa yang konservatif. Karya Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Indonesia tentu tidak perlu diragukan lagi, salah satunya Tiga Dara yang kembali dihadirkan dalam segmen Body of Works: Usmar Ismail bersama enam film lainnya. Kisah tiga kakak beradik yang tinggal bersama ayah dan kakeknya menghadirkan permasalahan yang tidak habis dimakan zaman, jodoh! Nunung, kakak tertua baru saja genap berusia 29 tahun dan membuat nenek begitu ketar-ketir karena sampai nyaris menginjak usia kepala tiga, Nunung tidak menunjukkan tanda-tanda dekat dengan laki-laki. Padahal adiknya, Nana dan Nenny termasuk supel dan mudah bergaul dengan laki-laki. Sang ayah sebenarnya santai menanggapi kekhawatiran nenek tetapi dengan ancaman dan juga permintaan Nenek yang dibuat seperti permintaan terakhir sebelum ajal menjemput mau tak mau membuat Ayah berpikir dua kali. Usaha mencarikan Nunung jodoh pun berjalan, sayangnya perangai Nunung yang terkesan tidak ramah membuatnya sulit diterima di kalangan teman-teman Nana dan Nenny yang notabene laki-laki.

Suatu hari, Nunung tertabrak motor oleh seorang pria bernama Toto. Nunung yang kesal memaki-maki Toto dan menolak diantar pulang sebagai bentuk permintaan maaf. Tidak menyerah begitu saja, Toto mengikuti becak yang ditumpangi Nunung sampai rumah dan berusaha meminta maaf lewat sebuket bunga. Nunung masih saja tidak terima dan menolak kehadiran Toto dengan ketus. Nana justru melihat Toto sebagai pria yang gentlemen dan berusaha mendekati. Alih-alih makin akrab dengan Nunung, Toto justru kian dekat dengan Nana dan Nunung terlihat sedikit cemburu. Sayang, ego Nunung lebih tinggi dari rasa sukanya pada Toto. Toto yang masih berharap pada Nunung mengira akan bisa mendekati Nunung lewat Nana. Kedekatan Toto dan Nana ternyata berlanjut sampai pertunangan. Nenek begitu terkejut dan menolak pertunangan tersebut, ia bilang kalau sampai Nana menikah lebih dulu dari Nunung, Nunung akan menjadi perawan tua seumur hidupnya. Nana begitu marah pada Nunung, akhirnya Nunung memilih pergi ke Bandung di rumah kerabatnya dan berharap mendapat ketenangan di sana.

Sebagai film yang muncul di tahun 50-an lalu dipertontonkan kembali sekarang, ada ekspektasi atau stereotipe yang muncul akibat referensi film yang lebih modern. Cerita yang disuguhkan ketiga dara ini sebenarnya cukup klise dan ratusan film masih mengangkat masalah jodoh sampai era sekarang. Konflik perjodohan yang dirasakan Nunung membuatnya tertekan dan justru menghindar, ignorant. Berbeda karakter dengan kakaknya, Nana justru periang cenderung penggoda. Awalnya ia dekat dengan Herman lalu ketika Toto datang, dengan mudah Nana melepas Herman begitu saja. Nenny diposisikan sebagai karakter yang menetralisir situasi antara Nunung dan Nana. Gaya jenakanya membuat cerita bergulir natural dan tidak dipaksakan. Dialog yang penuh gaya bahasa lama membuat dialognya semakin terasa berbunga-bunga namun masih bisa dimaklumi. Dengan sedikit sentuhan nyanyian, film hitam putih ini sama sekali tidak terasa membosankan.

Potongan dialog Tiga Dara ini cerdas dan tidak mengesankan film lawas tidak lagi relevan dengan kehidupan masa kini. Celetukan-celetukan dari semua tokohnya justru memberikan bukti jelas kalau film klasik memang tidak habis di makan waktu. Hal ini terasa dari dialog Nenek dan Ayah berikut,

Nenek : "Saatnya Nunung menikah sekarang sudah 29 tahun dan tahun depan 30 tahun"
Ayah: "Ah, masih muda itu! Menikah cepat-cepat itu kuno,di zaman dulu!"

Bayangkan, film yang muncul lebih dari 50 tahun lalu menganggap menikah di akhir usia 20-an adalah kuno dan tidak ada masalah melajang sampai usia kepala tiga. Isu yang dianggap melekat di pikiran orang-orang zaman dulu ternyata tidak terbukti lewat film ini. Sebaliknya, di zaman serba canggih saat ini justru isu ini masih saja dipermasalahkan. Melihat gaya Nana dan Nenny yang begitu kontras dengan Nunung yang serba tradisional, film ini juga sepertinya ingin menampilkan bagaimana invasi Eropa masih kental terasa bahkan dalam satu keluarga yang tinggal seatap. Nana dan Nenny seperti lebih bebas dalam berekspresi dan tidak tertutup pada hal-hal baru yang ditemuinya. Nunung seperti merepresentasikan perempuan tradisional dengan segala atributnya, fisik dan juga pikirannya. Ia begitu dalam berpakaian, tidak pernah mengubah penampilan sehari-harinya dari kebaya antiknya, begitu juga ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Nunung cenderung menutup diri, ia memilih berada di dapur memasak, menghibur tamu dengan bermain di balik piano, merawat kedua adik, ayah dan neneknya. Ia lebih baik bersembunyi di balik atribut keibuannya tanpa harus mengeluarkan sisi menariknya seorang perempuan di hadapan laki-laki. Nana yang ceriwis dan centil tidak peduli betapa buruknya ia di dapur atau Nenny yang lebih senang bergurau dengan laki-laki di sekelilingnya, termasuk sang ayah namun interaksi mereka pun menghasilkan kebahagiaan dan begitu lepas menghadapi masalah hidupnya. Masalah ini ternyata tidak basi ketika kita menontonnya kembali di layar perak yang sudah kusam gambarnya karena masalahnya masih akrab dengan kita penonton di masa mendatang.

Lima puluh lima tahun kemudian, pilihan bagi dara lainnya yang berkaca pada tiga dara ini mau menjadi siapa, terperangkap dalam norma dan stereotipe perempuan yang juga sulit lepas dari zona nyamannya atau berani lepas dari segala keterpaksaannya dan siap menerima risikonya?

Wednesday, March 16, 2011

Belkibolang; Saling Tabrak Rambu Jakarta



Jakarta di malam hari memberikan kesan tersendiri bagi masing-masing penduduknya. Penuh sesaknya di siang hari ternyata tidak membuat malam jadi lebih sepi. Hiruk pikuk dan ketegangan ternyata juga memenuhi malam-malam di kota Jakarta. Sembilan kisah tentang Jakarta di malam hari dan hal-hal yang dianggap tidak awam dibahas dalam film omnibus karya sembilan sutradara Belkibolang. Istilah belkibolang bagi pengguna jalanan di Jakarta tentu sudah sangat akrab, belok kiri boleh langsung. Judul sekaligus istilah ini merupakan isyarat dari kesembilan sutradara dan seorang penulis naskah, Titien Watimena bagi penonton untuk silakan langsung menikmati kesembilan cerita yang ‘kiri’ tanpa harus berhenti sejenak karena rambu-rambu norma yang membatasi.

Cerita dibuka dengan Payung, kisah tanpa suara antara laki-laki di tengah hujan dengan gadis kecil ojek payung. Dinginnya hujan di Jakarta sepertinya setara dengan dinginnya hubungan antar individu meskipun salah satunya berusaha mendekatkan diri namun yang satu justru menghindar. Percakapan sepasang tetangga yang berkeluh kesah dengan masalahnya masing-masing dalam Percakapan Ini mencoba memaparkan bagaimana problema tiap orang terkadang berkaitan satu sama lain. Absurditas percakapan yang terjadi karena sama-sama mencoba mengangkat masalahnya sendiri ternyata justru memberi benang merah antar keduanya. Adegan dan dialog yang diceritakan seolah kilas balik, sebenarnya hanya mengulang dan memutarbalikan posisi siapa korban dan pelaku dalam masalah yang ada pada kedua tokoh. Pada akhirnya, keduanya sempat berada di posisi yang sama. Percakapan yang terkesan absurd, mengingatkan pada konsep puisi mbeling yang diperkenalkan oleh Remy Sylado, yaitu konsep sastra (terutama puisi) yang mengabaikan kaidah keindahan dan keteraturan dalam bermain kata. Ketidakteraturan percakapan tersebut justru menciptakan suatu keindahan baru sekaligus menjelaskan keruwetan masalah lagi-lagi antar individu Jakarta. Terkadang tidak selalu harus dimengerti namun hanya untuk didengar.

Keruwetan lain dialami dua individu yang tidak berkaitan sama sekali namun dipertemukan dengan suatu kejadian kriminal yang juga menjadi makanan sehari-hari bagi penduduk Jakarta. Di malam hari, seorang aki-laki yang awalnya datang dengan niat baik menjadi tukang ojek dadakan saat seorang perempuan terlihat kebingungan, justru menjadi korban kriminal berkedok nafsu. Hasilnya, seorang laki-laki ditemukan tak sadarkan diri dan motornya digasak perempuan yang sempat menawarkan susunya! Kalimat tersebut begitu akrab di headline koran-koran kuning. Di Jakarta, ketika malam datang dua hal yang banyak terjadi adalah tindak kriminal dan aktivitas esek-esek. Sebut saja dari mulai kelas jetset yang bisa menikmati aktivitas seks di hotel berbintang atau klub ternama atau sekadar warung remang-remang di pinggiran kota, semuanya awam di Jakarta. Namun ketika adanya kesempatan tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, harusnya kita waspada karena di Jakarta tidak ada yang gratis. Laki-laki yang polos mau menjadi tukang ojek di tengah malam lengah ketika diberi kesempatan nyusu gratis oleh perempuan asing. Perampokan di jalanan dengan seorang perempuan sebagai pelakunya ternyata membuahkan banyak korban, terutama laki-laki hidung belang yang tergoda dan tidak sanggup menahan nafsunya. Nafsu manusia akan harta dan syahwat mencoba digambarkan lewat paparan Tumpal Tampubolon di Mamalia. Mungkin tujuannya mengingatkan kembali pada manusia akan asalnya, mahluk mamalia atau pada akhirnya kita sama dengan anjing atau kucing. Sama-sama binatang, menyusui.
Tema yang masih berkaitan juga mencoba diangkat oleh sutradara Wisnu Pratama dalam Ella. Kisah Ella si pekerja seks komersial yang membanting tulang demi menghidupi keluarganya di kampung. Keluarga Ella hanya tahu Ella bekerja di Jakarta, berpuasa selama bulan Ramadan dan pulang kampung membawa hasil kerjanya di hari raya. Ella tidak seperti apa yang keluarganya bayangkan, Ella menjual tubuhnya agar keluarganya bisa makan dan hidup. Ironi yang muncul dari kaum pekerja di Jakarta, selama pekerjaan itu menghasilkan bagi mereka tidak penting apa pekerjaannya. Stereotip halal atau haram seolah tidak berlaku untuk urusan uang dan perut. Ella bukannya malu pada pekerjaannya, ia begitu terbuka pada temannya yang merupakan penjual bebek bakar. Ella juga menyadari akan adanya penolakan dari keluarganya atas pekerjaan, gaya hidup dan perilakunya selama di Jakarta. Hal ini terlihat ketika Ella mengubah cara bicaranya ketika berbicara dengan ibunya di telepon dan mengganti pakaian yang lebih sopan ketika pulang menuju kampung halamannya. Ella menunjukkan bagaimana Jakarta seperti memberi identitas baru bagi penghuninya, identitas yang mau diakui atau tidak.

Film terakhir yang begitu membekas adalah karya sutradara Edwin, Rollercoaster. Sensasi ketegangan layaknya naik wahana rollercoaster di taman hiburan mencoba dihadirkan lewat aksi dua sahabat berbeda jenis yang selama bertahun-tahun bersahabat tidak pernah melihat masing-masing telanjang bulat. Hanya dengan setting kamar hotel dan berbekal penutup mata, keduanya memulai aksi yang sempat naik turun akibat keduanya masih diliputi sedikit ragu. Aksi yang perlahan justru menaikkan adrenalin penontonnya dan klimaks dari kejadian tersebut justru digantungkan, seolah-olah memberikan ruang bagi penonton untuk menentukan sendiri apakah keduanya berhasil menjalankan ‘misi suci’ mereka tersebut. Ketegangan dibumbui celetukan ringan yang cenderung konyol dan sedikit menghilangkan ketegangan saat kita berada di ‘rollercoaster’ bersama dua tokoh utama.

Dari sembilan film yang ditampilkan tentu tidak semuanya mencuri perhatian, lebih kurang yang dijabarkan di ataslah yang paling memorable. Kekuatan film omnibus yang sifatnya keroyokan ini ada pada ide sederhana namun sanggup menyentak penontonnya. Dengan tema ‘kiri’ yang diambil penulis naskahnya, kisah-kisah nyeleneh yang cenderung tidak penting justru berpotensi diingat dan terasa dalam. Kisah cinta dengan angan-angan romantis plus adanya barang yang bernilai historis dalam Planet Gajah atau kisah pertemuan dua sejoli yang jatuh cinta di Peron cenderung mudah dilupakan terlepas dari gambar indah yang disajikan. Satu hal yang sejenak mengalihkan penonton bahwa Belkibolang ingin berbicara tentang Jakarta sebagai pusat dari kesembilan kisah tersebut adalah pemilihan lokasi yang jauh dari lokasi-lokasi standar di Jakarta. Bisa saja penonton mempertanyakan sendiri, jadi sebelah mana Jakarta yang sebenarnya memperbolehkan belok kiri boleh langsung?

foto dari belkibolang.blogspot.com

Tanpa Kisah Tragis, Apakah ini Cinta?



Bagaimana menceritakan kembali kisah cinta yang seharusnya romantis nan tragis ke dalam bahasa dan gerak gambar yang bisa dipahami semua umur? Film animasi memang identik dihadirkan untuk semua umur terutama menghibur anak-anak. Ketika salah satu drama seorang Shakespeare diadaptasi ke dalam animasi, tentu tidak semua originalitas yang sudah pernah ditampilkan bisa lolos juga. Kisah cinta tragis Romeo & Juliet banyak diadaptasi ke layar lebar dengan berbagai sudut pandang penceritaan. Mulai tahun 1968 diangkat ke layar lebar oleh Franco Zeffirelli dengan nuansa British Italian dan berhasil menyabet Oscar untuk "Best Cinematography" dan "Best Costume". Di era yang lebih modern, Baz Lurhmann menghadirkan duet Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dengan nuansa yang lebih pop sebagai pasangan Romeo & Juliet di tahun 1996. Originalitas dialog Shakespeare tetap terasa meskipun latar yang sudah sangat hip dan kental suasana urban. Film lokal tidak mau kalah mengadaptasi kisah ini, perseteruan fans fanatik sepakbola Persija dan Persib menjadi latar film Romeo & Juliet karya Andi Bachtiar Yusuf dan menghasilkan kisah cinta terlarang ala Verona.

Untuk konsumsi yang lebih luas, tentunya banyak unsur yang berubah di dalam Gnomeo & Juliet ini. Dengan latar dua tetangga yang tinggal di Verona Drive bernama Montague dan Capulet yang selalu berseteru, hidup mahluk-mahluk yang tinggal di taman masing-masing pemilik rumah. Penghuni pekarangan Capulet dengan topi merahnya selalu mengolok-olok Montague yang bertopi biru dengan kata-kata gnome alias mahluk mungil dan terkesan lemah. Awalnya hanya masalah persaingan 'taman siapa yang lebih cantik' jadi berkembang ketika Juliet jatuh cinta pada Gnomeo. Suasana makin memanas ketika masing-masing berusaha menghancurkan taman musuh dan puncaknya ketika Tybalt, sepupu Juliet menantang Gnomeo adu balap mesin pemotong rumput dan Tybalt menabrak dinding lalu hancur berkeping-keping. Capulet tidak tinggal diam dan berusaha alas dendam untuk menghabisi Gnomeo. Cerita bergulir seperti kisah Romeo & Juliet yang kita kenal sebelumnya. Jadi, apa bedanya dengan versi aslinya?

Ketika mahluk-mahluk pekarangan ini hidup, sontak langsung teringat bagaimana mahluk di Night at Museum hidup. Mereka hidup sebagai alter-ego dari apa yang ditampilkan sebelumnya. Capulet dan Montague versi taman ini hadir sebagai karakter lucu yang menghidupkan suasana taman masing-masing. Ceria, ramah, dan gembira. Ketika mereka hidup, muncullah Gnomeo yang nakal, ingin mencoba sesuatu yang dilarang ibunya, Tybalt yang menggemaskan muncul sebagai karakter menyebalkan dan curang. Tokoh paling signifikan, Juliet digambarkan selalu ingin membuktikan bahwa dia tidak lemah dan bisa berdiri sendiri, bosan diremehkan oleh sang ayah yang protektif. Sayangnya, karakter para tokoh kurang kuat ditampilkan karena banyaknya tokoh sampingan yang juga ingin ditonjolkan. Benny dan Shroom sebagai sidekick Gnomeo masing-masing digambarkan bijaksana dan jenaka sedangkan Featherstone layaknya tokoh pendeta yang cukup membuat haru dengan kisah cintanya sekaligus penasehat bijaksana. Tokoh sampingan lainnya berperan sebagai minion tiap kubu yang begitu menggemaskan. Misalnya saja sekumpulan kelinci yang berkomunikasi hanya dengan mengatupkan kedua telinganya atau boneka mini yang selalu setuju dengan segala tindak tanduk Tybalt.

Bagi anak-anak di bawah umur, tontonan ini menjadi menyenangkan didukung oleh grafis yang apik menggabungkan animasi tiga dimensi dan dua dimensi penuh warna yang objeknya dekat dengan keseharian.Lalu di mana sisi romansa tragisnya? Rasanya tak lengkap Romeo & Juliet tanpa adegan ciuman membara atau bunuh dirinya. Mungkinkah adegan tersebut ditampilkan? Apakah tega mengingatkan anak-anak bahwa tidak semua kisah cinta berakhir bahagia? Atau sebenarnya film animasi ini bukanlah konsumsi anak-anak pada umumnya? Mungkin juga setelah menonton film ini, generasi pecinta hiburan digital akan mencari tahu apa saja sebenarnya yang tertulis dalam kisah terdahulu lewat hiburan primer ala tradisional, buku sastra.