Friday, November 13, 2009

Young And Talented, Killer..


Malam tadi, 13 November 2009 tepat hari Jumat Kliwon, di tengah hujan yang mengguyur kota Jakarta makin lengkap ketika saya ikut mengantri nonton film Macabre alias Rumah Dara. Belum masuk ke bioskop saja, saya sudah membayangkan pertumpahan darah yang akan muncul di layar bioskop. Yah, akhirnya saya memberanikan diri menonton film pembuka Indonesia International Fantastic Film Festival 2009.

Suguhan malam itu adalah karya The Mo Brother, alias duo Timothy Tjahjanto dan Kimo Stamboel, yang merupakan pengembangan film pendek Dara tahun 2007. Sounding film Macabre ini sebenarnya sudah terdengar sejak lama terutama karena film pendeknya dianggap terlalu sadis oleh LSF. Ternyata memang film ini lebih dulu diputar di festival-festival luar negeri. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk thriller menegangkan malam itu.
Kisah perjalanan Ladya (Julie Estelle) dan Adjie (Ario Bayu) yang tengah menyelesaikan konflik keluarga menjadi tragis. Bersama Astrid (Sigi Wimala), istri Adjie yang sedang hamil, Jimmy (Daniel Manantha), Alam (Mike Muliadro) dan Eko (Dendy Subangil) yang mempertemukan mereka dengan Maya (Imelda Therine). Eko yang 'mata keranjang' bersedia mengantar Maya pulang karena kasihan. Sampainya di rumah Maya, mereka disambut dengan keramahan kakak Maya (Arifin Putra) dan suguhan khas Dara, mama Maya (Shareefa Danish). Tak bisa menolak mereka pun bersantap malam dengan rasa yang luar biasa. Ternyata, suguhan itu memang spesial, mereka pun tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sesadarnya Ladya, Jimmy, dan Eko menemukan diri sedang terikat di gudang belakang, dan menyaksikan mutilasi yang dialami oleh Alam.
satu persatu mereka pun berkejar-kejaran dengan penghuni Rumah Dara itu.
Selanjutnya, cerita bergulir seperti apa yang sedang dibayangkan Anda di benak kepala.

Film horror thriller ini sudah menandakan daerahnya dengan 'darah' sejak awal film. Permainan darah pun jadi suatu kekuatan yang sudah dijanjikan dan akhirnya diumbar sepanjang hampir 100 menit. Adegan-adegan vulgar seperti mutilasi ditampilkan layaknya penjagal di peternakan. Selain kekuatan detail khas film horor seperti samurai, dan rumah tua, ekspresi tokoh-tokoh antagonisnya cukup membuat bergidik.
Imelda dan Arifin mungkin masih belum bisa menghilangkan imej 'manis' dalam karakter yang harusnya terlihat sadis. Tapi, kekakuan Arifin cukup mengimbangi karakter Dara yang entah sengaja dibuat terlihat kaku atau sosok yang tertangkap seperti itu akibat suara layaknya ibu-ibu tua yang tidak terdengar natural. Danish,yang aslinya kelahiran 1982 harus memerankan wanita tua yang lahir tahun 1800-an. Suara yang harus diberat-beratkan dan ekspresi wajah yang kaku plus signature body language memiringkan kepala ke samping, membuat sosok Dara makin misterius dan menyeramkan. Saat adegan Dara bergulat dengan Ladya, sosok yang dimunculkan makin menyeramkan, dengan balutan terusan putih polos dan rambut hitam panjang terurai mengingatkan kita pada sosok-sosok hantu khas Indonesia. Paduan Dara dengan gergaji mesin seolah ingin memadukan sosok hantu Indonesia di tengah senjata-senjata pembunuh yang makin canggih. Ekspresi wajah Danish yang menyeramkan menunjukkan dingin dan kakunya Dara, sekaligus hasrat membunuh yang besar. Puncaknya, ekspresi wajah saat Dara menempel di mobil Ladya dan akhirnya tertabrak pohon menjadi 'gong' yang mungkin mengantar Danish memenangkan Best Actress di Puchon Fantastic Film Festival, Juli lalu.
Angkat topi untuk Shareefa Danish.

Tokoh lain yang menjadi sorotan, Julie Estelle. Awalnya, kawan sebelah saya sempat menyeletuk, "Yah, cuma jadi pelayan?" dan saya pun tertawa, mengingat sang aktris memang tidak terlalu disorot di media promosi film ini. Ternyata, sosok Ladya disiapkan menjadi pahlawan di akhir film ini, seperti yang sudah saya bayangkan di menit ke dua puluhan saat film berlangsung. Tapi,Julie Estelle bisa tetap menunjukkan sisi ketakutan tokoh Ladya. Setelah Macabre, saya seperti melihat dia menjadi aktris spesialis horor dibandingkan drama meskipun wajahnya cenderung mellow.

Tokoh lainnya? Saya rasa tidak perlu, sama tidak perluanya dengan sorotan tokoh-tokoh bawahan lain yang sebebarnya terlalu banyak dan sempat membuat penokohan jadi tidak fokus. Sama seperti ketika adegan polisi yang menggerebek rumah Dara dan justru mementahkan kecemasan penonton dan berbalik tertawa,mungkin karena Aming yang imej komedinya sudah terlalu melekat muncul lebih dari 2 adegan.

Sisanya, Macabre cukup membuat bulu roma saya bergidik dan keparnoan saya muncul seketika saat melihat daging segar disajikan di atas meja makan.
Kira-kira darimana asal daging itu?

*berbagai sumber

Monday, November 09, 2009

Shut Up And Let Me Go (to Playground!)


Akhir tahun 2009 ini, Jakarta kembali kebanjiran musisi asing dan kali ini The Ting Tings ikut memeriahkan festival musik soul dan hip-hop, Java Soulnation. Pertunjukan yang seharusnya mulai pukul 9 malam, molor satu jam sampai jam 10 lewat.
Crowd yang sudah berdesak-desakan dan nggak sabar, akhirnya bersorak ketika intro musik yang sangat familiar dan akhirnya Jules de Martino, sang drummer sekaligus gitaris The Ting Tings muncul di atas panggung. Selama hampir sepuluh menit, Martino memainkan instrumen-instrumen yang ada bergantian. Penonton pun makin bersoraksorai melihat kepiawaian Martino. Makin jelas intro lagu We Walk dimainkan, Katie White sang vokalis pun muncul dengan teriakan dan tepuk tangan penggemarnya.
White yang tampil stylish dengan balutan baju hitam, tights ungu plus topi hitamnya menyapa penonton beberapa kali sampai akhirnya mendendangkan lagu-lagu hits seperti
Fruit Machine, Keep Your Head, dan Traffic Light. Antusiasme penonton terlihat cukup mereda setelah lagu Great DJ, mungkin karena kebanyakan penonton bukan penggemar band asal London ini, atau mereka memang penggemar musik R&B yang hanya coba-coba menonton aksi panggung The Ting Tings.
Di lagu ke delapan, penonton kembali memanas. Lagu single perdana Shut Up and Let Me Go membuat penonton yang terdiri dari abg berdandan lengkap ala Katie White sampai laki-laki paruh baya jejingrakan tak peduli sekitar. Impacilla Carpisung kembali membuat panggung utama di Istora Senayan memanas, White dan Martino bergantian menghilang dari atas panggung dan sempat terjadi adegan ‘pause’ yang membuat penonton penasaran. Sorakan penonton makin terasa saat dentuman drum Martino mengahantarkan lagu terakhir The Ting Tings malam itu. Yael NaimThat’s Not My Name sukses menjadi encore dan mengentaskan malam yang makin cantik dengan efek visualisasi eklektiknya. The Ting Tings, mungkin tidak akan kembali ke Soulnation. Kami ingin mereka ada di taman bermain atau pesta lainnya!

Setlist Soulnation, Jakarta
• We Walk
• Great DJ
• Fruit Machine
• Keep Your Head
• Traffic Light
• Be the One
• We Started Nothing
• Shut Up And Let Me Go
• Impacilla Carpisung
• That's Not My Name

Sunday, September 20, 2009

Untuk Maju,Jadi Alien

Lebaran, biasanya tv swasta memutar film-film Indonesia yang (cukup) bagus. Heran juga sih,kalau memang bagus harusnya bisa ditonton di bioskop bukan di tv yang jaraknya cukup lama,bukan?

Anyway, malam ini tepat malam Idul Fitri Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo menyita perhatian saya.
Ceritanya, Anisa gadis pesantren yang berusaha mencari kebebasan di luar pesantren karena sistem pendidikan yang cenderung merugikan perempuan. Anisa kerap mengalami hambatan, mulai dari tuduhan zinah,dianggap perempuan liar, sampai puncaknya ia kehilangan ayah tercinta.
Anisa akhirnya bisa melepaskan belenggu yang mengekangnya selama ini dan mengekspresikan lewat tulisannya dan juga dukungan Khudori,suaminya.

Di tengah kebebasannya mengekspresikan pikirannya, Anisa terpaksa kembali ke pesantren yang setelah 17 tahun ternyata tidak memberikannya pencerahan ataupun jendela bagi imajinasinya untuk melihat dunia.Tujuan Anisa membuat perubahan. Hal itu sulit apalagi pesantren memiliki stereotipe yang konservatif dan cenderung mengikuti norma-norma yang biasanya sudah turun temurun dijalankan.
Ada ketidaksetaraan yang disampaikan dalam film ini melalui pikiran dan perjuangan Anisa dengan murid-muridnya yang ingin belajar lewat membaca dan menulis. Anisa dengan keinginannya bisa berdiri sebagai istri dan wanita yang utuh dan mengesampingkan ketakutannya untuk memenuhi kodrat sebagai ibu. Dan, Anisa dengan keyakinannya bahwa meskipun dalam Islam, Allah menjanjikan surga bagi wanita, tetap saja perjuangan tidak berarti berhenti di situ saja. Wanita pun berhak dan wajib mendidik anak dan lingkungannya untuk bisa menyalurkan kebebasannya dengan tanggung jawab yang sudah semestinya memberikan faedah.

Anisa mungkin sudah banyak ada di antara kita,yang selalu merasa tidak bebas dan tidak sanggup melepaskan apa yang selama ini menyesakkan. Banyak yang berkoar-koar meminta kesetaraan,tetapi pahamkah apa itu kesetaraan? Dalam film ini, penggambaran kesetaraan sebenarnya cukup sederhana mengingat latar yang diambil di desa kecil di Jawa Tengah. Mungkin kita sebenarnya sudah merasakan apa yang Anisa ingin capai. Bisa menjadi apa saja, belajar apa saja, dan tahu tentang apa saja. Tidak lagi ada keharusan wanita kembali ke dapur,karena menurut Khudori dalam film hal tersebut bukanlah hal natural,tetapi kembali ke budaya masing-masing.

Berbicara budaya, wanita kerap dihadapkan pada fase membentuk keluarga yang dianggap sebagai salah satu 'kodrat' wanita. Dalam film ini juga ditekankan, wanita harus berada di kodratnya agar saat menjadi istri atau memiliki keluarga menjadi istri yang patuh dan keluarganya sakinah. Apakah membentuk keluarga dan pernikahan merupakan tujuan dari adanya wanita? Apakah perjuangan memncari kebebasan itu berhenti sampai ia menjadi istri atau ibu? Bagaimana jika ia dapat membentuk lingkungan lain yang sakinah tanpa harus berada dalam situasi itu,berkeluarga? Bila itu menjadi salah satu pilihannya sebagai ekspresi kebebasan,apakah dengan cara yang berbeda itu menjadikannya sebagai alien di antara manusia lainnya?
Apakah berbeda untuk memajukan diri dan masyarakat artinya menyerahkan diri pada kotak hitam yang membelenggunya dan justru menjerumuskan wanita pada kebalikan dari kebebasan?

Sorban, sebagai inisial dari kelelakian yang ada di kepala, letak yang teratas, dalam film ini begitu kental melambangkan bagaimana kuatnya diikatkan pada leher wanita untuk membelenggu dan berada dalam bayang-bayangan maskulinitas. Siap menunggu saatnya terlepas.

Monday, August 24, 2009

All American Rejects Live in Jakarta!


Terbukti! Musisi asing tidak takut mengunjungi Indonesia dan menampilkan performa terbaiknya di depan khalayak ramai Jakarta. Bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, The All American Rejects datang menghadirkan pertunjukan special untuk penggemarnya. Band asal Oklahoma ini juga menginap di hotel Ritz Carlton sebagai bentuk peduli dan bukti mereka tidak takut. Konser perdana AAR di Indonesia ini digelar Senin 17 Agustus 2009 di IStora Senayan Jakarta pukul 20.50 WIB. Meskipun diguyur hujan, penggemar fanatik AAR tetap datang ke I Wanna Rock Tour 2009 malam itu. Meskipun terlambat hampir satu jam dari jadwal seharusnya, konser ini dibuka dengan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia raya oleh penonton dan disambut dengan Tyson Ritter, vokalis AAR yang berlari di atas panggung dengan membawa bendera Republik Indonesia. Penonton yang histeris melihat kemunculan Tyson tidak lebih lama lagi dibuat menunggu. Hits Dirty Little Secret langsung membuat penonton bernyanyi bersama. Setelah itu lagu-lagu hits seperti Swing Swing, My Paper Heart, The Last Song, It Ends Tonight, dan Real World. Penonton yang kebanyakan berusia 17-20 tahun tidak henti-hentinya jejingkrakan mengikuti irama lagu yang menghentak. Tyson yang begitu atraktif menunjukkan kemampuan menyanyinya hanya dibalut celana skinny merah dengan berbagai gaya. Mulai dengan merangkak meliuk-liukkan badannya, sampai memanjat tiang penyangga panggung. Penonton pun ikut histeris melihat kelakuan ajaib sang vokalis yang kontras dengan Nick Wheeler, sang bassis yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan rompi hitam. Mike Kennerty dan Chris Gaylor pada gitar dan drum tak kalah atraktifnya dengan Tyson. Tyson juga tak henti-hentinya menyuarakan ‘MERDEKA’ di sela-sela lagu malam itu. Setelah encore penonton diajak bernyanyi lagu Move Along bersama dan puncaknya, ketika Tyson membacakan sebuah surat yang ditujukan untuk teroris yang tak hentinya mencoba menakut-nakuti masyarakat Indonesia dan orang asing yang ingin datang ke Indonesia. Dengan lantang ia menyerukan ‘F&%#* Terorist!!’ dan diikuti oleh seruan penonton yang ikut bersorak-sorai. Lagu Gives You Hell seperti ditujukan untuk mereka, teroris yang gagal menakut-nakuti masyarakat Indonesia begitu pula musisi-musisi asing yang malam itu menutup konsernya di lagu keduabelas pukul 22.30.

Thursday, August 06, 2009

A Jihad For Love

Musim festival film di Indonesia sudah dimulai! Dari bulan Juni lalu, Goelali Film Festival yang menampilkan film-film bertemakan anak digelar di Museum Bank Indonesia dan kemudian disusul oleh Kidfest yang acaranya berdekatan dengan Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu. Sayangnya saya melewatkan kedua acara yang digelar perdana tahun ini tersebut. Agustus ini akhirnya saya bisa ikut keriaan yang digelar oleh Q-munity dalam Q Film Festival 2009. Acara yang sudah dimulai sejak 26 Juli lalu ini berakhir 5 Agustus lalu. Dua film yang sempat saya tonton, Jihad For Love dan antologi film Love Man Love Woman,Diana,dan Le Turkey.



Film Jihad For Love yang disutradarai oleh Parvez Sharma merupakan film produksi Amerika di tahun 2007. Film documenter ini bercerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di negara Islam dan mereka sudah mengaku kalau mereka homoseksual. Amir, Muchsin, Maryam, dan Mazen adalah warga dunia. Mereka lahir dan besar di Turki, Mesir dan Iran yang dikenal sebagai negara dengan populasi Islam yang terbesar. Muchsin, laki-laki asal Mesir ini telah menikah dan punya tiga anak. Ia merupakan imam di salah satu mesjid dan ia membuat pengakuan bahwa ia gay di sebuah media cetak. Aksinya itu berdampak panjang dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Muchsin pernah berpikir bagaimana kalau ia terkena hukuman mati karena homoseksual dilarang di Mesir. Amir harus menerima siksaan di Iran dan akhirnya pindah ke Turki karena homoseksual dianggap sebagai suatu kejahatan. Ia pun bertemu dengan Payam, Mojtaba, dan Arsham. Akhirnya, secara bertahap mereka mendapat suaka dan pindah ke Kanada untuk hidup yang lebih manusiawi. Mazen belum berani membuka kedoknya setelah ia masuk penjara karena ia seorang homoseksual dan diperlakukan layaknya binatang. Potret kehidupan manusia yang berjuang karena mereka ‘berbeda’ ini disajikan dalam bentuk yang cukup kontradiktif. Seperti yang banyak dipahami umat muslim, pandangan terhadap kaum homoseksual tertulis di kitab suci Al-qur’an dan dianggap sesuatu yang dilarang. Perilaku kaum Sodom dan Gomorrah menggambarkan bagaimana homoseksual adalah sesuatu deviasi seksual.

Keempat tokoh sentral dalam film ini merupakan umat yang takwa pada ajaran agama dan giat melaksanakan kewajiban ibadah. Hal ini menjadi sangat kontradiktif, di tengah ketaatan mereka shalat, mengkaji isi Al-qur’an, puasa, dan menutup auratnya, mereka dihadapkan pada sesuatu yang dianggap haram namun tidak bisa mereka hindari secara naluriah. Pertanyaan-pertanyaan muncul apakah memang Tuhan menciptakan kaum homoseksual di dunia ini? Kalau iya, mengapa seolah mereka diciptakan seolah berbeda dari manusia lainnya? Muchsin pernah meminta dan berdoa untuk ditunjukkan jalan apabila homoseksual itu salah. Pernikahan Muchsin dengan seorang wanita bukanlah jawaban dari pertanyaan yang justru makin menyiksanya. Muchsin akhirnya menerima keadaannya dan begitu pula anak-anaknya yang tetap berada di sisinya.

Simbol deviasi yang dialami tokoh-tokoh ini ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Saat Amir harus pindah dari Iran ke Turki, ia digambarkan sedang mengenakan pakaian dan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia adalah laki-laki di balik atribut perempuan itu. Sosok yang ditampilkan dengan hijab adalah wanita, namun atribut itu hanyalah topeng yang berusaha ditonjolkan untuk berlindung. Amir seolah merasa aman di balik jubah kewanitaannya padahal atribut wanita itulah yang membuat Amir tersiksa. Ironi. Perbedaan tempat tinggal juga ditunjukkan dengan perbedaan warna tembok warna hijau dan oranye yang bersebelahan. Rumah yang berada dalam satu wilayah itu seolah tidak mau disamakan antara kaum hetero dan homoseksual. Pandangan masyarakat atas penyimpangan itu membuat mereka ingin mengotak-kotakan kaum homoseksual di luar lingkungan mereka. Simbol lain muncul dalam adegan tiga sahabat Payam, Amir, dan Mojtaba. Mereka kerap bercerita bagaimana pernikahan mereka berlangsung sambil bersantai di atas bukit. Ketika ada iring-iringan jenazah, mereka berdiri di atas bukit dan memandang jenazah itu. Sosok ketiga lelaki tersebut tidak digambarkan dengan jelas tetapi hanya lewat siluet bayangan yang ada di atas bukit, berbeda dengan orang-orang yang sedang menggiring jenazah. Bagi orang lain, keberadaan Payam dkk menjadi bayangan yang tidak dapat tersentuh dan berbeda dari mereka yang seolah benar-benar ‘nyata’. Kelompok homoseksual seolah hidup dalam dunia yang tidak nyata dan terbatas. Dunia mereka seakan gelap dan tertutup. Simbol agama yang terasa sangat dalam adalah adegan terakhir ketika mereka semua mencoba menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun jadi jangan pernah berhenti memohon ampun atas apa yang dilakukan umat-Nya. Tidak ada yang bisa menghakimi umat manusia bahwa ia berdosa atau tidak selain Sang Pencipta. Dialog ini diiringi dengan adegan duduk tahiyat saat shalat.Saat mereka mengeluarkan telunjuknya dan mengucapkan bacaan tahiyat yang bermakna bahwa umat Muslim yang berjanji menyembah Allah dan selanjutnya adalah bentuk pengabdian manusia terhadap Tuhannya. Begitu pula dengan janji Allah yang berjanji mengampuni hamba-Nya. Tanpa perlu orang lain menghakimi dan berusaha membuat perhitungan dosa umatnya, urusan religi selalu menjadi hubungan yang pribadi bagi manusia dan Tuhan yang menciptakannya. Sesuai dengan judulnya, mereka sedang berjuang, berjihad. Berjuang atas cintanya terhadap Tuhan dan sesamanya. Mereka tidak mau kehilangan cinta Allah karena perbedaan yang dimilikinya karena bagi mereka cinta Allah lah yang terbesar dan bentuk pengabdian manusia pada Sang Pencipta.

source www.ajihadforlove.com

Monday, August 03, 2009

Lets Have Phoenix, On Your Favorite Weekend Ending*


Sabtu 1 Agustus 2009, puluhan muda-mudi memenuhi kawasan SCBD Jakarta tepatnya Bengkel Night Park. Mereka yang sudah berdandan begitu fashionable ini berkumpul sejak pukul 6 sore, padahal pintu arena konser Beatfest ini baru akan dibuka pukul 7 malam. Pukul 7 lewat, antrian mulai bergerak dan calon penonton sudah mulai bergerak masuk. Lorong menuju panggung berupa lorong penuh kaca dan disoroti black light yang menimbulkan warna-warna elektrik dan menyala dalam gelap. Sebelumnya, setelah pengecekan tiket di pintu masuk, penonton ditawari dengan untuk memasang tattoo temporary berbentuk stiker yang dapat menyala dalam gelap terutama saat disorot black light. Semuanya gratis! Voice over di dalam Bengkel Night Park mulai menyapa penonton yang berkerumun di stan merchandise dan bar lalu mengumumkan kalau Naif akan muncul sebagai artis pembuka pertama.Acara yang bekerja sama dengan toko buku Aksara dan A Mild ini mengusung nama Soundshine yang kerap menampilkan artis-artis indie dari dalam dan luar negeri. Membawakan lagu-lagu hits seperti Air dan Api dan Ajojing, Naif mengajak pemuda-pemudi untuk ‘pemanasan’ sebelum bintang utama konser itu tampil. Setelah Naif, band asal Bandung,The Sigit langsung menghentak dengan lagu-lagu Money Making, Black Amplifier, dan The Party. Dalam balutan kostum hitam-hitam, The Sigit makin memanaskan suasana dan penonton ikut menyanyi bersama. The Sigit sudah, saatnya Rock and Roll Mafia mengantar penonton ke 45 menit menuju band utama asal Perancis itu. Dengan musik yang khas dengan sentuhan synthesizer, RNRM berhasil membuat penonton berada di puncak kenikmatan musik dance electronica yang dibawakannya. Akhirnya, sekitar pukul 22.30 Phoenix bintang utama dengan empat personilnya membuka konser perdananya di Jakarta dengan hits Lisztomania dari album terbarunya, Wolfgang Amadeus Phoenix. Penonton yang hafal dengan lagu teranyar mereka langsung serentak koor mengikuti sang vokalis, Thomas Mars. Phoenix yang terdiri dari Thomas Mars (vokal), Deck D’Arcy (bass), Laurent Brancowitz dan Christian Mazzalai (gitar) pun memainkan hits-hits dari album terdahulu United, Alphabetical, It’s Never Been Like That dan pastinya lagu terbaru dari album Wolfgang Amedeus Phoenix yang rilis tahun 2009 ini. Sambil sesekali menyapa penonton, Mars mengungkapkan ia sangat excited menggelar konser pertama Phoenix di Jakarta. Ia pun sempat berterimakasih dengan Bahasa Indonesia logat Perancisnya. Konser dilanjutkan dengan Run,Run,Run, Everything is Everything, Long Distance Call, Lasso dan Love Like a Sunset yang merupakan lagu terminim lirik di album keempat mereka. Layaknya trik konser pada umumnya, mereka pamit meninggalkan panggung dan penonton yang berteriak-teriak “We Want More, We Want More!” yang haus encore. Kurang dari lima belas menit rehat, Thomas dan sang gitaris muncul menyambut histeria penonton dan melantunkan hits milik Air, duo asal Perancis, Playground Love dengan versi akustik. Mars menyebut ini sebagai kejutan untuk Jakarta. Kejutan belum selesai, tiga lagu berturut-turut If I Ever Feel Better, Too Young, dan akhirnya 1901 menjadi encore penutup konser malam itu. Selain ‘panas’ karena aksi panggung yang atraktif dan komunikatif, penggemar Phoenix pun terpuaskan karena sorotan lampu artistik ikut menyemarakkan dan menambah panasnya suasana Bengkel Night Park malam itu, literally.

So, Jakarta is totally safe and Phoenix already prove it they’re also not afraid!
We Love You Phoenix!!



*from Lisztomania lyrics

Thursday, July 23, 2009

Pagi Hari dalam Bahasa Sunda

Thank God It’s Friday!
Saatnya bersenang-senang di akhir minggu ini.
Sebelum keriaan di mulai malam ini, gue melewati pagi yang cukup aneh saat gue lagi jalan menuju kantor.
Gue biasanya jalan dari gedung Telkom menuju kantor gue di Menara Jamsostek. Jalanan menuju kantor itu jarang banget ada orang yang jalan apalagi yang melawan arah. Gue yang masih ngantuk (seperti biasa) jalan dengan gak peduli sama sekitar gue. Di depan gue ada bapak-bapak pakai baju setelan kemeja lengan pendek, celana jeans, dan sandal jepit. Gue gak ngeh darimana muculnya bapak ini. Tiba-tiba dia udah ngobrol sama abang-abang yang jualan sol sepatu pake gerobak yang jalan berlawanan arah sama gue. Mereka berdua berhenti dan ngobrol entah apa. Awalnya gue gak meratiin, tapi gue jadi agak penasaran juga karena gue lihat abang tukang sol ini tiba-tiba mengeluarkan uang selembar lima ribuan, dilihat dari warna uang dari jauh. Gue piker si bapak ini beli sol sepatu ke abangnya. Tapi gue lihat lagi, bapak itu gak megang apa-apa dan abang sol itu pun berlalu. Gue meneruskan jalan gue dan bapak itu jalan di belakang gue.
Tiba-tiba gue ngerasa ada orang ngomong di belakang gue tapi gue gak bisa memahami apa yang dia omongin. Gue akhirnya sedikit memutar kepala gue, ternyata bapak itu sudah ada di samping gue but still I can barely understanding what he’s babbling about.
Dia nanya,
Bapak : “Ke kampung rambutan gimana yah?”
Gue : (setengah masih kaget, ngantuk, dan beneran gak tau) “……..”
Bapak: “^@*&@&*!1+\ Kampung rambutan, neng!”
Gue : (masih diem, gak paham kata-kata dia selain kampong itu.)
Bapak : “Saya jalan kaki dari Blok M, tadi dikasih uang sama tukang sol 5000”
Terus bapak itu ngasi lihat uang 5000-annya dan dia jalan di depan gue.
Gue pengen ngedahuluin dia, tapi susah juga karena dia jalannya lumayan cepet.

Tiba-tiba bapak itu balik badan lagi, again dia bergumam sesuatu yang gak gue ngerti.
Dia terus mengeluarkan dompetnya, dikeluarin juga uang recehan seratus perak dari dompetnya.
Barulah gue mengerti apa yang sedang terjadi jam 08.25 pagi hari itu.
Gue agak serem sebenernya, cuma gue kasian juga sama dia apalagi kata-kata (yang kayanya bahasa Sunda) yang gue pahami dari dia cuma jalan kaki dari Blok M. Lumayan juga ke Gatot Subroto. Walaupun gue gak tau juga dia bohong atau gak.
Gue akhirnya mengelurkan sejumlah uang dan bapak itu berlalu dengan jalannya yang terburu-buru. Dia gak melihat ke belakang lagi sampai pas gue masuk ke kantor gue, dia nengok ke arah belakang tapi gue udah keburu masuk.

Well,
Kalau kejadian ini terjadi diatas jam 6 sore mungkin gue akan lebih parno dan ignore dia.
Gue gak tau apa tujuan dia dan apa yang dia bilang itu bener atau gak. At least I tried to help,is it? Or I just made a short cut to escape from weirdness of him?
Jakarta,makin aneh aja deh orang-orangnya!!