Sunday, September 20, 2009

Untuk Maju,Jadi Alien

Lebaran, biasanya tv swasta memutar film-film Indonesia yang (cukup) bagus. Heran juga sih,kalau memang bagus harusnya bisa ditonton di bioskop bukan di tv yang jaraknya cukup lama,bukan?

Anyway, malam ini tepat malam Idul Fitri Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo menyita perhatian saya.
Ceritanya, Anisa gadis pesantren yang berusaha mencari kebebasan di luar pesantren karena sistem pendidikan yang cenderung merugikan perempuan. Anisa kerap mengalami hambatan, mulai dari tuduhan zinah,dianggap perempuan liar, sampai puncaknya ia kehilangan ayah tercinta.
Anisa akhirnya bisa melepaskan belenggu yang mengekangnya selama ini dan mengekspresikan lewat tulisannya dan juga dukungan Khudori,suaminya.

Di tengah kebebasannya mengekspresikan pikirannya, Anisa terpaksa kembali ke pesantren yang setelah 17 tahun ternyata tidak memberikannya pencerahan ataupun jendela bagi imajinasinya untuk melihat dunia.Tujuan Anisa membuat perubahan. Hal itu sulit apalagi pesantren memiliki stereotipe yang konservatif dan cenderung mengikuti norma-norma yang biasanya sudah turun temurun dijalankan.
Ada ketidaksetaraan yang disampaikan dalam film ini melalui pikiran dan perjuangan Anisa dengan murid-muridnya yang ingin belajar lewat membaca dan menulis. Anisa dengan keinginannya bisa berdiri sebagai istri dan wanita yang utuh dan mengesampingkan ketakutannya untuk memenuhi kodrat sebagai ibu. Dan, Anisa dengan keyakinannya bahwa meskipun dalam Islam, Allah menjanjikan surga bagi wanita, tetap saja perjuangan tidak berarti berhenti di situ saja. Wanita pun berhak dan wajib mendidik anak dan lingkungannya untuk bisa menyalurkan kebebasannya dengan tanggung jawab yang sudah semestinya memberikan faedah.

Anisa mungkin sudah banyak ada di antara kita,yang selalu merasa tidak bebas dan tidak sanggup melepaskan apa yang selama ini menyesakkan. Banyak yang berkoar-koar meminta kesetaraan,tetapi pahamkah apa itu kesetaraan? Dalam film ini, penggambaran kesetaraan sebenarnya cukup sederhana mengingat latar yang diambil di desa kecil di Jawa Tengah. Mungkin kita sebenarnya sudah merasakan apa yang Anisa ingin capai. Bisa menjadi apa saja, belajar apa saja, dan tahu tentang apa saja. Tidak lagi ada keharusan wanita kembali ke dapur,karena menurut Khudori dalam film hal tersebut bukanlah hal natural,tetapi kembali ke budaya masing-masing.

Berbicara budaya, wanita kerap dihadapkan pada fase membentuk keluarga yang dianggap sebagai salah satu 'kodrat' wanita. Dalam film ini juga ditekankan, wanita harus berada di kodratnya agar saat menjadi istri atau memiliki keluarga menjadi istri yang patuh dan keluarganya sakinah. Apakah membentuk keluarga dan pernikahan merupakan tujuan dari adanya wanita? Apakah perjuangan memncari kebebasan itu berhenti sampai ia menjadi istri atau ibu? Bagaimana jika ia dapat membentuk lingkungan lain yang sakinah tanpa harus berada dalam situasi itu,berkeluarga? Bila itu menjadi salah satu pilihannya sebagai ekspresi kebebasan,apakah dengan cara yang berbeda itu menjadikannya sebagai alien di antara manusia lainnya?
Apakah berbeda untuk memajukan diri dan masyarakat artinya menyerahkan diri pada kotak hitam yang membelenggunya dan justru menjerumuskan wanita pada kebalikan dari kebebasan?

Sorban, sebagai inisial dari kelelakian yang ada di kepala, letak yang teratas, dalam film ini begitu kental melambangkan bagaimana kuatnya diikatkan pada leher wanita untuk membelenggu dan berada dalam bayang-bayangan maskulinitas. Siap menunggu saatnya terlepas.

Monday, August 24, 2009

All American Rejects Live in Jakarta!

Terbukti! Musisi asing tidak takut mengunjungi Indonesia dan menampilkan performa terbaiknya di depan khalayak ramai Jakarta. Bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, The All American Rejects datang menghadirkan pertunjukan special untuk penggemarnya. Band asal Oklahoma ini juga menginap di hotel Ritz Carlton sebagai bentuk peduli dan bukti mereka tidak takut. Konser perdana AAR di Indonesia ini digelar Senin 17 Agustus 2009 di IStora Senayan Jakarta pukul 20.50 WIB. Meskipun diguyur hujan, penggemar fanatik AAR tetap datang ke I Wanna Rock Tour 2009 malam itu. Meskipun terlambat hampir satu jam dari jadwal seharusnya, konser ini dibuka dengan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia raya oleh penonton dan disambut dengan Tyson Ritter, vokalis AAR yang berlari di atas panggung dengan membawa bendera Republik Indonesia. Penonton yang histeris melihat kemunculan Tyson tidak lebih lama lagi dibuat menunggu. Hits Dirty Little Secret langsung membuat penonton bernyanyi bersama. Setelah itu lagu-lagu hits seperti Swing Swing, My Paper Heart, The Last Song, It Ends Tonight, dan Real World. Penonton yang kebanyakan berusia 17-20 tahun tidak henti-hentinya jejingkrakan mengikuti irama lagu yang menghentak. Tyson yang begitu atraktif menunjukkan kemampuan menyanyinya hanya dibalut celana skinny merah dengan berbagai gaya. Mulai dengan merangkak meliuk-liukkan badannya, sampai memanjat tiang penyangga panggung. Penonton pun ikut histeris melihat kelakuan ajaib sang vokalis yang kontras dengan Nick Wheeler, sang bassis yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan rompi hitam. Mike Kennerty dan Chris Gaylor pada gitar dan drum tak kalah atraktifnya dengan Tyson. Tyson juga tak henti-hentinya menyuarakan ‘MERDEKA’ di sela-sela lagu malam itu. Setelah encore penonton diajak bernyanyi lagu Move Along bersama dan puncaknya, ketika Tyson membacakan sebuah surat yang ditujukan untuk teroris yang tak hentinya mencoba menakut-nakuti masyarakat Indonesia dan orang asing yang ingin datang ke Indonesia. Dengan lantang ia menyerukan ‘F&%#* Terorist!!’ dan diikuti oleh seruan penonton yang ikut bersorak-sorai. Lagu Gives You Hell seperti ditujukan untuk mereka, teroris yang gagal menakut-nakuti masyarakat Indonesia begitu pula musisi-musisi asing yang malam itu menutup konsernya di lagu keduabelas pukul 22.30.

Thursday, August 06, 2009

A Jihad For Love

Musim festival film di Indonesia sudah dimulai! Dari bulan Juni lalu, Goelali Film Festival yang menampilkan film-film bertemakan anak digelar di Museum Bank Indonesia dan kemudian disusul oleh Kidfest yang acaranya berdekatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu. Sayangnya saya melewatkan kedua acara yang digelar perdana tahun ini tersebut. Agustus ini akhirnya saya bisa ikut keriaan yang digelar oleh Q-munity dalam Q Film Festival 2009. Acara yang sudah dimulai sejak 26 Juli lalu ini berakhir 5 Agustus lalu. Dua film yang sempat saya tonton, Jihad For Love dan antologi film Love Man Love Woman,Diana,dan Le Turkey.



Film Jihad For Love yang disutradarai oleh Parvez Sharma merupakan film produksi Amerika di tahun 2007. Film documenter ini bercerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di negara Islam dan mereka sudah mengaku kalau mereka homoseksual. Amir, Muchsin, Maryam, dan Mazen adalah warga dunia. Mereka lahir dan besar di Turki, Mesir dan Iran yang dikenal sebagai negara dengan populasi Islam yang terbesar. Muchsin, laki-laki asal Mesir ini telah menikah dan punya tiga anak. Ia merupakan imam di salah satu mesjid dan ia membuat pengakuan bahwa ia gay di sebuah media cetak. Aksinya itu berdampak panjang dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Muchsin pernah berpikir bagaimana kalau ia terkena hukuman mati karena homoseksual dilarang di Mesir. Amir harus menerima siksaan di Iran dan akhirnya pindah ke Turki karena homoseksual dianggap sebagai suatu kejahatan. Ia pun bertemu dengan Payam, Mojtaba, dan Arsham. Akhirnya, secara bertahap mereka mendapat suaka dan pindah ke Kanada untuk hidup yang lebih manusiawi. Mazen belum berani membuka kedoknya setelah ia masuk penjara karena ia seorang homoseksual dan diperlakukan layaknya binatang. Potret kehidupan manusia yang berjuang karena mereka ‘berbeda’ ini disajikan dalam bentuk yang cukup kontradiktif. Seperti yang banyak dipahami umat muslim, pandangan terhadap kaum homoseksual tertulis di kitab suci Al-qur’an dan dianggap sesuatu yang dilarang. Perilaku kaum Sodom dan Gomorrah menggambarkan bagaimana homoseksual adalah sesuatu deviasi seksual.

Keempat tokoh sentral dalam film ini merupakan umat yang takwa pada ajaran agama dan giat melaksanakan kewajiban ibadah. Hal ini menjadi sangat kontradiktif, di tengah ketaatan mereka shalat, mengkaji isi Al-qur’an, puasa, dan menutup auratnya, mereka dihadapkan pada sesuatu yang dianggap haram namun tidak bisa mereka hindari secara naluriah. Pertanyaan-pertanyaan muncul apakah memang Tuhan menciptakan kaum homoseksual di dunia ini? Kalau iya, mengapa seolah mereka diciptakan seolah berbeda dari manusia lainnya? Muchsin pernah meminta dan berdoa untuk ditunjukkan jalan apabila homoseksual itu salah. Pernikahan Muchsin dengan seorang wanita bukanlah jawaban dari pertanyaan yang justru makin menyiksanya. Muchsin akhirnya menerima keadaannya dan begitu pula anak-anaknya yang tetap berada di sisinya.

Simbol deviasi yang dialami tokoh-tokoh ini ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Saat Amir harus pindah dari Iran ke Turki, ia digambarkan sedang mengenakan pakaian dan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia adalah laki-laki di balik atribut perempuan itu. Sosok yang ditampilkan dengan hijab adalah wanita, namun atribut itu hanyalah topeng yang berusaha ditonjolkan untuk berlindung. Amir seolah merasa aman di balik jubah kewanitaannya padahal atribut wanita itulah yang membuat Amir tersiksa. Ironi. Perbedaan tempat tinggal juga ditunjukkan dengan perbedaan warna tembok warna hijau dan oranye yang bersebelahan. Rumah yang berada dalam satu wilayah itu seolah tidak mau disamakan antara kaum hetero dan homoseksual. Pandangan masyarakat atas penyimpangan itu membuat mereka ingin mengotak-kotakan kaum homoseksual di luar lingkungan mereka. Simbol lain muncul dalam adegan tiga sahabat Payam, Amir, dan Mojtaba. Mereka kerap bercerita bagaimana pernikahan mereka berlangsung sambil bersantai di atas bukit. Ketika ada iring-iringan jenazah, mereka berdiri di atas bukit dan memandang jenazah itu. Sosok ketiga lelaki tersebut tidak digambarkan dengan jelas tetapi hanya lewat siluet bayangan yang ada di atas bukit, berbeda dengan orang-orang yang sedang menggiring jenazah. Bagi orang lain, keberadaan Payam dkk menjadi bayangan yang tidak dapat tersentuh dan berbeda dari mereka yang seolah benar-benar ‘nyata’. Kelompok homoseksual seolah hidup dalam dunia yang tidak nyata dan terbatas. Dunia mereka seakan gelap dan tertutup. Simbol agama yang terasa sangat dalam adalah adegan terakhir ketika mereka semua mencoba menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun jadi jangan pernah berhenti memohon ampun atas apa yang dilakukan umat-Nya. Tidak ada yang bisa menghakimi umat manusia bahwa ia berdosa atau tidak selain Sang Pencipta. Dialog ini diiringi dengan adegan duduk tahiyat saat shalat.Saat mereka mengeluarkan telunjuknya dan mengucapkan bacaan tahiyat yang bermakna bahwa umat Muslim yang berjanji menyembah Allah dan selanjutnya adalah bentuk pengabdian manusia terhadap Tuhannya. Begitu pula dengan janji Allah yang berjanji mengampuni hamba-Nya. Tanpa perlu orang lain menghakimi dan berusaha membuat perhitungan dosa umatnya, urusan religi selalu menjadi hubungan yang pribadi bagi manusia dan Tuhan yang menciptakannya. Sesuai dengan judulnya, mereka sedang berjuang, berjihad. Berjuang atas cintanya terhadap Tuhan dan sesamanya. Mereka tidak mau kehilangan cinta Allah karena perbedaan yang dimilikinya karena bagi mereka cinta Allah lah yang terbesar dan bentuk pengabdian manusia pada Sang Pencipta.

source www.ajihadforlove.com

Monday, August 03, 2009

Lets Have Phoenix, On Your Favorite Weekend Ending*

Sabtu 1 Agustus 2009, puluhan muda-mudi memenuhi kawasan SCBD Jakarta tepatnya Bengkel Night Park. Mereka yang sudah berdandan begitu fashionable ini berkumpul sejak pukul 6 sore, padahal pintu arena konser Beatfest ini baru akan dibuka pukul 7 malam. Pukul 7 lewat, antrian mulai bergerak dan calon penonton sudah mulai bergerak masuk. Lorong menuju panggung berupa lorong penuh kaca dan disoroti black light yang menimbulkan warna-warna elektrik dan menyala dalam gelap. Sebelumnya, setelah pengecekan tiket di pintu masuk, penonton ditawari dengan untuk memasang tattoo temporary berbentuk stiker yang dapat menyala dalam gelap terutama saat disorot black light. Semuanya gratis! Voice over di dalam Bengkel Night Park mulai menyapa penonton yang berkerumun di stan merchandise dan bar lalu mengumumkan kalau Naif akan muncul sebagai artis pembuka pertama.Acara yang bekerja sama dengan toko buku Aksara dan A Mild ini mengusung nama Soundshine yang kerap menampilkan artis-artis indie dari dalam dan luar negeri. Membawakan lagu-lagu hits seperti Air dan Api dan Ajojing, Naif mengajak pemuda-pemudi untuk ‘pemanasan’ sebelum bintang utama konser itu tampil. Setelah Naif, band asal Bandung,The Sigit langsung menghentak dengan lagu-lagu Money Making, Black Amplifier, dan The Party. Dalam balutan kostum hitam-hitam, The Sigit makin memanaskan suasana dan penonton ikut menyanyi bersama. The Sigit sudah, saatnya Rock and Roll Mafia mengantar penonton ke 45 menit menuju band utama asal Perancis itu. Dengan musik yang khas dengan sentuhan synthesizer, RNRM berhasil membuat penonton berada di puncak kenikmatan musik dance electronica yang dibawakannya. Akhirnya, sekitar pukul 22.30 Phoenix bintang utama dengan empat personilnya membuka konser perdananya di Jakarta dengan hits Lisztomania dari album terbarunya, Wolfgang Amadeus Phoenix. Penonton yang hafal dengan lagu teranyar mereka langsung serentak koor mengikuti sang vokalis, Thomas Mars. Phoenix yang terdiri dari Thomas Mars (vokal), Deck D’Arcy (bass), Laurent Brancowitz dan Christian Mazzalai (gitar) pun memainkan hits-hits dari album terdahulu United, Alphabetical, It’s Never Been Like That dan pastinya lagu terbaru dari album Wolfgang Amedeus Phoenix yang rilis tahun 2009 ini. Sambil sesekali menyapa penonton, Mars mengungkapkan ia sangat excited menggelar konser pertama Phoenix di Jakarta. Ia pun sempat berterimakasih dengan Bahasa Indonesia logat Perancisnya. Konser dilanjutkan dengan Run,Run,Run, Everything is Everything, Long Distance Call, Lasso dan Love Like a Sunset yang merupakan lagu terminim lirik di album keempat mereka. Layaknya trik konser pada umumnya, mereka pamit meninggalkan panggung dan penonton yang berteriak-teriak “We Want More, We Want More!” yang haus encore. Kurang dari lima belas menit rehat, Thomas dan sang gitaris muncul menyambut histeria penonton dan melantunkan hits milik Air, duo asal Perancis, Playground Love dengan versi akustik. Mars menyebut ini sebagai kejutan untuk Jakarta. Kejutan belum selesai, tiga lagu berturut-turut If I Ever Feel Better, Too Young, dan akhirnya 1901 menjadi encore penutup konser malam itu. Selain ‘panas’ karena aksi panggung yang atraktif dan komunikatif, penggemar Phoenix pun terpuaskan karena sorotan lampu artistik ikut menyemarakkan dan menambah panasnya suasana Bengkel Night Park malam itu, literally.

So, Jakarta is totally safe and Phoenix already prove it they’re also not afraid!
We Love You Phoenix!!



*from Lisztomania lyrics

Thursday, July 23, 2009

Pagi Hari dalam Bahasa Sunda

Thank God It’s Friday!
Saatnya bersenang-senang di akhir minggu ini.
Sebelum keriaan di mulai malam ini, gue melewati pagi yang cukup aneh saat gue lagi jalan menuju kantor.
Gue biasanya jalan dari gedung Telkom menuju kantor gue di Menara Jamsostek. Jalanan menuju kantor itu jarang banget ada orang yang jalan apalagi yang melawan arah. Gue yang masih ngantuk (seperti biasa) jalan dengan gak peduli sama sekitar gue. Di depan gue ada bapak-bapak pakai baju setelan kemeja lengan pendek, celana jeans, dan sandal jepit. Gue gak ngeh darimana muculnya bapak ini. Tiba-tiba dia udah ngobrol sama abang-abang yang jualan sol sepatu pake gerobak yang jalan berlawanan arah sama gue. Mereka berdua berhenti dan ngobrol entah apa. Awalnya gue gak meratiin, tapi gue jadi agak penasaran juga karena gue lihat abang tukang sol ini tiba-tiba mengeluarkan uang selembar lima ribuan, dilihat dari warna uang dari jauh. Gue piker si bapak ini beli sol sepatu ke abangnya. Tapi gue lihat lagi, bapak itu gak megang apa-apa dan abang sol itu pun berlalu. Gue meneruskan jalan gue dan bapak itu jalan di belakang gue.
Tiba-tiba gue ngerasa ada orang ngomong di belakang gue tapi gue gak bisa memahami apa yang dia omongin. Gue akhirnya sedikit memutar kepala gue, ternyata bapak itu sudah ada di samping gue but still I can barely understanding what he’s babbling about.
Dia nanya,
Bapak : “Ke kampung rambutan gimana yah?”
Gue : (setengah masih kaget, ngantuk, dan beneran gak tau) “……..”
Bapak: “^@*&@&*!1+\ Kampung rambutan, neng!”
Gue : (masih diem, gak paham kata-kata dia selain kampong itu.)
Bapak : “Saya jalan kaki dari Blok M, tadi dikasih uang sama tukang sol 5000”
Terus bapak itu ngasi lihat uang 5000-annya dan dia jalan di depan gue.
Gue pengen ngedahuluin dia, tapi susah juga karena dia jalannya lumayan cepet.

Tiba-tiba bapak itu balik badan lagi, again dia bergumam sesuatu yang gak gue ngerti.
Dia terus mengeluarkan dompetnya, dikeluarin juga uang recehan seratus perak dari dompetnya.
Barulah gue mengerti apa yang sedang terjadi jam 08.25 pagi hari itu.
Gue agak serem sebenernya, cuma gue kasian juga sama dia apalagi kata-kata (yang kayanya bahasa Sunda) yang gue pahami dari dia cuma jalan kaki dari Blok M. Lumayan juga ke Gatot Subroto. Walaupun gue gak tau juga dia bohong atau gak.
Gue akhirnya mengelurkan sejumlah uang dan bapak itu berlalu dengan jalannya yang terburu-buru. Dia gak melihat ke belakang lagi sampai pas gue masuk ke kantor gue, dia nengok ke arah belakang tapi gue udah keburu masuk.

Well,
Kalau kejadian ini terjadi diatas jam 6 sore mungkin gue akan lebih parno dan ignore dia.
Gue gak tau apa tujuan dia dan apa yang dia bilang itu bener atau gak. At least I tried to help,is it? Or I just made a short cut to escape from weirdness of him?
Jakarta,makin aneh aja deh orang-orangnya!!

Tuesday, July 21, 2009

Lalu...?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari dosen-dosen penguji dan senior-senior yang sudah mendengar kabar kalau saya sudah lulus,
Setelah ini, rencananya mau ngapain?


Kalau pertanyaan itu bukan hanya pertanyaan fatis,jawabannya akan seperti ini,

1. Pengen leha-leha jadi pengangguran buat beberapa bulan
2. Jadi volunteer-volunteer acara film atau budaya :)
3. Nyari NGO yang berhubungan sama anak-anak trus volunteering(cita-cita sejak setahun lalu dan masih belom terealisasikan)
4. Bisa haha-hihi sama temen gue yang bakal pergi jauh
5. Apply-apply short course atau beasiswa for year or two programs
6. EXCHANGE AIESEC!!!!!!!!
7. short course film di NYFA
8. BERLIBUR!
9. .....kalo udah bosen,baru cari-cari kerjaan beneran
10. yang berhubungan sama media
11. dan pastinya sama promosi
12. atau marketing
13. dan..FILM!!

Jadi, jawabannya pak,bu,kak,bang,mas,neng,jeung,mbak..
Aku ingin begini,aku ingin begitu
ingin ini ingin itu
BANYAK SEKALI..!!

Friday, July 17, 2009

Thank You List

Alhamdulillah! Satu kata yang keluar dari mulut saya ketika akhirnya skripsi yang menjadi penentu hidup saya di kampus ini selesai sudah. Bukan hanya satu semester waktu yang dibutuhkan, tetapi sepanjang empat tahun masa studi saya memberi inspirasi pada tulisan yang saya buat ini. Kembali saya ucapkan puji syukur dan terima kasih sebesar-besarnya pada semua pihak yang terkait dalam penyelesaian skripsi ini dan akhirnya mengakhiri masa studi saya di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

1. Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa, Maha Adil pada hambaNya. Selalu melimpahkan berkahnya dan menunjukkan jalan bagi hambaNya yang tersesat dan menjadi Pengawas di kala lelah dan lengah. Terima kasih atas kekuatan selama menjalani semua ini dan tanpa kekuatanMu, saya mungkin akan menyerah di tengah jalan.
2. Orangtua terkasih, Harijadi dan Sri Wahjuni. Insya Allah, ini menjadi persembahan yang membanggakan bagi kalian dan terima kasih atas doa dan dukungan yang mungkin tidak bisa terucap.
3. Kathena Hanindita dan Ario Seno, adik-adik tercinta. Terima kasih, terima kasih, dan sayang kalian!
4. Ibu Dien Rovita, M.Hum selaku pembimbing skripsi selama hampir satu semester ini. Terima kasih atas kesabarannya membimbing mahasiswanya yang sering menghilang dan bahasa Indonesianya kacau. Terima kasih atas ilmu yang sudah dibagi dan semua usahanya membantu saya dan maaf jika selama masa bimbingan banyak hal yang kurang berkenan.
5. Bapak Untung Yuwono, penguji skripsi yang sangat inspiratif. Terima kasih atas bimbingannya dan ilmu-ilmu yang luar biasa tinggi dan membuat saya ingin terus belajar.
6. Bapak Tommy Christomy, Ph.D , penguji skripsi yang makin menyadarkan saya bahwa memang seharusnya saya mengkaji sastra lebih dalam dan sastralah yang menjadi ketertarikan saya bahkan sebelum menjadi mahasiswa program studi Indonesia. Terima kasih atas ilmu dan bimbingannya.
7. Ibu Nitrasattri Handayani,M.Hum selaku pembimbing akademis selama hampir empat tahun. Terima kasih selalu memberi kebebasan untuk saya memilih kuliah selama empat tahun dan selalu sabar menghadapi pertanyaan dan keinginan saya yang sangat banyak.
8. Dosen-dosen Program Studi Indonesia, Ibu Fina, Ibu Pamela, Ibu Sri, Ibu Pris, Ibu Niken, Ibu Kiki, Pak Harimurti, Pak Syahrial, Mas Iben, Ibu Ninin, Pak Umar, Ibu Mamlah, Pak Sunu, Mbak Ratna, Mas Asep, dan pengajar Program Studi Indonesia lainnya yang tidak bisa disebutkan satu perasatu. Terima kasih.
9. Teman-teman IKSI seperjuangan angkatan 2005. Terima kasih semuanya tak terkira! Seneng banget bisa punya angkatan kaya kalian yang gak berhenti buat saling ingetin biar kita bisa lulus bareng yah! Mulai dari HHK, PK, Falasido,ITP dan segala kegilaan dan keriaan yang udah kita lalui bersama gak bisa dilupain dan pasti bakal kangen kalian banget! Otriana alias Otong, teman dari bayi sampe ‘sebesar’ ini,makasih atas dukungannya dan cerita-ceritanya. Cipy alias Igaj kesayangan yang selalu nyemangatin Agajnya yang super males ini, makasih ‘besar’! Geng-gongan, Ariny, semoga kali ini benar kudanya yah! Vidya, masih panjang drama hidup ini,bukan? Yuki, bakal kangen teri medan super lezat itu! Ine, ngelawak terus yah! Ipeh, kangen lo banget deh! Mila Jamile, tetep jaga asetmu itu nak! Sekar, jangan lupakan gebetan-gebetan seluruh kansas yah! Nisa, gak nyangka di SMA gak deket sekarang kita bisa lulus bareng. Saras, ayo cepat ‘berlayar’ masih luas ‘lautnya’, Geng LoLa Wita, Anin, Dwi, Eky, Ridwan, Adi ,Meta, Ana, Maul, Donna, Evlin. Aryo, Samsu, Astri, Rina, Nunik, Ela, Puri, Yos, Dian, Sakti, Inggar, Miu, Chira, Santri, dan kakak-kakak serta adik-adik IKSI lainnya.
10. Kolega, sahabat, dan guru, kolega RTC UI FM. You guys totally CHANGE my life! Become part of RTC is one of my life-changing experiences. Tiar, pikiran-pikiran lo membuat gue selalu yakin sama diri gue, Idha butuh waktu lebih dari 2 tahun dan 2 semester Spanyol buat bisa kita jadi kaya gini, hope this will last more than that cariƱo. Fauzan, kakak dari my so-called-nerdy-fella, so proud to have friend like you who can change my mind then jump into ‘that’ field, thank you! Ano Banano aka Panda, terima kasih atas komentar-komentar ajaibnya, jangan nyushi terus yah panda, Ucy si polos dan baik hati, makasi yah semangat dan komentar lucu kamu, Alex si pasif tapi tetep kreatif, teruskan ‘pendakianmu’ ;) Andwi, my dearest sista makasi buat selama ini bukan cuma jadi HRD abadi aja tapi tong sampah gue, girls rule! Adis, my brother you can be tough girl and welcome to the ‘jungle’, Ucan, Ryan, Fajri, Devhy, Echo, Alyn, Ojan, semua kolega 2006, Marcomm Division, Managerial 2007 & 2008, semua penghuni lantai 2 gedung pusgiwa teknik UI. Semangat terus yah semua! Gue bangga pernah dan akan terus menjadi bagian dari 107.9 RTC UI FM!!!
11. Sahabat terbaik Nuria Inaya, walaupun kamu pikun kayak Dori, terima kasih atas semangatnya dan kue-kue enaknya! Rara Dithasywari, terima kasih doa dari jauhnya tetap terasa kok dari sini ;) Chibolita si teman 12 tahun, Metha, Udinda, Atta. Teman-teman Abang None Jakarta Pusat, terutama 2007, Icha, Wilma, Ina, Nadia, Rian dan Ikatan Abang None Jakarta Pusat.
12. Inspirasi dan semangat dari teman-teman di acara festival film. JIFFest, Europe on Screen, Konfiden, V Film Festival, dan teman-teman yang selalu membuahkan inspirasi tentang film. Alex Sihar, Lulu Ratna, Lintang Gitomartoyo, Putri Tjondronegoro, Chinta Permata, dan semua yang pernah membuka wawasan dan bermain walau hanya satu ‘adegan’ saja dalam rangkaian ‘film’ saya.
13. Djoko Anwar dan Joni, inspirasi saya bahkan sejak Joni belum bisa dijanjikan sampai akhirnya saya bisa masuk dalam Pintu Terlarang.
14. Eu Meus Amigos em Cantar Caravelas, especially Maria Emilia Irmler & Jo, hope we can meet again!
15. Kolega di tempat kerja, Spice! Magazine dan Interact Carlson, terima kasih selalu diizinkan mengurus ini-itu untuk skripsi dan ilmu-ilmunya. International Volunteer Chinese Childrenhome Shelter Association 2008 and AIESEC Taiwan, what a great moment to share with you guys! One of my best life changing experiences and we never say goodbye! Hope we can gather again and watch those kids smile and laugh again ;)
16. Part time lover and full time best friend, Vicky Ardian Amir Harahap, semangatnya, dukungan, doanya, waktunya, komentar-komentar ajaib yang justru membangun, dan semuanya! It’s common to have weird thoughts like we had, thanks for being here ;)

Pagi Paling Pagi

Lepas sudah!
Kamis 16 Juli 2009 pukul 09.15
Gayatri Nadya dinyatakan LULUS dalam sidang skripsinya!!
YIAY!!
Finally i’m done after four years studied and four months struggling with my thesis!
Feel so Grateful with all i got and thankful for everyone who helps me through this
:)