Tuesday, September 25, 2012

Modus Anomali : Anomali Teror dan Ketegangan Artifisial

Film terbaru Joko Anwar tidak mengandalkan munculnya sosok mistis yang menjadi pemicu ketakutan. Sebuah thriller psikologis memasuki labirin petualangan tokoh yang dibangun lewat imajinasi. Berawal seperti puzzle tapi mendadak diarahkan ke jawaban versi sang sutradara yang seolah jadi mutlak. Kenikmatan menyaksikan film bergenre horor atau thriller nampaknya belum bisa ditinggalkan begitu saja oleh khalayak di Indonesia. Tiap detik ketegangan menjadi katarsis tersendiri bagi penonton yang duduk layaknya korban dalam horor tersebut atau hanya bersantai menikmati tontonan tersebut tanpa ikut merasakan penderitaan sang korban. Ketegangan dalam film horor atau thriller yang ditampilkan itulah yang kadang menjadi tujuan utama ketika penonton keluar dari gedung bioskop. Saat penonton lega bisa bertahan sepanjang film, meskipun harus menutup mata atau telinga sesekali, di situlah kepuasan sekaligus kemenangan penonton terhadap film yang sukses menakutinya dan tetap terngiang-ngiang setelah itu. Meskipun banyak cela dalam film horor lokal yang sarat dengan hantu jadi-jadian plus bumbu adegan esek-esek yang menjadi pemanis, tak dipungkiri genre tersebut masih jadi juara di antara genre film lainnya.

 Sampai April 2012 ini, data penonton bioskop dari situs filmindonesia.or.id menunjukkan dalam peringkat lima besarnya diduduki oleh dua judul film horor; Rumah Bekas Kuburan dan Pulau Hantu 3 yang menembus angka 200.000 penonton. Tentu masih panjang perhitungan selama tahun 2012 ini, namun April ini hadir pula film yang kabarnya menjanjikan ketegangan tanpa perlu menampilkan hantu gentayangan. Modus Anomali bisa jadi film yang banyak ditunggu setelah gaungnya sukses di SXSW Festival, Texas Februari lalu. Trailernya sendiri sudah ditayangkan sejak Desember tahun lalu dan berhasil memberikan buzz tambahan lewat media sosial dunia maya sebelum filmnya rilis. Apa sebenarnya yang dijanjikan Joko Anwar dan Sheila Timothy, duet sutradara-produser yang juga berkolaborasi di film Pintu Terlarang ini?

 Adalah John Evans (Rio Dewanto) yang terpaksa mengais-ngais ingatannya ketika terdampar sendiri di hutan yang dirasa asing dan melihat sang istri dibantai lewat video. John mengumpulkan satu persatu potongan pertanyaan dan jawaban di kepalanya lewat alarm yang berbunyi di sekitar hutan, orang-orang yang bergantian muncul seolah ingin memburunya, sampai peti yang diisi pesan misterius. John ternyata tidak sendiri di hutan itu. Beberapa kali muncul orang dengan senjata berbeda yang berusaha membunuh John. Tidak mau jadi korban, John dengan rapi menyusun jebakan agar ia selamat sekaligus mencari jejak anak-anaknya yang hilang sejak istrinya terbunuh. Situasi perlahan terbaca dan muncul pencerahan saat satu keluarga lain datang. Masalah dalam hutan antah berantah itu mendadak menjadi jelas, siapa lawan sebenarnya. Layaknya Janji Joko sejak trailernya ditayangkan, ketegangan menjadi jualan utama dari film ini. Kemunculan John di adegan awal sudah menjadi satu peringatan bagi penonton untuk selalu bersiap-siap dengan atmosfer yang disusun.

Pertama-tama penonton disuguhi pemandangan hutan lengkap dengan serangga dan gerak-gerik binatang penghuninya secara close-up dengan kamera yang bergerak perlahan-lahan. Mendadak muncullah sesosok laki-laki yang bangkit dari kubur. Di situlah permainan dimulai, ketegangan penuh teror yang dijanjikan sampai akhir film. Apakah cukup bagi sebuah film menawarkan thriller dengan modal tegang dan meneror sepanjang 87 menit? Permainan Joko tidak sampai di situ saja. Ia senang mengajak penontonnya bermain bersama. Sejak pertemuan pertama dengan John, penonton diajak untuk bersimpati pada penderitaan John dan seolah-olah membantu pencarian dalam hutan tersebut. Tokoh lain yang dimunculkan seolah ikut menjadi kode dan perekat teka-teki yang menjadi pertanyaan.

Di awal film ditampilkan istri John yang dibunuh dan terekam kamera. Dari video tersebut, diketahuilah kalau masih ada anak-anak yang entah di mana keberadaannya. Anak-anak John kemudian diberikan porsi lebih untuk menguak misteri pembunuhan yang terjadi. Mereka bergerak dengan berani perlahan-lahan mencari di mana sang ayah berada sekaligus berusaha cari cara untuk keluar dari hutan itu. Petunjuk lain yang tersisa, foto sang istri dan dua anaknya tersebut. Lewat foto yang dilihat John sebagai petunjuk, hanya ada sang istri dan anaknya tanpa ada John dalam satu gambar yang sama. Dua anak ini sebenarnya bisa menjadi kunci perjalanan John berikutnya. Mengapa mereka justru mendadak jadi korban dari John? Apakah sebenarnya memang ada relasi dengan John? Posisi John dan penonton sebenarnya duduk sama tinggi, keduanya minim informasi. Penonton juga tidak diberi kesempatan memiliki posisi lebih tahu dibanding John. Jadilah posisi ini yang membuat penonton gregetan untuk ‘keluar’ dari misteri ini. Sampai di sini, rasa penasaran masih berhasil meneror untuk tetap duduk tenang sampai akhir perjalanan.


Bermain Tebak Susun Puzzle

 Susunan puzzle dalam Modus Anomali memang nikmat dicari tahu perlahan satu persatu. Setidaknya penonton diberikan ruang untuk mengutak-atik sendiri persepsi yang hadir timbul tenggelam di tengah ketegangan film. Sayangnya teka-teki ini akhirnya menjadi sedikit bumerang bagi ketegangan yang sudah dibangun sejak awal. Perlahan-lahan tensinya merosot dan menyisakan penonton yang sibuk berpikir apa yang sebenarnya tengah terjadi dibandingkan menikmati suasana mencekam. Visualisasi yang dibangun dalam layar sebenarnya sudah mendukung, mulai dari latar waktu malam hari di mana John memulai pencariannya, kemudian sosok-sosok misterius yang ditemui tanpa ada kejelasan siapa dan apa motif mereka mengejar John, sampai efek suara dan scoring yang terdengar sangat detail membangun emosi penonton terhadap ketakutan John.

 Empat sampai lima puluh menit pertama, seluruh elemen tersebut sukses menjadikan misteri tersebut nyaris tak terpecahkan dan bergidik lewat adegan per adegannya. Sepanjang durasi yang tersisa ternyata justru meluruhkan intensitas ketegangan yang ternyata berbanding terbalik dengan kejelasan misteri yang terkuak. Makin jelas masalahnya, makin kendorlah suasana tegang itu. Perlahan-lahan informasi yang tersedia makin terbuka lebar, jika awalnya penonton dipersilakan menyusun puzzle versi mereka dengan segala keterbatasan, mendadak diarahkan ke dalam jawaban versi sang sutradara yang seolah jadi mutlak. Teka-teki pembunuhan ini juga terasa begitu lambat alurnya, seolah John menyusuri hutan tersebut untuk mengukur luasnya. Adegan demi adegan terasa punya jeda yang panjang. Hal itu terjadi bisa jadi karena aktor utama memang hanya John seorang, ia dituntut untuk lebih membangun emosi dengan sekelilingnya. Tuntutan itu nampaknya tidak bisa dipenuhi oleh akting Rio Dewanto. Ia lebih banyak berkonsentrasi untuk membiarkan penonton ikut larut dalam permainan psikologis yang dicipta sang kreator. Di tengah perjalanan cerita, masuklah ke dalam babak lain dari penyelesaian puzzle tersebut. John kemudian bertemu dengan keluarga lain yang juga berlibur di kabin pribadinya.

Sepasang suami istri dengan dua anak. Formulanya terasa begitu familiar dengan situasi John. Di sinilah misteri mulai terungkap dengan sangat jelas dan lugas. Mengapa demikian? Ternyata, pertemuan John dengan keluarga tetangga yang baru datang menjadi kunci dari semua pertanyaan yang sudah berjalan di empat puluh menit sebelumnya. Jadilah penonton seolah dibawa kembali dalam prekuel perjalanan John yang mungkin sudah dilakukan lebih dari puluhan atau ratusan kali. Terlihat sosok John begitu berbeda dari yang ditampilkan sebelumnya, ia lebih percaya diri, berani dan segala ketakutan yang sebelumnya ada langsung hilang. Muncul pertanyaan baru, darimana munculnya keberanian John setelah semalaman nyaris mati di hutan belantara? Atau, apakah ini sosok lain dari John yang tidak ‘diperkenalkan’ sepanjang film? Penonton mulai diajak menyimpulkan, apakah perubahan karakter John inilah yang memicu semua kejadian aneh di hutan tersebut. Sebagai tokoh sentral, keberadaan John serta gerak-geriknya inilah yang menjadi pamungkas. Di awal terlihat bagaimana John ketakutan setiap kali ia mendengar langkah kaki mendekat. Setelah itu John justru ditampilkan begitu memahami medan tanpa cela.

Di sinilah penonton bisa mulai awas, kejanggalan atau anomali ini berasal dari sosok yang sepanjang film sudah diawasi. Perubahan karakter ini nampaknya terlalu drastis untuk tidak dipahami sebagai twist yang ditunggu. Gelagat John yang rapi menunjukkan keakrabannya dengan hutan, mobil, dan kabin di tempat tersebut terasa tidak natural setelah drama pembunuhan yang nyaris menghabiskan nyawanya. Apakah ini menjadi twist atau sekadar tebakan yang dengan mudah dibenarkan lewat dua-tiga adegan saja?

Ketegangan Artifisial 

Tidak dipungkiri, dibanding film-film yang menjual nuansa horor atau thriller lainnya yang juga beredar tahun ini, Modus Anomali menyuguhkan formula berbeda yang dengan berani diracik sedemikian rupa. Bahkan rasa-rasanya tidak adil membandingkannya dengan dua film horor yang menduduki lima besar box office Indonesia tahun ini. Joko Anwar tidak mengandalkan munculnya sosok mistis yang menjadi pemicu ketakutan tetapi labirin petualangan tokoh itulah yang dibangun lewat imajinasi. Keberanian inilah yang akhirnya membuatnya sukses menyuguhkan rasa baru dalam kelompok genre horor dan teman-temannya.

Secara teknik, kamera dan efek suara berperan sebagai elemen penting yang membangun sebuah film thriller. Pergerakan kamera ala handheld yang mengikuti aktor utama memberikan efek ketegangan sendiri dan ikut membawa penonton larut dalam petualangan dalam hutan tersebut. Visualisasi inilah yang mencuri perhatian penonton ke dalam layar dan sejenak lupa sang aktor yang susah payah melafalkan dialog Inggris penuh umpatan itu. Melihat ide Joko yang dianggap ‘sakit’ dan menawarkan rasa baru, tidak sedikit dari penonton yang akan menganggap karya ini menghibur. Hiburan dengan bumbu ketegangan mungkin memang asyik dinikmati layaknya didongengi sebuah kisah dengan awal dan akhir yang pasti-pasti saja. Meskipun penonton berhasil memecahkan kode yang ada, justru akhirnya penonton dijauhkan dari inti judul yang terpampang besar-besar; Modus. Apakah sebenarnya motif dari segala permainan keji John tersebut? Jangan-jangan, memang tidak ada motif atau modus yang melatari semua kejadian dan perilaku menyimpang tersebut.

Nampaknya kini kita harus puas sampai pada narasi Modus Anomali yang hanya ingin bercerita bagaimana sikap manusia saat menemukan titik anomali alias penyimpangan dalam dirinya sendiri. Tidak perlu usaha lebih dalam menggali apa pemicu deviasi watak John dengan segala rencana dan permainanannya lebih lanjut. Beberapa dari penonton mungkin ada yang mencoba mengutak-atik alur demi menemukan kisah yang lebih luar biasa dari seorang John Evans. Ternyata tidak perlu terlalu serius mengutak-atik , karena pada akhirnya narasi dengan sangat lugas akan membawa kita ke akhir yang diinginkan sang sutradara, yang punya hak veto atas katya ini. Mungkin para tokoh dalam Modus Anomali memang diciptakan sebagai pion-pion permainan yang sudah jelas arahnya tanpa ada pengembangan dari dalam karakter itu sendiri. Modus Anomali pun akhirnya terasa seperti dongeng yang mencoba menunjukkan bagaimana ‘sang pangeran’ yang mencoba menaklukan masalahnya dan kemudian sukses menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Ketegangan dan teror yang dibangun sejak awal hanyalah ‘penyedap rasa’ yang diciptakan secara artifisial hanya untuk membuat penonton bertahan sampai film usai. Seperti yang umum terjadi, rasa yang artifisial akan mudah berlalu begitu saja, dan jejaknya tidak akan bertahan lama.***

 As published in FOVEA #0

Friday, June 08, 2012

Geli-Geli di Gili (Part One)

Buat pekerja yang punya jam wajib lapor di kantor nine to five seperti saya, liburan intinya bisa kabur sejauh-jauhnya dari rutinitas atau kejaran deadline. Bisa juga mencari suasana berbeda dari kota Jakarta yang bikin penat. Bagi saya, ada hidden agenda sendiri dalam liburan, menciptakan tantangan baru dalam menjelajah. Bagaimana menuntaskan segala tantangannya menjadi keseruan sendiri bagi saya. Namun, nampaknya liburan bulan Mei ini saya menghapus jauh-jauh agenda berpetualang kali ini. Liburan intim kali ini hanya dengan Olla dan judulnya laid back holiday. Pilihannya jatuh ke Gili Trawangan dan Lombok berangkat dari Jakarta menuju Denpasar, Bali. Dalam lima hari, kami memadatkan destinasi hanya di Gili Trawangan dan berencana menjelajah Lombok. Perjalanan dimulai saat kami tiba di Denpasar dan menuju hostel kami di Legian. Pesawat yang delay hampir 45 menit membuat kami tiba di daerah keramaian Legian nyaris tengah malam. Memang tidak ada agenda khusus malam itu, tapi sayang rasanya kalau menyianyiakan Bali begitu saja. Akhirnya, 1st stop kami makan di warteg favorit, Nasi Pedas Bu Andika. Berhubung nggak banyak yang bisa dilakukan malam hari, menikmati makan malam sederhana di warung yang buka 24 jam sudah cukup memuaskan hati dan perut kami. Perjalanan menuju Gili pun dimulai besok paginya. Menurut itinerary perjalanan akan ditempuh lewat dua moda transportasi. Pertama, ± 60 menit dari Legian ke Pelabuhan Padang Bai dengan mobil lalu 2 jam dengan fast boat ke pelabuhan Gili Trawangan. Sejak seminggu sebelumnya, kami sudah memesan paket jemput mobil dan fast boat. Paket yang kami dapat Rp 600.000/orang untuk return ticket. Kalau mau beli one way dari Padang Bai langsung Rp 200.000/orang. Saat menunggu, muncullah seorang laki-laki yang kira-kira sebaya Saya, namanya Sandi. Mengaku liburan sendiri dan meminta bergabung. Nantinya akan banyak cerita seru dengan Sandi ini. Dua jam berlalu, tibalah kami di Pelabuhan Gili Trawangan. Baru tiba, Saya sudah terkesima. And it was just a beginning! Our boat : Eka Jaya! Gili Trawangan merupakan pulau yang paling ramai dari tiga pulau Gili lainnya, Gili Air dan Gili Meno. Lokasinya berdekatan satu sama lain dan dengan glass bottom boat bisa ditemput lebih kurang dalam 40 menit. Dibandingkan Bali, Gili Trawangan jauh lebih banyak dipenuhi oleh turis asing. Saya bisa hitung berapa banyak turis lokalnya. Kabarnya, Gili Trawangan jadi lokasi wajib di Indonesia menurut beberapa buku panduan liburan keluaran penerbit asing. Bahkan, media Inggris, Guardian menyebut Gili sebagai The New Ibiza! Di Gili nampaknya lebih cocok buat liburan bersama teman atau pasangan, mengingat kehidupan malamnya cukup seru tetapi banyak juga turis yang membawa anak-anaknya. Layaknya liburan suasana laut, kegiatan wajibnya adalah snorkeling dan diving. Beberapa resort menyediakan private lesson diving di kolam khusus hanya dengan 3-5 hari saja. Untuk snorkeling, paketnya Rp 100.000 ke tiga spot snorkeling termasuk sewa snorkeling mask. Mulai jam 10 pagi berkumpul di pelabuhan dan akan keliling ke tiga spot, termasuk spot di dekat Gili Meno tempat kura-kura bersarang. Pecinta kehidupan bawah laut, nikmati warna-warni ikan yang mirip Nemo di tengah karang putih dan barisan ikan warna keperakan yang berenang beriringan. Cantik! Apalagi kegiatan di Gili Trawangan? Di pulau yang luasnya lebih kurang 340 Hektar ini bisa disusuri dengan sepeda yang bisa disewa perharinya. Menurut penjaga hostel kami, sore hari wajib menikmati sunset di sunset spot yang ditempuh 30 menit bersepeda. Di sunset spot ini ada tiga lokasi yang bisa dipilih, termasuk dua reggae bar yang banyak dijadikan spot fotografi oleh beberapa orang dengan kamera yang cukup serius. Sambil menatap merahnya senja, pilihan minuman juga dihadirkan untuk menemani musik-musik ajaib yang dipasang. (Yes, lagu yang paling cocok buat saya hanya Ace of Base-All That She Wants). Bir dingin atau milkshake dipatok hanya Rp 25.000 saja terasa makin menyenangkan untuk dinikmati. Kejadian menarik setelah menikmati sunset, nampaknya saya dan olla terlalu asyik sampai lupa kalau perjalanan kembali ke pusat resor jauh dan minim pencahayaan. Alhasil, kami meraba-raba jalanan yang super gelap dan sedikit berpasir dengan sepeda tanpa lampu! Dengan kecepatan kurang dari 20km/jam kami berusaha waspada karena sesekali ada Cidomo (sejenis andong) yang akan lewat dalam kegelapan. Sampai akhirnya, ada lampu dari sepeda yang lewat dan ternyata seorang turis asal Shanghai yang melintas dengan aplikasi lampu dari iPhonenya. Akhirnya kami bisa kembali ke pusat Gili dengan selamat dan cepat! Hal lain yang agak random saya lakukan di Gili adalah yoga. Awalnya saya memang sempat membayangkan akan yoga di pinggir pantai, tetapi berhubung tidak menyiapkan apapun saya lupakan rencana itu. Ternyata ada yoga studio yang secara rutin membuka kelas tiap pagi dan sore selama 90 menit. Lokasinya semi-outdoor dan dengan instruktur orang asing yang memandu 15-20 orang peserta yoga. Kelas vinyasa yang saya ikuti merupakan kelas all level jadi nggak perlu takut kalau yogi lainnya sudah jago. Untuk kelas yang instrukturnya orang asing, cukup murah hanya Rp 90.000 per pertemuan sudah disediakan mat. Selain pemandangan cantik, yang tidak boleh absen adalah menikmati kuliner di pinggir pantai. Ada banyak pilihan dari mulai yang highend, warung pinggiran, sampai pintar-pintar memanfaatkan happy hour. Beberapa orang menganggap makan di Gili mahal, bisa coba beberapa trik yang kami lakukan. Tentunya liburan saatnya memanjakan diri, termasuk memanjakan perut. Di Gili sendiri jejeran resto seafood sangat menggoda iman dan lidah. Salah satunya, Scallywags yang punya resor sendiri dan interior yang cantik. Malam pertama kami putuskan untuk menikmati lobster dan ikan kakap yang lebih dari cukup porsinya untuk berdua. Total kerusakan sekitar Rp 140.000/orang termasuk nasi putih atau kentang panggang dan minum. Memang terasa mahal, tapi itu hanya hari pertama. Pasar Seni dan Jajanannya! Besok dan seterusnya, kami menghabiskan makan malam di Pasar Seni yang menjual banyak pilihan khas tradisional seperti sate ayam, nasi goreng, mie ayam sampai martabak. Harga makanan berkisar dari Rp 10.000-25.000 sudah cukup memuaskan perut kami. Untuk minuman, bar-bar di Gili mematok harga sangat murah untuk alkohol lokalnya. Untuk double shoot mixer gin tonic, Jack D Cola dan teman-temannya hanya Rp 20.000 di bar lokal Rudy’s atau Tir Na Nog. Untuk imported spirits harganya mulai Rp 40.000 saja! Belum lagi promo buy one get one, happy hour atau ladies night yang bisa dinikmati kapanpun. Buat kamu yang suka jajan di warung atau perlu beli keperluan sehari-hari, perlu lebih hati-hati karena warung-warung punya penduduk setempat mematok harga bule jadi terkadang mereka tidak peduli kalau kamu turis lokal. Sempat dibuat kesal, ketika saya mendadak memerlukan pembalut dan warung menjualnya seharga Rp 25.000 untuk isi 5 buah yang merknya pun tidak familiar. Di saat genting seperti itu saya tidak punya pilihan. Saya pun menyerah ketika ditawar hanya turun sampai Rp 20.000. Padahal saat saya cek di toko sebelah, mereka menjual dengan harga normal bermerk familiar. Sudah sejauh ini, cuma ke Gili Trawangan aja? Read more stories on part two :)

Sunday, March 25, 2012

Setan Kredit: Menapaki Ironi Tangga Kelas Sosial



Ciri khas dari komedi Warkop Dono Kasino Indro adalah perjalanan misi yang banyak terhadang masalah, komedi slapstick dengan simbol-simbol tertentu, dan sosok wanita yang menjadi pemicu aksi konyol sekaligus heroik para tokoh utamanya. Sepanjang tiga puluh tahun, formula itu terus-menerus digunakan, dan nampaknya dijadikan medium untuk menyampaikan pelbagai isu-isu berbagai kelas dengan cara tersirat yang nyaman dinikmati. Setan Kredit (1981) tak terkecuali.

Setan Kredit dibuka dengan wacana ‘kredit’ yang populer kala itu. Segala aktivitas konsumsi bisa dikredit, tentunya oleh orang-orang gedongan. Terbersit dalam salah satu dialog yang menyatakan kalau kredit itu langka, belum bisa dinikmati semua orang. Dalam film tergambar Indro tinggal di rumah mewah, dan dua sahabatnya Dono dan Kasino yang sedang menginap di rumahnya. Reaksi-reaksi Dono dan Kasino terhadap kemegahan rumah Indro mengindikasikan keduanya duduk sebagai kalangan menengah-ke-bawah.

Mereka bukan sekadar kagum, tapi juga mencela celah dari golongan kelas atas yang mereka hadapi. Celah tersebut justru muncul dari segala kelengkapan fasilitas yang mereka temui. Misalnya, saat Kasino ke rumah Indro dan terkesima betapa besarnya rumah tersebut. Muncul komentar “Rumah kok ruang tamu semua?” Rumah dengan banyak rumah merupakan sesuatu yang asing bagi Kasino. Mencelanya tak saja menjadi cara untuk memahami, tapi juga bentuk kekaguman. Celaan tersebut menjadi sebuah refleksi juga bagaimana kalangan menengah ke bawah ini punya keterbatasan ruang gerak untuk menikmati fasilitas yang tak terjangkau bagi mereka.

Naik Kelas

Bukan berarti protagonis kita diam saja dan tidak berusaha menaiki tangga kelas sosial untuk memenuhi keinginannya. Masalah kredit ini menjadi isu utama yang ingin ditampilkan secara berkala di hampir semua momen. Dalam rumah gedongan yang mewah, ibu Indro terlihat bersenang-senang dengan sistim kredit. Sementara masyarakat kelas bawah, terlihat dari kunjungan trio Warkop ke sebuah pasar, berjubel melakukan transaksi jual-beli ayam untuk kebutuhan pangan sehari-hari dengan sistim kredit. Ada perbedaan yang signifikan dalam penggunaan fasilitas kredit di antara kedua kelas. Kemapanan finansial dianggap begitu penting untuk masuk ke dalam sebuah kelompok sosial yang lebih berada, satu problematika yang Dono dan kawan-kawan coba hadapi dan dobrak.

Ada satu kejadian ajaib dan tak masuk akal yang mensatirkan usaha Dono untuk memasuki kelas atas. Saat Dono berpapasan dengan Lia (Minati Atmanegara) di jalan, Dono mencoba membantu Lia menemukan payungnya yang tertinggal dalam bus. Setelah payung didapatkan, Dono tak sengaja terbawa angin dan terbang berputar-putar dengan payung Lia di atas langit Jakarta. Ia melihat keseluruhan kota Jakarta bahkan lebih tinggi dari Monas, bahkan kesempatan jahil mengintip perempuan yang mandi. Setelah berkeliling di udara, Dono mendarat –anehnya– tepat di kolam renang rumah Lia. Saat itu, ia langsung dipukuli karena dianggap melewati batas teritori rumah orang oleh ayah Lia, tetapi posisinya terselamatkan karena membawa payung Lia yang hilang.

Hal serupa tak terulangi di adegan selanjutnya, ketika Dono mencoba mengambil jalan pintas naik ke kamar Lia dengan sebuah tangga. Dono justru menerima dicerca dan diusir ayah Lia. Usaha-usaha ajaib Dono di adegan sebelumnya terlihat kontras dengan realitas yang ada. Batas nyata si miskin dan si kaya memang tak bisa ditembus.

Makin ditegaskan saat adegan di hutan menjelang akhir film, di tengah perjalanan ketiganya bertemu dengan dukun yang dipercaya bisa memberikan kemudahan urusan kredit ini. Sang dukun pun berujar ibu Indro yang notabene kalangan kelas atas pun meminta dimudahkan kredit oleh dukun tersebut. Munculnya dukun ini seperti bentuk legitimasi kebiasaan klenik masyarakat Indonesia yang mempercayai hal-hal mistis, tak peduli dari kelas mana mereka berasal. Muncul pertanyaan, apakah cara-cara jujur dan tanpa bantuan klenik tak lagi menjadi pilihan?

Menertawai Diri Sendiri

Komedi Warkop sukses menghadirkan tertawaan bagi penonton yang seolah menonton dirinya sendiri dan juga tokoh dalam film yang sebenarnya menertawakan dirinya sendiri. Penonton mungkin merasakan kesatiran dalam komedi yang ironi, bagaimana usaha-usaha yang pernah mereka lakukan untuk menapaki kelas sosial yang lebih ditampilkan di depan mata. Saat itu, lewat tontonan penonton lebih bisa menertawakan tokohnya daripada menertawakan diri sendiri. Kala itu, Jakarta yang saat itu digambarkan begitu lengang memberikan kesempatan bagi siapa saja yang berlomba-lomba menjadi bagian penting lewat status sosial dan juga properti yang dimiliki. Jalanan dan petak tanah seperti ajang eksibisi yang menampilkan status sosial pemiliknya. Tak jarang mereka yang jauh dari peta sosial kelas atas harus berdarah-darah untuk bisa sampai dalam posisi atas tersebut, meskipun kadang hasinya tak sebanding usahanya. Hal inilah yang dikritisi dan memposisikan masyarakat sebagai obyek penderita.

Melihat realita masa kini, rasanya situasinya terasa tidak terlalu berbeda dengan kondisi sosial masyarakat yang digambarkan Setan Kredit. Upaya ‘naik kelas’ masih kerap dilakukan bahkan dengan cara yang lebih massive bahkan melupakan norma-norma sosial yang konon menjadi batasan. Masalah kredit kini bukan lagi soal cara untuk bertahan hidup saja, tetapi menapaki kelompok sosial tertentu dan melegitimasi posisinya di mata kelompok tersebut. Bukan lagi soal liburan atau bahan pangan yang penting dikredit, kosmetik atau perkakas elektronik menjadi ukuran wajib demi sebuah status sosial baru. Tidak heran, konteks menertawakan diri sendiri masih sangat relevan dilakukan di masa modern meskipun dengan cara yang paling primitif.

Mungkin sulit mencari bandingan kekuatan komedi yang relevan hingga saat ini, apalagi yang ditampilkan dalam film Indonesia. Melihat kembali sentilan sosial yang dibangun dalam Setan Kredit, pola sindiran-sindiran tersebut ternyata masih bisa menyentuh berbagai kalangan sampai masa kini. Ketika komedi-komedi Warkop berusaha menyentil semua lapisan masyarakat, pola komedi masa kini justru diminimalisir untuk kalangan tertentu dalam kelas yang tertentu pula. Tidak heran, menikmati komedi Warkop seolah kita dilupakan dengan segala label yang membatasi segala kenikmatan beropini atau bermain-main dengan segala yang mungkin. Dalam dunia Warkop saat itu, komedi serta sindiran bisa menjadi konsumsi kalangan mana saja, yang mungkin juga sudah bergerak ke masa lebih baru.

Also posted in Cinemapoetica.com for Bulan Film Nasional 2012

Setan Kredit | 1982 | Sutradara: Iksan Lahardi | Negara: Indonesia | Pemain: Dono, Kasino, Indro, Minati Atmanegara, Lisa Dona, Dian Ariestya

Sunday, March 04, 2012

Negeri 5 Menara: Mimpi Beda, Rasa Sama

Tiga hal yang kerap ditemukan dalam film Indonesia belakangan ini: kampung halaman, ambisi, dan persahabatan. Masih hangat dalam ingatan film-film seperti Tendangan dari Langit, Semesta Mendukung, dan yang paling populer Laskar Pelangi. Persahabatan, kampung halaman dan ambisi menghadirkan kehangatan tersendiri yang mudah dicerna penonton Indonesia, sebuah perasaan yang kemudian direproduksi dalam pengulangan formula serupa. Alasannya ekonomis, yakni merangkul penonton massal dari segala kelas untuk berbondong-bondong ke bioskop, yang kemudian diterjemahkan menjadi keuntungan besar. Perkenalan lewat novel juga dijadikan strategi sendiri untuk mendorong komunitasnya sendiri menyaksikan versi layar lebarnya. Hasilnya bagi pembuat film: membuka kesempatan sekuel atau melebarkan sayap lewat bentuk pertunjukan lain. Laskar Pelangi, misalnya, dikreasi ulang menjadi pentas musikal di atas panggung.

Formula ala Laskar Pelangi ternyata menular juga pada Negeri 5 Menara, baik novelnya yang ditulis Ahmad Fuadi maupun adaptasi filmnya yang disutradarai Affandi Abdul Rachman (sebelumnya The Perfect House, Heartbreak.com, dan Pencarian Terakhir). Kedua karya ini mempunyai pola cerita yang tak ayal menyandingkan keduanya dalam satu lini yang sama. Bermimpi, menjadikan mimpi itu nyata, menemui kegagalan, dan akhirnya muncul sebuah pertanyaan krusial, ”Apakah semua mimpi akhirnya harus terwujud untuk dikategorikan sebagai sebuah kesuksesan?”


Penantian Panjang dan Lambat

Film Negeri 5 Menara berkisah tentang Alif, pemuda yang menghabiskan hidupnya di tengah keluarga relijius di Tanah Gadang. Ia bermimpi menjejakkan kaki di Pulau Jawa dan masuk dalam barisan mahasiswa sebuah kampus tersohor di Bandung. Sayang, orangtuanya menganggap sia-sia kalau sudah sampai Jawa Alif tidak menuntut ilmu agama. Jadilah Alif seorang murid Pondok Madani. Untungnya, ada kelima sahabatnya yang sukses membuat Alif sedikit kerasan di tengah peraturan yang mengikat dan kadang terkesan konyol. Bersama Baso, Atang, Raja, Said, dan Dulmajid mereka mencari-cari mimpi apa yang bisa mereka wujudkan selepas dari pondok pesantren tersebut. Tersebutlah negara-negara dengan penandanya yang khas. Ini makin membuat enam sekawan itu makin menjadi dalam bermimpi.

Sejak awal perkenalan dengan tokoh Alif, penonton seperti diarahkan dan diberi peringatan kalau kisah hidup Alif cukup panjang untuk diikuti. Pergolakan keinginan Alif yang berbenturan dengan rasa ingin membanggakan kedua orangtuanya dijabarkan cukup detail dan panjang dalam satu perjalanan waktu. Penonton seperti diberi posisi strategis untuk menikmati perjalanan seorang anak lewat waktu yang berjalan lambat. Detail yang disampaikan seperti ingin menguliti semua gerak-gerak Alif layaknya orangtua yang protektif. Sampai masuk ke pondok pesantren, posisi itu masih tersedia bagi penonton meskipun Alif sudah tidak lagi tinggal bersama orangtuanya.

Ada Ustad Salman (Donny Alamsyah: Merantau, The Raid) yang mendadak punya posisi signifikan dengan keberadaan Alif dan kawan-kawan ini. Ustad Salman selalu tampil heroik ketika enam sekawan itu terjepit dalam situasi lemah. Sayangnya, tokoh terdekat yang seharusnya memiliki kekuatan emosional yang erat dengan anak-anak itu justru terasa layaknya tokoh sampingan yang sekadar lewat saja. Di awal, pengaruh Ustad Salman begitu terasa nyata dengan kalimat menggugah: ”Man jadda wajada.” Semangat yang di awal begitu terasa menggugah hati keenam sahabat itu malah luruh begitu saja justru di saat keenamnya tersebut makin akrab. Padahal sebagai tokoh yang sudah cukup menarik perhatian di awal, Ustad Salman bisa mengambil peran penting dalam kisah anak-anak ini selama di pondok.

Di awal terlihat jelas saat kekakuan antarsiswa masih terasa, Ustad Salman mencoba membakar semangat mereka, membuat mereka bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan mereka di pondok tersebut. Kemudian enam sekawan ini menjadi salah satu produk sukses Ustad Salman mengompori muridnya yang masih hijau dan kemudian punya banyak ambisi. Eksistensi Ustad Salman perlahan seolah menghilang pada hubungan emosional dengan para siswanya. Saat akhirnya Ustad Salman meninggalkan pondok, tidak ada kontak yang dilakukan dengan keenam siswa tersebut. Entah adegan sengaja tidak dibuat dramatis yang berlebihan, atau ingin menyampaikan peran Ustad Salman sudah selesai. saatnya ia pergi meninggalkan Alif dan kawan-kawan yang sedang berapi-api mengejar mimpinya.

Pertanyaan lainnya: sampai kapan penonton harus menunggu hingga konflik mulai muncul ke permukaan? Sepanjang film penonton dihadapkan masalah-masalah kecil yang tidak berdampak bagi jalan cerita atau pun hubungan antar tokohnya. Contohnya keinginan Alif sekolah di ITB. Berbagai cara ia coba supaya bisa masuk sana, termasuk menyabotase ujiannya sendiri. Di tengah-tengah cerita juga terselip angan-angan Alif saat ia berkunjung ke Bandung. Saat itu penonton seperti hanya sekadar diingatkan dengan ambisi Alif di awal film tetapi tidak ada tindak lanjut sampai film usai. Masalah yang ditampilkan timbul tenggelam seolah tidak penting bagi para tokohnya. Di samping itu, ada sejumlah masalah kecil yang sebenarnya bisa menjadi mengaitkan para tokoh. Saat itulah penantian tersebut membuahkan kebosanan dan ritme yang serba datar tidak memberikan letupan perasaan yang begitu menggebu-gebu. Banyaknya tokoh yang disorot dan juga tokoh pendukung yang muncul bisa jadi alasan dari alpanya perasaan itu.


Ansambel yang Akrab

Lantas, dari mana perasaan hangat yang di awal sempat disebut menjadi salah satu kekuatan film ini? Terlepas dari plot cerita yang cenderung lambat dan tak beraturan, keenam tokoh utama yang tergabung dalam ansambel film ini mempunyai kekuatan tersendiri. Alif menjadi tokoh sentral lengkap dengan ambisinya meninggalkan pondok, tetapi terbentur dengan ikatan persahabatan yang dimiliki. Baso, siswa asal Gorontalo mungkin menyisakan sedikit kesan yang berbeda dibanding lima tokoh lainnya. Ia tampak sederhana, cerdas, dan bersahaja. Di balik kesederhaannya itu, ada sisi yang begitu menyentuh Alif dan kawan-kawan, termasuk menyisakan ruang hangat bagi penonton.

Sekilas ada momen-momen penuh pesan ala motivator yang mencoba membakar semangat. Seperti Ustad Salman yang begitu berapi-api di awal, ada seseorang dalam enam sekawan ini yang tanpa disadari memiliki kemampuan serupa dengan sang ustad tetapi dengan cara yang lebih menyentuh. Baso sukses meredam emosi-emosi Alif atau teman-teman saat menemukan perselisihan. Di adegan yang cukup emosional, Baso harus kembali ke kota kelahirannya demi mengurus neneknya yang sakit keras. Kelima kawannya mengelilingi dengan wajah sedih, nyaris berlinang air mata.

Baso sebagai orang yang ditangisi terlihat santai dan tidak menahan beban. Terjelaskanlah peran Baso sebagai wingman sang tokoh utama. Perannya memberi dampak pada jalan cerita dan merekatkan tokoh-tokoh lainnya. Kelekatan para tokoh ini yang akhirnya membangun kehangatan antarpribadi. Penonton disuguhkan sisi menyenangkan saat mereka masih berangan-angan menjelajahi dunia pasca kelulusan mereka dari pondok. Impian yang serba selangit itu kembali didukung lewat aksi-aksi keenamnya mencoba mendobrak aturan pondok yang serba ketat. Momen yang satu persatu terjadi itulah yang membuat adanya pertemuan rasa nyaman persahabatan, dan juga nostalgia ambisi yang dibangun lewat ansambel pemain film ini.

Jika sejak awal sudah muncul tebakan seputar ke mana alur cerita akan berjalan, mungkin karena formula yang digunakan terasa begitu akrab bagi penonton film Indonesia serupa. Tentunya formula mujarab ini tidak berhenti sampai sini saja. Konon sederet film-film adaptasi berpola sama siap diluncurkan tahun 2012 ini. Setidaknya keakraban enam sekawan Negeri 5 Menara masih sangat nikmat untuk diikuti, meski formula filmnya sendiri sudah terlalu familiar.

Negeri 5 Menara | 2012 | Sutradara: Affandi Abdul Rachman | Negara: Indonesia | Pemain: Gazza Zubizareta, Rizki Ramdani, Billy Sandy, Jiofani Lubis, Ernest Samudera, Aris Putra, Lulu Tobing, Ikang Fawzi

Also published on cinemapoetica.com

Thursday, February 09, 2012

Midnight In Paris : Petualangan Berbasis Imaji dan Harapan


Pernah membayangkan hidup di era keemasan para seniman andal semacam Pablo Picasso, penulis terkenal Ernest Hemingway, atau sutradara Luis Buñuel? Menyusuri imanjinasi yang bermain dalam nostalgia nan gila bisa menjadi pembuka bagi pecinta seni, jalanan di kota malam hari dan juga petualang waktu.

Gil Pender (Owen Wilson) akan menjadi kapten sepanjang perjalanan menyusuri jalanan di kota Paris saat malam hari. Berawal dari sebuah kekecewaan atas kemampuan menulis yang kerap diragukan oleh Inez, tunangannya beserta keluarganya, Gil terdampar secara tidak sengaja di Paris era tahun 20-an. Bagi Gil, Paris adalah kota yang indah dengan segenap gedung-gedung tua yang artistik, dan menyenangkan disusuri di kala hujan. Sepanjang perjalanannya di Paris, bagi Gil tidak ada yang lebih menarik daripada menikmati musik dari Cole Porter atau duduk di tepian kafe sepanjang sungai Seine. Tidak bagi Inez (Rachel McAdams), Paris adalah destinasi mewah, menikmati Versailles atau berdansa bersama sahabatnya. Inez juga menolak ide Gil untuk pindah ke Paris setelah pernikahannya dan memilih tinggal di Malibu. Segala kepenatan Gil membuatnya sejenak tak sadarkan diri dan ikut dengan kereta kuda yang membawanya bertemu Scott Fitzgerald. Petualangan pun dimulai. Gil mencoba mencari pembatas, manakah yang imajinasi dan mana yang realita. Sampai ia bertemu Adriana (Marion Cottillard), perempuan yang ternyata menjadi selingkuhan Picasso sekaligus inspirasi beberapa lukisannya. Gil yang sejak awal mencoba mempresentasikan tulisannya pada Hemingway dan Stein, ternyata justru mengena bagi Adriana. Tidak berhenti di situ saja, Gil dan Adriana pun mulai menikmati pertemuan mereka yang sebenarnya berasal dari dua waktu berbeda. Saat Gil kembali ke waktu silam dalam beberapa malam berturut-turut, Inez juga mulai membaca keanehan kelakuan Gil yang makin tenggelam dalam tulisan-tulisan di tengah malamnya.

Refleksi dan Nostalgia Masa Keemasan Paris dalam Imajinasi

Bagaimana keindahan Paris di tahun 2000-an justru bisa melempar memori seorang Gil Pender dalam nostalgia yang tak berkesudahan selama nyaris satu abad sebelumnya? Gil sendiri menunjukkan kegemarannya menikmati memori usang dalam kehidupan kesehariannya dan juga dalam tulisannya. Bagi Gil ada komponen dalam masa lalu yang bisa dinikmati sesekali dan tetap indah walaupun tidak bisa terus menerus disimpan. Gil bercerita tentang toko nostalgia dalam novelnya dan bagi Inez serta beberapa kawannya, hal itu terkesan konyol dan merupakan representasi keengganan Gil melepaskan masa lalunya. Dalam karakternya sendiri, Gil tidak terlihat begitu memuja masa lalunya tetapi ia menghargai karya yang lahir di era keemasan terutama di Prancis. Melihat semua seniman yang ia temui di beberapa malam tersebut, nyaris semuanya merasakan kejayaan saat tiba di Prancis sekitar awal tahun 1900-an. Lihat saja Hemingway, di awal tahun 20-an ia menikahi istri pertamanya dan pindah ke Paris lalu meluncurkan novel pertamanya tahun 1926. Ada juga Salvador Dali, pelukis beraliran surealis asal Spanyol yang juga akrab dengan Picasso dan memulai menemukan ciri khas karya-karyanya sejak pindah ke Paris sekitar tahun 1926. Ada refleksi harapan dari Gil saat ia dipertemukan dengan semua seniman tersebut. Bisa jadi pertemuan-pertemuan tersebut merupakan keinginan dari alam bawah sadar Gil yang berharap bisa mencapai posisi puncak di masa keemasan seperti mereka. Kemungkinan lain, Gil yang selama ini tidak pernah menunjukkan tulisannya ke siapapun hanya percaya pada idola-idolanya yang mencoba berbicara pada dirinya. Keajaiban Paris cukup berhasil untuk Gil, setidaknya imajinasinya membuahkan ide-ide baru yang bisa mengembangkan novelnya selama ini.


Melepaskan Imajinasi atau Hidup Selamanya Dalam Fantasi?


Menikmati fantasi dalam dua ruang dan waktu di dunia Gil menjadi keasyikan sendiri sepanjang 94 menit film ini. Di pagi sampai siang hari, penonton disuguhkan suasana ramai di Paris, lalu di malam hari saatnya berpetualang di masa lampau tanpa tahu siapa yang nantinya akan ditemui Gil. Perjalanan penuh fantasi itu terasa makin menyenangkan ketika waktu menunjukkan sudah tengah malam, berada di antara waktu malam menjelang pagi hari. Saat itulah imajinasi berada pada titik yang paling liar dalam kehidupan Gil. Ia bebas memikirkan apapun di waktu tersebut dan mengetahui akan ada batas waktu ia kembali ke dunia nyata. Dalam film sendiri, Gil gagal membawa Inez ke ‘dunia’ pasca tengah malam karena ia datang terlalu cepat sebelum bel tanda tengah malam belum berdentang tetapi tidak pernah dijelaskan kapan waktu imanjinasinya berakhir. Apakah ada tanda seperti Cinderella saat bel berdentang segala kemewahannya akan kembali ke asal? Yang penonton tahu hanyalah saat matahari sudah kembali terbit, ia sudah duduk kembali di depan novelnya, menulis ulang dan sang kekasih berada di ruangan yang sama dengannya. Tentunya perjalanan masa lampau di zaman keemasan itu harus menemukan akhirnya. Ketika Gil dan Adriana menemukan titik di mana mereka begitu berbeda memandang masa keemasan dan artinya bagi mereka, di situlah Gil sadar sudah waktunya ia menyudahi segala fantasi yang ia alami dan saatnya ia hidup di masa yang sesungguhnya. Masa yang harus ia ciptakan sendiri keemasannya dan merayakan dengan waktu yang sesuai. Ia tidak bisa terjebak dalam kemegahan zaman hidup orang lain ketika hidupnya sendiri jauh dari kesuksesan. Begitu pula dengan kehidupannya dengan Inez, apakah ia bisa membawa Inez serta menuju puncak keemasannya? Setelah petualangan tengah malam, Gil menciptakan sendiri tantangannya. Kejayaan yang diperuntukkan baginya tanpa campur tangan fantasia tau ilusi atau sebenarnya ia hanyalah sisa-sisa dari kesuksesan yang sudah dicapai di masa sebelumnya dan tidak bisa lagi diraih?

Sunday, January 29, 2012

Ummi Aminah : Bermain-main dengan Masalah Sinetron di Layar Lebar



Film-film bertema keluarga nampaknya menjadi tema yang banyak ditampilkan dalam beberapa film Indonesia. Tahun 2011 lalu, bisa kita nikmati Garuda di Dadaku, kisah seorang anak yang harus menerima ketika sang ibu menemukan sosok baru pengganti ayahnya. Ada Lovely Man, pencarian seorang anak perempuan ke ibukota demi bertemu sang ayah yang hadir dengan identitas baru. Masih seputar anak dan hubungan dengan keluarganya, awal tahun 2012 sosok ibu kembali hadir menyapa penonton film Indonesia lewat film Ummi Aminah. Kali ini, dalam konflik keluarga yang lebih luas dan rumit, anak-anak Ummi Aminah mengambil peran dalam segala masalah yang muncul sepanjang film ini.

Ummi adalah seorang ustazah alias penceramah yang populer di kalangan pengajian lokal. tentunya banyak imej yang menempel padanya sebagai tokoh agama yang menjadi panutan. Tinggal bersama suami keduanya dan anak-anaknya yang beranjak dewasa, Ummi merasa cukup bahagia meskipun aktivitasnya berceramah tidak membuatnya kaya harta. Anak-anaknya sigap membantu dan berada di sampingnya, meskipun di balik itu semua ketujuh anaknya mengemban masalahnya sendiri. Sebut saja Zainal (Ali Zainal) yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama kedua orangtuanya. Zainal memiliki kesulitan ekonomi dan memilih bekerja mengantar Ummi ke manapun Ummi membutuhkannya. Keadaannya makin terjepit ketika istrinya (Revalina S.Temat) mengandung anak kedua dan kebutuhan finansial tidak lagi terelakkan. Zainal pun mencari sambilan berjualan sepatu wanita yang laris manis dijual kepada jamaah Ummi yang hadir di acara ceramah. Zidan (Ruben Onsu) harus menghadapi ayah kandungnya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zidan lebih terlihat kemayu dibanding saudara laki-laki lainnya. Zidan yang punya usaha salon memilih keluar dari rumah sambil perlahan-lahan mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang ayah. Lain lagi dengan Zarika (Paramita Rusady), anak kedua Ummi yang masih melajang ini begitu ambisius mengejar karier dan menjalin hubungan dengan pria beristri. Keadaan makin merumit ketika berita seputar anak-anak Ummi muncul ke permukaan dan menjatuhkan nama Ummi sebagai ustazah. Berbagai problema terasa makin rumit dan tak asing lagi, seperti menonton kisah sedih sinetron lokal. Bagaimana masalah yang layaknya kita temui di layar kaca televisi ini bisa diselesaikan ala layar lebar Indonesia?

Ada banyak masalah yang berpusat pada kehidupan Ummi dengan anak-anaknya. Ummi digambarkan sebagai sosok yang tidak tahu menahu soal masalah anak-anaknya sampai mereka mengungkapkannya sendiri pada Ummi atau orang lain yang memberitahunya. Di sini begitu terlihat, Ummi diposisikan sebagai korban dari anak-anaknya sendiri. Korban yang hanya tahu kalau seisi rumahnya baik-baik saja ketika anak-anaknya memilih tidak menyakiti Ummi dengan kenyataan pahit yang mereka derita sendiri-sendiri. Sayangnya, efeknya justru lebih fatal. Ummi merasakan kesakitan tiga kali lipat karena merasa tidak mengenal anak-anaknya sendiri dan tidak bisa lebih sensitif merasakan kejanggalan yang terjadi serta berusaha mencegah kejadian lebih fatal terjadi. Penonton dibiarkan menikmati satu persatu masalah tiap anak muncul dan menyambangi kehidupan mereka. Sayangnya, ada pembagian yang tidak merata bagi ketujuh anak-anaknya. Kita tengok Ziah (Zee Zee Shahab), sebagai asisten Ummi ia digambarkan sebagai sosok yang cantik, digemari banyak laki-laki dan berpendidikan tinggi. Di tengah segala masalah merebut suami orang, tuntutan ekonomi, perdagangan narkoba, sampai sulitnya cari kerja, Ziah ‘hanya’ dibebani dilema meninggalkan pekerjaan sebagai asisten Ummi dan menyerahkan tahtanya pada sang kakak, Zubaidah. Ia juga sempat menjadi penghubung dari segala penilaian publik terhadap anak-anak Ummi yang dianggap gagal menjadi panutan. Ziah yang berada di posisi penting dan selalu berada di samping Ummi tidak dilibatkan dalam situasi signifikan. Duduk sepanjang 104 menit film ini membuat kita sejenak berpikir dan mencoba menghubung-hubungkan kisah Ummi dengan sinetron yang biasa tayang di layar kaca. Penuh plot masalah yang seolah tidak ada habisnya, akting pemainnya yang kadang berlebihan dan dibuat-buat, atau para pemainnya yang memang bisa kita temui di beberapa judul sinetron atau FTV. Satu hal yang menarik ketika judul utama bukanlah menjadi peran utama. Sosok Ummi memang seperti dijual dalam poster dan cerita sepanjang film tetapi masalah Ummi justru berpusat dari hal-hal di luar dirinya di sini, Ummi berperan penting sebagai pusat dari segala pergerakan yang ada dalam film. Bukan sekadar masalah saja. Dinginnya hubungan antara Zidan dan ayahnya, membuahkan keberanian dan turunnya gengsi ayah Zidan untuk menemui Zidan di salonnya. Tidak ada tendensi lain kecuali membuat Ummi merasa para supporting system dalam keluarganya bisa berjalan selaras. Tidak pernah diungkapkan secara verbal kalau Ummi mau ayah dan Zidan berbaikan. Sayangnya beberapa pemain berakting secara dipaksa dan berlebihan, inilah yang kembali membuat Ummi Aminah kembali dianggap layaknya sinetron, salah satunya adalah Paramita Rusadi.

Satu catatan penting, nampaknya sutradara Aditya Gumay perlu belajar bagaimana menyudahi filmnya tanpa harus mengungkapkan segala sesuatu secara eksplisit. Sesekali, biarkan penonton menikmati imajinasi yang ada di kepalanya ketika layar berubah jadi hitam dan masuk credit title. Harusnya akhir dari film inilah yang menjadi pembeda kisah sinetron yang kerap mengaduk-aduk emosi penonton secara eksplisit yang tidak menjadi akhir perjalanan atau masalah Ummi.

Welcoming The Year of Dragon

Perjalanan perdana tahun 2012 ini diawali dengan kunjungan ke negri tetangga Singapura. Sebenarnya saya bukan tipe yang suka mengunjungi satu tempat yang sama dalam kurun waktu berdekatan. Terkahir saya ke SG tahun 2010 dan 2007, memang cukup lama jaraknya tetapi saya masih bisa mengingat cukup jelas beberapa tempat yang sudah saya kunjungi. Kali ini, tujuan utamanya adalah menonton drama musikal Broadway Wicked yang pentas sepanjang Desember – April di Marina Bay Sand. Awalnya saya merencanakan pergi sendiri karena tidak berniat mengelilingi kota tersebut tetapi di tengah jalan, salah satu teman baik saya, Fauzan tertarik bergabung. Jadilah, perjalanan yang awalnya hanya berkisar menonton teater tidak lebih dari semalam diperpanjang menjadi tiga malam, tentu dengan agenda perjalanan yang lebih banyak. Pilihan waktu berlibur ini ternyata tanpa saya sadari bertepatan dengan perayaan Imlek, lengkaplah sudah. Saatnya saya mewujudkan cita-cita menikmati suasana tahun baru China di negara yang mayoritas merayakan xin jia ini.


Sebelum perjalanan dimulai, ada satu pakem yang harus dilakukan menyangkut partner perjalanan saya. Meskipun sudah berteman cukup lama, ada hal mendasar yang harus didiskusikan, bujet dan tujuan perjalanan. Mengingat saya adalah seorang control freak, jadi saya harus memahami apa keinginan partner saya kali ini dan batasan apa yang sama-sama kita miliki. Setelah didiskusikan, Fau menyerahkan itinerary perjalanan pada saya. Ya, termasuk pemesanan tiket pesawat, hotel, nonton Wicked sampai rencana perjalanan harian. Sama-sama kami akui kalau perjalanan ini merupakan perjalanan irit, yang sebenarnya memang selalu jadi prinsip ekonomi saya saat trip apapun. Saya bahkan lebih fair, menyebutkan angka nominal yang saya bawa selama perjalanan. Tujuannya supaya tahu kemampuan satu sama lain tanpa harus merasa sungkan atau jadi sensitif. Mengingat kurs SGD sendiri cukup tinggi, kami harus pintar-pintar memotong bujet agar tetap bisa menikmati liburan tanpa sengsara.

Untuk perjalanan yang direncanakan lebih kurang sebulan dalam suasana peak season, kami cukup beruntung mendapat harga tiket dan hostel yang terjangkau. Tiket nonton Wicked pun kami memilih yang termurah. Asumsi kalau gedung teater yang bagus tentu memadai semua penontonnya untuk menikmati pertujukan dengan nyaman, bukan?

Tiger Airways USD 210
Feel At Home Hostel (3 Nights,6 Mixed Dorm) USD 90,17
Wicked tickets SGD 110,88 USD 91,8
Total USD 391,7 : 2 persons = USD 195,9

Total pengeluaran memang terasa besar karena tiket nonton teater yang jadi tujuan utama. Jadilah di sini pintar-pintarnya menghitung dan berhemat, pilihan saya waktu itu adalah menghemat pengeluaran makan-makan dan transportasi. Mengingat lokasi hostel berada di Bugis, transportasi sangat bisa dihemat dengan MRT, Bus atau jalan kaki saja.

Bagaimana kisah perjalanan super irit kali ini?

Mulai dari hari pertama, penghematan sudah dilakukan dari urusan makan. Ternyata, Fau punya pengalaman lebih gila soal penghematan. Dalam trip sebelumnya ke KL, ia dan beberapa temannya sampai nekat bawa bekal nasi beserta lauk pauknya untuk bertahan sampai 2 hari! Cara yang cukup ekstrim dan saya bersyukur ia tidak melakukannya dalam trip kali ini. Kebayang masuk ke pesawat dengan tas penuh nasi putih dan bau rendang yang merebak ke seluruh penjuru pesawat. Tidak hilang akal, ternyata Fau mengantisipasinya dengan membawa bekal roti siap makan untuk bekal dua hari. Saya cukup terselamatkan, di hostel kami menyediakan sarapan sebelum jam 10 pagi dengan menu roti panggang selai srikaya dan menu tambahan sesuai selera (dan mood) pemilik hostel. Untungnya saya tidak bosan menikmati menu itu selama empat hari berturut-turut. Ide hemat lainnya, beli air mineral di hostel juga bisa menghemat barang 50-80 sen sama seperti yang terjadi di hostel Ho Chi Minh City. Misalnya sering naik MRT kadang kita tidak sadar jarak tempuh yang terjangkau walking distance-nya dihargai SGD 1-2 padahal bisa jalan 5-15 menit saja. Coba rajin-rajin baca peta, kira-kira berapa blok yang harus ditempuh jalan kaki daripada harus naik MRT atau bus. Setelah menonton Wicked dan berkeliling Singapore River, waktu sudah menunjukkan tengah malam, tentunya opsi moda transportasi yang tersisa hanya taksi atau bus. Bagi saya, bus adalah opsi utama untuk tersesat di kota dan taksi tentu punya ongkos tambahan jika lewat tengah malam. Kami pun menyusuri Esplanade sampai Bugis yang jaraknya lebih kurang 6 blok dengan berjalan kaki. Selama 20-25 menit, perjalanan tidak terasa lelah karena jalan santai dan menikmati suasana Singapura di malam hari yang cukup aman.
href="http://3.bp.blogspot.com/-0PZuLOMnBkk/Tyd-jZcgmII/AAAAAAAAAxk/X5_z7vTbeWo/s1600/Sing%2BPanorama.jpg">
Perjalanan Hemat Bukan Berati Tanpa Hura-Hura Bukan?


Selama dua kali mampir ke SG bersama teman, kebanyakan hanya melihat daerah pertokoan di Orchard, kafe cantik di Clarke Quay, dan menikmati resor populer di Sentosa.

Kali ini saya tidak mau sia-siakan, saya sudah menargetkan menjelajahi museum, daerah pecinan, sampai pelosok yang jauh dari keramaian apalagi perbelanjaan. Dengan waktu yang minim memang lokasi yang dijelajahi lebih terbatas, National Museum of Singapore (NMOS), Singapore Art Museum (SAM) dan Chinatown menjadi target utama saya.
Dengan membayar masing-masing SGD 10, saya menikmati museum yang begitu megah dan penuh dengan koleksi unik termasuk film dan kuliner Singapura di National Museum. Di SAM malah sedang berlangsung kompetisi bagi seniman Asia termasuk Indonesia.

Mulai dari lukisan, fotografi, seni visual, sampai video dipamerkan di museum sebanyak tiga lantai dan satu gedung annex. Karya yang memikat hati saya, film dari Taiwan tentang sulitnya menembus visa Amerika dan kebijakan kewarganegaraan Taiwan dan China. Selain itu, di NMOS terdapat museum film dan wayang yang berisi sejarah dan perjalanan perkembangan film di Singapura.



Di Chinatown, saya juga sudah mengincar beberapa lokasi makan yang direkomendasikan, sayangnya lokasinya begitu padat dan saya sudah keburu tidak nafsu dengan ramainya perayaan pergantian tahun kelinci ke tahun naga, apalagi hujan tidak habisnya mengguyur kota. Sudah tentu, perayaan Imlek menjadi atraksi utama yang saya tunggu apalagi banyak objek yang bisa diabadikan lewat foto.


Keuntungan lain yang tak terduga, setelah puncak acara kembang api perayaan Imlek, hujan deras dan jalanan yang ditutup sana-sini sempat membuat saya dan Fau memutuskan mencari taksi. Sambil menunggu, kami mencoba melirik stasiun MRT. Logikanya, MRT trakhir ada di jam 11 malam sedangkan saat itu waktu menunjukkan jam 1 malam. Ternyata, khusus di malam pergantian tahun MRT beroperasi lebih malam dari biasanya ke semua jurusan! Sukses berhemat lebih dari SGD 10 untuk pulang.

Every Penny Counts!

Sepanjang menyusuri Singapura yang serba mahal (dibandingkan perjalanan sebelumnya ke Ho Chi Minh City), tentu harus ada trik-trik yang bisa digunakan saat perjalanan ke negara yang biaya hidupnya tinggi. Kali ini ada beberapa tips supaya tetap bisa hidup nyaman & tenang. Kalau kata Ligwina Hananto, masa liburannya udah selesai tapi hutangnya belum beres-beres?

* Kenali kemampuan finansial partner liburanmu. Ini penting, apalagi uang masalah yang sensitif. Gak lucu dong kalau ternyata kamu hura-hura padahal partner kamu keuangannya menipis? Dari awal fair-fairan aja,berapa persiapan uang saku sepanjang perjalanan. Daripada ada yang sakit hati nantinya?

* Maksimalkan fasilitas hostel (atau hotel bila mampu), mulai dari sarapan gratis, wifi, loker, sampai refill air mineral. Sudah jadi hak kamu kok dengan uang yang sudah kamu keluarkan itu.

* Ini yang saya juga baru tahu, ada beberapa hostel yang punya website sendiri untuk booking. Ternyata, mereka bisa kasih diskon kalau kamu booking langsung ke websitenya dan bukan dari booking agent seperti hostel.com, hostelworld.com atau agoda dan sebagainya. Kalau baru pertama kali, lebih baik di booking agents karena urusan keamanan kartu kredit kamu terjamin.

* Beberapa booking agents juga punya harga berbeda, jadi pilih yang harganya paling rendah. Saya sempat coba bandingkan hosteworld dan hostel.com, untuk hostel Feel at Home Bugis, hostelworld.com menawarkan harga lebih murah lebih kurang 20.000 rupiah permalam-per orang. Lumayan kan?

* Habiskan koinmu! Ini yang kadang-kadang jadi jebakan, uang koin yang berceceran kalau dikumpulkan bisa jadi uang makan siang atau naik bus kamu. Perjalanan kemarin saya benar-benar menghabiskan uang koin sampai 10 sen terakhir.

* Jangan lupa refund kartu MRT, Octopus, atau sejenisnya. Walauu hanya 1 dollar itu sangat berharga karena senilai sebotol air mineral.

* Kalau mau menonton pertujukan, drama atau teater, kadang mereka juga punya harga yang lebih murah untuk pertunjukan weekdays atau siang hari. Perbedaanya bisa sampai SGD 10-20!

* Buat shoppaholic, coba jadwalkan agenda belanja di hari terakhir saja. Asumsikan belanja itu bisa dilakukan kalau ada sisa uang. Dengan trik seperti ini, kamu bisa hemat di awal karena ingin belanja di akhir tetapi kalau ternyata tidak ada barang menarik, justru kamu punya sisa uang banyak yang tak terpakai :D

* Targetkan dan jangan tergoda! Saya selalu berusaha menargetkan untuk tidak menggesek kartu kredit atau membuka dana cadangan selama perjalanan. Tujuannya supaya disiplin dan tidak boros. Kalau dari awal hanya berniat memakai uang jajan USD 200, jangan tergoda menukarkan rupiah saat uang mulai menipis. Prinsipnya: "Saya bisa bertahan dengan sisa uang!" jangan, "Kan masih ada cadangan rupiah yang belum dituka!"

新年快乐 !

Monday, January 09, 2012

Get Lost and Find Your Way Back, Solo!

Pernah gak menyadari selama kamu liburan, akan ada 4 jenis orang yang akan kamu temui,
1. Orang yang selalu punya standart sendiri yang tinggi, buat dia semuanya serba kurang memuaskan dan akhirnya komplain terus. "Duh, foto di angle kaya gini di depan menara Eiffel kurang oke yah?" "Duh, kotor banget deh hotelnya, gak bisa dapet suite aja yah kita?". Capek gak sih denger yang kaya gini selama perjalanan 2 minggu tur bareng?

2. Orang yang selalu takut mencoba hal yang baru di destinasi liburan. Misalnya menolak mencicipi makanan lokal atau terlalu takut mencoba bungy jumping di Bali. So, where's the excitement of trying something new then?

3. Orang yang selalu excited dengan segala tourist attraction dan siap berfoto di mana pun. Gak peduli di mana pun kapan pun, lokasi mulai dari Jembatan Ampera sampai toko kelontong di Palembang semuanya dijadikan objek foto.
Hmm..sebenarnya lagi eksplorasi liburan atau sesi foto yah?

Sebenarnya gak masalah sih sesekali bertemu partner liburan kayak gini, tapi apakah kamu yakin mau menghabiskan semua waktu liburanmu bersama orang-orang itu?
Demi mendapatkan kepuasan liburan yang maksimal nampaknya pilihan travelling solo bisa menjadi alternatif untuk kamu yang selama ini terbiasa liburan sama keluarga, teman atau ikutan tur!

Why solo traveling?
Untuk kedua kalinya saya melakukan solo trip Mei 2011 lalu ke Beijing,China. Alasannya dari dulu saya suka sekali dengan sejarah dinasti China dan penasaran dengan gimana peninggalan kerajaan mereka. Saya juga ingin mempraktikan bahasa Mandarin yang sudah lama dipelajari tapi jarang dilatih. Gak gampang nemuin teman yang mau pergi ke sana bareng apalagi biayanya juga cukup besar, akhirnya saya rencanakan liburan ini sejak November 2010 lalu untuk nabung dan cari info sebanyak-banyaknya. Tekad sudah bulat, saya akan ke Beijing dengan atau tanpa teman!
Mungkin kamu ada yang terobsesi untuk kelilingi Pulau Sumatera sampai ke kota terpencilnya? Atau penasaran sama India tapi langsung ditolak sama temen-temen karena dianggap gak oke? Nah, mungkin ini kesempatan buat solo trip supaya obsesi liburan ke tempat eksotis atau ngulik suatu lokasi liburan tercapai. Liburan bareng sahabat atau rame-rame segeng emang seru, tapi kalau setiap direncanain akhirnya gagal karena ada salah satu teman yang gagal nabung untuk liburan, gak mau dong usaha nabung kamu ikut sia-sia? Biasanya sih solo trip terjadi karena tidak adanya kesamaan tujuan destinasi. Selain itu, petualangan solo trip akan lebih menantang karena kamu harus siapkan semuanya sendiri dan gak bergantung sama siapapun. Menegangkan ya?

How to plan?

Enaknya solo trip kamu bisa nentuin semuanya apa aja sesuai keinginan, kebutuhan dan kemampuan kamu. Pertama tentu tentukan destinasi dan mencari tiket pesawat atau kereta. Sekarang banyak budget airlines yang selalu kasih promo, pesan tiket minimal 1 bulan sebelum berangkat dan jangan malas untuk cek terus tiket di beberapa website karena reservasi online harganya bisa 30% lebih murah dibanding beli langsung ke gerainya. Kedua, pilih youth hostel sebagai tempat menginap kamu. Di sana akan banyak solo traveler lainnya yang juga melakukan solo trip. Selain tergolong murah (mulai $5 per malam) youth hostel sudah dilengkapi dengan segala fasilitas yang serba self-service dan harganya lebih terjangkau. Untuk booking youth hostel, saya selalu memperhatikan lokasi dan juga review dari orang-orang yang sudah menginap di sana. Di hostels.com mereka biasanya akan menunjukkan review dan deskripsi lokasi.
Tiga, siapkan itinerary tujuan wisata mana saja yang mau kamu kunjungi. Suka berantem selama liburan sama sahabat gara-gara kamu lebih milih hunting foto sekaligus menonton pertunjukan seni sedangkan dia lebih milih belanja? Saatnya kamu bebaskan semua keinginan kamu untuk menjelajah. Dengan itinerary yang jelas dan lengkap, kamu juga bisa lebih pede mau melangkah ke mana selama solo trip. Browsing di internet, buku panduan seperti Lonely Planet atau bisa juga curi-curi itinerary yang umum dibuat oleh travel agent. Mumpung travel sendirian, saya bisa memadatkan satu hari mengunjungi Forbiden City, Jingshan Park, Beihai Park dan Olympic Stadium di Beijing. Pegel dan capek sih karena total jalan kaki nyaris 14 jam tapi puasnya luar biasa!
Last but not least, gabung di forum. Merencanakan liburan sendiri bukan berarti gak cek-cek ombak dengan traveler lainnya kan? Banyak banget forum jalan-jalan yang bisa membantu kamu menentukan tujuan bahkan bisa menawarkan tempat tinggal selama kamu liburan. Mau meminta pendapat atau masukan seputar rencananya liburan kamu? Gabung di milis Jalansutera atau couchsurfing.org kamu juga bisa ketemu guide gratis kalau beruntung! Awalnya saya mau mengunjungi China saat Imlek untuk merasakan festivenya tapi setelah tukar info di milis, ternyata Imlek adalah waktu yang tidak tepat karena akan sangat berisik dan banyak tempat wisata yang tutup.

It’s not really traveling solo anyway!

Meskipun rencana awalnya memang menghabiskan waktu liburan sendirian, praktiknya nanti akan banyak orang yang berpotensi untuk diajak berpetualang bersama tapi pilihannya tetap ada di tangan kamu. Waktu solo trip ke Taipei, saya bertemu hostel mates orang Amerika dan Korea. Berawal dari sharing pengalaman liburannya, kami sempat menghabiskan waktu bersama ke Taipei 101 dan menikmati nightmarket di Shilin. Di Beijing lain lagi, roommate saya orang Tunisia awalnya terkesan sombong dan pemarah. Ternyata ia sudah cukup bosan jalan sendiri setelah 3 minggu mengunjungi 4 kota di China dan akhirnya saya mengajaknya nonton Chinese Acrobat bersama-sama. Saya bergabung ke grup Beijing di Couchsurfing.com ternyata banyak sekali acara seru yang bisa diikuti, seperti Chinese Lesson kilat, Monday Meeting sampai dinner Weekly Wednesday yang jadi ajang gathering puluhan surfer di kota tersebut. Seru!

Final Note!
- Takut kesasar atau terlihat bingung? Intinya pede aja! Itinerary yang lengkap dan buku panduan bisa jadi survival kit dan obat pede! Kadang kebaikan orang suka gak diduga, setelah naik bus 2 kali bolak balik karena nyasar saat nyari alamat, mas-mas delivery McD berbaik hati nganterin saya selamat sampai ke tempat tujuan!
- Laguange is not really a barier! Gak bisa bahasa setempat? Jangan khawatir, bahasa Tarzan masih lebih ampuh dari bahasa apapun di dunia. Selalu siapkan catatan dan bawa kartu nama alamat hotel dan nomer telepon untuk keadaan darurat.
- Suka deg-degan dengan petugas imigrasi setempat? Santai saja dan rileks. Selama dokumen kamu lengkap semuanya lancar. Untuk jaga-jaga kalau paspor dicuri atau hilang, simpan fotokopi paspor dan visa kamu dan cari tahu di mana lokasi kedutaan Indonesia di kota tersebut.

So, are you ready to get lost and find your way back alone?

Published for Spice! Magazine in June 2011

Thursday, January 05, 2012

Demi Ucok: Anak, Bunda, dan Mimpi yang Tenggelam


Siapa sih sosok perempuan yang kadang menjadi momok bagi perempuan lain? Di film Eliana, Eliana diceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk mencari dan bertemu dengan anak perempuannya yang lama ditelan ibukota. Kisah Eliana dengan ibunya menampilkan hubungan antar perempuan, di mana terasa ada gesekan tetapi tidak melepaskan hubungan yang saling membutuhkan. Ibu dan anak perempuannya kerap digambarkan begitu erat meskipun ada love-hate relationship yang mewarnainya.

Isu seputar hubungan ibu-anak masih menarik perhatian, salah satunya bagi Sammaria Simanjuntak, sutradara film Cin(T)a yang mengangkat tema cinta dan perbedaan agama. Cin(T)a konon menyentuh banyak pihak yang merasa dekat dengan kisah cinta beda agama. Seperti mencoba peruntungan dengan formula yang dekat dengan kehidupan hampir semua perempuan usia dua puluhan, Sammaria kali ini menghadirkan Demi Ucok, film komedi yang mengangkat hubungan antara ibu dan anak perempuannya. Pemutaran pertama film tersebut bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember 2011 lalu di Bandung.

Keluarga Atau Karier?

Glo alias Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga Batak yang tinggal dengan ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung). Pasca kematian sang ayah, Mak Gondut begitu terobsesi menikahkan anaknya dengan laki-laki Batak apalagi di usianya yang nyaris masuk kepala tiga, Glo belum menunjukkan tanda-tanda mau memulai kehidupan rumah tangga. Bagi Mak Gondut, ia tidak akan bisa mati dengan tenang kalau Glo belum mendapat jodoh orang Batak.

Sayangnya, Glo tidak menunjukkan ketertarikannya pada laki-laki manapun. Glo lebih tertarik pada film dan membuat film. Ironisnya, Glo tidak punya cukup uang untuk mendanai filmnya sendiri. Mak Gondut pun memanfaatkan situasi yang kurang menguntungkan itu. Ia menawarkan uang asuransinya senilai satu milyar asalkan Glo mau menikah dengan laki-laki Batak pilihannya. Dengan estimasi waktu satu tahun, Mak Gondut yang sakit-sakitan melancarkan usahanya mencarikan jodoh Batak untuk Glo. Pilihan pun ada di tangan Glo, apakah ia termakan rayuan Mak Gondut demi sebuah film yang masih dalam angan-angannya?

Sepanjang perjalanan cerita Glo, penonton disuguhkan curahan hati seorang perempuan yang ambisinya dianggap hanya sekadar main-main oleh orangtuanya. Karakter Glo sendiri ditelanjangi lewat dialog-dialog yang dipaparkan lewat cerita Mak Gondut. Mulai dari sikapnya yang tidak ramah, tidak disukai lawan jenis, sampai terlalu banyak bermimpi ingin membuat film. Sebaliknya, tokoh Mak Gondut sendiri cukup mendominasi lewat narasi Glo yang dibuat cukup komikal.

Unsur komedi dinarasikan lewat gerak-gerik Mak Gondut. Misalnya, sebagai perempuan Batak yang konon harus dijodohkan dengan laki-laki Batak, Mak Gondut memainkan perannya dalam sebuah acara pernikahan Batak yang lengkap dengan tarian, pesta prasmanan sajian serba babi, dan ulos yang dikenakan para undangan. Latar-latar tersebutlah yang membantu penonton memahami letak humor yang ditampilkan lewat Mak Gondut, lengkap dengan celetukannya yang terasa segar dan menohok.

Beberapa adegan membutuhkan konteks pemahaman situasi dan stereotipe kultur Sumatera Utara yang beredar di masyarakat. Misalnya, Mak Gondut berkali-kali menyatakan Glo harus mendapat laki-laki asli Batak bukan campuran. Ketika Nikki (Saira Jeihan) teman Glo muncul di tengah keluarga Glo dan mengatakan kalau ia masih keturunan Batak. Mak Gondut pun berceletuk, “Lho, kau Batak? Kok cantik?” Dari dialog tersebut ada praanggapan perbandingan tampilan fisik antara Nikki yang merupakan Batak campuran lebih menarik dari Glo yang Batak tulen.

Adegan demi adegan dibentuk lewat pemahaman bagaimana kultur Batak yang ada dalam keluarga Mak Gondut terjadi. Meskipun dijelaskan secara gamblang apa saja tujuan hidup perempuan Batak, penonton disuguhkan adegan dan dialog yang trivial seputar kebiasaan dan pola pikir perempuan Batak ala Mak Gondut, yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Dilengkapi juga dengan pola pikir Glo yang cenderung cuek.

Puas mencecoki penonton dengan segudang trivia seputar adat Batak, cerita pun dipenuhi dengan obsesi Glo yang berkali-kali menyebutkan ingin membuat film. Tidak ingin menikah, tetapi ingin membuat film. Dalam film, pernyataan tersebut seperti tidak ada habisnya disampaikan oleh sang pemeran utama. Dalam perjalanannya penonton seperti dihadapkan pada masalah Glo, langkah apa yang sebenarnya mau diikuti Glo? Apakah ia akan mengikuti idealismenya untuk mencari seribu satu cara demi mewujudkan filmnya, atau berbalik menjadi anak Batak yang berbakti demi ketenangan hidup dan mati Mak Gondut? Sayangnya, masalah Glo sebagai kisah utama dalam film ini terkesan berputar-putar tanpa penyelesaian masalah yang terarah.

Tak Jelas Arah

Nampaknya, curhatan utama sang penulis dan sutradara tergambar dalam masalah ketidakbisaan Glo membuat film akibat minimnya dana dan dukungan orang terdekat. Sang sutradara Demi Ucok nampaknya mengalami hal yang sama. Tidak hilang akal, berbagai cara dilakukan termasuk mencoba merekrut 10.000 calon co-producer yang mau menyumbang uang senilai Rp 100.000, dengan timbal balik namanya akan terpampang di poster film dan merchandise yang dibuat khusus untuk film ini. Hal tersebut tidak hanya disampaikan langsung oleh Sammaria kepada penonton. Dalam film pun Glo mencoba cara yang sama demi terwujudnya film impiannya.

Masalah yang diungkapkan dalam film cenderung berkisar di situ-situ saja, tanpa ada arah yang jelas, tanpa ada prioritas mana yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Tokoh-tokoh pendukung yang meramaikan kehidupan Glo pun tidak terlalu berdampak signifikan bagi penyelesaian masalah Glo. Misalnya saja, A Cun (Sunny Soon) di awal berkali-kali ditampilkan sebagai orang terdekat Glo. Makin ke tengah dan akhir film, A Cun justru mengalami malfungsi. Seolah menjadi pemanis saja, A Cun tampil sesekali tanpa maksud dan peran yang jelas dalam hidup Glo.

Berbeda lagi dengan Nikki, ia terlihat menjadi sidekick Glo yang sesekali mendorong semangat Glo, walau sesekali melakukan konfrontasi terhadap tindakan Glo. Sebagai karakter yang digambarkan begitu keras, Glo seolah membutuhkan tokoh lain yang membuatnya menampilkan sisi halus, dan bisa mengungkapkan apa keinginannya lebih dari sekadar memaksakan ambisi semunya. Tokoh Nikki ini pulalah yang cukup kuat tampil sebagai pemeran pembantu dibandingkan tokoh A Cun.

Beberapa bagian dari Demi Ucok sebenarnya bisa dimaksimalkan lewat minimalisir adegan dan juga dialog-dialog pemainnya. Misalnya saja, beberapa kali digambarkan Mak Gondut masuk-keluar rumah sakit. Saat pertama kali begitu terasa dramatis dan mengena bagi Glo, namun lama-kelamaan tidak terasa jelas tujuan sebenarnya adegan tersebut ditampilkan berkali-kali.

Sebaliknya, beberapa adegan yang indah dan bisa dinikmati secara perlahan justru ditampilkan hanya sekelebat saja, seperti percakapan Glo dengan sang ayah lewat pusaranya. Adegan tersebut bisa menjadi bagian yang menyentuh di tengah adegan-adegan komedi yang diciptakan Glo dengan sang ibu. Entah apakah ada alasan teknis yang membuat adegan tersebut dan beberapa adegan lain terasa kasar terpotong sehingga berkurang rasa ke dalam adegan-adegan selanjutnya.

Secara keseluruhan, Demi Ucok mencoba menampilkan curhat seorang perempuan di tengah mimpinya, dan juga ambisi orangtua yang kadang menghimpit jati diri serta kebebasan untuk berekspresi. Hubungan anak perempuan dan ibunya dijadikan sebuah latar belakang yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan kedua belah pihak. Nyatanya, yang tampil di layar justru sebaliknya. Sang ibu menjadi aktor utama dalam kehidupan sang anak dan secara tidak sadar anak dijadikan boneka sebagai perpanjangan tangan ambisi ibunya sendiri. Banyaknya mimpi dan pesan yang berusaha disampaikan kadang tidak membuat penonton mencerna dengan seksama. Sebaliknya, malah membuat penonton merasa dicecoki sesuatu yang berlebihan dan kemudian justru kehilangan esensinya.

Demi Ucok | 2011 | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Negara: Indonesia | Pemain: Geraldine Sianturi, Lina Marpaung, Sunny Soon, Saira Jeihan

Also featured on cinemapoetica.com

Tuesday, January 03, 2012

Doomsday Is Coming!

“When everyone believe that doomsday is coming on 2012, why would i believe that good things are coming on upcoming year?”

Tahun 2012 itu momok. Konon tahun depan sudah kiamat. Tapi, sejak 1997 komik Jepang menggembar-gemborkan kalau tahun 2000 bumi akan hancur. Jadi, sebenarnya kiamat ada di tangan Tuhan yang mana? Roland Emmerich atau Steven Spielberg yang sering membuat film-film bertema kehancuran dunia?

Well, selama doomsday belum terjadi tidak ada salahnya kita menaruh harapan pada tahun baru yang lebih menjanjikan dan semangat baru yang biasa muncul di penghujung tahun untuk melepaskan sisa-sisa energi negatif bersambut sesuatu yang lebih positif. Tentunya, tidak afdol sebelum merangkum sedikit hal-hal menarik yang menyangkut di hati selama 365 hari di tahun 2011 ini.

Bagi saya, tahun ini merupakan tahun yang menyadarkan di beberapa aspek. Kembali ke masalah yang terjadi di tahun sebelumnya, tahun ini difokuskan untuk lebih fokus dalam menjalani sesuatu. But again, godaan itu selalu hadir untuk mencoba hal-hal baru. Selama tidak dosa, why not? Pencapaian terbesar bagi saya tahun ini adalah soal traveling dan pindah jalur. Dengan traveling saya menemukan sisi lain dari diri saya yang menambah kepercayaan diri saya sekaligus proses dari melihat dunia. Beberapa orang terheran-heran dengan kebiasaan saya yang ‘mengumpulkan uang untuk dihabiskan jalan-jalan’. Bagi saya, traveling itu bukan sekadar jalan-jalan. Petualangan baru sudah menanti saya di tiap destinasi baru dan prinsipnya, selama masih bisa bekerja, uang masih bisa dicari untuk kegiatan yang satu ini. Soal pindah jalur, saya sudah berbicara banyak di blog ini beberapa waktu lalu. Tahun ini, saya seperti menemukan ‘jodoh’ yang selama ini saya cari. Perjalanan menemukan ‘jodoh’ inilah yang menarik sampai akhirnya saya berani pindah jalur. Satu lagi, begitu banyak konser yang saya tonton tahun ini dan mengurangi musisi yang harus saya tonton di bucket list saya :D

JANUARI

Ini merupakan tahun kedua merayakan ulangtahun Cosmopolitan FM. Di usia ke sembilan kali ini, tema yang diambil adalah Back To 90’s. Tugas kali ini cukup berat, mengingat generasi saya punya idola berbeda dengan generasi Cosmoners. Untungnya, sukses juga mengundang model legendaris Elmo dan Susan Bachtiar, penulis Lupus, Hilman dan juga duo Denny – Didan yang hits dari boyband ME.

Salah satu resolusi saya juga tercapai bulan ini, give back to my community. Kegiatan voluntir Berburu (Berbudaya itu Seru) dimulai bulan ini. Di Januari ini saya menonton konser Ne-Yo, mungkin satu-satunya musisi R&B yang saya suka. And it was great!

FEBRUARI

Kali ini saya berkesempatan mewawancarai Duncan Sheik, penyanyi yang dikenal lewat lagu Wishful Thinking. Biarpun gak begitu ngefans, interview ini saya manfaatkan untuk mengasah bahasa Inggris dan tingkat kepedean saya saja. Februari yang bertema cinta juga membawa saya ke acara Love Garage. Di konser ini awalnya saya tertarik nonton Flight Facilities, ternyata justru Two Door Cinema Club yang membuat saya jatuh hati, sampai hari ini!

MARET

Salah satu bulan terpenting dalam tahun ini. Dalam rangka Bulan Film Nasional yang rutin diadakan DKJ, tahun ini ada coaching clinic yang dibuka khusus untuk kritik film. Beruntungnya saya terpilih jadi salah satu dari lima peserta yang lolos seleksi. Duo mentor yang mengajar juga tidak main-main, JB Kristanto, wartawan senior dan kritikus film dan.. *drumroll* salah satu rockstar saya, Eric Sasono. Jadilah tanggal 26 Maret itu menjadi titik balik saya menemukan apa yang sebenarnya saya mau. Peserta lainnya juga tidak main-main, duo Makbul Mubarak & Adrian Jonathan dari CinemaPoetica.com sempat membuat saya jiper karena tulisan mereka yang maha dasyat di blognya. Belum lagi Angga Rulianto & Doni Agustan yang memang terjun ke dunia produksi film. Kebanggaan saya, saya menjadi satu-satunya peserta wanita saat itu. Lepas dari klinik kritik, saya banyak belajar dari para mentor dan fellow pasien-pasien yang masih ‘rawat jalan’. Kesempatan makin terbuka, ketika CinemaPoetica menawarkan untuk berkontribusi di blognya.

Alasan apalagi yang membuat bulan ini penting? Hampir sebulan ini padat jadwal konser; Java Jazz (Santana, Peabo Bryson, Corrine-Bailey Rae,etc), Suede, Mark Ronson dan... *drumroll lagi* MGMT!!!! Jadilah tanggal 26 itu keramat karena konser MGMT tepat di hari yang sama dengan klinik kritik. Oia, di konser Mark Ronson pun, ada bintang tamu Andrew Wyatt dari Miike Snow yang hadir!

APRIL

Perjalanan pertama di 2011 ini dimulai! Awal April yang akrab dengan April Mop mendatangkan ‘kejutan’ tersendiri sebelum liburan ke Bali dimulai. Saya, Aldy, Olla dan Aussie yang nekat mengambil cuti bersama-sama dianggap melakukan konspirasi di kantor. Sebenarnya ini bukan hal besar, tetapi karena ada event kantor yang butuh banyak SDM, jadilah ini suatu masalah. Akhirnya, konspirasi ini berbuah manis. Perjalanan lima hari di Bali menyegarkan otak saya yang terakhir menginjakkan kaki di Bali sebelas tahun lalu. Pantai Geger, Rockbar, Potato Head, Kuta, Seminyak, Legian jadi saksi ‘kelengketan’ kami berempat.

Bulan ini juga saya menjadi saksi yang beruntung menikmati aksi Adam Levine dkk tampil di Jakarta setelah puluhan ribu orang kecewa kehabisan tiket Maroon 5. Saya? Maaf, saya hanya duduk manis menerima tiket yang sudah diantrikan sebelumnya dengan harga normal saja. Satu lagi keberuntungan, menyaksikan Justin Bieber dengan selembar tiket gratis dan menikmati sorak sorai bersama puluhan ribu abg lainnya!

MEI

Another month and journey to remember this May! Seperti sudah direncanakan tahun sebelumnya, 2011 akan diisi oleh tiga perjalanan dan salah satunya adalah big solo trip. Apa bedanya dengan trip lainnya? Bagi saya, big trip bisa dari durasi perjalanannya dan uang yang dibutuhkan. Sengaja saya pilih solo trip supaya bisa memenuhi kepuasan dan keinginan saya. Sejak November 2010, saya sudah menabung untuk perjalanan ini dan pilihan tertuju pada Beijing. Jujur, kepercayaan diri saya meningkat dan ini membuat saya nagih lalu berjanji tiap tahun akan menabung demi another big solo trip. Bagi saya tidak ada yang sia-sia, ada pelajaran yang saya dapat dari tiap petualangan. Eventhou i was alone, i’m not afraid to get lost because the journey is all about find the right way back home with all those obstacles and limitations,eh?

Di bulan yang sama, ada Switchfoot yang kembali menyambangi Jakarta dan kali ini berkesempatan nonton konsernya :D

JUNI

Setelah sebulan sebelumnya i feel good about myself, ada sedikit undakan yang iseng mampir ke perasaan menyenangkan itu. Kalau baca postingan sebelumnya, ada kekecewaan ketika sudah latihan nyaris dua bulan untuk misi budaya Kalimantan Barat ke Prancis, mendadak ada kebijakan dari panitia yang membuat saya memilih mundur. Ada kejanggalan yang membuat saya tidak sreg dan ragu-ragu. Tuhan masih sayang, setelah saya mundur, beberapa teman dikabarkan batal diberangkatkan karena alasan sponsor yang tidak cukup. Rasa kesal dan capek saya mungkin tidak seberapa besar dibandingkan mereka yang bekerja keras lebih kurang lima bulan. itu proses pendewasaan dan puncak kalau saya memang harus fokus dalam memilih kegiatan (dan percaya pada orang baru). Proses pendewasaan ini bertepatan dengan momen bertambah usia saya ke dua puluh empat. Masih di bulan yang sama, ada konser Fat Boyslim dengan tata panggung dan lampu yang keren!

JULI

Bulan ini, ada perjalanan impulsif yang terjadi karena keinginan nonton Harry Potter and The Deathky Hallow Part 2. Saya mengunjungi Hongkong untuk kedua kalinya. Berhubung tidak begitu suka dengan destinasinya, perjalanan itu terasa datar saja apalagi tidak banyak perubahan di sana. Gara-gara perjalanan itu juga, saya melewatkan konser David Archuletta yang sebenarnya sudah saya nantikan dan akhirnya HP 2 pun diputar di Jakarta. Juli bukan hanya satu trip, tetapi juga trip dalam kota ke Pulau Pramuka untuk pertama kalinya!

AGUSTUS

Sejak bergabung di Couchsurfing Mei lalu, saya jadi tertarik menjadi host untuk para traveler asing yang ke Jakarta. Bulan ini bertepatan dengan bulan puasa, ada dua tamu agung yang sempat menjejakkan kakinya di rumah saya. Alice dari Inggris dan Kashmir dari Shanghai. Lewat keduanya, saya mulai merasakan bagaimana hosting merupakan salah satu proses perjalanan pasif menjelajahi dunia dan juga mengenal kota sendiri lebih jauh. Bulan yang sama, saatnya menikmati Java Rocking Land dengan The Cranberries.

SEPTEMBER

Jujur, gak inget ada kejadian penting apa di bulan ini selain menonton Sophie Ellis Bextore di Java Soulnation.

OKTOBER

Another trip this month! Setelah melalui perdebatan alot, akhirnya terjadilah perjalanan saya dengan dua perempuan ambisius, Idha & Ucy ke Vietnam. Perjalanan seru dan relatif terjangkau ini menghabiskan waktu 5 hari dengan kunjungan ke kota Ho Chi Minh dan Mui Ne. Masih di bulan yang sama, keputusan penting keluar dari Cosmopolitan FM terjadi dan ditutup dengan outing ke Pulau Bidadari. Bulan Oktober ini juga saya menonton konser salah satu musisi favorit saya, Owl City dengan perjuangan berat melawan ABG-ABG berburu tiket.

NOVEMBER

Memulai kehidupan di kantor baru Kalyana Shira, saatnya menata hidup sesuai tujuan yang disebut-sebut sebagai passion. Latihan yoga rutin dimulai juga bulan ini, lumayan dua kali seminggu membuat saya bangun pagi. Bulan ini juga mulai memangku tanggung jawab penuh sebagai kotributor di salah satu website, FIMELA.com. pekerjaan yang menyenangkan dan lebih membanggakan lagi ketika saya bisa mendapat kesempatan eksklusif mewawancarai Adam Liaw, pemenang Masterchef Australia musim kedua khusus untuk Fimela.com sekaligus menyicipi masakannya!

DESEMBER

Menutup tahun dengan banyak pemikiran yang mungkin bisa berguna untuk pergerakan tahun berikutnya. Yes, we can’t have it all but yet we can fight and make the best of all. My recent notes is about communicating all the relationship matters. Maybe both of us were to busy concentrating to other things.

What to do next?

1. Setelah tahun ini berkesempatan jadi kontributor, kali ini mau coba menulis film untuk media berbahasa Inggris.
2. Another solo trip. Berhubung kantor baru, solo trip ke dua negara Eropa itu harus ditunda dulu. Mari memilih rute yang lebih dekat dan bisa ditempuh dengan waktu singkat. First stop, Singapore in January for Wicked next, Gili, Seoul or more!
3. Mencoba (lagi) aplikasi beasiswa. Kali ini harus bisa melihat lebih luas, bukan satu negara tertentu saja.
4. Mengembangkan ide soal website film, semoga bisa dijalankan sesuai misi dan visi yang sesuai.
5. Komunikasi itu penting! Gak usah alasan sibuk, lagi ribet, ini bukan waktu yang tepat. Definitely, ignorance is a bliss mode OFF!
6. Mencari jalan dan menemukan apa sebenarnya tujuan dari passion yang selama ini dikejar. Gak lucu juga, kejar-kejaran tapi gak tahu mau ke mana!
7. Nonton film sampe enek, mengisi kepala!
8. IN-VES-TA-SI! Sudah tertunda setahun lho..
9. Berolahraga rutin lagi! Yoga seminggu jadi tiga kali sanggup?
10. Berenang nampaknya cukup terlupakan tahun ini.
11. Xuexi zhongwen! Makin lama makin lupa nanti..
12. Sholat & berdoa!
13. Get raise and maybe a promotion?
14. Not to get panic with all those ‘a quarter life crisis’ thingy.
15. Be HAPPY! Do what i wanna do happily with no pressure J

Amin ya?

I might regret few things that happened this year, but hell yeah it’s already happened anyway no need to look back in anger, eh?

Monday, January 02, 2012

When The Universe Conspire



My whole life waiting for the right time
To tell you how I feel.
Know I try to tell you that I need you.
Here I am without you.
I feel so lost but what can I do?
'Cause I know this love seems real
But I don't know how to feel.

We say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

Alright, everything is alright
Since you came along
And before you
I had nowhere to run to
Nothing to hold on to
I came so close to giving it up.
And I wonder if you know
How it feels to let you go?

You say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

So you change your mind
And say you're mine.
Don't leave tonight
Stay.

Say goodbye in the pouring rain
And I break down as you walk away.
Stay, stay.
'Cause all my life I felt this way
But I could never find the words to say
Stay, stay.

Stay with me, stay with me,
Stay with me, stay with me,
Stay, stay, stay, stay with me.

(Hurts - Stay)

I don't want you to stay, i want you to leave, go find your guts and step up for yourself.
Because sometimes, leaving is not always about disappearing, you may collide with the universe.


Film Berkesan, Lebih dari Sekadar Terbaik dan Terburuk di 2011

Memilih film terbaik atau terburuk nampaknya agak kurang adil, mengingat belum semua film saya tonton tahun ini. Banyak juga film yang kabarnya bagus namun ada keinginan untuk menikmatinya di layar lebar agar lebih terasa sensasinya. Selama satu tahun munculnya ratusan film yang menarik ditonton, berikut sederet film yang cukup mengena bagi saya secara pribadi.

A Separation

Tema keluarga dengan latar sederhana merupakan salah satu tema favorit saya dalam film. Kadang hasilnya lebih menimbulkan efek yang tidak biasa. Film karya Ashgar Farhadi bercerita tentang sepasang suami istri yang memutuskan berpisah karena Nader, sang suami menolak ikut istrinya pindah ke luar negeri karena Nader harus mengurus ayahnya yang mengidap alzheimer. Menyuguhkan konflik keluarga yang terasa akrab di hampir semua orang termasuk keinginan perempuan yang mau diperjuangkan ketika laki-laki berjuang sendiri untuk demi label seorang kepala keluarga. Memisahkan berbagai macam masalah yang ada dengan logika dan perasaan cinta memang bukan hal mudah. A Separation mencoba mengaduk-aduk dua unsur tersebut sepanjang menonton film ini.

Shelter

Berawal dari kicauan beberapa orang di linimasa twitter, diketahui kalau film ini merupakan salah satu film yang masuk dalam festival bergengsi Berlinale Film Festival. Film pendek berdurasi lebih kurang 15 menit ini berlatar sangat sederhana, perjalanan sebuah bus di malam hari. Kesederhanaan film ini tercipta dari minimnya dialog dan latar yang perlahan-lahan menggugah imajinasi penonton untuk menerka-nerka, sebenarnya kisah apa yang sedang berjalan?

FISFIC : Rumah Babi

Salah satu segmen di FISFIC inilah yang paling menempel di hati dibanding lima film lainnya. Kisah tentang pembantaian sekeluarga etnis China menjadi pusat dari film ini. Unsur mistik, reliji, adat berpadu jadi satu menciptakan kisah misteri lewat akting pemeran utama yang cukup maksimal. Ada sedikit twist yang terpikir saat menonton film ini, apakah ini film hantu atau slasher? Isu yang ditampilkan juga termasuk isu favorit saya, berhubungan dengan etnis China. Film ini juga banyak mengangkat unsur-unsur semiotik yang berkaitan kuat dengan isu pembataian etnis China yang marak terjadi pra reformasi.

Hobo With A Shotgun

Film slasher atau horor bukanlah genre favorit saya, tetapi di salah satu festival film tahun ini, INAFFF 2011 nampaknya saya sudah cukup tahan dengan berbagai adegan sadis atau munculnya mahluk-mahluk ajaib dalam film-film yang disuguhkan. Salah satu yang begitu sadis tapi bisa dinikmati adalah film ini. Film yang awalnya merupakan pemenang kontes fake trailer dari House of Terror & Grindhouse ini, menampilkan seorang Hobo yang berusaha menjadi pahlawan dengan shotgunnya melawan hierarki di sebuah kota yang tak mengenal perikemanusiaan. Bagi saya, film ini lebih dari sekadar film slasher, banyak simbol yang menyindir situasi politik yang banyak mengekang sebuah kelompok masyarakat. Warna yang ditampilkan dan juga wardrobenya mengingatkan saya dengan kejayaan band Pet Shop Boys.

Drive


Waktu mewawancarai sutradara The Raid, Gareth Evans, ia berpesan untuk segera menonton salah satu film terbaik tahun ini, Drive. Beberapa bulan kemudian saya dibuat ternganga dengan akting Ryan Gosling yang dingin di tengah film yang beralur lambat tetapi menyayat hati di film ini. Tanpa banyak bicara dan penuh adegan gory yang berturut-turut, Drive memberikan sensasi tersendiri bagi penonton untuk menunggu apa yang dialami Gosling di film ini dengan dada berdebar-debar. Salah satu unsur yang juga mendapat perhatian adalah scoring yang mencoba membawa penonton kembali ke sepuluh sampai dua puluh tahun ke belakang.

Tree of Life


Pemenang Golden Palm Cannes Festival 2011 ini hanya diputar beberapa layar saja di Jakarta. Pengalaman menonton film Sean Penn, Brad Pitt dan Jessica Chastain ini terasa begitu personal bagi setiap orang lewat sinematografi dan potongan-potongan dialognya. Beberapa menganggap film ini sangat relijius, bagi saya film ini merefleksikan hubungan manusia dengan semesta yang tidak bisa diduga dan digambarkan. Efeknya yang begitu berbeda tiap satu adegan yang terkesan acak, membebaskan penonton menilai sendiri bagaimana rasanya. Satu yang pasti, Terrence Malick membuat 139 menit film ini terasa indah!


Killer Elite

Satu genre yang juga bukan favorit saya adalah film laga. Lewat film ini, pertama kalinya sebuah film laga bisa terasa keindahannya. Meskipun plot cerita dan pemainnya tidak terlalu mengena, laga dalam tiap adegannya terasa berharga dan memanfaatkan ruang saat adegan berkelahi atau baku hantam secara maksimal. Setelah film ini, memahami dan menikmati film laga tidak lagi menyebalkan dan monoton bagi saya.

The Raid

Merasa beruntung menjadi satu dari lima ratus penonton eksklusif yang berkesempatan menonton untuk pertama kalinya! Film yang memenangkan People Choice Awards di Midnight Madness Toronto Film Festival begitu dinanti oleh khalayak Indonesia. Lewat adegan laga yang diciptakan khusus oleh Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais, film ini menjadi salah satu penyegar di kala film lokal penuh dengan genre drama atau horor yang menbuatnya kadang dipandang sebelah mata. Tanpa menyisakan ruang bernafas bagi penontonnya, film ini sukses membuat pengalaman menonton film laga yang menyenangkan dan tentu menegangkan plus menghadirkan Ray Sahetapy sebagai jawara sepanjang film.
Review The Raid di sini


Rise of The Planet of The Apes

Yes, it’s James Franco that i adored so much in this movie but yet Andy Serkis gave one of his best performances here. Film franchise ini sebelumnya sudah pernah dibuat dengan judul Planet of The Apes, satu versi Charlton Heston tahun 1968 dan Mark Walberg tahun 2001 dengan sentuhan yang berbeda. Lewat film karya Rupert Wyatt ini, tergambar bagaimana evolusi sekawanan primata berjuang untuk berevolusi demi kaumnya sendiri. Film ini juga memberikan efek mengerikan tersendiri terhadap kelompok binatang yang sempat merasakan kenikmatan hidup sebagai manusia lalu kemudian merasa terbuang.
Review Rise of The PLanet of The Apes di

Garuda di Dadaku 2

Film ini merupakan film Indonesia pamungkas yang ditonton di penghujung tahun. Film sekuel Garuda Di Dadaku menampilkan permasalahan baru Bayu (Emir Mahira) yang mulai menjejakkan kaki di lapangan hijau sebagai kapten timnas junior dan juga di dunia yang lebih dewasa. Lewat berbagai masalah yang dihadapi Bayu, Rudi Soedjarwo memberikan formula lamanya ketika menggodok Ada Apa dengan Cinta yang menjadikan penyelesaiannya sebuah film yang memberikan rasa nyaman, kehangatan, dan tepat di sasaran hati para penonton.


Most Anticipated Movies This Year!


Masih banyak deretan film yang ingin saya tonton, terutama di layar besar. Alasan belum ditontonnya film-film berikut, mostly karena film-film tersebut belum (atau tidak) menyambangi bioskop di Jakarta. Walaupun selalu ada versi download, dvd atau streaming, beberapa saya tahan karena masih percaya bisa menontonnya di bioskop. Mungkin ini saatnya menyerah!

Melancholia
Warna dalam trailer film ini begitu menggoda, nampaknya mata bisa terhibur secara maksimal. Meski banyak yang mengomentari film ini secara negartif, keinginan menikmati film ini di layar besar masih sangat besar, mungkinkah?


The Ides of March


Setelah Drive dan Crazy, Stupid, Love, rasanya akan lengkap menikmati akting Gosling di film ini sebagai penutup. Nampaknya, Gosling menjadi idola baru bagi saya tahun depan setelah selama setahun ini begitu tergila-gila dengan James Franco.

One Day

Komentar buruk mengiringi penampilan Anne Hathaway dan Jim Sturgess di film ini. Kabarnya, Hathaway gagal menampilkan aksen Inggris mengimbangi Sturgess yang memang terlahir dengan aksesn Inggrisnya. Nevermind, saya masih mau nonton film ini.

127 Hours


Pengakuan dosa terbesar, sebagai penggemar Franco saya belum menonton film yang membuatnya masuk ke dalam nominasi Oscar awal tahun ini. Sensasi film yang sudah saya tunggu hancur berantakan ketika gagal menontonnya di pertunjukan midnight dan hilang di peredaran karena kasus pajak film impor. Sekarang sungguh sangat terlambat mau menontonnya di layar televisi yang kecil!