Sunday, July 12, 2009

Waiting For The Execution Day

Untuk ketiga kalinya, gue gak bisa dateng (lagi) ke Malam Final Abnon DKI Rabu 15 Juli nanti. Kalau dua tahun lalu, gue harus bed rest karena terkena typhus dan tahun lalu karena gue lagi volunteer di Taiwan, kali ini karena besoknya (tanggal 16) Insya Allah gue akan mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan skripsi yang udah bikin gue skip selama 3 bulanan ini.
Yah!
Tough choice memang tapi gue masih tau mana prioritas gue saat ini.
Ibaratnya, sekarang udah tinggal satu langkah lagi then, I’m done, like a chicken!
Bisa dibilang sebulanan terakhir ini masa yang bikin gue ketar-ketir. Semua anak-anak di jurusan terutama angkatan 2005 tahu betapa males dan underdognya gue. Mereka suka bikin becandaan,”udah Na, semester depan aja!”. Kalo udah digituin, biasanya gue udah gak peduli dan bodo amat. Sempet sih kepikiran buat, ya udahlah yah semester depan sounds not too bad. Apalagi pas gue lagi sibuk-sibuknya (dan menikmati) internship gue di Spice! Kayanya saat itu yang gue pikirin kerjaan mulu. Tapi, mengingat keunderdog-an gue di antara angkatan yang bakal pada lulus semester ini hamper 90% membuat gue berpikir lagi, ntar kalo gak ada mereka, gue bakal males-malesan dan makin gak ada yang yang menyemangati gue lagi dong!
Akhirnya gue mentrigger diri gue sendiri biar bisa lulus semester ini.
Skripsi setebal (Cuma) 80-an halaman itu udah ada di tangan pembaca gue yang notabene orang hebat di jurusan. Dengan berbagai revisi akibat bahasa Indonesia gue yang dinilai amburadul akhirnya gue mesti bolak-balik benerin.
Kehectican ini makin menjadi, apalagi pas gue tiba-tiba dapet telfon dari Bang Nurman, bos tempat magang gue dulu, The Maker Online. Dia nanya apa gue udah lulus belom, gue jawab belom. Tapi dia nawarin buat jadi copywriter di kantor temennya. Well, since I got nothing to lose, I sent them my curriculum vitae. Not so long, they called me back!
And goes the interview followed by contract signing, I become copywriter at Interact Carlson Marketing.
Sebenernya kantor ini sejenis agency marketing (as I googled) tapi mereka juga punya advertising agency.
Anyway, I’m not gonna talk about my work here.
Dengan kehebohan kerjaan dan kampus yang masih harus bikin gue ribet, gue ngerasa butuh suntikan energi haha-hihi dari temen-temen gue. Karena kita semua lagi heboh ngurus hidup masing-masing, Idha, Ano ,Ucy juga mau siding (and theirs went well,Congrats fellas!) Tiar ribet ngurus keperluan buat ke Swedia, Fauzan menikmati siaran-siaran terakhirnya, Alex dengan blog barunya, dan Vicky ..apa yah kesibukan kamu? Hehe Intinya sih, gue selalu pengen ketemu mereka-mereka ini, meskipun kesibukan di tengah-tengah gak bisa dihindari.
Ajaibnya, di tengah kehectican masing-masing, kita malah ketemu cukup sering selama 2 minggu ini. Mulai nememin sidang Idha sama Ano, terus farewell Fauzan di Hard Rock, ke kawinan anak Abnon 2008, sampe ke RTC dengerin siaran Movie Trax ditutup dengan mie Aceh plus ketawa-ketiwi sampe jam 2 pagi!
Well, it helps me a lot! That haha-hihi thingy boost up my energy and my mood, at least lessen my nerve to face that day.
I still need it though for the next four days, fellas!

Saturday, June 27, 2009

Ketika Cinta Romeo & Juliet Bertasbih Di Dadaku






Akhirnya, saya menonton juga film Garuda di Dadaku, Sabtu 27 Juni 09 ini. Untuk ketiga kalinya antri dan gagal mendapatkan tiket, malam ini terpuaskan sudah hasrat untuk menonton film yang (katanya) sangat direkomendasikan ini.
Sebelumnya, saya sudah menonton Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang sempat heboh dengan tagline 'ASLI MESIR' itu. Sebenarnya saya tidak begitu ingin menonton film ini, apalagi dua teman saya, Ucan & Dian cerita panjang lebar sepanjang Jakarta-Anyer betapa 'sinetron'-nya film ini. Saya pribadi mencoba selalu menonton semua film Indonesia (yang cukup bermutu pastinya) dan juga karena ada teman saya yang main di KCB.


Secara keseluruhan saya memberikan nilai 4 dari 10 buat KCB
Kekuatan film ini memang ada di pemainnya. Aktingnya oke dan terkesan natural, malah cenderung lucu terutama pemain yang menjadi teman-temannya Azzam.
Sayangnya, alur cerita membuat saya bingung apalagi saya memang bukan pembaca bukunya.
Ada bagian yang seolah-olah terasa melompat. Pertanyaan saya, sebenarnya Sarah yang meneror Furqon itu siapa dan mengapa Furqon diteror (at the first place)?
Sinematografi yang paling disayangkan dari film Asli Mesir ini, blue screen yang terlihat sangat film tahun 70-an (since it looks so vintage in technology). Ketika Adegan ketika Azzam sedang masak di pinggir laut. Entah apakah akan terjawab di KCB 2, we'll see. Satu lagi, begitu banyak hard-sell yang ditampilkan dalam film ini menjadi kesinetronan film ini makin menjadi.
To KCB producers and (especially) writer please remember this is movie not soap opera,but i do remember this is business as well!
Saya jadi ingat kata-kata Kang Abik,sang penulis, ketika film Ayat-Ayat Cinta (AAC) meledak tahun lalu. Ia ingin film berikutnya (KCB) lebih mendekati dengan bukunya, termasuk pemainnya. Oke, pemain KCB sudah cukup baik tetapi unsur lainnya jadi sangat berbanding terbalik, Sorry..
I prefer AAC than KCB.

Film berikutnya ternyata juga masih menjual beberapa produk sponsor di dalamnya, untung saja mereka tidak 'sekuat' itu menjualnya.
Mengomentari Garuda Di Dadaku (GDD), Sepertinya semua orang bisa menilai isi cerita dan pesan moral yang sangat universal dalam film ini. Simple,touchy and it belongs to everybody!
Film Indonesia yang berusaha memperhatikan realitas anak-anak di negara ini sejauh ini baru film ini dan Laskar Pelangi. Lagi-lagi kita disuguhkan kenyataan ketika seseorang yang punya mimpi tinggi harus terhalang oleh orang lain atau uang.
Saya cukup tersentuh melihat persahabatan Bayu dan Heri yang sangat tulus apalagi latar belakang Heri yang anak orang kaya sedangkan Bayu sebaliknya.
Sayangnya, karakter Heri kurang diperdalam dengan konflik dirinya sendiri atau dengan Bayu. Satu lagi, saya sedikit bertanya-tanya, apakaha benar anak seusia itu bisa berbicara banyak tentang mimpi dan hidup sampai setinggi itu? Kalau iya, saya acungi empat jempol!
Klimaks bagi saya, jelas di adegan ketika pengumuman Bayu lolos seleksi timnas.
Tanpa ada dialog panjang lebar, akhir film tersebut benar-benar seperti apa yang saya bayangkan.
Baju merah dengan garuda di dada kiri sudah dipakai Bayu dan ia siap berlaga di bawah sorotan lampu stadion. I can imagine how does it feel to be there!
GDD mendapat 8.5 dari 10


Lalu, kenapa ada Romeo&Juliet (R&J) di tengah-tengah itu semua?
Beberapa waktu lalu, saya dan dua teman nekat nonton R&J di bioskop terpencil dekat rumah. Sudah tidak ada lagi yang memutar R&J kala itu.
Setelah menonton, teman saya yang memang bukan penggemar bola Indonesia tapi fans Bayer Munchen, berkomentar film ini terlalu 'berani' mengangkat isu sensitif ke dalam film.
Saya,yang sama sekali tidak paham bola, berpendapat mungkin memang tujuannya memberikan gambaran kehidupan yang paling nyata dari penggemar bola.
Bedanya dengan GDD, yah memang beda.
Kalau GDD mengusung bola sebagai 'mimpi' yang ingin dicapai dengan cara apapun, R&J justru menjadikannya sebagai 'sekte' yang membuat penggemarnya mau melakukan apapun demi bola.

Bayu bisa berkata 'tidak' bahkan pada Heri dan impian menjadi pemain nasional dengan bakat terpendamnya itu demi cintanya pada sang Kakek, tetapi ternyata cinta Rangga pada Desi masih terkalahkan dengan cintanya pada Persija.

Sunday, June 07, 2009

Reminiscing Good-Old Times

Gue baru saja membuka facebook pagi ini dan melihat postingan foto terbaru dari Adis, my beloved bradda' yang masuk finalis Abang None Pusat '09. Pasti dia lagi euphoria karantina dan lagi senang-senangnya!
It's brought up my memories of 2007, rindu sekali!
Jadi pengen intip-intip foto jaman dulu sampe sekarang dua tahun berlalu..





Awful Face on My First Morning of Twenty-Two

Okay, after my long speech about me no likey surprises, the next morning i got one from my beloved Gank Bandung.

actually i already read the hint from days before,
#1 i went to Vicky's room, and accidentally i saw his calendar marked on May said,planning Nana's birthday!! Okay,i was thrilled to read it, but it's better not knowing yet. I didn't take it seriously thou

#2 on my birthday-morning, Ucy sent me text and post something on Plurk which gave hint about surprises, well not really hint because she really did tell me, that she can't join the surprise 'coz she has to work. And by that time they haven't arrived yet!

It was still surprising since they broke in to my messy room and i haven't showered yet,darn photograph!
These are pictures from my room and i wanna tell them how much i love them, truly ;)



Just Forget The Past

Hari ini gue bermalas-malasan saja sambil menunggu mood booster buat ngerjain revisi analisis skripsi gue. Sendiri saja semua orang pergi.
Seperti biasa gue jalan-jalan di dunia maya, plurk, twitter, facebook, youtube etcetera menjadi distraction saat itu.
Gue lagi liat-liat followers di beberapa account temen-temen gue, sekalian biar nambahin orang buat difollow, and all the sudden i saw new post from my high-school friend ngomongin tentang pemenang arisan yang diposting 2 hari lalu which means arisan Juni. Well, i wasn't invited even thou i know some news about it,damn! Gue juga jadi inget kejadian beberapa hari lalu, gue inget salah satu temen sma yang lumayan akrab lagi di Jakarta. Biasanya kalo dia lagi di pulang dia selalu ngajak ketemu, and she did. Waktu dia ngucapin ulangtahun ke gue,dia juga inform kalo dia di Jakarta minggu ini and she wanted to meet up. I said okay but make it on weekdays.
Gak ada kabar dari dia trus tiba-tiba gue baca wall to wall dia sama salah satu temen gue juga, kalo mereka janjian mau ketemu sore itu di salah satu mall di Jakarta Selatan. Gue pun nanya via wall (ini dia kesalahan seorang yang gak pake mobile device,meaning very mobile) dan dibales pas udah malem.
Akhirnya gue gagal pergi ketemu mereka padahal hari itu gue cukup nyampah.

These recents news make me think about how i left them over my current friends or they did left me?
Emang gue akuin, sering banget acara-acara kumpul temen sma sering gue lewatin. Alesannya kalo gak emang bentrok sama acara yang udah gue bikin, selalu diadain di hari yang gue gak pernah bisa, Jumat which i have to stay at RTC produced Movie Trax. Apa karena gue yang selalu gak bisa ikutan jadi membuat mereka gak mau ajak gue lagi? Atau memang gue udah left-out di society yang gue posisikan mereka sebagai temen hura-hura gue semasa sma?
I don't know
But it makes me think do we have to left our past away and just stay with the current now?
It happens if we talk about our past love life,we did leave it all behind but this relationship supposed to be last forever(if friendship that we're talking about).

And i admit it, i am more comfortable with whom i spend most of my days, my college fellas. By comfortable means it's like daily routine and they are my comfort zone so far.

Kadang-kadang gue kangen masa-masa sma dan teman hura-hura itu,tapi kalo kejadiannya gini, am i missing something that i'm not even count on?

Thursday, June 04, 2009

More Surprises to Come

Year 2009,another birthday celebration

i only celebrate it with my dearly thesis-draft which i just get it from my lecture. I don't expect anything from anyone. People may thought i expect some surprise from my closest-friends but i think all the blessing they gave and support are enough.
I don't like surprise recently.

Last year when i celebrated my twenty one birthday,i didn't do it alone. My significant other gave me surprise that i never expect before,ever!
Since he was only my friend, who can shared his weird thoughts, keep on mocking me, and to be honest blown my mind.
I was too afraid thinking he might had something for me since we were close but not that much. After he popped the question -no, he wasn't asking me to marry him,i was so shocked! It was one of surprised that i never expected before but i like it.

After while, another surprises made from my fellow Abang None,and then he didn't show up to say 'Happy Birthday'. It was surprising,because i thought he wanted to make it special that day.But he did and year goes by it's still surprising.

he's not kind of guy who'd like to say those three magic words
also not the one who'd worship you and keep telling you that you are beautiful or something like that.
he may telling the truth about what he doesn't like about you and you may do the same thing without hard feeling after all.

Unsurprisingly, i could stand with all the cynical thingy and criticism that he made over me.
Surprisingly for me after year goes by all those butterflies keep on flying on my stomach and i can't lost it everytime i think about what we've been through and giggling, remember those silly stuff about us.

I want more surprises from this for the next next time and surprisingly it won't take so long to count it ;)

Monday, July 14, 2008

And The Boy That Im Going to Miss..



Siang ini di kamar volunteer #2, saya sedang berkumpul dengan semua volunteer. Setelah review dan recap apa saja yang akan dilakukan esok hari, kami bercanda-tawa sambil makan-makan kecil. Tiba-tiba saja, Jean, salah satu volunteer asal Taiwan teringat sesuatu dan ia memberikan kertas kecil putih sambil membacakannya.


Kira-kira Artinya :
Brothers Sisters, I love you and please don’t forget me. Im not gonna forget you.I come back again soon. Bye-bye.

Ah, saya jadi teringat pada Yu-Chun, si kecil dari tiga bersaudara yang menulis itu karena hari ini ia dan kedua kakaknya meninggalkan Taiwan Christian Faith Hope Love Children’s Home, tempat saya magang sebagai volunteer atau social worker liburan ini. Dia salah satu anak favorit saya dan saya sudah cukup terbiasa dengan tingkah lakunya yang menggemaskan meskipun terkadang sangat hiperaktif.
Tempat ini sekilas terlihat seperti panti asuhan (dengan versi yang lebih canggih dan terawat pastinya) yang kalo di Jakarta mungkin menampung anak-anak yatim piatu dan kurang mampu. Bedanya tempat ini diprovide sama pemerintah dan dibantu sama NGO dan juga social workernya. Background anak-anaknya juga beda-beda, dari yang memang dari kecil sudah tinggal di sini karena mereka ditemukan di tempat yang tidak appropriate atau ada juga yang tinggal di sini sebagai ‘pelarian’ dari rumah mereka. Dari mulai anak-anak yang orangtuanya nggak mampu ngebiayain mereka sampai anak-anak yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Nggak heran mentally mereka needy banget sama orang-orang di sekitarnya terutama sama volunteer yang datangnya belum tentu satu tahun sekali. Mereka bisa dibilang, physically, in a very good condition. Artinya perawakannya bersih, sehat, dan capable buat melakukan aktivitas-aktivitas yang kita buat. Kalau kita lihat lebih dalam, mereka rata-rata terlihat lebih muda dari umurnya. Ada satu anak perempuan yang mengaku umurnya 12 tahun tapi fisiknya terlihat seperti anak usia 6 tahun. Lain lagi dengan anak laki-laki yang perawakannya tinggi besar dan cenderung gemuk, bicaranya agak tersendat dan sulit menangkap apa yang kita ungkapkan. Hal ini terjadi pas Saya assist dia ngerjain summer homework. Saya ngebacain vocabulary dalam bahasa Inggris. Waktu Saya minta dia ulang kata-kata itu, sulit sekali untuk mengulang kata-kata itu. Memang buat beberapa orang yang terbiasa pakai bahasa Cina, bahasa Inggris menjadi sangat sulit karena beberapa abjadnya tidak mereka dapat dalam bahasa Ibu mereka. Tapi saat itu Saya hanya memberikan 4 kata dan dia tidak bisa mengingat bahkan mengulangnya sama sekali. Di akhir sesi itu, turns out gurunya memberi tahu saya bahwa dia memiliki sedikit keterbelakangan mental. Saya pun mengerti dan makin jelas ketika Saya baca tulisannya (dan Saya kroscek sama volunteer asal Taiwan), dia nggak menulis the exact words of Chinese.
Hari ini libur namun kami semua bangun pagi untuk melepas kepergian 3 anak yang akan pulang ke rumah. Salah satunya, Yu-Chun. Agak terlambat memang, namun kejadian pagi ini saya rasa menjadi awal dari rasa keterikatan yang ada pada diri saya sampai tanggal 18 nanti saat service di Children’s Home ini berakhir.
Sejak dua hari yang lalu, Saya sudah diberi tahu kalau ada sekitar 9 anak yang akan pulang ke rumahnya. Seperti biasanya kami bangun jam 6-an dan siap-siap sarapan jam 6.20. Setelah itu biasanya kami tidur lagi, dan karena kami tahu anak-anak itu akan pergi jam 10-an, kami sudah siapkan alarm supaya bangun jam 9-an. Nah, ketika Saya sama Jean mau ambil barang di kantor, kami melihat tiga anak itu udah siapin barang-barangnya di hall. Jelas aja kita heboh karena volunteer lainnya masih pada tidur. Langsung Saya dan Jean bangunin mereka dan akhirnya kita sempet main-main dan foto-foto. Nggak lama, kita dikasih tau kalau bapak anak-anak itu udah sampe dan mereka siap buat berangkat. Terkaget-kaget lah Saya, ternyata mereka masih punya orangtua. Penasaran dengan bentuk rupa bapak yang membiarkan mereka tinggal di children’s home sedangkan mereka masih ‘ada’.

Children’s home ini terletak di daerah semi pedalaman buat Saya. Perlu 4 sampai 5 jam naik mobil dan perlu kendaraan lagi untuk masuk ke lokasi Children’s Home ini. Keluar dari jalan kecil ini kita masih bisa menemukan 7 Eleven dan beberapa restoran kecil. Tapi untuk mencapainya, mustahil tanpa kendaraan. Apalagi sekeliling Children’s Home banyak perkebunan. Konon lokasi ini dibuat dengan sengaja karena (konon juga) anak-anak itu bukan dengan ‘restu’ orangtuanya tinggal di children’s Home. Ada peraturan juga mengenai pelarangan publikasi foto wajah anak-anak itu. Khawatirnya bagi mereka yang orangtuanya tidak mengetahui keberadaan anak-anak mereka, bisa saja mencari dan mengambil kembali anak-anak yang sudah tidak mereka urus itu. Masih meninggalkan banyak tanya, bagaimana mungkin jika satu orangtua yang masih sanggup memiliki kendaraan (atau menyewanya) justru menelantarkan anak-anaknya di Children’s Home. Yah, memang di sini semua kebutuhan mulai makan 3 kali sehari, tempat tidur, bahkan kegiatan wisata seperti outing bisa didapat dan dilakukan bersama guru-guru yang juga tinggal di sini. Mereka butuh lebih dari itu. Saya rasa kasih sayang orangtua itu priceless. Masa sih karena ketidaksanggupan mereka membiayai hidup anak-anak mereka lalu mereka menyerah dan membiarkan anak-anak itu kehilangan masa kecilnya dengan orangtua mereka berlalu begitu saja.
Atau mungkin kasih sayang mereka sebatas itu saja, mereka belum mau berkorban atau berusaha lebih keras demi hidup berdampingan dengan anak-anak yang (seharusnya) mereka sayangi.
Entahlah.
Untuk mereka yang terbuang atau teraniaya Saya nggak bakal berkomentar banyak.


Laki-laki itu berperawakan sedang dengan kulit yang coklat terbakar dan nggak kayak orang-orang Taiwan yang selama ini Saya lihat. Dia datang dengan mobil sejenis kijang ditemani oleh satu orang laki-laki juga tapi nggak terlalu jelas. Nggak lama, tiga saudara ini masuk ke kantor setelah sebelumnya dadah-dadah sama kita yang ada di lobby. Selang beberapa menit, mereka keluar lagi dengan mobil itu sudah siap meluncur di depan kantor dan bagasi mereka juga sudah masuk ke dalam mobil. Satu persatu mereka masuk ke mobil. Kaca jendela mobil terbuka dan dari dalam mobil, dan dengan suara kecil mereka,
Bye bye, Jiejie.
That’s the final goodbye. And it breaks my heart.

Monday, June 30, 2008

10 Things We (Might) Do To Look a Like Taipei Citizen

Hey Its my 3rd day on Taipei, Taiwan. So far all good beside all the taifun and humidity thingy. First night i arrived at Taipemex, the guesthouse i stayed in, i kinda shocked. Gue pikir gue bakal tinggal di hotel melati-melati gitu at least bintang dua lah. Turns out it’s a backpacker gusthouse yang terdiri dari lima kamar dengan dua shared toilets and bathrooms. Lucunya ada ruang keluarga, dapur, tempat cuci baju, balkon, dan yang paling penting dua komputer with internet connection! Yiay! It’s kinda my lifesaver since i want to post everything i do here from Facebook and this blog, i really need internet to get connected with my friends over there. So, my first day is not that bad. Alhamdulilah banget, buat gue kamar mandi penting apalagi toiletnya. Meskipun sebelum diwarning kalo orang sini pada nggak suka istinja pake air, ternyata they provide it. Oia, gue juga mau memperkenalkan orang-orang yang di sini. My room mate, Yeon Jeong Kim alias Kelly, backpacker asal Korea yang udah backpacking sejak satu setengah tahun lalu. Dia udah muter-muter dari Australia, Singapore, Malaysia, Macau, Thailand, Brunei, Hongkong, and Taiwan as a last stop. Pertama gue kira anaknya jutek, eh ternyata baik banget and we spent our day together visited Taipei 101 Building, The Tallest Building in Asia. Dari atas gedung ini kita bisa liat hampir keseluruhan kota Taipei dari bagian yang paling tinggi. Kalo malem, God, citylighstnya parah! Bagiann kotanya bener-bener keliatan sampe ke pegununannya. Fyi, bangunan ini ada di lantai keenam setelah lima lantai sebelumnya adalah shopping center yang full of branded stuff. Ada Vivianne Westwood, Michael Kors, Tommy Hilfigher, dan juga restoran bergaya Inggris yang katanya butuh NTW$6000 (sekitar 1,8 juta Rupiah) perorangnya! GILA! That’s why, tiket buat naik ke observatoriumnya it’s cost NTW$ 400 atau sekitar Rp 120.000 dan harga tiket ini lebih mahal NTW$ 100 dari pada sewa kamar semalemnya di Taiwanmex yang cuma NTW $ 300/malam. Bayangin aja lo nginep di sini nggak sampai seratus ribu permalam pakai AC! Nah kan jiwa promosi gue keluar lagi. Aniway, ada juga nih Kimpo, orang Amerika keturunan China yang jadi temen jalan dan makan gue selama di sini dan finally, temen gue nonton Sex and The City! Hayo siapa yang bilang di sini di dubbing :P Gue seharian muter-muter dari mulai Longshan Temple, klenteng yang lumayan famous terus gue dan Kimpo ke nightmarket di daerah Shilin. Nightmarket di Taipei ada banyak dan salah satu tempat yang happening di sini. Yah, tempat hangout anak muda gitu deeh!
(dengan gaya ngomong ala Alexander Kusuma Praja) di sana juga jual banyak makanan yang biasanya masuk bizzare foodnya Travel and Living. Misalnya stinky tofu, tahu yang difertmentasiin jadi punya bau yang menyengat, terus ada chicken and duck neck alias leher ayam atau bebek yang pada digadoin dan antriannya naudzubilah minzalik, hampir nyamain panjangnya antrian J.Co zaman baru dibuka! Ada juga foodstall yang kecil-kecil jual kaya rebus-rebusan bakso, daging, sayap ayam, xiao long bao versi besar, sampai darah babi yang dijadiin kotak-kotak terus ditusuk pake tusukan sate! Sayangnya, gue dan Kimpo sama-sama cupu buat nyobain semua itu. Gue memilih makan takoyaki versi Taipei dan Kimpo milih makan bakpao isi daging yang segede-gede gaban dan minuman sejenis ice blended rasa mangga dengan jeli dan mangga asli dan ice blended red papaya with coconut milk puding buat Kimpo. Enak banget!
Selanjutnya teman sesama intern yang baru aja dateng Jumat(27/6) kemaren, Kasia Daniliszyn orang Polandia yang udah jadi warganegara Amerika. Gara-gara dia invasi mendadak ke tempat gue bareng Alex (My Host), gue jadi ikutan nemenin mereka pergi hari ini. Niatnya mau pada ke Taipei 101 tapi karena gue udah ke sana, jadinya kita ke Chang Kai Sek Memorial Hall. Gue emang udah lama pengen ke sini, tempatnya sejenis benteng yang terdiri dari dua bagian, yang pertama sejenis benteng selamat datang satunya tempat gold statue si Chang Kai Sek ini plus exhibition hall sebagai ruang pamer lukisan sama guci-guci antik khas China gitu. Chang Kai Sek adalah presiden pertama Taiwan yang tadinya berada di bawah kekuasaan negara Cina lainnya dan akhirnya dianggap berjasa karena bisa menjadikan Taiwan negara yang berdiri sendiri.Nah, makanya ada patung dia segede itu yang terbuat dari emas. Di sini juga ada National Theatre dan National Concert Hall yang biasa dipake buat art performances baik artis lokal maupun Internasional. Tangga menuju statue Chang Kai Sek itu panjang banget padahal ada lift! Haha gak apa-apa deh itung-itung olahraga :P di sinilah tragedi terjadi, pas gue udah setengah jalan balik ke MRT Station, Kasia ngerasa kameranya gak ada di tas, terus berhentilah kita dan mengaduk-aduk tasnya. Gue ngeliat ada kamera di bagian bawah tasnya, ternyata dia bawa dua kamera! Oh Damn! Gue bilang mungkin ketinggalan di toko jadestone tempat dia beli gelang gioknya. Balik lah kita ke sana, nanya-nanya si mbak-mbaknya katanya suruh lapor ke bagian security. Yah, nggak beda jauh sama keamanan Indonesia, mereka bilang nggak ada yang ngelapor dan disuruh ninggalin nama dan nomer telepon. Dalam hati sih gue bilang, yaelah kapan-kapan deh beneran dihubungi. Kasia nggak patah arang, dia coba balik lagi ke lantai atas, karena dia bilang terakhir di sana dia masih foto-foto. Kali ini kita naik lift :P
Hasilnya nol! Lebih parah karena securitynya nggak bisa bahasa Inggris sama sekali, pas gue peragain ‘foto’ dia malah nunjuk dan bilang ‘Lai’ yang artinya silakan! Lah, dikata gue mau moto kali yah? Yaudah pupus harapan deh.
Abis itu kita minum di coffee shop seberang CKS sekalian duduk-duduk. Seperti yang udah gue bilang, di Taipei lagi banyak taifun jadi sering hujan dan berangin. Kebodohan dimulai, minuman udah abis tapi kita masih ngobrol-ngobrol dan karena berniat mau ke Danshui sejenis pelabuhan yang lumayan jauh kita agak buru-buru mau ke stasiun. Even though gue tau di luar masih ujan, kita tetep keluar dan jalan menuju stasiun yang jalannya sekitar 15 menit dari CKS. Tiba-tiba baru 3 menit jalan, ujannya tambah deres dan gue sempet menyarankan jalan lewat dalem CKS aja biar nggak keujanan, entah karena bolot atau gue nggak jelas ngomongnya, Kasia tetep jalan menuju stasiun yang masih jauh banget. Gue akhirnya jadi setengah berlari jalan dan hujannya nggak ngerti kalo kita nggak mau keujanan makin deres plus petir geladak-geluduk. Akhirnya kita mempercepat langkah, dengan agak panik ternyata Kasia takur sama petir. Setiap dia ngeliat kilatan petir dia setengah teriak ngejauhin payungnya. Awalnya gue kaget jadi ikutan teriak juga deh. Nah, makin deket tenda di tengah-tengah monumen selamat datangnya, petirnya makin gede dan perempuan bule ini makin ekstrim, dia teriak sambil setengah ngelempar payungnya jadinya dia basah-basahan gitu! Oh my God! Gue biasanya nyantai jadi ikutan panic at Chang Kai Sek juga deh gara-gara nih bule.
Finally gue berteduh di tenda kecil dan dikasih sejenis dispossable raincoat yang menurut gue agak mirip trash bag dan gue merasa seperti trash :P and we look like mess there basah kuyup from head-to-toe yang paling parah kehehohan pake teriak-teriak itu loh yang menurut gue nggak banget! Huhu
Well, moral of the story you have to stay somewhere dry and safe when its raining J
Hehe
Malam ini gue putuskan buat stay at home (yeah, i tend to call it home now) dan keluar Cuma cari makan di deket-deket sini. Gue juga berusaha buat tidur lebih cepet dari biasanya, yah biasanya berarti dari habit gue di Jakarta yang biasa tidur minimal jam 2 kalo nggak online dan posting yang aneh-aneh di Facebook atau telpon-teleponan sampe Subuh. Dan setelah semalem diajak ngobrol berat banget sama salah satu penghuni lainnya, Graham yang ngakunya dokter dan kerja sama pemerintah Cina buat ngembangin health services di Taiwan. Di saat gue lagi chatting-chatting sama pacar gue yang jarang online itu ;) tiba-tiba dia dateng, awalnya Cuma minjem komputer bentar karena komputer satunya lagi down terus dia nanya-nanya tentang kerjaan bokap dan tiba-tiba ngomongin dollar Amerika yang katanya (sebenarnya) dipegang sama orang-orang Cina dan mereka berusaha buang-buang uang di negara-negara ketiga kaya Indonesia juga. Dia bilang, kalo gue bisa menghubungkan ke salah satu orang penting di Indonesia, dia bisa bantu proyek itu misalnya proyek-proyek di Indonesia yang nggak selesai karena kurang dana kayak subway atau monorail. Dia ngasih contoh, di Calcutta India, akhirnya mereka bisa punya subway karena dapet bantuan dari Cina yang costnya hampir 2 triliun USD! HA! Gue setengah percaya setengah nggak sih, secara kalo lo liat orangnya agak nggak meyakinkan. Pertama kali gue ketemu dia, gue ketakutan gara-gara gue kayaknya cewek sendiri di antara cowok-cowok itu. Dan perawakan dia yang tinggi besar dan botak, yah tipikal cowok Eropa gitu bikin gue makin serem. Apalagi percakapan berlangsung di ruang tengah yang sepi karena udah pada tidur plus it was 2 AM in the morning. Well, gue akhirnya berhasil mempercepat percakapan dan balik chatting sama si pacar yang sempet gue cuekin beberapa menit *Maaf yah Vick ;)
Yaah, beginilah kehidupan gue selama tiga hari ini cukup banyak kejutan. Gue akan menunggu kejutan-kejutan lain di hari-hari berikutnya apalagi Senin besok Kelly balik ke Seoul dan Kimpo balike ke California sedangkan gue bareng Kasia dan dua orang Belgia bakal mulai internship ini.
Well, just wait for another shocking story and next destination : Kaohsiung, Southern Taiwan.
Zai Jian!

10 Things We (Might) Do To Look a Like Taipei Citizen
10. Little bit close our eyes, then we pretty similar to them
9. Eating lot of noddle or anything with beef
8. drink their style tea with or without pearl
7. Hang out on Night market and also eat their such a weird food
6. Kungfu Panda Rocks! And Ano Noir would be glad to hear that ;)
5. Watching talent show sejenis Mama-mia sambil makan di warung-warung mie
4. Going Back home before 11PM because the city sleeps early x(
3. Taking out you pet around the city and don’t forget to get’em to pet saloon before it.
2. Walk along the city. Heels shorts and miniskirt? That’s okay baby!
1. Bawa payung kemana-mana mau panas ujan bechek gak ada ojhek, yaiyalah gak ada ojek payung ato ojek motor di sini !

Thursday, March 20, 2008

Alang-Alang, easy dining

Beberapa kali lewatin daerah Kemang, gue dan my so called eating buddy, Rya, selalu penasaran sama satu tempat yang lokasinya berada di bangunan yang sama dengan The Bedroom.
Alang-alang.
Tempatnya di lantai dua, dan di depan kacanya ada signboardyang ada 'alang-alangnya'. So, I'm expecting about Indonesian food. Tapiii, setelah melihat menu di lantai satu, ternyata nggak cuma makanan Indonesia aja, kebanyakan malah western dan oriental.
Pas gue masuk, interiornya terkesan pewe banget. Ada sofa-sofa menghadap ke jalan, bagus banget apalgi pas malem banyak citylights trus ada juga versi lesehannya, penuh sama bantal-bantal gede yang empuk. Sayangnya, ada keanehan buat gue, jadi disebrang bagian lesehan, ada kursi-kursi kayu yang ngingetin sama rumah Joglo ala Betawi plus payung-payung jadulnya yang dipajang di dinding. Wew, menurut gue agak nggak matching nih! Yasudalah, akhirnya gue milih duduk di lesehan.
Mari kita jelajahi menunya! Awalnya gue tertarik sama nachos with cheese, atau mozarella cheesenya. Tapi pas lihat-lihat main coursenya, ternyata banyak yang menarik. Menu westernya ada steak, ribs, chicken cordon bleu, pasta carbonara, sampe pizza. Kalo tertarik makanan oriental, ada chicken hainan, kungpao chicken dan makanan tahu-tahuan (maap, lupa namanya!). Jangan lupa juga menu Indonesianya, dari mulai soto ayam, soto tangkar, nasi goreng seafood, tongseng juga ada di Alang-alang.
Akhirnya gue dan Rya pesen spagetti aglio olio (for Rya, as always) spagetti tom yam buat gue, trus side dishesnya fried champignon plus mushroom soup,yang salah order.
Minumnya Ice lemon Tea dan Snowy Ice Lychee. Buat Pizza dan Ribsnya harganya sekitar 30.000-an, kalo nasi-nasinya 15.000-25.000an.

Daan akhirnya pesenan datang juga! Hore!
FYI, hari itu gue dan Rya makan siang dengan menu seafood di tempat yg terpisah. terus pas sebelum ke Alang-Alang, sempet 'nyicip' pizza di Marzano, about 2-3 slices. Jadi sebenernya kita nggak laper-laper amat, tapi kenapa langsung nge-babon pesennya? hehe ;)

Pas liat penataan spagettinya, menarik banget! Spagettinya di tengah piring putih lebar plus garnish daun-daunan keliatan model penataan di hotel gitu. Spagetti tomyamnya pedes banget! Isinya lumayan lengkap ada udang, jamur sama cumi. Cuminya juga nggak pelit. Terus aglio olionya lumayan pedes lada, dan porsinya lebih banyak daripada yang tomyam.
Fried champignonnya berisi sekitar 6-8 balls, sayangnya agak kecil ukuran jamurnya dan kebanyakan tepung panirnya. Saus tar-tarnya pun juga agak nanggung kaya mayonaisse biasa. Mushroom soupnya lumayan. Tadinya gue pikir bakal kaya soup instant yang warnanya putih gitu, ternyata warnanya item pekat which means..real mushroom!Rasanya agak pahit tapi pas, nggak keasinan atau nggak berasa. Sayangnya roti taburannya terlalu kering dan tipis banget.
Buat minumannya, Ice Lemon Tea standart laah, tapi yang bikin shock, dengan gelas seukuran semi gelas bir, cuma dihargai Rp 5.500 aja!!! WOW!
Snowy Ice Lychee-nya standart, malah Rya bilang kaya buavita x) tapi Lycheenya banya dan gede-gede kok!But, basically, gue puas sama Tom Yamnya, pedes, berasa banget Tomyamnya tapi juga seger, kerasa daun jeruknya. Porsinya pas buat yang nggak gitu laper tapi ngebabon ;)

Ini bagian paling penting!
Total kerusakan:
Spagetti aglio Olio 16.500
Spagetti Tom Yam 16.500
Mushroom Soup 13.500
Fried Champignon 9.500
Snowy Ice Lychee 14.500
Ice Lemon Tea 5.500
TOTAL dengan tax 15% = 86.000-an!!!

Menurut gue di daerah Kemang lo makan dengan harga less than 20.000 udah jarang banget! apalagi tempatnya sepi, nggak kaya Food Fest.
Boleh dateng lagi nih besok-besok, cobain duduk di sofa pluss bawa Laptop karena free wi-fI!!

Well, sepulangnya gue ngerasa fuuuuuuuuullllllllll banget karena rencana awal nyari 'dessert' aja akhirnya malah 'fine dining' beginiiii x)