Tuesday, September 27, 2016

When ‘How Are You?” Is Not An Easy Thing to Answer.

Most of people say how are you? or Apa Kabar? to greet each other when the 1st time they met.Mostly, people (in Indonesia) will just answer briefly, i’m good even though they were not. It was just fatigue answer. In the past two months, i was getting used to say those words to most of the people in the camp to actually ask how they feel. First of all, we use that to actually check on each other, mostly staffs, in case something happen during the day. Since a whole month camp become very intense day by day, it changed very fast and it’s important to check on each other everyday. One day, i told one of the staff (i forget whom), i suddenly become very bored everytime everyone ask me those question. I don’t feel like i really needed to answer to those five times a day. But then, when there was a breakdown, kids cried, adults cried (too), someone is sick or anyone really stress, i feel like we really need to express on those question.

I wasn’t really open to my feeling to random people, or people i don’t feel really close. That’s why, i usually just answer “oh yeah, i’m fine. I’m good.” or anything else sounds fine to those who asked. Then i realized, what if they really do care and want to know what i feel that time? I actually kind of person who very explicit about something, but when it comes to feeling, it depends. Then, i try to put on those situation to some of my relatives and friends. It’s not only about greetings, i actually care about some people and i really want to know how they feeling, or is everything okay with their life, but yet some of them didn’t take me seriously. Or maybe, they just don’t want to open up with me. Or they just not ready to open up yet. Maybe.


Another things i learnt from my previous camp, about how we can support others. It came up during the preparation of the staffs before everyone arrived. Then, we put all those words in our staff office a.k.a aquarium. It was right next to me and i can see it every second i sat there. It means a lot that time. How can we support you? By listening to you, by giving advice, by holding your hands or simply quiet time together side by side? Those all the possibilities. And then, if the quiet time together is the way we can support each other, why we have to force someone to talk? or simply force them to answer exactly about the how-are-you question? Well, it’s such an inception moment, but yet it got me thinking, aren’t we all human that once in a while want to hide from those how-are-you question by answer it by those fake smiles or answer?

Tuesday, February 16, 2016

Tiga Jam Untuk Selamanya

Local Work Bantul!
Lima dukuh dalam satu kabupaten di Bantul, Yogyakarta menjadi taman bermain kami bersama tujuh puluhan anak-anak desa sekitar hari Minggu pagi. Hamoir empat puluh menit dari pusat kota Yogyakarta, kami bertemu dengan mbak Wiwid, yang menyambungkan kami dengan teman-teman di Desa Canden, Bantul. Awalnya, tiga tahun lalu program International People’s Project dari CISV menghasilkan mobile library yang menunjang kebutuhan membaca masyarakat di Bantul. Tahun 2016, keinginan untuk mengunjungi kembali sekaligus melanjutkan program MOSAIC CISV x KIJP yang Juni lalu diadakan di Pulau Klapa – Harapan, Kepulauan Seribu.



Energizer, Pemanasan Di Bawah Matahari Bantul yang Panas
Kami mengadaptasi kegiatan teman-teman Kelas Inspirasi, mengenalkan tentang profesi sekaligus kemampuan lain seperti tari, arts & craft, dan juga kegiatan menonton bersama. Kali ini, ada empat belas relawan yang terlibat untuk berinteraksi soft skill.
dengan warga Bantul. Anak-anak dibagi menjadi tujuh kelompok dengan anggota  9-10 orang tiap kelompoknya. Awalnya, kami berharap usia anak-anak berkisar 10-15 tahun tetapi yang akhirnya datang sangat beragam bahkan mulai usia sembilan tahun. Setelah permainan untuk saling berkenalan, tiap kelompok memulai perjalanannya yang diberi nama “Anak Bantul Keliling Dunia”. Konsep awalnya mengenalkan dunia luar dengan berkunjung ke ‘negara’ yang menjadi nama pos-pos. Setiap pos memiliki pengalaman yang berbeda-beda, ada yang pengenalan profesi ada juga yang mengasah
Kak Dayat Beraksi, Kak Ina Sampai Terlena
Nonton Film Boncengan

Selama lebih kurang tiga jam, ada tujuh pos yang bisa didatangi oleh tiap kelompok. Di pos profesi ada Thailand bersama kak Didi yang mengenalkan profesi bidang humas, ada Belanda yang diisi kak Irma sebagai pengamat burung, mengasah kreativitas di Mesir dengan berkreasi lewat gambar daun bersama kak Dayat, lalu saya sendiri di Brazil mencoba membuka imajinasi sebagai filmmaker. Di pos selain profesi, banyak permainan dan kegiatan yang tak kalah seru. Mulai dari arts & craft bersama kak Uke yang membuat boneka dari benang wool, keliling dunia dan Indonesia bersama kak Novi, atau permainan berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan kepercayaan bersama kak Dini. Waktu selama 20 menit pun terasa begitu cepat dan tidak cukup untuk menjabarkan semuanya sampai detail.
 Keliling Dunia dan Indonesia bersama Kak Novi
Setelah makan siang, acara berlanjut dengan menonton film pendek Boncengan dari sutradara Senoaji Julius. Menariknya, film berbahasa Jawa ini ternyata diproduksi masih di wilayah Bantul. Tidak sedikit anak-anak yang menonton bereaksi ketika melihat dan merasa latar film tersebut begitu dekat dengan keseharian mereka. Setelah menonton, rangkaian terakhir dari acara Local Work Bantul ini adalah sharing session bersama kak Made. Ia adalah seorang penari yang besar di Bantul dan kini melanglang buana dan berkarier sebagai penari. Tidak hanya itu, kak Made mengajarkan gerakan-gerakan tari dasar dan juga menantang adik-adik untuk membuat koreografinya sendiri. Tak terasa hari makin petang, saatnya berpisah dengan Desa Canden dan anak-anak yang sebenarnya masih bersemangat.
Dalam waktu yang begitu singkat, mungkin perlu waktu lebih lama untuk akhirnya memahami apa yang kami coba sampaikan pada mereka. Kebanyakan dari adik-adik hanya mengenal dokter, polisi atau astronot sebagai cita-cita. Tidak banyak dari mereka yang pernah menjejakan kaki di luar Yogyakarta, apalagi melihat Tugu Monas. Bisa juga Indonesia hanyalah satu-satunya negara yang ada dalam bayangan mereka. Saya sempat kebingungan ketika kelompok pertama yang datang ke pos saya, segerombolan anak-anak usia 9-10 tahun. Ketika ditanya, apakah pernah menonton film, jawabannya hanya geleng kepala. Ketika dipancing dengan tontonan TV – saya menghindari menyebut judul sinetron – seperti Upin Ipin atau Naruto barulah mereka mulai ngeh. Akhirnya perjalanan menyusun bagaimana film itu dibuat baru bisa muncul di kepala mereka. 
Pos Kak Uke yang Paling Populer
Gengs, You Guys Rocks! Kalian Batu!
Kegiatannya pun saya ubah lebih sederhana. Saya sudah siapkan beberapa kartu dengan tulisan satu buah kata, mereka harus ambil dua-tiga kartu dan mencoba merangkai menjadi sebuah cerita. Kata-kata yang dipilih sudah saya coba pilihkan yang dekat dengan mereka, misalnya Borobudur, sepeda motor atau jadah tempe. Namun, mereka masih kesulitan menyusunnya bahkan untuk memahami kata tersebut masuk dalam kategori apa. Senang akhirnya ada anak-anak yang membuat kisah dari tentang Monas, Borobudur dan bahkan bisa memikirkan ada kejadian menarik (konflik), siapa saja yang memerankan dalam cerita (aktor) sampai menentukan tema (genre) dari cerita yang mereka buat itu apa. Rasanya ada kesenangan sendiri saat mereka tertawa geli akan cerita yang dikarang sendiri atau terperangah dengan gaya kawannya berlakon layaknya aktor jenaka.

Semoga akan ada kesempatan buat bertemu lagi dengan mereka, semoga ada kesempatan untuk mereka bertemu hal-hal asing yang menggugah pikiran mereka, semoga ada kesempatan bertemu dan berbagi dengan teman-teman lain di tempat berbeda, ide-ide yang berbeda.

Tuesday, August 18, 2015

At The Beginning - Amazing Journey of Evergreen Village CISV China (Part 1)

In 2013, I didn’t finished my stories about my very 1st CISV experience in The US for Step Up program. It was one hell of life changing experience. Since then, I promised myself that it was not my last program in CISV. So here I am now, five days after finishing my 2nd program (as a leader) in China and yes, it’s Village.

Two years ago, I met this US Delegation who were attractive, knows CISV well and very outspoken who told me that, “Village is magical for me, it’s wonderful life changing experience”. I was thinking, how come a 14 years-old kid understand some part of their life has been changed when they were 11? That’s how I encourage myself to be village leader. So, in January 2015 – a week after I finished staffing on Youth Meeting in Jakarta- I joined the selection to be leader in Summer 2015. I was submitting to be village leader. And in February (or March, I forgot) I got announcement from chapter leader coordinator that I was selected as village leader and appointed to go to China. Woohoo!

Even tough I have around 4-5 months preparation, the challenge wasn’t become easier. 1st of all, I have to manage to get leave from my office. Apparently, the camp will held on Eid holiday but I still need 21 days in total so I took 17 days unpaid leave. 2nd, to prepare the visa, dance and all knick-knacks for open day etc was not so easy while involving four pairs of parents. As time goes by, I managed all the preparation between my working schedule and personal life. It reminds me, two years ago the US visa really got on my nerves and I almost gave up. Thank God, this year way much easier :D
3rd, We sent 5 village delegation this year but we still missed out delegates to complete the rest. So my delegation was the last to formed and none of them ever joined CISV pre-camp. My work getting harder because we only had one pre-camp and one delegation time. Also, not to mention Razzaa quite busy with his football club so he sometimes has to skip dance rehearsal and meet other delegates.

As the last delegation to depart from our 
chapter, I had a chance to gain story and inputs from my seniors. How to handle 11-sometimes-spoiled-brats-kids, when the best time to have national night and day off, how to deal with staffies, and other adult groups. Even though I myself had CISV experiences, it was still new to me.

Finally, the D-Day is coming! And yes, our departure day was on the exact same day on Eid celebration. It means, most of us had to skip the prayer and miss the chance to meet our big family. Fortunately, it wasn’t a biggie for the parents. We took Garuda Indonesia from Jakarta to Guangzhou for 5,5 hours straight and I don’t have to worry about transit or missing 1-2 kid during travel time. Right after we arrived, there’s bunch of kiddos try to call us and shout “CISV..CISV?” I wasn’t ready for any conversation that ti


me, but then I realized they might be delegations to the same camp. It was Italian and Germany delegations who arrived at almost the same time like us. Saw some friendly faces and my delegates started to be curious. After that, gotta to say bye to them because their host family ready to picked them and we will meet in three days. The boys, Jantara & Razzaa, went to same hostfamily while Marsya & Andari went to the other one. Apparently, leaders duty already started as we landed. We took most of delegates luggage to the bus and go to the campsite in Cang’an, two hours ride by bus.

After we had dinner, take a look at our campsite, Cang’an Center Kindergarden, we meet (almost everyone) of leaders, JC and some staffies and had some rest. The next day, Carlos, our beloved camp-director started the training and getting to know each other. We sit in couple, and we have to draw about our pair’s family, their daily activity, dreams and fears. As I remember I have to draw about Chore’s (Mexican leader) activity as computer programmer. Maddy’s (The US JC) family, Ilja (Germany leader) and WInson (local staff) future dream. We had quite fun training
and know each other then we wrapped up the first 3 days with dinner feast in Parkway Hotel as welcoming dinner from CISV China.

So, the beginning of our Evergreen Camp went pretty well, as we also passed the Evergreen Street which the inspiration of the camp theme itself. I will continue the complete story of the journey, the ups and down, the la

ughter and tears..

See you in the next posting! 



Tuesday, June 23, 2015

Jakarta dan Hangatnya yang Alpa.

Hari ini di timeline Path saya mendadak ramai posting pakai pakaian Abang None, atau ondel-ondel. Baru ngeh, hari ini tanggal 22 Juni hari ulangtahun ibukota Jakarta. Sesaat saya sempat berhenti
sejenank dan berpikir,  apa yang bisa saya ucapkan untuk kota tempat saya tinggal 28 tahun terakhir ini? Tidak macet, tidak banjir, jadi tujuan turistik? Ah, rasanya i can live with that. Entah saya mati rasa atau berusaha legowo menerima kekurangan Jakarta ini.Saya jadi ingat, kira-kira obrolan dengan seorang teman yang menghabiskan masa kuliahnya di Jogja. Ia terkaget-kaget ketika tahu saya asli Jogja dan selalu ke Jogja tiap Lebaran. Bukan, bukan karena ternyata kami berasal dari kota yang sama. Keheranan dia muncul karena saya tidak pernah mencicipi kota pelajar tersebut. Bagaimana
tidak heran, saya cuma datang ke Jogja lewat Adi Sutjipto atau Tugu, langsung menuju rumah nenek di Tamsis, melewati 4-5 hari dengan makan gudeg dan ayam goreng yang saya tidak pernah tahu namanya, belanja di Malioboro dan makan Bakmi Kadin. "Yakin orang Jogja? Kok destinasinya turis banget?" Ada nada judgmental di situ, tapi sayangnya saya tidak bisa membantah. Lebih dari 20 tahun hanya  bisa merasakan jadi anak Jakarta dengan segala stereotipenya. Bahkan, tiga tahun lalu plesiran ke Bali, teman dekat saya berkomentar tentang kunjungan saya ke Potato Head dan Nasi Pedas Bu Andika, "Anak Jakarta banget ya jalan-jalannya!"

Saya mencoba menelan kembali, apa yang salah jadi anak Jakarta? Saya memang tidak pernah keluar dari kota ini. Saya lahir, besar, sekolah, kuliah dan bekerja di sini. Hampir penjuru kota ini saya
eksplorasi demi mengabaikan kepenatan atau kebosanan yang dikeluhkan teman seperjuangan yang mencari nafkah di kota ini. Sampai sekitar tiga tahun lalu, saya mencoba cari tahu, ada rasa apa di luar Big Durian ini? Mengapa seolah-olah rasa campur aduk di Jakarta ini masih terasa 'kurang'? Memang sempat saya begitu terobsesinya dengan traveling, jalan ke sana ke mari. Namun,
rasanya lain. Saya berjalan sebagai pendatang, dengan tulisan turis di dahi saya. Sampai akhirnya ada perjalanan hampir dua minggu di Jogja, saya berusaha melebur dengan lokal. Tidak, mereka juga bukan sepenuhnya orang asli. Saya pun coba lagi mampir ke kota-kota dekat yang dulu saya anggap tidak menarik, Solo, Makassar, bahkan Kendari. Saya buang jauh-jauh itinerary panjang tujuan liburan saya. Pilihan duduk di teras rumah atau warung kopi terdekat justru agenda paling menarik. Ini juga akhirnya yang mengurungkan niat saya lebih sering traveling. Saya kehilangan esensi kehangatan perjalanan itu sendiri.

Kembali soal Jakarta, akhirnya saya mulai paham kenapa orang begitu rindu Jogja, sejuknya Bandung atau Malang, nikmatnya Solo atau tenangnya Bali. Saya mulai paham, mengapa warga Jakarta mudah tersulut berkomentar di sosial media atau di lingkungan terdekatnya tentang hal sepele yang justru bikin panas telinga. Bukannya saya menikmati macet atau kekhilafan warganya yang serba seenaknya, mungkin saya sudah mencapai tahap 'nrimo' dengan kondisi ini. Saya percaya, kadang bukan keinginan sendiri untuk mengadu nasib di kota ini. Ada beberapa kejadian yang saya alami akhir-akhir ini juga sempat membuat saya termenung. Bulan Mei lalu, saya main ke Purbalingga untuk menghadiri sebuah festival film. Pagi-pagi, kami main ke pasar. Tiba-tiba ada seorang bapak menegur, "Mbak dari Jakarta?" Saya kaget, tahu darimana dia? Saya pun mengangguk sambil tersenyum, Ya pak. "Saya dulu kerja mbak di Jakarta, mbak Jakartanya mana? Saya dulu jadi teknisi gedung.." Cerita si bapak pun bergulir, saya mencoba mencerna. Saya lihat dia berjualan -
saya lupa, entah batu akik atau perkakas dapur biasa. Nampak senang berbaur dengan ramainya pasar. Terbersit juga, dengan hidupnya yang cukup di Purbalingga, kenapa dia harus ke Jakarta? Apakah Jakarta menjamin hidupnya layak seperti di desa? Apakah Jakarta menjamin ia
bisa tersenyum lebar dan menghirup udara segar tiap pagi tanpa polusi dan macetnya? Lagi-lagi, saya masih alpa mencari eksotisme Jakarta bagi pendatang semacam bapak itu.

Lalu, apakah dengan ini semua saya memutuskan untuk meninggalkan ibukota? Bukan, bukan karena ingin tinggal dan menikmati nyamannya negara lain seperti yang diidam-idamkan kebanyakan orang di sekitar saya. Kalau ya, mungkin saya perlu mengutip omongan Seno Gumira Ajidarma, saya tidak ingin punya memori masa tua tentang kemacetan soal Jakarta dan membesarkan keluarga di dalamnya. Entah itu jadi ucapan yang sederhana bagi kota Jakarta yang baru ulangtahun atau (lagi, mengutip omongan teman saya) hanya akan jadi impian ideal untuk jauh dari Jakarta demi hidup yang lebih tenang.

Selamat ulangtahun!

Friday, September 05, 2014

Chicken or Eggs?

Gimana chia pudidngnya udah dicoba?

Mungkin seperti saya juga, nggak bisa selalu sarapan manis-manis. Kadang pengen coba yang lebih savoury.
Nah, menu yang ini bisa jadi alternatif sarapan atau post-work out meals. Biasa kan, kalo abis olahraga kadang kita sok cantik nggak mau makan, padahal perut meraung-raung. Daripada sedih nggak bisa makan tapi juga nggak mau ngerasa sia-sia olahraganya, menu ini bisa dicoba sebagai pengganti Indomie kala malam atau pendamping roti panggang saat sarapan.

Oia, cuma mau info aja, postingan makanan di blog ini nggak dibuat untuk menurunkan berat badan sih. Intinya, kalau saya orangnya harus sarapan karena kalo nggak, jadwal makan pasti berantakan. Banyakan jajannya di antara waktu makan siang dan malam. Sungguh nggak sehat bagi pencernaan dan kantong! Pilihan menu dan bahan-bahan juga sebenarnya lebih untuk ngurangi konsumsi 'makanan nggak sehat' yang selama 20 sekian tahun terakhir saya konsumsi. Contohnya, saya pecinta berat milktea bisa seminggu 1-2x minum milktea. Artinya, konsumsi teh, susu, gula dan tapioka (bubble) cukup tinggi jadi untuk mengimbanginya, saya coba sarapan yang lebih berserat dan banyak minum air putih. Jadi saya tetap bisa minum-minum manis dengan kurangi asupan gula di menu lainnya. Yah, semacam subsidi silang. Kalau ada yang memang lagi program penurunan badan, menu-menu ini bisa jadi alternatif resep coba-coba juga lho..

Baiklah, mari kita coba buat resep yang mau saya bagi kali ini.Menu yang mudah, bahannya ada di sekitar kita dan nggak pakai ribet. Kalau saya yang buat, bisa dipastikan menu in SUPERGAMPANG! Jadi kalau saya bisa, yang lain pasti lebih jago :p

Telur Panggang

Oops..foto Telur Panggang saya sudah hilang, ini referensi Closet Cooking
Kenapa telur? Telur bisa diolah dengan banyak cara, kalau biasanya diceplok atau didadar, saya sebagai pecinta telur setengah matang jatuh cinta sama rasa telur panggang setengah matang ini. Buat sarapan, telur bisa jadi sumber energi dan gampang dipadu dengan bahan makanan lain.Ada dua menu favorit telur panggang, saya share satu dulu ya..

Telur Panggang Alpukat:

Bahan-bahan:

1 butir telur
1/2 buah alpukat matang
Garam, Lada, Gula secukupnya.
**extra: Bacon Bits atau Keju Parmesan jika suka

Cara membuat:

1. Potong alpukat di tengah jadi dua bagian. Pastikan biji alpukat masih berada di tengah.
2. Ambil bijinya, bersihkan bagian dalam alpukat. Kerok sedikit dengan sendok untuk memberi ruang untuk telur di tengah-tengah.
3. Pecahkan 1 butir telur di tengah-tengah alpukat. Pastikan tidak meluap ke luar alpukat.
4.  Panaskan oven.
5. Taburi telur dengan garam/gula, lada, dan topping tambahan secukupnya.
6. Lalu panggang telur sampai tingkat kematangan yang diinginkan. Ingat, semakin tebal bagian alpukat semakin lama juga waktu yang dibutuhkan untuk memanggang.
7. Angkat telur, sajikan hangat!

Kreasi telur panggang saya dengan tomat
Kitchen's Tricks

Pilih alpukat yang sudah matang jadi tidak terlalu pahit. Beberapa kali saya salah pilih alpukat, alhasil justru nggak kemakan.
Kadang-kadang untuk menghindari tingkat kematangan yang beda-beda, bisa juga kerok alpukat dan letakkan di mangkok kecil baru tuang telur di atas alpukat.
Nggak suka alpukat? Bisa diganti dengan tomat ukuran besar, paprika, kentang, ubi atau pepaya. Tekniknya sama kok hanya paduannya disesuaikan dengan karakter rasa padanan telurnya.

Laper? Dicoba yuks!





Wednesday, September 03, 2014

Let's Make Chia Pudding!

Sudah meresapi Do's and Don'ts untuk pairing chia di posting sebelumnya?

Oke, mari kita siapkan beberapa bahannya untuk membuat dua porsi chia pudding. Kenapa dua? Karena kadang-kadang porsi sarapan beberapa orang nggak cukup satu, selain itu kan lebih enak sarapan berdua dibanding sendiri :p

Peralatan:
2 gelas belimbing atau 1 mason jar (mason jar bisa dibeli di Ace Hardware, Pasar Mayestik, etc)

 
1 sendok makan atau 1 sendok takar susu
Bahan-Bahan
2-3 sdm Chia Seeds
¾ Gelas liquid untuk mason jar atau 1 gelas full untuk gelas belimbing
Larutan atau bubuk perasa secukupnya
Buah-buahan untuk topping.
Caranya:
Larutkan chia seeds ke dalam larutan liquid, aduk rata. Jika ingin tambahkan penambah rasa atau aroma, campur sebelum liquid dicampur dengan chia seeds.
Masukan ke dalam kulkas tanpa penutup gelas.
Diamkan selama semalam (min.6 jam supaya mengeras). Satu- Dua jam pertama,bisa sesekali cek untuk diaduk perlahan karena kadang ada chia seeds yang mengendap di dasar gelas dan tidak teraduk.
Setelah semalaman, aduk kembali sampai liquidnya berkurang.
Tuang chia pudding ke piring atau gelas saji, taburkan dengan buah potong atau topping lainnya.
Sajikan dingin.

Di mana beli chia seeds? Berapa Harganya?
Harga chia seeds beragam mulai 70.000 – 210.000 per 100gr.
Saya Cuma pernah beli chia seeds lewat dua cara:

Bli di Bali:
-          Down to Earth Café/Earth Café/Zula : Sebenarnya ini masih satu company, namanya beda-beda aja. Ada di Seminyak dan Ubud. Cafenya menjual bahan-bahan alami dan organik.
-          Bali Buda Ubud (bisa online juga..)
-          Alchemy Ubud
-  atau beberapa kafe/resto vegetarian yang banyak di Ubud.


Online Shop, Sis!
-          Di instagram banyak sekali pilihan:@toko_organic @namaste_organic @dapurorganik @helenes_organics etc..
-          Webstore: superfoodsindonesia.com , clubsehat.com atau rakuten.co.id

Katanya sih ada di Jakarta…

Tapi saya belum pernah benar-benar coba dan nemu, mungkin ada yang bisa kasih info?

Selamat mencoba J



**foto dari foodnetwork.com

Tuesday, September 02, 2014

Chia Chia Chia!

Berawal dari coba-coba sekarang malah jadi keterusan! Nyobain bikin berbagai makanan di dapur sebenarnya bukan karena suka masak, tapi Cuma buat survival kit berhubung nyokap nggak di rumah selama weekdays dan nggak punya ART lagi di rumah. Salah satu yang bikin nagih sebenarnya ide menu-menu sarapan yang bikin saya selalu pengen coba-coba. Walaupun lidah saya Indonesia banget, saya nggak pernah bisa terus-terusan sarapan nasi. Jadilah sok-sok Londo sarapan kalo nggak roti, telur, sereal. Sampai akhirnya nemu beberapa menu yang lagi hits dijual di beberapa gerai makanan sehat di online shop,saya pun penasaran coba bikin sendiri soalnya harganya lumayan mahal kalo beli. Beberapa di antaranya raw almond mylk, overnight oats, chia pudding, raw cashew cream cheese dan beberapa menu ‘ajaib’ lainnya. Sebenernya cara bikinnya SUPER GAMPANG! Cuma emang kadang-kadang perlu beberapa kali dicoba supaya sukses.
Saya coba share beberapa tutorial bikin beberapa menu ini, dibagi jadi beberapa postingan ya…
Chia Pudding

Apa chia pudding itu? Sebenernya ini terbuat dari biji-bijian, chia seeds yang dicampur dengan minuman apapun bisa terkonsentrat jadi layaknya pudding. Chia seeds sendiri adalah biji-bijian yang masih satu keluarga dengan daun mint. Biji-bijian ini banyak ditemukan di Amerika Selatan, seperti Mexico atau Guatemala.  Mirip selasih kalo di Indonesia, saya juga sempat curiga jangan-jangan memang sama, tapi entahlah.. Manfaat chia seeds sendiri penuh kalsium, magnesium, fosfor, omega 3 dan juga kaya serat. Baik untuk tulang, gigi, membantu mengurangi diabetes, kolesterol dan membantu melancarkan metabolisme. Chia seeds ini ada dua macam, white and black chia seeds. Saya kebanyakan menemukan black chia, belum pernah coba white chia. Katanya sih rasanya sama saja.


Sebelum menuju resepnya, ini beberapa bahan yang biasa digunakan untuk pendamping chia seeds supaya sukses jadi pudding:

Liquids
Campuran liquids ini penting untuk mengolah rasa chia seeds sekaligus menentukan teksturnya. Komposisinya kira-kira 2:3, chia seeds: liquidsnya.

-          Raw Almond Mylk : Paling umum digunakan, emang paling mudah nyatu juga sih dan biasanya teksturnya lebih padat tapi tetap kenyal.
-         
      Soy Milk: Ini juga saya suka jadikan campuran beberapa waktu lalu, apalagi ada merk Lactasoy dengan rasa greentea.  Buat yang suka manis, campuran ini cocok sekali.
-          
      Susu sapi: Buat yang nggak hard core clean-eatingnya, bisa pakai ini sebagai campuran. Boleh juga eksperimen dengan susu Cimory yang banyak rasa atau Coutre rasa vanilla atau pisang. My personal fave!
-          
       Air kelapa muda: Ini bisa jadi pilihan untuk yang nggak terlalu suka rasa produk olahan susu. Paling cocok dengan topping buah-buahan segar dan berair.

** Apakah bisa pakai jus? Nah, saya sendiri belum pernah coba, karena kalau pake jus kemasan menurut saya ada kontra dalam proses penyatuan chia seedsnya apalagi jus kemasan penuh gula. Sedangkan jus-jus segar yang biasa dipakai smoothie, biasanya diminum beserta ampasnya. Jadi mungkin sebaiknya kombinasi ini nggak disatukan, kalau mau minum green smoothie ditaburi chia seeds saja sih monggo…

Pemanis atau Perasa
Ada yang pernah nanya, “Untuk penambah rasa pakai apa? Apa perlu tambah gula?”
Saya sendiri nggak pernah pakai tambahan pemanis, biasanya RAM sudah diberi esens kurma untuk pemanisnya. Kalau pakai susu kemasan, beberapa sudah mengandung pemanis. Tapi boleh juga dicoba misalnya memakai susu sapi segar atau susu kedelai tanpa rasa, boleh campur dengan 1-2sdt cacao powder atau matcha powder untuk memberikan aroma dan sedikit perasa pada chia pudding.

Toppings:
Nah ini dia bagian terseru bikin chia pudding, bikin topping yang unyu-unyu warnanya! Jujur ini susah sih, apalagi saya Cuma terpaku sama blender biasa (bukan food processor yang dipake ibu-ibu canggih di luar sana). Berhubung ini postingan perdana soal makanan ala-ala clean eating, kita coba yang simple-simple dulu aja begimana?

Sweet and Sour Fruits
-          Pilih buah manis yang bisa menambah rasa alami tanpa perlu gula, misalnya pisang, melon, kelapa, mangga, papaya, nangka, atau pir. Biasanya buah-buahan manis ini bikin tambah kenyang lho!Pilihan berikutnya buah yang agak asam supaya rasanya seimbang, misalnya stroberi, kiwi, nanas, anggur, goji berry, cranberry, tomat cherry, blackberry.    Hindari buah-buahan yang terlalu ‘creamy’, selain bisa bikin enek karena chia pudding mengenyangkan, kalau campurannya nggak pas yang ada malah nggak pas rasanya. Buah seperti alpukat, atau durian (ya keleus..) dihindari ya buat campuran chia pudding.

 Crunchy Granola and Families
-          Boleh nih, tambahkan 1 sdm granola atau rolled oats buat menambah rasa crunchy di atas chia pudding  yang lembut. Ingat takarannya jangan banyak-banyak, karena oats juga mengenyangkan! 
      Cocoa nibs, shredded coconut, atau dried fruits boleh juga jadi topping..   


  Honey…If You Love Me Please Smile for Me!
 Ada juga yang pada dasarnya doyan manis, nggak salah kok menambah sedikit madu, selai buah atau esens kurma di atas chia puddingnya. Cukup 1sdt saja ya..

 Lalu..kalau sudah tahu chia seeds dan pasangan klopnya, gimana cara buatnya?

 Berhubung postingan ini udah kepanjangan, lanjut di postingan berikutnya ya :)