Tuesday, October 18, 2011

A Solo Runner, A Ladylike, and A Bolang In A 'Nguyen' Mission (part 1)



Akhirnya terjadilah sudah rencana liburan ketiga tahun ini! Awalnya sempat merencanakan ke Chiang Mai, Thailand dengan beberapa calon partner liburan yang sempat berganti-ganti. Setelah pemikiran panjang secara itinerary dan finansial, tujuannya berubah menjadi Ho Chi Minh City alias Saigon bersama dua fellow-girlfriend, Idha dan Ucy. FYI, kita memang sudah berteman sejak kuliah, tapi liburan terjauh yang pernah saya tempuh dengan mereka hanya Bandung dan Anyer. Pastinya, muncul rasa deg-degan dan excited secara bersamaan.


To have a trip with these two and coming back in one piece is priceless!

Rencana liburan ini sudah ada sejak sekitar 3-4 bulan lalu, dengan bujet minimalis akhirnya sukses mendapatkan tiket Jakarta-Saigon-Jakarta hanya dengan 1 juta rupiah saja! Tentunya, dengan bujet airlines. Itinerary pun disusun sedemikian rupa supaya semua senang dan puas. Sedikit profil dua teman saya ini, Ucy itu adalah bolang alias bocah petualang di antara kelompok kami. Pemenang ACI Detik 2010 ini sudah sering keliling Indonesia untuk menikmati wisata alam terutama laut dan pantai. Nah, kalo Idha ini Queen Bee :p semuanya harus teratur dan jelas. Posisi saya sebenarnya ada di tengah-tengah, buat saya traveling itu perlu persiapan matang dan selama menjelajah alamnya bukan hiking, I'm on board! Mereka berdua sejauh ini belum pernah traveling solo sedangkan saya lebih banyak di grup kecil atau solo trip. Jadi kebayang lah bagaimana menggabungkan semua keinginan kita semua?

Menjelang perjalanan sampai tiba di HCMC sih tidak ada masalah, hostel ada di lokasi backpacker yang ramai dan dikenal, referensi dari hostelworld.com tidak jauh dari kondisi asli, dan suasana yang masih mirip Indonesia cukup memudahkan kami. Kota HCM sendiri adalah kota populasi terpadat di Vietnam meskipun bukan ibukotanya. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Jakarta terutama urusan trafficnya. Untuk menyebrang jalan perlu keberanian penuh dan kepercayaan diri. Motor-motor yang konon berjumlah 5 juta buah itu seperti tidak menaruh ampun pada pejalan kaki plus arus lalu lintas yang berkebalikan dari Jakarta sedikit bikin pusing. Transportasi umum di sana juga belum teratur layaknya Singapura atau Bangkok, jadi bagi turis hanya bisa mengandalkan bus, taksi, atau sejenis becak. Namun, prinsip utama saya ketika naik bis di negara yang tidak berbahasa Inggris adalah "Taking bus is the ultimate way to get lost" jadi opsi bus sudah pasti dihilangkan. Atas saran juga dari beberapa traveler yang sudah ke HCMC, sebaiknya manfaatkan fasilitas tur yang ada di hostel untuk menghemat waktu dan tenaga. Untungnya tur nya sendiri beragam dan harganya terjangkau. Kami pun sepakat mengambil tur untuk menikmati kota Saigon ini.


Baca bismillah dulu kalo mau nyebrang

City Tour ($8= 147.000d= Rp 75.000)
War Remnant Museum - Tea Shop - Pagoda in Chinatown - Old Resident - Notredame Church - Central Post Office - Ben Tham Market

Tur keliling kota ini tergolong relatif singkat, mengingat museum dan atraksi dalam kotanya sendiri tidak terlalu besar dan butuh waktu lama dijelajah. Museum sisa perangnya saja ternyata tidak semegah Museum Gajah di Jakarta atau Museum Nasional Beijing. Tiket masuk museumnya juga relatif murah hanya 30.000d tiap museumnya dan belum termasuk di dalam paket tur.


Always my favorite, Pagoda or temple



Notredame Cathedral

Dua atraksi wajib di HCMC adalah Mekong Delta, yaitu menyusuri sungai Mekong dengan sampan lewat perjalanan dua jam dari HCMC. Satu lagi adalah melihat peninggalan perang Vietnam - Amerika di Chuchi Tunnel. Keduanya menarik, keduanya seru. Sayang, waktu yang terbatas tidak memungkinkan kami mengunjungi keduanya, so another whin win solution. Idha ke Chuchi Tunnel sendiri, saya dan Ucy ke Mekong Delta.

Mekong Delta Tour ($8 = 147.000d = Rp 75.000)
Bus to dock (return) - Boat to 3 islands (return) - lunch - freebies tester for candy & fruits

Perjalanan Mekong Delta ini menghabiskan 2 jam naik bus menuju pelabuhan, lalu disambung dengan kapal kecil ke 3 pulau di area My Tho lalu naik sampan menyusuri rute floating market. Kalau pernah ke Hong Kong Disneyland, kira-kira lokasinya mirip dengan atraksi George In the Jungle.
Mengelilingi 3 pulau dengan keunikan masing-masing, saya seperti melihat pulau seribu dengan sumber daya alamnya. Kali ini, ada Unicorn Island tempat lebah dibudidayakan jadi madu, Phoenix Island tempat kelapa dijadikan workshop coconut candy alias dodol, dan Happy Island, di mana bisa ditemukan banyak buaya.


What they do in countryside

Sampai di Happy Island, saya masih belum merasa terpuaskan dengan perjalanan ke Mekong Delta. Sempat terbersit "Ah, gini doang? Tahu gitu ke Chuchi aja, rekomendasi Lonely Planet, gitu..."
Untungnya perjalanan naik sampan bermuatan empat penumpang plus dua pengayuh sampan itu akhirnya memuaskan saya, meskipun sempat deg-degan kalau mendadak bertemu buaya di sungai itu.


Mekong Delta!

Sampai hari itu, saya cukup menikmati perjalanan dan plesiran di kota Paman Ho tersebut. Tapi, saya merasa ada yang kurang. Terbiasa melakukan perjalanan lebih dari satu minggu seorang diri membuat saya harus survive sendiri tetapi juga ada kebutuhan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal atau fellow traveler. Ini belum terjadi sampai di hari kedua. Ikut tur membuat semuanya serba mudah dan diatur, kalau biasanya saya coba cari-cari jalan sendiri untuk menemukan lokasi yang saya tuju, itu juga belum terjadi. Menikmati kuliner lokal juga saya percaya sebagai bentuk menyatu dengan budaya setempat, sayangnya belum banyak lokasi yang kami jangkau di HCMC. Satu lagi, traveling is incomplete without drama. Oh well, hampir semuanya terjawab di dua hari berikutnya. Details soon!


Local food stall

1 comment:

gypsyholic said...

ditunggu ya kak travelogues selanjutnyaa :))