Tuesday, February 26, 2013

Perahu Kertas : Romantisme Anak Muda & Emosi Yang Alpa



Drama romantis sudah punya penggemar tersendiri. Lewat kata-kata yang diuntai dengan penuh makna romantis, percakapan dengan suasana biasa saja akan terdengar lebih manis. Simak saja dua tokoh yang awalnya menarik perhatian di awal film Perahu Kertas. Ada Kugy (Maudy Ayunda), seorang gadis yang imajinasi ajaibnya kerap membuat teman-temannya terheran-heran. Kugy seolah punya dunia sendiri sebagai agen Neptunus yang menggunakan kedua jarinya sebagai antena saat ia perlu berpikir keras. Eko (Fauzan Smith) mempertemukan Kugy dengan Keenan (Adipati Dolken), sepupu Eko asal Belanda yang begitu takjub dengan dunia ajaib Kugy.

Seperti sudah diduga, pertemuan awal Kugy dan Keenan berujung pada pasangan sejoli yang saling tertarik dan mencoba menyingkap sisi romantisme masing-masing. Kekosongan Karakter Di awal, kita sudah bisa lihat kedua protagonis ini seolah berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Kugy dan ‘dunia sendirinya’ hanya bisa dimengerti Keenan. Keduanya cocok dan paham satu sama lain. Chemistry di antara keduanya terbangun lewat dialog yang akrab dan hangat. Sayangnya, seiring berjalannya adegan demi adegan, kehangatan itu perlahan-lahan menghilang. Kugy dan Keenan hanya mampu mempertahankan romantisme tersebut di awal saja. Entah apakah sang penulis atau sutradara lupa kalau perkembangan hubungan keduanya perlu dijaga sampai film berakhir. Berbeda ketika Kugy membangun hubungan dengan Remi (Reza Rahadian). Kugy dan Remi tak perlu banyak usaha untuk menciptakan chemistry.

Adegan keduanya terlihat begitu natural dan mengalir. Obrolan-obrolan mereka terdengar sangat logis tanpa memerlukan bahasa berbunga-bunga sebagai penanda romantisme. Dialog maupun mimik muka Remi dan Kugy terasa kontras dibandingkan dialog Keenan dan Kugy. Misalnya saja, adegan makan malam Kugy dan Remi di pinggir jalan, ketika Kugy mulai bercerita soal agen Neptunus atau bagaimana ia tahu karakter Remi lewat zodiak. Remin sedikit kebingungan mencerna kelakuan Kugy. Sontak ia menampilkan mimik bingung dan merasa malu dengan sekitarnya. Lain lagi ketika Remi dan Kugy menghabiskan waktu tahun baru bersama. Kesukaan Kugy akan ombak membuat Remi ingin mengajak Kugy berlibur ke Bali. Hanya dengan kalimat singkat, “Ke Bali yuk!” sekilas bisa terlihat bagaimana kedekatan Remi dan Kugy. Terlihat bagaimana dialog keduanya secara jelas menunjukkan kedekatan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Bandingkan dengan hubungan Kugy dan Keenan. Meskipun dipertemukan dengan cara yang cukup dramatis, keduanya seperti tidak terhubung secara emosional, apalagi saat cerita makin beranjak ke tengah. Ada sedikit harapan, ketika cerita makin menuju klimaks emosi para protagonisnya makin terasa memuncak. Apakah ada motif-motif Keenan yang menunjukkan ketertarikannya pada gadis tersebut? Kalaupun ada, motif itu terlihat sangat abu-abu dengan hubungan pertemanan Keenan dengan Noni (Sylvia Fully R), sahabat Kugy, yang memang mengharuskan mereka terlihat akrab. Kesan yang diharapkan timbul antara Keenan dan Kugy adalah hubungan romantis, tapi malah kesan tersebut yang alpa sepanjang Perahu Kertas. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Apakah hubungan dekat Keenan dengan Kugy hanyalah prosesi semata saat Keenan pertama kali menjejakkan kaki di Bandung? Apa hanya karena Keenan juga bergaul dengan kawan-kawan Kugy? Saat perjalanan Keenan makin jauh, terasa jauh pula hubungannya dengan Kugy, baik secara fisik maupun emosional. Keenan pun makin lama ditampilkan makin tenggelam dengan ketertarikannya di dunia lukis dan akhirnya membawanya ke Bali. Saat di Bali ia bertemu dengan Luhde (Elyzia Mulachela), ikatan emosionalnya jauh lebih jelas terlihat, mulai dari kata-kata yang dipakai saat bercengkrama sampai body language yang dipakai keduanya.

Lihat saja saat Luhde mencuri-curi pandang ke Keenan saat mereka baru pertama bertemu. Ketika dipertemukan, gelagat Luhde yang malu-malu menunjukkan ketertarikannya. Selang beberapa waktu, barulah keintiman Keenan dan Luhde terungkap. Perlahan-lahan, Luhde mulai memahami Keenan yang tidak banyak bicara. Di sini bisa terlihat bagaimana sosok Keenan memang cenderung terkesan pasif mengungkapkan pikiran-pikiran terhadap wanita-wanita yang dekat dengannya. Entah pengembangan tokoh Keenan memang dibuat begitu kontras dengan para wanitanya; Kugy dan Luhde sehingga ’kekosongan’ Keenan bisa terisi oleh Kugy dan Luhde? Dengan Remi, Kugy seperti tidak perlu bekerja terlalu keras untuk tercipta chemistry di antara keduanya. Suasana hangat tercipta otomatis sejenak mereka meluangkan waktu berbincang walau sebentar saja. Apakah penonton ’terjebak’ pada cerita yang menyorot Kugy dan Keenan dalam sekuens romantisme di awal sedangkan Remi hanya dianggap pemeran numpang lewat? Apakah tokoh Remi diadakan untuk menjadi trigger supaya ada ruang-ruang kosong antara Kugy dan Keenan yang bisa diisii nantinya? Tokoh yang patut dipuji adalah tokoh Eko meskipun sejak awal ia sudah terlihat menjadi joker dalam film ini. Setidaknya celetukan Eko sukses memberi rasa lain dari serangkaian kisah cinta seperti berusaha terlalu keras untuk menciptakan romansa ke semua tokohnya. Guyonan Eko memang hanya muncul sesekali namun cukup menjadi ’gong’ beberapa adegan yang dilakoninya. Ironis rasanya ketika komedi tokoh pendukung bisa lebih banyak berperan dan mengena ketimbang kisah romansa para protagonis.

Bagaimana pun juga Perahu Kertas adalah sebuah drama romantis. Demi Bagian Kedua Mengikuti perjalanan Kugy dan kawan-kawan lintas waktu, satu hal yang harusnya mendapat perhatian ekstra adalah departmen wardrobe. Perubahan gaya berpakaian atau penanda perubahan umur seperti luput dari perhatian pembuat film. Hal lain yang tidak kalah penting adalah perjalanan cerita yang terlihat tidak padat dan melebar ke mana-mana. Makin fokusnya cerita tentu akan bisa membuat kekosongan karakter dan hubungan antar tokoh tidak terlalu mencolok serta bisa menampilkan chemistry antar karakternya. Kisah Kugy dengan Keenan dan Kugy dengan Remi tampak seperti terbagi dalam dua bagian yang tidak saling berhubungan.

Menikmati kisah Kugy dan Keenan seperti membuka buku kenangan yang menarik dilihat kembali, tanpa perlu tahu apakah kisah tersebut akan berlanjut di masa depan. Lain lagi ketika Kugy memulai kisahnya dengan Remi. Bagian tersebut seperti lanjutan kisah Kugy yang sudah move on dan tidak begitu tertarik mengetahui apa yang terjadi dengan Keenan. Seolah-olah kisah mereka sudah menguap begitu saja. Satu-satunya momen ’reuni’ Kugy dan Keenan hanyalah saat pernikahan Noni dan Eko, keduanya seperti dipertemukan layaknya kawan lama. Tidak banyak kenangan dibuka atau pertukaran emosi terjadi di situ, padahal keduanya sudah terpisah cukup lama. Adegan ini harusnya bisa menjadi ruang ekspresi Kugy dan Keenan sekaligus kesempatan Remi untuk diberi porsi lebih dalam hubungan masa lalu Kugy. Tentunya akan menjadi intrik yang menarik atau klimaks yang menguras emosi jika itu terjadi. Sutradara Hanung Bramantyo mungkin menyiapkan kejutan bagi penonton di bagian kedua film Oktober mendatang. Semoga harapan menyaksikan emosi para tokoh sentral yang gagal ditampilkan di bagian pertama ini bisa terbayar. Begitu juga sisi romantis yang diharapkan menjadi jualan utama film adaptasi ini. Apakah Perahu Kertas akan berlabuh di akhir yang manis? Dua bulan lagi, nampaknya semua itu baru bisa dibuktikan.

Also published on cinemapoetica.com

No comments: