Monday, October 04, 2010

Three Stages of Heartbroken Women's Life




Literatur dalam layar perak memang bukan sesuatu yang baru untuk disuguhkan ke pecinta film layar lebar. Tantangan membawa tulisan penulis buku yang ada di tangan sutradara dan penulis skenario itu sendiri. Tulisan Elizabeth Gilbert ada di tangan Ryan Murphy(Sutradara) dan Jennifer Salt (Penulis Naskah), gaungnya sudah mendunia dan seluruh dunia (atau Indonesia saja?) menunggu hadirnya Eat, Pray, Love buku yang laris nyaris 7 juta kopi di seluruh dunia*.
Kisah sang penulis, Liz (Julia Roberts)yang mencari pijakan hidup pasca perceraiannya dengan Steven (Billy Crudup). Ia sempat menjalin cinta dengan penggila Yoga, David Picollo (James Franco) namun kembali terusik dengan berbagai pikiran yang menunjukkan ketidakbahagiaan dengan apa yang ia punya saat itu. Berdialog dengan Tuhan yang selama ini jarang dilakukannya, membuat Liz seolah mendapat jawaban untuk menjauh dari semua 'cinta'nya di New York termasuk sahabat-sahabatnya. Alasannya, meskipun banyak cinta untuk Liz dari mereka, Liz tidak bisa memberikan cinta yang setimpal bagi mereka.
Terbanglah Liz ke Roma, Itali untuk memenuhi hasrat makan yang konon hilang seiring hilangnya kebahagiannya. Spaghetti Bolonaise, Carbonara, Margerita Pizza sampai kudapan khas Itali, Napoleon sukses membuat Liz melupakan cintanya di New York. Makanan yang membuat ia bahagia. Sampai di India, Liz ternyata merasakan jiwanya kosong. Meskipun tujuannya ke India untuk bertemu Gurugita yang dipujanya bersama David, Liz merasa jiwanya masih terfokus di New York. Liz berusaha melepaskan diri dari cintanya di masa lalu dan meneruskan perjalanan ke Bali, untuk kembali bertemu Ketut Liyer yang sebelumnya pernah meramal tentang kehidupannya. Liz kembali diguncang, pijakan yang kiranya sudah seimbang kembali dipertanyakan, sudahkah ia siap menjejak ke cinta berikutnya?

Film yang agaknya over exposed ini memang menyuguhkan banyak eksotisme.
Sisi-sisi feminin Liz juga banyak terungkap lewat kehidupannya di 3 kota yang begitu berbeda. Nampaknya hampir semua perempuan pernah merasakan apa yang dirasakan Liz, mulai dari keragu-raguan, patah hati, bersenang-senang, dan kembali pada fase ragu-ragu. Tiga kota yang dikunjungi Liz sepertinya mewakili perasaan dan fase hidup apa yang sebenarnya sedang dirasakan perempuan pasca sakit hati. Meskipun mungkin tidak terjadi pada semua orang, fase sakit hati akan mengarahkan kita pada pencarian kesenangan, mungkin tidak abadi tetapi setidaknya cukup bisa mengobati. Kemudian kita bisa disadarkan dengan kesendirian, betapa asingnya dunia yang berbeda dan keadaan yang berubah. Saat itu tantangan yang perlu dihadapi, bisakah kita fokus pada apa yang akan kita cari berikutnya? Ketiga, perburuan kembali dilakukan namun apakah hati kita siap untuk kembali berjumpa dengan guncangan itu? Guncangan akibat kupu-kupu yang siap menari dan membuat perut kita bergejolak atau guncangan akibat dihadapkan dengan sesuatu yang tidak pasti, akankah ini bertahan? Pada akhirnya kita kembali pada fase yang pertama, keragu-raguan dan kehidupan akan kembali berulang pada 3 fase hidup itu. Pertanyaannya, apakah siap menjejak pada suatu yang tidak seimbang lagi?


"To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life.- Ketut Liyer"

*Dari berbagai sumber

Wednesday, September 08, 2010

Dengan Menyebut Nama Allah



Musim film Indonesia kembali dimulai di H-2 Lebaran tahun 2010 ini. Dibuka dengan film yang cukup dinanti,salah satunya Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Film epik yang merupakan biografi tokoh pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diramaikan oleh banyak aktor papan atas, seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya Mecca, Ikranegara, sampai Sudjiwo Tedjo. Perjuangan Dahlan sebagai santri di Kauman, Yogyakarta ketika merasakan beberapa keganjila agama yang dianutnya sejak kecil pasca melaksanakan rukun Islam kelima, melakukan ibadah haji ke tanah suci. Dahlan berusaha mendalami dan memisahkan ajaran Islam yang diyakini dengan tradisi kejawen yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa.

Kisah sejarah dan juga bagaimana perjuangan menegakkan ajaran Islam yang tidak sekadar di permukaan menghadirkan kasus-kasus yang banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia saat ini. Perdebatan tentang arah kiblat atau pemahaman ajaran Islam yang tidak melulu dimaknai secara harfiah dijabarkan dalam adegan-adegan yang seperti mencoba menyentil umat muslim yang hidup di zaman liberal ini. Ketika Islam berkembang di era penjajah, sering kali jika dikaitkan dengan pemerintah Belanda, semuanya jadi dibuat haram bahkan dilabelkan kafir. Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, tahun 1800-an yang masih minim, jika bersentuhan dengan Belanda atau pengetahuan baru berbau kebarat-baratan langsung identik dengan kafir.

Adegan ini mengingatkan kita pada kasus fatwa haram yang beberapa kali dilontarkan MUI, mulai dari jejaring sosial atau hak pilih dalam politik. Kasus lain, Penyerangan kelompok Kyai Penghulu terhadap langgar Kidoel milik Dahlan juga menunjukkan simbol tidak adanya kebebasan beragama, bahkan dalam sesama Islam. Kyai penghulu yang merasa 'tradisi' ajaran Islamnya dipatahkan oleh Dahlan yang berusaha menyederhanakan ajaran Islam dianggap murtad dan melangkahi kewenangan Kyai Penghulu sebagai kyai terhormat di Yogyakarta. Kembali diingatkan kita pada kejadian anarki beberapa ormas di Jakarta yang kerap menganggap kelompoknya benar dan merasa 'baik-baik saja' menyerang kelompok atau bahkan agama lain yang dianggap sepaham. Pemblokiran jalan atau pemukulan pun dibenarkan atas dasar nama Tuhan.

Ternyata sejarah pernah terjadi di masa lalu dan sesungguhnya kita diingatkan lewat karya Bramantyo ini, kekerasan tidak akan menyelesaikan segalanya. Di awal film muncul pertanyaan murid Dahlan, "Apa itu agama?" Dahlan tidak menjawab, justru ia memainkan biolanya dan bertanya balik pada santrinya, "Apa yang ia rasakan?", si santri menjawab, "Damai, Tenang, Seperti bermimpi". Dahlan menjawab, Itulah agama. Ketika tidak memiliki pemahaman tentangnya, makan jadinya berantakan.
Itulah seharusnya agama Islam, damai, tenang dan tidak berantakan. Ketika hal itu belum terjadi, jangan atas namakan agama sebagai tonggak untuk pembenaran atas segala tindakan anarki yang menentang humanisme. Tidak perlulah nama Tuhanmu dijadikan alasan atas sikap yang masih berantakan memahami agama yang kita anut, agama Islam. Semoga ini mencerahkan!

Tuesday, August 17, 2010

And The Remaining Memories

I couldn't be happier when i found this articles from official website Chinese Childrenhome Shelter and Association, place that i spent volunteering on several childrenhomes on 2008.

I wrote this article when i finished my service on first shelter,Taiwan Christian Faith, Hope, Love: Children’s Home in Ping-Tung County before i started another service at Hsin-Chuang Agape Children Home in Taipei County. It brings back my memories behind.

Feel free to comment :)

Until last night, two days after I left 31 kids in Ping Tung, I still can remember everything single thing they did even in small details.

I can adlibbing every words as they sang Backstreet Boys song and Old McDonald song.

I can feel them tapping in my head like a drumbeat as they danced the tap dance.

I can hear their laughter echo in my ears.

I can't remove all of that from my memory.

Three weeks ago, me and my team started this project in Faith Hope Love Children Home in Ping Tung, Taiwan. This is my first experience visiting Taiwan and do this volunteer work. Before i met them, i imagined about unattractive, shy, not energetic kids. Those pictures ruined in the very first time we played the game to know each other. They were so powerful energetic and lots of laughters. Me, as foreigner knew nothing about them, about their background and things related to that issue. All i know is i have to be with them 24 hours in three weeks. We stick to their schedule from 6.20 in the morning gather around for breakfast, courses at 9 to 11, lunch at 12, take a nap until 3, dinner at 7, and go back to our room at 9. every schedule is fixed and sharp right on time. I really shocked about this at the very first time, i can’t even have my breakfast so early in the morning, and i can’t sleep early either. The first three days was the hardest part and devastated for me. I can’t even understand what they were talking about. When they were laughing i just freeze and have no idea what were they laughing at, and it might be me.

I want to know what they’re talking about, even the little kid just mumbling things that they can even barely understand it, im curious about it.

I want to join and share every laughter they had so i can laugh at hilarious things or even silly jokes they made.

My curiosity about everything about them lead me to enter their world. The world of their own that was isolated from outsider and we, the foreigners, tried to getting into it. At the very beginning it was only my curiousity about live in another country and learn different custom of living took me to Taiwan. But now since i know them, i want to love them and shared what i had to them, hopefully can fulfill their needs.

My curiosity about how they can cover their pain with laughter and joy. I never knew before about their stories and how they can struggle with the stories behind it.

We taught them how to be creative with art such as paper folding, drawing, painting, singing, dancing, and even acting. They were amazingly creative. Right when we just arrived, they just practiced their break dance and they got their style! I don’t know where they learn that moves since they are in a county but it must be because they had lots of limitation but they don’t want to trap in that situation. We also played basketball with them and they beat us every time. In other games they can beat us easily and after that they still had energies to play other things like one wheel bike or just running all around the playground. We tried to open their horizon with taught them dances like tap dance and Saman, Indonesian traditional dance from Aceh. We tried to show them new things that they can learn improved themselves and they have to show us at the farewell party. The emotional part was the farewell thing. After amused the audience by showed all the things we taught them from sang Old McDonald, performed both Tap and Saman Dance, their own drama, and imitating former well known boyband, Backstreet Boys, i felt so sad and hard to leave them in the next day. The fact that they can catch what we taught them for almost three weeks, the fact that they did very great job in every single thing, and the most, the fact that i can’t see them improved their knowledge because i will leave them and may not see each other for the rest of my life.

I remember when the second batch kids were leaving for their home and left a cute message which totally touched everyone’s heart there. I remember the kid who can imitate every dancing move that i taught them and he becomes the best dancer among the others. I keep remember meals that i got in last couple days which is special made because i can’t eat pork and the chef made it for me super big plate of veggie noodle. And i won’t never ever forget when they were crying after sang the goodbye song at the farewell party and the next day they waved goodbye in front of the door then saw them as small kids which finally faded as our way go back to Taipei. But here, in my heart they never fade away, they just stayed.

Friday, August 06, 2010

Sakit yang Tersisa dari Dua Belas Tahun Lalu



Apa yang tersisa dari kejadian Mei 1998? Tentu banyak yang tersakiti dan banyak pula yang terkubur ceritanya dan tidak berharap pernah membukanya lagi. Memoar tentang kejadian ini salah satunya ditulis oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya, Clara. Cerpen tersebut bercerita tentang gadis Tionghoa yang menjadi korban kebejatan warga pribumi yang memperkosa dan merampas hartanya. Bukan hanya itu, petugas yang seharusnya membantu Clara menyelesaikan masalahnya justru seolah tidak peduli dengan penderitaan Clara dan menambahkan cibiran pada penderitaan yang diderita gadis itu.

Dalam sinema Indonesia, bulan Mei 1998 menorehkan cerita dalam layar, salah satunya film MAY karya Viva Westi yang sudah beberapa kali diputar salah satunya di Jakarta International Film Festival 2009. Setelah 2 kali terlewatkan, akhirnya MAY kembali diputar di layar Kineforum "Identitas Untuk Semua", 3 Agustus lalu.

Film yang memenangkan 11 dari 12 nominasi pada Festival Film Indonesia 2008 * ini mengangkat kisah-kisah di balik tragedi 13 Mei 1998. Etnis Tionghoa yang banyak menjadi korban disimbolkan oleh (lagi-lagi) perempuan yang menjadi korban perkosaan dan harus menanggung derita terpisah dengan keluarganya. May (Jenny Chang) gadis yang sedang menjalin cinta dengan Ares (Yama Carlos) laki-laki pribumi yang sedang meniti karir menjadi pembuat film documenter terjebak dalam kerusuhan 13 Mei 1998 ketika ia sedang casting di sebuah rumah produksi. Ares yang berjanji menjemputnya tidak datang dan naasnya May pun menjadi korban perkosaan. May ditolong oleh seorang jurnalis asing yang akhirnya merawat anak yang dilahirkan May.

Petaka tidak hanya menimpa May, ibu May Cik Bing (Tutie Kirana) terjepit dalam situasi kehilangan jejak May dan usaha menyelamatkan diri ke luar negeri. Dengan berbekal selembar sertifikat tanah, Cik Bing pun meninggalkan tanah air demi keselamatannya.
Tahun berlalu, tragedi itu masih menyisakan pertanyaan dan perih korban-korbannya. May yang bekerja menjadi penyanyi kafe di Malaysia ternyata masih menarik perhatian Ares yang mencarinya untuk meminta maaf. Cik Bing pun masih terperangkap dengan kesendiriannya. Tiba-tiba muncul tokoh Gandang (Lukman Sardi) yang entah darimana hubungannya dengan May atau Ares. Ternyata, munculnya tokoh Gandang inilah awal dari keperihan yang lebih mendalam dari tragedi ini.

Gandang adalah salah satu korban yang dijadikan alat oleh orang-orang yang memanfaatkan keterbatasan akomodasi dalam aksi penyelamatan diri etnis Tionghoa dari chaos 1998. Bekerja di sebuah hotel, Gandang menjadi saksi kebejatan seorang staff hotel yang tega menjual 3 lembar tiket pesawat dengan sebuah mobil sedan bahkan 1 lembar tiket pesawat dengan sepetak tanah. Kala itu Gandang yang hanya buruh cuci tentu tergoda, apalagi ia diiming-imingi naiknya nilai tanah yang bisa ia nikmati tanpa harus susah-susah bekerja. Gandang beberapa tahun kemudian menyesali perbuatannya. Masih melekat di pikirannya wajah ibu yang kebingungan, Cik Bing yang masih tidak mengetahui keberadaan May akhirnya menyerahkan harta benda satu-satunya demi keselamatannya di negeri orang. Tak heran Cik Bing dan beberapa keluarga etnis Tionghoa yang saat itu memang menjadi korban merasa lebih baik melarikan diri karena di negara yang tercetak di paspor sebagai kewarganegaraannya, keamanan adalah barang langka. Menyakitkan melihat rasisme menjadi alat untuk merasakan kenikmatan sesaat. Alat untuk menikmati barang jarahan yang selama ini hanyalah mimpi dari sebuah kemewahan untuk memiliki, alat untuk memuaskan nafsu yang selama ini bersembunyi di balik pakaian tertutup, dan juga kekuatan untuk memeras dalam suasana terjepit yang selama ini kekuatan mereka tidak pernah dipedulikan. Berapa lama kemewahan, kepuasan, dan kekuatan itu bertahan? Sekejap. Sakitnya? Abadi.

*sumber inilah.com
Foto berbagai sumber

Friday, April 02, 2010

Good Friday :)

I need to do an exercise this week so i went to My Body Gym,Talavera Building to swim. Turns out it supposed to be closed, but since we were already there, they open the pool for us. YIAY!
It's like having a private pool on rooftop :D






Thursday, April 01, 2010

Aha!

Setelah hanya berangan-angan, pasca kedatangan Phoenix Agustus 2009 lalu,akhirnya mimpi saya menjadi kenyataan untuk kedua kalinya. Imogen Heap yang juga vokalis dari Frou Frou menjejakkan kakinya di Jakarta untuk Ellipse World Tour, 31 Maret lalu dengan Mahaka Entertainment sebagai promotornya.



Menurut saya konser ini sedikit mengejutkan-sekaligus menyenangkan tentunya- mengingat fanbase Imogen Heap di Jakarta tidak bisa dipastikan banyaknya (yang betul-betul suka yah!) Tapi keberanian Mahaka membuahkan kebahagian buat saya.
Dengan 2 opening acts, konser dibuka dengan hits pertama dari album Ellipse, First Train Home. Agak mengagetkan salah satu lagu andalan dimainkan sebagai pembuka. Disusul oleh Wait it Out dan Little Birds, keapikan konser malam itu bukan hanya terdengar dari alat-alat musik ajaib yang dimainkan tetapi juga lay out panggung yang disetting entah seperti hutan, taman bermain, atau tempat tinggal peri.



Sorot lampu warna-warni dan efek bayangan ikut mempercantik panggung dan makin mendramatisir lagu-lagu yang dinyanyikan solois Inggris tersebut.
Di lagu Little Bird, bunyi-bunyian burung dibantu dengan efek bayangan burung-burung terbang kian membuat penonton di Balai Kartini terhanyut dalam dongengan Immy.
Kejutan lain juga hadir di lagu Aha! ketika seorang cellois lokal, Rahman Noor ikut tampil setelah lolos audisi yang dilakukan khusus untuk musisi lokal.
Kejutan lain, Imogen Heap memainkan Let Go, lagu dari Frou Frou, bandnya terdahulu bersama Guy Sigsworth.
Dengan hanya menggunakan instrumen piano, penonton ikut bersenandung dalam nada-nada melankolis. Imogen Heap bisa dikatakan sangat komunikatif dibanding musisi-musisi lain yang biasanya hanya menyapa Halo, Apa Kabar, Selamat Malam, dan Terima Kasih. Banyak cerita dari lagu-lagu yang dibawakan dan juga gaya bercerita ala fairy tale membuat penonton tertawa dan tidak henti-henti berteriak 'I Love You'.

Ia juga mengajak penonton ikut dalam choir lagu Just For Now dan Hide and Seek.
Setelah menghilang dengan lagu yang dianggap sebagai 'lagu terakhir', Imogen Heap kembali dengan Hide and Seek beserta 2 lagu berikutnya, lalu menutup malam dengan janji manis akan kembali ke Jakarta.
Thank you, we enjoyed your lullaby in your wonderland then having sweet dreams as a gift!

Setlist Imogen Heap @ Balai Kartini Jakarta
(Thanks to Yarra Aristi, Music Director Cosmopolitan FM )
First Train Home
Wait It Out
Between Sheets
Headlock
Bad Body Double
Speeding Cars
Little Bird
Let Go
AHA!
Canvas
The Walk
Swoon
2-1
Goodnight And Go
Tidal

ENCORE

Hide and Seek
Just For Now
The Moment I Said It

Saturday, February 27, 2010

This...Those..Everything!

Couple years and those feelings won't go away
Few things that i could never ever forget, hence miss it so much =')


















Uh-Oh..

Tuesday, February 23, 2010

Young and Restless :))

Hari ini saya merasa sangat produktif dan alhamdulilah, senang :)

Dimulai siaran Breakfast Club seperti biasa, kali ini dengan tamu Jane Lawalata dan Helen, dari Jakarta Broadway Singer. Saya tahu Jane adalah salah satu filmmaker Indonesia yang karya beruntung sudah pernah diproduksi di Hollywood. Saya pun memancing obrolan film dengan dia yang ternyata lulusan NY Film Academy, LA.
Topik pembicaraan ini memang selalu membuat saya orgasme dan cukup bertahan lama.
Perbincangan singkat itu cukup memberi saya semangat dan encourage untuk sekolah film di US.

AMIN :)




Berikutnya perjalanan saya cukup panjang ke PIM untu liputan di Pasta de Waraku. Saya memutuskan naik Trans Jakarta dan disambung Metromini 72 supaya hemat ongkos. Panas Jakarta membakar tengkuk saya. Untungnya saya disambut dengan sepiring Pasta Eel & Eggs plus Calpis dingin plus chocolate cake dari Cosmoners yang sedang berulangtahun

Alhamdulilah :)



Menutup malam, latihan menari kembali setelah minggu lalu absen. Kali ini pasukan cukup lengkap dan banyak gerakan baru yang diajarkan. Akhirnya kembali membakar kalori,semoga saja otot-otot bisa ikut mengencang dan tarian ini cepat selesai terus mulai tarian baru lagi.

Insya Allah :)

Sunday, February 14, 2010

Be Bold Ladies!

Bold what is true:

001. i miss somebody right now.
002. i watch more tv than i used to.
003. i love olives.
004. i love sleeping.
005. i own lots of books.
006. i wear glasses or contact lenses.
007. i love to play video games.
010. i have been in a threesome.
011. i have been the psycho-ex in a past relationship.
012. i believe honesty is the best policy.
013. Hiiiii!
014. i like and respect al sharpton.
015. i curse frequently.
016. i’ve changed a lot mentally over the last year.
017. i have a hobby. *kinda?
018. i’ve been told i have a nice butt.
019. i carry my knife/razor everywhere with me.
020. i’m really, really smart.
021. i’ve never broken anyone else’s bones.
022. i have a secret that i am ashamed to reveal.
023. i love rain.
024. i’m paranoid at times.
025. i would get plastic surgery if it were 100% safe, free of cost, and scar-free.
026. i need money right now.
027. i love sushi.
028. i talk really, really fast sometimes.
029. i have fresh breath in the morning. *when I brush my teeeth.
030. i have semi-long hair.
032. i have at least one brother and/or sister.
033. i was born in a country outside of the u.s.
035. i have a twin.
037. i couldn’t survive without caller i.d.
038. i like the way that i look.
039. i have lied to a good friend in the past 6 months.
041. i am usually pessimistic.
042. i have mood swings.
043. i think prostitution should be legalized.
044. i think britney spears is pretty.
045. i have cheated on a significant other.
046. i have a hidden talent.
047. i’m always hyper no matter how much sugar i have.
048. i think that i’m popular.
049. i am currently single.
050. I like cats better than dogs.
051. i enjoy talking on the phone.
052. i practically live in sweatpants or pj pants.
053. i love to shop.
054. i would rather shop than eat.
055. i would classify myself as ghetto.
056. i’m bourgie and have worn a sweater tied around my shoulders.
057. i’m obsessed with my blog!
058. i don’t dislike anyone.
059. i’m a pretty good dancer.
060. i’m a horrible dancer.
061. i’m completely embarrassed to be seen with my mother.
062. i have a cell phone.
063. i listen to music daily.
064. i cry myself to sleep.
065. i have passed out drunk in the past 6 months.
067. i have never been in a relationship before.
068. i’ve rejected someone before.
069. i currently have a crush on someone
070. i have no idea what i want to do for the rest of my life.
071. i want to have children in the future.
072. i have changed a diaper before.
073. i’ve had the cops called on me before.
074. i bite my nails.
075. i am a member of the tom green fan club.
076. i’m not allergic to anything deadly.
077. i have a lot to learn.
078. i have dated someone at least 10 years older or younger.
079. i plan on seeing ice cube’s newest “friday” movie.
080. i am very shy around the opposite sex.
081. i’m online 24/7, even as an away message.
082. i have at least 5 away messages saved.
083. i have tried alcohol before.
084. i have made a move on a friend’s significant other in the past.
085. i own the “south park” movie.
087. when i was a kid i played hide and go seek
088. i enjoy country music.
089. i love my best friend(s).
090. i think that pizza hut has the best pizza.
091. i watch soap operas whenever i can.
092. i’m obsessive, anal retentive, and often a perfectionist.
093. i have used my sexuality to advance my career.
094. i love michael jackson, scandals and all.
095. i know all the words to slick rick’s “children’s story”.
096. halloween is awesome because you get free candy.
097. like spongebob.
098. i have dated a close friend’s ex.
099. i’m happy as of this moment.
100. i have gone scuba diving.
101. i’ve had a crush on someone i’ve never met.
102. i’ve kissed someone i knew i shouldn’t.
103. i play a musical instrument.
104. i strongly dislike math.
105. i’m procrastinating on something right now.
106. i own and use a library card.
107. i fall in “lust” more than in “love”.
108. cheese enchiladas rock my socks.
109. i think the lord of the rings is one of the greatest things ever.
110. i’m obsessed with the tv show “lost.”
111. i am resentful that i have to grow up.
112. i am an entirely different person around different people.
113. i think the world would be a better place if people just smiled and meant it more often.
114. i think ramen is the best kind of food in the whole world.
115. i am suffering of a broken heart.
116. i am a nerd.
117. no matter where i am or who i’m with, i always seem to be lonely.
118. i am left handed and proud of it.
119. i don’t change who i am for someone else.
120. my heart resides below my feet.
121. i am a senior in high school.
122. i enjoy smoothies.
123. i have gastritis.
124. i have nothing better to do with my time.
125. i am listening to radiohead right now.
126. most people call me by my middle name.
127. the last thing i stole was makeup.
128. pi confuses me.
129. i love nascar!
130. i own over 200 cds.
131. i work 7 days a week.
132. i have mono.
132. i don’t have the ability to make decisions without changing my mind.
133. people tell me i have a horrible sense of humor.
134. i’m only wearing underwear.
135. i had more than one thanksgiving dinner this year.
136. i’ve driven to a different state to see a band i liked.
137. i am the most over analytical person i know.
138. i believe in wasting time.
139. i don’t listen to too much music.
140. i have a shoe fetish.
141. my favorite holiday isn’t christmas.
142. i prefer weeks off of work/school instead of days here and there.
143. i love boys
144. i wanna go home.
145. i don’t know what i would do without my friends.
146. Christmas threw up in my dorm room and i love it.
147. friends is (one of) my favorite tv shows.
148. i’m hungry.
149. i’m still angry about the nip/tuck season 2 finale cliffhanger.
150. i’m a pothead and proud of it!
151. i noticed there are several numbers missing from this list, making this very much not the 151st entry.
152. i lied about one of the items on this list.
153. my siblings are my best friends. my sister is one.
154. i believe cheese should be its own food group.
155. i have a problem expressing things.
156. i have lost a parent.
157. i am the most deprived person i know on the face of the planet.
158. i have at least one test tomorrow that i am not prepared for yet.
159. i love slim jims! even if they are really bad for you.
160. i am sick and tired of school so i am not going.
161. i love sundance.
162. i do not watch television.
163. i love starbucks coffee drinks.
164. i am living at least one lie right now.
165. i love wearing skirts, even if its winter.
166. i’m a weirdo.
167. i am writing this far, far too late/early.
168. i’m a little crazy.
169. i like the smell of white tic tacs.
170. i know at least one person in a “life or death” crises at this moment.
171. i don’t associate myself with any political parties.
172. i always know all the gossip at my school/workplace/whatever, and nobody ever suspects it.
173. i have thought about suicide.
174. i have no idea what i am going to write for my question.
175. i can be selfish.
176. i’m so emo at times.
177. i can solve a 3x3 rubik’s cube.
178. i think the human race is evil & should be demolished.

179. i cheated on a test before.
180. i am a member of animemusicvideos.org 181. i’m sick of drama
182. i need a job

183. The last person I texted was a boy.


Wednesday, December 30, 2009

2009's Highlight

Here comes the DAY, last day of 2009. The day that i should reminiscing old times and make highlights from my life in 2009. I would like to say, this year is the weird year inspite of wonderful year like 2008 since too many weird things happened to me.Well, lets count them down!


[JANUARY]
To begin year 2009, it's my first time internship in this country. Saw an ad on
mailinglist, some advertising production house hired me to managed their website which talking all about advertising world including controversy inside them. It called themakeronline.com and i only worked for a month.

It's Freakishly WEIRD..
..because for almost a month i worked there, i haven't report any of TVC shoots or any activities related to advertising. Even so, i went to some Public service announcement's workshop held by UNAIDS and i interviewed Joko Anwar & Nia Dinata.
You can watch my work below here eventhou the website is now closed.

http://themakeronline.com/web/newsvideo.php?kdberita=140
http://themakeronline.com/web/newsvideo.php?kdberita=140

[FEBRUARY]


Another internship opportunity's coming, now on Spice! Magazine, one of MRA Printed Media product on teenage magazine. It's one of job that i dreamed about since ever,YIAY!So many things i learnt from here! Reporting live,writing, went from here and there,and one of film school dean spit on me! Such a great experiences!




* On Photoshoot set*

It's luckily WEIRD..
because so many people who wants to join this company and i got this opportunity, ALHAMDULILAH!



[MARCH]
Oh, i forgot to tell you guys, that it was my last semester on campus so during January until the end of semester i did my thesis, and by this month i got nothing until my lecture scream out from department building so everyone can hear that i'm her student who didn't do her job very well. But after that incident i went well :P
Mungkin seorang underdog kayak gue emang harus diteriakin' dulu buat bikin hati gue tergerak, literally.

It's terrifyingly WEIRD..
because nobody ever scream over me even on my department!

[APRIL]

This month full with happiness! I went to Bandung with some friends who turned out to be my BESTIE. Actually we hung out together before, but after THAT night, we're getting even much closer! Mungkin sebelumnya kita belum saling sadar aja kalau WE ARE THAT CLOSE! Pemikiran-pemikiran ajaib, becandaan nyeleneh, dan semangat-semangatnya membuat gue sadar,i can count on them and on them i found true friendship LOVE YOU ALL, you know who you are!
Bertambah kesenangan gue karena I saw Jamiroquai's concert, at Sentul new concert hall. It was awesome, place, eventhou they wasn't so attractive and didn't play their hits song, Virtual Insanity. Well, it was OKAY since i got their tickets for free. LOL
Daaaan..bulan ini ditutup dengan berakhirnya masa magang gue di Spice! I had such a great times and lotsa things to learn. From them i figured it out that journalism is absolutely my dream-kind-of-job. Thanks a bunch for all MRA Printed and especially Spice! team ;)


* Gedung Sate, Minus Ucy*

It's amazingly weird...
because i got sooo many experiences and friends who know me so well from somewhere,not too far!

[MAY]

It's May already! It means...my thesis dateline is one month away!!
MAY-DAY..MAY-DAY!!

It's confusingly weird...
..because i almost gave up and give my thesis one other semester, but if i do it i have no other comrades who will support me,oh well ..

[JUNI]

My favorite month is coming, YIAY!
Di tengah-tengah kesibukan gue memutar otak dan merangkai kata buat 'pacar' gue si Joni a.k.a skripsi, my favorite people surprised me on my birthday!
Gee, they saw me with ugly PJ and messy hair,doh!
Although there was soooo many spoilers from someone *wink* they got me surprised :D
Thanks dearie..
Vicky, Tiar, Fauzan, Idha, Ano, Alex, and Ucy
love love love you all!!!


*Aww*

It's awesomely weird...
..because i got surprised with unsurprising way LOL

[JULY]

Di akhir bulan Juni, gue keterima di suatu Marketing Advertising Agency, Interact Carlson Marketing. Awalnya gara-gara bos tempat magang gue dulu nawarin gue buat interview jadi copywriter. Dulu emang sempet gue cerita ke dia kalo gue sempet pengen jadi copywriter. Akhirnya gue masuk ke kantor itu dengan situasi gue masih kejar-kejaran sama dateline skripsi dan jadwal sidang.
Dan akhirnya tanggal 16 Juli 2009 akhirnya jadi tanggal keramat buat gue, karena jam 9 pagi nama gue bertambah Gayatri Nadya Paramytha, S.Hum.
Alhamdulilah!




It's speechfully weird...
..because after 4 years of study in my Uni i never come so early (read my previous entry) and i cant describe how i felt that day,Pheewww..

[AUGUST]

Bulan puasa tahun ini jatuh di bulan Agustus, begitu pula WISUDA! Kebayang gak harus panas-panasan di balairung UI Depok yang dijejali wisudawan, pendamping, keluarga dan teman-temannya. Tadinya gue emang menolak untuk ikut wisuda karena gue pikir sayang amat bayar beratus-ratus ribu buat dipajang di depan dekan dan rektor. Untungnya teman-teman IKSI'05 berhasil meyakinkan gue buat ikutan dan gue sangat puas!
Puas foto-foto, dan juga puas akhirnya kewajiban gue sama orangtua udah terbayar.

In the same month, i saw one of my favorite band's concert, Phoenix!
It's kinda surprising since Phoenix is mainstream kind of band and that was WAWESOME! I enjoyed every song they played. Should i say it was BEST CONCERT of 2009!!



It's super duper happy (at last) weird..
..because i swallow my own word about this graduation ceremonial :P

[SEPT]

This month my beloved best friend leave for Sweden for almost one year to take his master program. I was so sad but after threw surprise going-away party i can feel so much better and hope for the best. Bon Voyage Tiar!

It's sadly weird..
..because i can't imagine i have one of my bestie not here beside me for at least a year :')

[OCT]

Setelah sekian lama gak liburan sekeluarga, alhamdulilah Lebaran kali ini ada kesempatan buat jalan-jalan ke Thailand,YIAY! So, Bangkok and Pattaya here we come!
So many places for sight-seeing,take a picture,and of course SHOP!
I always love travel to another developing country which has better public transportation,but too bad since i was with parents i rarely took MRT (or they call it Skytrain) and bus because of language gap. The rest of all i'm fascinated by them :)




It's fascinatingly weird..
..because it almost canceled on last minute but Thank God who gave me chance to spend time more with my fams,which very very rare!

[NOV]

Back to Jakarta, back to reality! And how i face reality? Well, new job is waiting!
Yes, finally my dream-kinda-job is waiting! Alhamdulilah, berkat forward twitter Cai gue apply ke Cosmopolitan FM one of station from MRA Broadcast Media Division as in creative assistant. Awalnya gue ragu karena basic station gue gak gitu kuat dibanding Marketing atau promosi. Tapi tetua, Ade Shiro bilang yang penting masuk dulu dan mau belajar, nanti bisa ada proses menuju situ. Well, here i am one of creative assistant a.k.a producer from this station, Wooo-hooo!!
Welcome to the jungle, radioslave!



it's excitedly weird..
..because, you know.. it's radio and i think i was born to be permanent radioslave LOL

[DEC]

Here comes the last month of the year as a wrap up. So far i'm still confused about what i've been done this year, maybe now am no longer student and have to face the reality. Yes, we grow up indeed! I hate it but what can we do anyway?
It's still out there, our dreams our vision and anything that we can ever imagine whether it'll come true or not,which i assumed dreams are more life than reality.
So, keep on dreaming people!
Let's make our dreams and fantasy live in our fairy tale life, cheers!

Happy New Year ;)

Tuesday, December 22, 2009

Re-Think About Life Highlight 2010

It's almost end of 2009 then come 2010.
I'm not kind of person who like to make New Year's resolution,afraid having failure to make it happen, so i rather make life highlight on that current year. At least, if there's something i can be proud of,it remarks achievement that i got this year.
Again, i can't think of any big achievement every month this year. Well, i can think one or two but not TWELVE!
Anyone, what is your life highlights on 2009?
Gimme' some idea puh-lease!



Source: jeanmiele.com

Friday, December 18, 2009

The 11th JIFFest; as my 1st being apart from it


Season festival film tanah air tahun ini kembali ditutup oleh Jakarta International Film Festival,kali ini yang kesebelas tanggal 4-12Desember 2009. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini hanya ada 1 venue yang dipakai selama festival yaitu Blitz Megaplex Grand Indonesia. Berhubung venue ini sangat dekat dengan kantor, tak heran, meskipun bukan lagi jadi volunteer, kegiatan nonton menonton ini berlangsung hampir setiap hari.
Totalnya lebih kurang ada 8 film yang saya tonton. Selain memang merencanakan menonton film yang sudah saya tunggu-tunggu, berbekal undangan premiere saya juga berkesempatan menikmati beberapa film yang beru perdana tayang di layar bioskop Indonesia.
Selain film, suguhan tiap tahun dari JIFFest yang sayang dilewatkan adalah pannel discussion dengan beragam topik hangat seputar film dan industrinya. Lebih menariknya lagi, kita akan diperkenalkan dengan filmmaker asing atau pelaku industri film profesional yang memiliki lebih banyak pengalaman dan juga perbedaan point of view dari industri film Indonesia. Kesempatan yang saya dapat dari Film Marketing and Promotion bersama Thomas Chia,dari Lighthouse Film Singapore dan produser asal Australia, yang saya lupa namanya :P
Layaknya film ala festival, beberapa memang mungkin tidak seperti harapan tetapi buat saya film tidak pernah menjadi pilihan yang salah meskipun ada yang membuat Anda tidak betah duduk manis dan tidak memejamkan mata karenanya atau bahkan benar-benar membuat Anda hengkang keluar dari studio.
Well,saya berusaha akan membuat review film-film yang saya tonton, setidaknya satu-dua film. Sekarang, saya baru akan membagi judul-judul dan review singkatnya saja;

1. The Damned United (Inggris) : ★★★
Pecinta bola tentu tidak ingin melewatkan cerita di balik kesuksesan tim Inggris,Leeds United dan sang manager legendaris.

2. Soundtrack for Revolution (USA) : ★★★*
Kulit hitam masih mendapat kecaman di beberapa negara, tak terkecuali Martin Luther King, penggerak politik Apartheid.

3. Gubra (Malaysia) : ★★★★
Film pembuka dalam rangkaian tribute to Yasmin Ahmad dan salah satu trilogi Sepet, Gubra, dan Rabun.

4. Coco Avant Chanel (France) : ★★*
Kisah perjalanan hidup dan asmara Gabrielle yang akhirnya dikenal dengan rancangan klasik berlabel Chanel.

5. Mualaf (Malaysia) : ★★★
Film karya Yasmin Ahmad terakhir sebelum dia berpulang dan masih dibintangi Syarifa Amani sebagai bintang utamanya.

6. At The End of Daybreak (China) :★★
Film besutan sutradara Singapura yang mengisahkan cinta yang berbatas tipis dengan nafsu, nafsu membunuh.

7. Love And Rage (Denmark) : ★★★★*
Keinginan memiliki dan mencintai seseorang bisa jadi berlebihan dan mengguncang jiwa seseorang. Dinikmati bersama musik apik yang mengiringi.

8. NY I Love You (USA) : ★★★
New York, kota impian, kota super sibuk, kota yang tidak peduli, kota yang membosankan, kota yang romantis, dan semua yang dibenci tetap bisa menaburkan cinta.

Memang sangat sedikit dibandingkan dengan 110-an film lebih yang ditayangkan di JIFFest tahun ini. Sedih memang tidak bisa menikmati seluruhnya, sama rasanya ketika merasa bukan bagian dari festival film terbesar di Indonesia ini lagi :(

Friday, December 04, 2009

New Moon : Dear Bella, Why So Devoted?


Demam vampir kembali mengjangkiti Jakarta, setelah sebelumnya bioskop dibanjiri calon penonton yang ingin menikmati kiamat dalam layar perak.
Setelah tahun lalu, seri pertamanya, Twilight mencetak angka hampir $200 juta di seluruh dunia, kini sekuelnya menginjak angka $230 juta keuntungan baru di hari kesepuluh pemunculannya*. Yes, The Twilight Saga : New Moon kembali mewabah.

Di tahun kedua kemunculannya, cerita Bella dan Edward seolah makin complicated. Hubungan mereka yang menyisakan banyak pertentangan, mulai dari keluarga Cullen yang bisa berbalik membahayakan Bella,sampai akhirnya kepergian Edward yang membuat Bella seperti kehilangan pegangan.

Bella akhirnya mencari sandaran pada Jacob Black, sahabatnya yang merupakan werewolf. Time passed by, Bella mulai terbiasa dengan ketiadaan Edward dan sudah bisa memulai menerima Jacob. Tiba-tiba saja, Edward kembali lagi,ketika mengira Bella sudah tewas,Edward pun ingin menyerahkan diri ke Volturi. Bella yang tak ingin kehilangan Edward akhirnya menyusul ke Itali. Di sanalah akhirnya Edward harus mempertahankan diri dan Bella kembali ditantang untuk memilih bagaimana kelanjutan cintanya pada Edward atau Jacob.

Ending kisah cinta segitiga Bella-Edward-Jacob tentu sudah tidak perlu diceritakan pada penggemar Twilight karena pun sampai seri keempatnya, masih banyak twist yang mungkin akan ditawarkan. Di bawah arahan Chris Weitz, film ini masih mengusung warna-warna yang bisa mencirikan dinginnya Forks dan pucatnya sosok vampir itu sendiri. Warna-warna biru dan abu-abu mendominasi dengan sedikit sekali menampilkan kuning yang menyimbolkan terang dan hangatnya matahari. Latar film ini makin menunjukkan dinginnya suasana yang terbangun dari tiap tokohnya. Bella dengan teman-temannya, Bella dengan keluarga Cullen, Bella dengan Jacob, Bella dengan Charlie, bahkan Bella dengan Edward masih terasa dinginnya. Sikap Bella yang dingin pada Jacob namun berbalik hangat menimbulkan keheranan tersendiri, ketika ia tidak menentukan pilihannya, sang vampir atau manusia serigala. Bagi Bella, keduanya adalah cinta.
Terlihat dari dialog antara Bella dengan Jacob, begini,Jake, I love you. So please, don't make me choose. Cause it'll be him. It's always been him.
Bagaimana bisa ada dua cinta bagi Bella,kalau it's always been him, Edward?

Bella juga menunjukkan sebegitu ia memuja Edward, bahkan ketika ia akan ditinggalkan. Bella rela meninggalkan Charlie demi hidup abadinya dengan Edward, sebagai sesama vampir. Bella juga mendedikasikan sisa hidupnya untuk Edward.

Bella Swan: I'm coming with you!
Edward Cullen: Bella, I don't want you to come with me.
Bella Swan: You... You don't want me?
Edward Cullen: No.

Saat Edward berkata TIDAK, Bella masih mempertanyakan kembali dan justru itu sebagai punch line, Bella is so devoted to this vampire guy.
Well, buat temen-temen pecinta buku Stephanie Meyer ini tentu semua terasa menarik.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, Dakota Fanning sang pemeran Jane yang juga jadi pemanis yang cukup menarik. Jujur, dialah yang saya tunggu kemunculannya walau hanya sejenak. Meskipun perannya sangat sedikit, sosok Jane bisa menghapus image anak manis yang selama ini melekat pada Fanning.

Bagi saya, sepanjang hampir dua jam lebih itu kenikmatannya ada di dalam musik-musik yang mengiringi perjalanan Bella yang gloomy dan lagi-lagi dingin.
Lykke Li dengan suara tebalnya berhasil membuat suasana Forks kembali terasa saat lagu Possible diputar. Namun, juaranya buat saya tetap saja Thom Yorke dengan Hearing Damagenya yang jenius menghantarkan ke dalam New Moon tanpa kehilangan ciri khas Yorke, Good Job!

Ini list lagu soundtrack New Moon yang bisa dinikmati lewat CD originalnya atau situs download mp3 gratis lainnya :P
Enjoy!

1. DEATH CAB FOR CUTIE – MEET ME ON THE EQUINOX
2. BAND OF SKULLS – FRIENDS
3. THOM YORKE – HEARING DAMAGE
4. LYKKE LI – POSSIBILITY
5. THE KILLERS – A WHITE DEMON LOVE SONG
6. ANYA MARINA – SATELLITE HEART
7. MUSE – I BELONG TO YOU (NEW MOON REMIX)
8. BON IVER & ST. VINCENT – ROSYLN
9. BLACK REBEL MOTORCYCLE CLUB – DONE ALL WRONG
10. HURRICANE BELLS – MONSTERS
11. SEA WOLF – THE VIOLET HOUR
12. OK GO – SHOOTING THE MOON
13. GRIZZLY BEAR WITH VICTORIA LEGRAND – SLOW LIFE
14. EDITORS – NO SOUND BUT THE WIND
15. ALEXANDRE DESPLAT – NEW MOON (THE MEADOW)


*Data from Internet Movies Database

Thursday, November 19, 2009

REC 2 : Is It Zombie or Another Bad Creature?

Film horor sebenarnya bukan genre yang menarik buat saya. Untuk festival tahun ini, saya sudah memberanikan diri menonton 2 film, dan kali ini pilihan saya jatuh pada REC 2, sekuel film Spanyol yang tahun lalu masuk dalam box office Spanyol dan berhasil membuat saya penasaran dengan lanjutannya. Kisahnya masih seputar evakuasi gedung apartment yang penduduknya terinfeksi virus aneh dan menelan korban, Angela reporter TV lokal yang terjebak di dalamnya.
Kali ini, pencarian digawangi oleh Russo,Larra,Martos, dan Owen. Kolaborasi tim SAR dan medis ini berusaha menyelamatkan survivors yang tersisa di gedung itu.
Mereka berempat pun mencari-cari survivors yang tersisa di gedung itu. Ternyata, di tengah-tengah diketahui kalau Owen bukanlah utusan dari Dinas Kesehatan melainkan pendeta dari gereja yang mau menyelidiki sekte aneh yang menjadi penyebab hilangnya anak-anak kecil.
Tim tersebut akhirnya terpecah belah, namun karena hanya Owen yang bisa menyatakan misi tersebut tuntas atau tidak, mau tidak mau Russo, Larra dan Martos mengikuti komando Owen. Setelah satu persatu survivors yang ternyata sudah terinfeksi dibunuh oleh tim SAR ini, mereka tiba-tiba bertemu dengan 3 anak muda yang penasaran dan akhirnya nekat masuk ke gedung itu dan juga Angela, jurnalis yang menjadi pemicu terjadinya tragedi ini. Sayangnya, satu persatu korban berjatuhan dan menyisakan Owen, Angela, dan sang Kameramen. Cerita bergulir pada pencarian Owen akan sampel darah asli dan tempat persembunyian zombie yang menjadi awal dari infeksi massal ini.

Di akhir film, tokoh yang tersisa tinggal Angela dan Owen. Akhirnya, film yang sejak awal mengisahkan infeksi virus misterius dan membuat penghuni gedungnya dikarantina berubah menjadi setan-setan dari sekte hitam dan ingin menyebarkan ajarannya. Kekuatan cerita zombie yang dibangun sejak film REC pertama jadi hancur dan dipatahkan langsung oleh setan yang merasuki tubuh Angela sebagai korban pertama. Beberapa adegan mengingatkan kita pada film Exorcist. Angela yang kerasukan roh jahat mengeluarkan suara-suara aneh dan seolah memberikan clue-clue pada Owen, bagaimana agar ia bisa dimusnahkan, walaupun akhirnya tidak bisa.

Awlnya saya menilai film REC memberi angin segar dalam genre film horor yang dibuat dengan teknik ala video amatir, sayangnya penilaian ini agak berubah setelah menonton REC 2 ini. Film ini jadi tidak jauh beda dengan film-film yang mengangkat roh-roh jahat merasuki tubuh korbannya dan ia pun jadi kebal. Keberadaan pendeta Owen makin mengingatkan saya dengan komposisi film dengan tema perburuan roh jahat.

Sampai 45 menit pertama film ini berjalan, saya masih cukup excited ingin mengikuti sampai akhir cerita. Sayangnya, setelah Angela mengeluarkan kata-kata yang hampir sama dengan line-up Regan di film Exorcist excitement saya menurun drastis.

Friday, November 13, 2009

MACABRE : Young And Talented, Killer..


Malam tadi, 13 November 2009 tepat hari Jumat Kliwon, di tengah hujan yang mengguyur kota Jakarta makin lengkap ketika saya ikut mengantri nonton film Macabre alias Rumah Dara. Belum masuk ke bioskop saja, saya sudah membayangkan pertumpahan darah yang akan muncul di layar bioskop. Yah, akhirnya saya memberanikan diri menonton film pembuka Indonesia International Fantastic Film Festival 2009.

Suguhan malam itu adalah karya The Mo Brother, alias duo Timothy Tjahjanto dan Kimo Stamboel, yang merupakan pengembangan film pendek Dara tahun 2007. Sounding film Macabre ini sebenarnya sudah terdengar sejak lama terutama karena film pendeknya dianggap terlalu sadis oleh LSF. Ternyata memang film ini lebih dulu diputar di festival-festival luar negeri. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk thriller menegangkan malam itu.
Kisah perjalanan Ladya (Julie Estelle) dan Adjie (Ario Bayu) yang tengah menyelesaikan konflik keluarga menjadi tragis. Bersama Astrid (Sigi Wimala), istri Adjie yang sedang hamil, Jimmy (Daniel Manantha), Alam (Mike Muliadro) dan Eko (Dendy Subangil) yang mempertemukan mereka dengan Maya (Imelda Therine). Eko yang 'mata keranjang' bersedia mengantar Maya pulang karena kasihan. Sampainya di rumah Maya, mereka disambut dengan keramahan kakak Maya (Arifin Putra) dan suguhan khas Dara, mama Maya (Shareefa Danish). Tak bisa menolak mereka pun bersantap malam dengan rasa yang luar biasa. Ternyata, suguhan itu memang spesial, mereka pun tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sesadarnya Ladya, Jimmy, dan Eko menemukan diri sedang terikat di gudang belakang, dan menyaksikan mutilasi yang dialami oleh Alam.
satu persatu mereka pun berkejar-kejaran dengan penghuni Rumah Dara itu.
Selanjutnya, cerita bergulir seperti apa yang sedang dibayangkan Anda di benak kepala.

Film horror thriller ini sudah menandakan daerahnya dengan 'darah' sejak awal film. Permainan darah pun jadi suatu kekuatan yang sudah dijanjikan dan akhirnya diumbar sepanjang hampir 100 menit. Adegan-adegan vulgar seperti mutilasi ditampilkan layaknya penjagal di peternakan. Selain kekuatan detail khas film horor seperti samurai, dan rumah tua, ekspresi tokoh-tokoh antagonisnya cukup membuat bergidik.
Imelda dan Arifin mungkin masih belum bisa menghilangkan imej 'manis' dalam karakter yang harusnya terlihat sadis. Tapi, kekakuan Arifin cukup mengimbangi karakter Dara yang entah sengaja dibuat terlihat kaku atau sosok yang tertangkap seperti itu akibat suara layaknya ibu-ibu tua yang tidak terdengar natural. Danish,yang aslinya kelahiran 1982 harus memerankan wanita tua yang lahir tahun 1800-an. Suara yang harus diberat-beratkan dan ekspresi wajah yang kaku plus signature body language memiringkan kepala ke samping, membuat sosok Dara makin misterius dan menyeramkan. Saat adegan Dara bergulat dengan Ladya, sosok yang dimunculkan makin menyeramkan, dengan balutan terusan putih polos dan rambut hitam panjang terurai mengingatkan kita pada sosok-sosok hantu khas Indonesia. Paduan Dara dengan gergaji mesin seolah ingin memadukan sosok hantu Indonesia di tengah senjata-senjata pembunuh yang makin canggih. Ekspresi wajah Danish yang menyeramkan menunjukkan dingin dan kakunya Dara, sekaligus hasrat membunuh yang besar. Puncaknya, ekspresi wajah saat Dara menempel di mobil Ladya dan akhirnya tertabrak pohon menjadi 'gong' yang mungkin mengantar Danish memenangkan Best Actress di Puchon Fantastic Film Festival, Juli lalu.
Angkat topi untuk Shareefa Danish.

Tokoh lain yang menjadi sorotan, Julie Estelle. Awalnya, kawan sebelah saya sempat menyeletuk, "Yah, cuma jadi pelayan?" dan saya pun tertawa, mengingat sang aktris memang tidak terlalu disorot di media promosi film ini. Ternyata, sosok Ladya disiapkan menjadi pahlawan di akhir film ini, seperti yang sudah saya bayangkan di menit ke dua puluhan saat film berlangsung. Tapi,Julie Estelle bisa tetap menunjukkan sisi ketakutan tokoh Ladya. Setelah Macabre, saya seperti melihat dia menjadi aktris spesialis horor dibandingkan drama meskipun wajahnya cenderung mellow.

Tokoh lainnya? Saya rasa tidak perlu, sama tidak perluanya dengan sorotan tokoh-tokoh bawahan lain yang sebebarnya terlalu banyak dan sempat membuat penokohan jadi tidak fokus. Sama seperti ketika adegan polisi yang menggerebek rumah Dara dan justru mementahkan kecemasan penonton dan berbalik tertawa,mungkin karena Aming yang imej komedinya sudah terlalu melekat muncul lebih dari 2 adegan.

Sisanya, Macabre cukup membuat bulu roma saya bergidik dan keparnoan saya muncul seketika saat melihat daging segar disajikan di atas meja makan.
Kira-kira darimana asal daging itu?

*berbagai sumber

Monday, November 09, 2009

The Ting Tings : Shut Up And Let Me Go (to Playground!)


Akhir tahun 2009 ini, Jakarta kembali kebanjiran musisi asing dan kali ini The Ting Tings ikut memeriahkan festival musik soul dan hip-hop, Java Soulnation. Pertunjukan yang seharusnya mulai pukul 9 malam, molor satu jam sampai jam 10 lewat.
Crowd yang sudah berdesak-desakan dan nggak sabar, akhirnya bersorak ketika intro musik yang sangat familiar dan akhirnya Jules de Martino, sang drummer sekaligus gitaris The Ting Tings muncul di atas panggung. Selama hampir sepuluh menit, Martino memainkan instrumen-instrumen yang ada bergantian. Penonton pun makin bersoraksorai melihat kepiawaian Martino. Makin jelas intro lagu We Walk dimainkan, Katie White sang vokalis pun muncul dengan teriakan dan tepuk tangan penggemarnya.
White yang tampil stylish dengan balutan baju hitam, tights ungu plus topi hitamnya menyapa penonton beberapa kali sampai akhirnya mendendangkan lagu-lagu hits seperti
Fruit Machine, Keep Your Head, dan Traffic Light. Antusiasme penonton terlihat cukup mereda setelah lagu Great DJ, mungkin karena kebanyakan penonton bukan penggemar band asal London ini, atau mereka memang penggemar musik R&B yang hanya coba-coba menonton aksi panggung The Ting Tings.
Di lagu ke delapan, penonton kembali memanas. Lagu single perdana Shut Up and Let Me Go membuat penonton yang terdiri dari abg berdandan lengkap ala Katie White sampai laki-laki paruh baya jejingrakan tak peduli sekitar. Impacilla Carpisung kembali membuat panggung utama di Istora Senayan memanas, White dan Martino bergantian menghilang dari atas panggung dan sempat terjadi adegan ‘pause’ yang membuat penonton penasaran. Sorakan penonton makin terasa saat dentuman drum Martino mengahantarkan lagu terakhir The Ting Tings malam itu. Yael NaimThat’s Not My Name sukses menjadi encore dan mengentaskan malam yang makin cantik dengan efek visualisasi eklektiknya. The Ting Tings, mungkin tidak akan kembali ke Soulnation. Kami ingin mereka ada di taman bermain atau pesta lainnya!

Setlist Soulnation, Jakarta
• We Walk
• Great DJ
• Fruit Machine
• Keep Your Head
• Traffic Light
• Be the One
• We Started Nothing
• Shut Up And Let Me Go
• Impacilla Carpisung
• That's Not My Name

Sunday, September 20, 2009

Perempuan Berkalung Sorban : Untuk Maju,Jadi Alien

Lebaran, biasanya tv swasta memutar film-film Indonesia yang (cukup) bagus. Heran juga sih,kalau memang bagus harusnya bisa ditonton di bioskop bukan di tv yang jaraknya cukup lama,bukan?

Anyway, malam ini tepat malam Idul Fitri Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo menyita perhatian saya.
Ceritanya, Anisa gadis pesantren yang berusaha mencari kebebasan di luar pesantren karena sistem pendidikan yang cenderung merugikan perempuan. Anisa kerap mengalami hambatan, mulai dari tuduhan zinah,dianggap perempuan liar, sampai puncaknya ia kehilangan ayah tercinta.
Anisa akhirnya bisa melepaskan belenggu yang mengekangnya selama ini dan mengekspresikan lewat tulisannya dan juga dukungan Khudori,suaminya.

Di tengah kebebasannya mengekspresikan pikirannya, Anisa terpaksa kembali ke pesantren yang setelah 17 tahun ternyata tidak memberikannya pencerahan ataupun jendela bagi imajinasinya untuk melihat dunia.Tujuan Anisa membuat perubahan. Hal itu sulit apalagi pesantren memiliki stereotipe yang konservatif dan cenderung mengikuti norma-norma yang biasanya sudah turun temurun dijalankan.
Ada ketidaksetaraan yang disampaikan dalam film ini melalui pikiran dan perjuangan Anisa dengan murid-muridnya yang ingin belajar lewat membaca dan menulis. Anisa dengan keinginannya bisa berdiri sebagai istri dan wanita yang utuh dan mengesampingkan ketakutannya untuk memenuhi kodrat sebagai ibu. Dan, Anisa dengan keyakinannya bahwa meskipun dalam Islam, Allah menjanjikan surga bagi wanita, tetap saja perjuangan tidak berarti berhenti di situ saja. Wanita pun berhak dan wajib mendidik anak dan lingkungannya untuk bisa menyalurkan kebebasannya dengan tanggung jawab yang sudah semestinya memberikan faedah.

Anisa mungkin sudah banyak ada di antara kita,yang selalu merasa tidak bebas dan tidak sanggup melepaskan apa yang selama ini menyesakkan. Banyak yang berkoar-koar meminta kesetaraan,tetapi pahamkah apa itu kesetaraan? Dalam film ini, penggambaran kesetaraan sebenarnya cukup sederhana mengingat latar yang diambil di desa kecil di Jawa Tengah. Mungkin kita sebenarnya sudah merasakan apa yang Anisa ingin capai. Bisa menjadi apa saja, belajar apa saja, dan tahu tentang apa saja. Tidak lagi ada keharusan wanita kembali ke dapur,karena menurut Khudori dalam film hal tersebut bukanlah hal natural,tetapi kembali ke budaya masing-masing.

Berbicara budaya, wanita kerap dihadapkan pada fase membentuk keluarga yang dianggap sebagai salah satu 'kodrat' wanita. Dalam film ini juga ditekankan, wanita harus berada di kodratnya agar saat menjadi istri atau memiliki keluarga menjadi istri yang patuh dan keluarganya sakinah. Apakah membentuk keluarga dan pernikahan merupakan tujuan dari adanya wanita? Apakah perjuangan memncari kebebasan itu berhenti sampai ia menjadi istri atau ibu? Bagaimana jika ia dapat membentuk lingkungan lain yang sakinah tanpa harus berada dalam situasi itu,berkeluarga? Bila itu menjadi salah satu pilihannya sebagai ekspresi kebebasan,apakah dengan cara yang berbeda itu menjadikannya sebagai alien di antara manusia lainnya?
Apakah berbeda untuk memajukan diri dan masyarakat artinya menyerahkan diri pada kotak hitam yang membelenggunya dan justru menjerumuskan wanita pada kebalikan dari kebebasan?

Sorban, sebagai inisial dari kelelakian yang ada di kepala, letak yang teratas, dalam film ini begitu kental melambangkan bagaimana kuatnya diikatkan pada leher wanita untuk membelenggu dan berada dalam bayang-bayangan maskulinitas. Siap menunggu saatnya terlepas.

Monday, August 24, 2009

All American Rejects Live in Jakarta!


Terbukti! Musisi asing tidak takut mengunjungi Indonesia dan menampilkan performa terbaiknya di depan khalayak ramai Jakarta. Bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, The All American Rejects datang menghadirkan pertunjukan special untuk penggemarnya. Band asal Oklahoma ini juga menginap di hotel Ritz Carlton sebagai bentuk peduli dan bukti mereka tidak takut. Konser perdana AAR di Indonesia ini digelar Senin 17 Agustus 2009 di IStora Senayan Jakarta pukul 20.50 WIB. Meskipun diguyur hujan, penggemar fanatik AAR tetap datang ke I Wanna Rock Tour 2009 malam itu. Meskipun terlambat hampir satu jam dari jadwal seharusnya, konser ini dibuka dengan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia raya oleh penonton dan disambut dengan Tyson Ritter, vokalis AAR yang berlari di atas panggung dengan membawa bendera Republik Indonesia. Penonton yang histeris melihat kemunculan Tyson tidak lebih lama lagi dibuat menunggu. Hits Dirty Little Secret langsung membuat penonton bernyanyi bersama. Setelah itu lagu-lagu hits seperti Swing Swing, My Paper Heart, The Last Song, It Ends Tonight, dan Real World. Penonton yang kebanyakan berusia 17-20 tahun tidak henti-hentinya jejingkrakan mengikuti irama lagu yang menghentak. Tyson yang begitu atraktif menunjukkan kemampuan menyanyinya hanya dibalut celana skinny merah dengan berbagai gaya. Mulai dengan merangkak meliuk-liukkan badannya, sampai memanjat tiang penyangga panggung. Penonton pun ikut histeris melihat kelakuan ajaib sang vokalis yang kontras dengan Nick Wheeler, sang bassis yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan rompi hitam. Mike Kennerty dan Chris Gaylor pada gitar dan drum tak kalah atraktifnya dengan Tyson. Tyson juga tak henti-hentinya menyuarakan ‘MERDEKA’ di sela-sela lagu malam itu. Setelah encore penonton diajak bernyanyi lagu Move Along bersama dan puncaknya, ketika Tyson membacakan sebuah surat yang ditujukan untuk teroris yang tak hentinya mencoba menakut-nakuti masyarakat Indonesia dan orang asing yang ingin datang ke Indonesia. Dengan lantang ia menyerukan ‘F&%#* Terorist!!’ dan diikuti oleh seruan penonton yang ikut bersorak-sorai. Lagu Gives You Hell seperti ditujukan untuk mereka, teroris yang gagal menakut-nakuti masyarakat Indonesia begitu pula musisi-musisi asing yang malam itu menutup konsernya di lagu keduabelas pukul 22.30.

Thursday, August 06, 2009

A Jihad For Love

Musim festival film di Indonesia sudah dimulai! Dari bulan Juni lalu, Goelali Film Festival yang menampilkan film-film bertemakan anak digelar di Museum Bank Indonesia dan kemudian disusul oleh Kidfest yang acaranya berdekatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu. Sayangnya saya melewatkan kedua acara yang digelar perdana tahun ini tersebut. Agustus ini akhirnya saya bisa ikut keriaan yang digelar oleh Q-munity dalam Q Film Festival 2009. Acara yang sudah dimulai sejak 26 Juli lalu ini berakhir 5 Agustus lalu. Dua film yang sempat saya tonton, Jihad For Love dan antologi film Love Man Love Woman,Diana,dan Le Turkey.



Film Jihad For Love yang disutradarai oleh Parvez Sharma merupakan film produksi Amerika di tahun 2007. Film documenter ini bercerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di negara Islam dan mereka sudah mengaku kalau mereka homoseksual. Amir, Muchsin, Maryam, dan Mazen adalah warga dunia. Mereka lahir dan besar di Turki, Mesir dan Iran yang dikenal sebagai negara dengan populasi Islam yang terbesar. Muchsin, laki-laki asal Mesir ini telah menikah dan punya tiga anak. Ia merupakan imam di salah satu mesjid dan ia membuat pengakuan bahwa ia gay di sebuah media cetak. Aksinya itu berdampak panjang dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Muchsin pernah berpikir bagaimana kalau ia terkena hukuman mati karena homoseksual dilarang di Mesir. Amir harus menerima siksaan di Iran dan akhirnya pindah ke Turki karena homoseksual dianggap sebagai suatu kejahatan. Ia pun bertemu dengan Payam, Mojtaba, dan Arsham. Akhirnya, secara bertahap mereka mendapat suaka dan pindah ke Kanada untuk hidup yang lebih manusiawi. Mazen belum berani membuka kedoknya setelah ia masuk penjara karena ia seorang homoseksual dan diperlakukan layaknya binatang. Potret kehidupan manusia yang berjuang karena mereka ‘berbeda’ ini disajikan dalam bentuk yang cukup kontradiktif. Seperti yang banyak dipahami umat muslim, pandangan terhadap kaum homoseksual tertulis di kitab suci Al-qur’an dan dianggap sesuatu yang dilarang. Perilaku kaum Sodom dan Gomorrah menggambarkan bagaimana homoseksual adalah sesuatu deviasi seksual.

Keempat tokoh sentral dalam film ini merupakan umat yang takwa pada ajaran agama dan giat melaksanakan kewajiban ibadah. Hal ini menjadi sangat kontradiktif, di tengah ketaatan mereka shalat, mengkaji isi Al-qur’an, puasa, dan menutup auratnya, mereka dihadapkan pada sesuatu yang dianggap haram namun tidak bisa mereka hindari secara naluriah. Pertanyaan-pertanyaan muncul apakah memang Tuhan menciptakan kaum homoseksual di dunia ini? Kalau iya, mengapa seolah mereka diciptakan seolah berbeda dari manusia lainnya? Muchsin pernah meminta dan berdoa untuk ditunjukkan jalan apabila homoseksual itu salah. Pernikahan Muchsin dengan seorang wanita bukanlah jawaban dari pertanyaan yang justru makin menyiksanya. Muchsin akhirnya menerima keadaannya dan begitu pula anak-anaknya yang tetap berada di sisinya.

Simbol deviasi yang dialami tokoh-tokoh ini ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Saat Amir harus pindah dari Iran ke Turki, ia digambarkan sedang mengenakan pakaian dan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia adalah laki-laki di balik atribut perempuan itu. Sosok yang ditampilkan dengan hijab adalah wanita, namun atribut itu hanyalah topeng yang berusaha ditonjolkan untuk berlindung. Amir seolah merasa aman di balik jubah kewanitaannya padahal atribut wanita itulah yang membuat Amir tersiksa. Ironi. Perbedaan tempat tinggal juga ditunjukkan dengan perbedaan warna tembok warna hijau dan oranye yang bersebelahan. Rumah yang berada dalam satu wilayah itu seolah tidak mau disamakan antara kaum hetero dan homoseksual. Pandangan masyarakat atas penyimpangan itu membuat mereka ingin mengotak-kotakan kaum homoseksual di luar lingkungan mereka. Simbol lain muncul dalam adegan tiga sahabat Payam, Amir, dan Mojtaba. Mereka kerap bercerita bagaimana pernikahan mereka berlangsung sambil bersantai di atas bukit. Ketika ada iring-iringan jenazah, mereka berdiri di atas bukit dan memandang jenazah itu. Sosok ketiga lelaki tersebut tidak digambarkan dengan jelas tetapi hanya lewat siluet bayangan yang ada di atas bukit, berbeda dengan orang-orang yang sedang menggiring jenazah. Bagi orang lain, keberadaan Payam dkk menjadi bayangan yang tidak dapat tersentuh dan berbeda dari mereka yang seolah benar-benar ‘nyata’. Kelompok homoseksual seolah hidup dalam dunia yang tidak nyata dan terbatas. Dunia mereka seakan gelap dan tertutup. Simbol agama yang terasa sangat dalam adalah adegan terakhir ketika mereka semua mencoba menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun jadi jangan pernah berhenti memohon ampun atas apa yang dilakukan umat-Nya. Tidak ada yang bisa menghakimi umat manusia bahwa ia berdosa atau tidak selain Sang Pencipta. Dialog ini diiringi dengan adegan duduk tahiyat saat shalat.Saat mereka mengeluarkan telunjuknya dan mengucapkan bacaan tahiyat yang bermakna bahwa umat Muslim yang berjanji menyembah Allah dan selanjutnya adalah bentuk pengabdian manusia terhadap Tuhannya. Begitu pula dengan janji Allah yang berjanji mengampuni hamba-Nya. Tanpa perlu orang lain menghakimi dan berusaha membuat perhitungan dosa umatnya, urusan religi selalu menjadi hubungan yang pribadi bagi manusia dan Tuhan yang menciptakannya. Sesuai dengan judulnya, mereka sedang berjuang, berjihad. Berjuang atas cintanya terhadap Tuhan dan sesamanya. Mereka tidak mau kehilangan cinta Allah karena perbedaan yang dimilikinya karena bagi mereka cinta Allah lah yang terbesar dan bentuk pengabdian manusia pada Sang Pencipta.

source www.ajihadforlove.com

Monday, August 03, 2009

Lets Have Phoenix, On Your Favorite Weekend Ending*


Sabtu 1 Agustus 2009, puluhan muda-mudi memenuhi kawasan SCBD Jakarta tepatnya Bengkel Night Park. Mereka yang sudah berdandan begitu fashionable ini berkumpul sejak pukul 6 sore, padahal pintu arena konser Beatfest ini baru akan dibuka pukul 7 malam. Pukul 7 lewat, antrian mulai bergerak dan calon penonton sudah mulai bergerak masuk. Lorong menuju panggung berupa lorong penuh kaca dan disoroti black light yang menimbulkan warna-warna elektrik dan menyala dalam gelap. Sebelumnya, setelah pengecekan tiket di pintu masuk, penonton ditawari dengan untuk memasang tattoo temporary berbentuk stiker yang dapat menyala dalam gelap terutama saat disorot black light. Semuanya gratis! Voice over di dalam Bengkel Night Park mulai menyapa penonton yang berkerumun di stan merchandise dan bar lalu mengumumkan kalau Naif akan muncul sebagai artis pembuka pertama.Acara yang bekerja sama dengan toko buku Aksara dan A Mild ini mengusung nama Soundshine yang kerap menampilkan artis-artis indie dari dalam dan luar negeri. Membawakan lagu-lagu hits seperti Air dan Api dan Ajojing, Naif mengajak pemuda-pemudi untuk ‘pemanasan’ sebelum bintang utama konser itu tampil. Setelah Naif, band asal Bandung,The Sigit langsung menghentak dengan lagu-lagu Money Making, Black Amplifier, dan The Party. Dalam balutan kostum hitam-hitam, The Sigit makin memanaskan suasana dan penonton ikut menyanyi bersama. The Sigit sudah, saatnya Rock and Roll Mafia mengantar penonton ke 45 menit menuju band utama asal Perancis itu. Dengan musik yang khas dengan sentuhan synthesizer, RNRM berhasil membuat penonton berada di puncak kenikmatan musik dance electronica yang dibawakannya. Akhirnya, sekitar pukul 22.30 Phoenix bintang utama dengan empat personilnya membuka konser perdananya di Jakarta dengan hits Lisztomania dari album terbarunya, Wolfgang Amadeus Phoenix. Penonton yang hafal dengan lagu teranyar mereka langsung serentak koor mengikuti sang vokalis, Thomas Mars. Phoenix yang terdiri dari Thomas Mars (vokal), Deck D’Arcy (bass), Laurent Brancowitz dan Christian Mazzalai (gitar) pun memainkan hits-hits dari album terdahulu United, Alphabetical, It’s Never Been Like That dan pastinya lagu terbaru dari album Wolfgang Amedeus Phoenix yang rilis tahun 2009 ini. Sambil sesekali menyapa penonton, Mars mengungkapkan ia sangat excited menggelar konser pertama Phoenix di Jakarta. Ia pun sempat berterimakasih dengan Bahasa Indonesia logat Perancisnya. Konser dilanjutkan dengan Run,Run,Run, Everything is Everything, Long Distance Call, Lasso dan Love Like a Sunset yang merupakan lagu terminim lirik di album keempat mereka. Layaknya trik konser pada umumnya, mereka pamit meninggalkan panggung dan penonton yang berteriak-teriak “We Want More, We Want More!” yang haus encore. Kurang dari lima belas menit rehat, Thomas dan sang gitaris muncul menyambut histeria penonton dan melantunkan hits milik Air, duo asal Perancis, Playground Love dengan versi akustik. Mars menyebut ini sebagai kejutan untuk Jakarta. Kejutan belum selesai, tiga lagu berturut-turut If I Ever Feel Better, Too Young, dan akhirnya 1901 menjadi encore penutup konser malam itu. Selain ‘panas’ karena aksi panggung yang atraktif dan komunikatif, penggemar Phoenix pun terpuaskan karena sorotan lampu artistik ikut menyemarakkan dan menambah panasnya suasana Bengkel Night Park malam itu, literally.

So, Jakarta is totally safe and Phoenix already prove it they’re also not afraid!
We Love You Phoenix!!



*from Lisztomania lyrics