Thursday, January 05, 2012

Demi Ucok: Anak, Bunda, dan Mimpi yang Tenggelam


Siapa sih sosok perempuan yang kadang menjadi momok bagi perempuan lain? Di film Eliana, Eliana diceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk mencari dan bertemu dengan anak perempuannya yang lama ditelan ibukota. Kisah Eliana dengan ibunya menampilkan hubungan antar perempuan, di mana terasa ada gesekan tetapi tidak melepaskan hubungan yang saling membutuhkan. Ibu dan anak perempuannya kerap digambarkan begitu erat meskipun ada love-hate relationship yang mewarnainya.

Isu seputar hubungan ibu-anak masih menarik perhatian, salah satunya bagi Sammaria Simanjuntak, sutradara film Cin(T)a yang mengangkat tema cinta dan perbedaan agama. Cin(T)a konon menyentuh banyak pihak yang merasa dekat dengan kisah cinta beda agama. Seperti mencoba peruntungan dengan formula yang dekat dengan kehidupan hampir semua perempuan usia dua puluhan, Sammaria kali ini menghadirkan Demi Ucok, film komedi yang mengangkat hubungan antara ibu dan anak perempuannya. Pemutaran pertama film tersebut bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember 2011 lalu di Bandung.

Keluarga Atau Karier?

Glo alias Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga Batak yang tinggal dengan ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung). Pasca kematian sang ayah, Mak Gondut begitu terobsesi menikahkan anaknya dengan laki-laki Batak apalagi di usianya yang nyaris masuk kepala tiga, Glo belum menunjukkan tanda-tanda mau memulai kehidupan rumah tangga. Bagi Mak Gondut, ia tidak akan bisa mati dengan tenang kalau Glo belum mendapat jodoh orang Batak.

Sayangnya, Glo tidak menunjukkan ketertarikannya pada laki-laki manapun. Glo lebih tertarik pada film dan membuat film. Ironisnya, Glo tidak punya cukup uang untuk mendanai filmnya sendiri. Mak Gondut pun memanfaatkan situasi yang kurang menguntungkan itu. Ia menawarkan uang asuransinya senilai satu milyar asalkan Glo mau menikah dengan laki-laki Batak pilihannya. Dengan estimasi waktu satu tahun, Mak Gondut yang sakit-sakitan melancarkan usahanya mencarikan jodoh Batak untuk Glo. Pilihan pun ada di tangan Glo, apakah ia termakan rayuan Mak Gondut demi sebuah film yang masih dalam angan-angannya?

Sepanjang perjalanan cerita Glo, penonton disuguhkan curahan hati seorang perempuan yang ambisinya dianggap hanya sekadar main-main oleh orangtuanya. Karakter Glo sendiri ditelanjangi lewat dialog-dialog yang dipaparkan lewat cerita Mak Gondut. Mulai dari sikapnya yang tidak ramah, tidak disukai lawan jenis, sampai terlalu banyak bermimpi ingin membuat film. Sebaliknya, tokoh Mak Gondut sendiri cukup mendominasi lewat narasi Glo yang dibuat cukup komikal.

Unsur komedi dinarasikan lewat gerak-gerik Mak Gondut. Misalnya, sebagai perempuan Batak yang konon harus dijodohkan dengan laki-laki Batak, Mak Gondut memainkan perannya dalam sebuah acara pernikahan Batak yang lengkap dengan tarian, pesta prasmanan sajian serba babi, dan ulos yang dikenakan para undangan. Latar-latar tersebutlah yang membantu penonton memahami letak humor yang ditampilkan lewat Mak Gondut, lengkap dengan celetukannya yang terasa segar dan menohok.

Beberapa adegan membutuhkan konteks pemahaman situasi dan stereotipe kultur Sumatera Utara yang beredar di masyarakat. Misalnya, Mak Gondut berkali-kali menyatakan Glo harus mendapat laki-laki asli Batak bukan campuran. Ketika Nikki (Saira Jeihan) teman Glo muncul di tengah keluarga Glo dan mengatakan kalau ia masih keturunan Batak. Mak Gondut pun berceletuk, “Lho, kau Batak? Kok cantik?” Dari dialog tersebut ada praanggapan perbandingan tampilan fisik antara Nikki yang merupakan Batak campuran lebih menarik dari Glo yang Batak tulen.

Adegan demi adegan dibentuk lewat pemahaman bagaimana kultur Batak yang ada dalam keluarga Mak Gondut terjadi. Meskipun dijelaskan secara gamblang apa saja tujuan hidup perempuan Batak, penonton disuguhkan adegan dan dialog yang trivial seputar kebiasaan dan pola pikir perempuan Batak ala Mak Gondut, yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Dilengkapi juga dengan pola pikir Glo yang cenderung cuek.

Puas mencecoki penonton dengan segudang trivia seputar adat Batak, cerita pun dipenuhi dengan obsesi Glo yang berkali-kali menyebutkan ingin membuat film. Tidak ingin menikah, tetapi ingin membuat film. Dalam film, pernyataan tersebut seperti tidak ada habisnya disampaikan oleh sang pemeran utama. Dalam perjalanannya penonton seperti dihadapkan pada masalah Glo, langkah apa yang sebenarnya mau diikuti Glo? Apakah ia akan mengikuti idealismenya untuk mencari seribu satu cara demi mewujudkan filmnya, atau berbalik menjadi anak Batak yang berbakti demi ketenangan hidup dan mati Mak Gondut? Sayangnya, masalah Glo sebagai kisah utama dalam film ini terkesan berputar-putar tanpa penyelesaian masalah yang terarah.

Tak Jelas Arah

Nampaknya, curhatan utama sang penulis dan sutradara tergambar dalam masalah ketidakbisaan Glo membuat film akibat minimnya dana dan dukungan orang terdekat. Sang sutradara Demi Ucok nampaknya mengalami hal yang sama. Tidak hilang akal, berbagai cara dilakukan termasuk mencoba merekrut 10.000 calon co-producer yang mau menyumbang uang senilai Rp 100.000, dengan timbal balik namanya akan terpampang di poster film dan merchandise yang dibuat khusus untuk film ini. Hal tersebut tidak hanya disampaikan langsung oleh Sammaria kepada penonton. Dalam film pun Glo mencoba cara yang sama demi terwujudnya film impiannya.

Masalah yang diungkapkan dalam film cenderung berkisar di situ-situ saja, tanpa ada arah yang jelas, tanpa ada prioritas mana yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Tokoh-tokoh pendukung yang meramaikan kehidupan Glo pun tidak terlalu berdampak signifikan bagi penyelesaian masalah Glo. Misalnya saja, A Cun (Sunny Soon) di awal berkali-kali ditampilkan sebagai orang terdekat Glo. Makin ke tengah dan akhir film, A Cun justru mengalami malfungsi. Seolah menjadi pemanis saja, A Cun tampil sesekali tanpa maksud dan peran yang jelas dalam hidup Glo.

Berbeda lagi dengan Nikki, ia terlihat menjadi sidekick Glo yang sesekali mendorong semangat Glo, walau sesekali melakukan konfrontasi terhadap tindakan Glo. Sebagai karakter yang digambarkan begitu keras, Glo seolah membutuhkan tokoh lain yang membuatnya menampilkan sisi halus, dan bisa mengungkapkan apa keinginannya lebih dari sekadar memaksakan ambisi semunya. Tokoh Nikki ini pulalah yang cukup kuat tampil sebagai pemeran pembantu dibandingkan tokoh A Cun.

Beberapa bagian dari Demi Ucok sebenarnya bisa dimaksimalkan lewat minimalisir adegan dan juga dialog-dialog pemainnya. Misalnya saja, beberapa kali digambarkan Mak Gondut masuk-keluar rumah sakit. Saat pertama kali begitu terasa dramatis dan mengena bagi Glo, namun lama-kelamaan tidak terasa jelas tujuan sebenarnya adegan tersebut ditampilkan berkali-kali.

Sebaliknya, beberapa adegan yang indah dan bisa dinikmati secara perlahan justru ditampilkan hanya sekelebat saja, seperti percakapan Glo dengan sang ayah lewat pusaranya. Adegan tersebut bisa menjadi bagian yang menyentuh di tengah adegan-adegan komedi yang diciptakan Glo dengan sang ibu. Entah apakah ada alasan teknis yang membuat adegan tersebut dan beberapa adegan lain terasa kasar terpotong sehingga berkurang rasa ke dalam adegan-adegan selanjutnya.

Secara keseluruhan, Demi Ucok mencoba menampilkan curhat seorang perempuan di tengah mimpinya, dan juga ambisi orangtua yang kadang menghimpit jati diri serta kebebasan untuk berekspresi. Hubungan anak perempuan dan ibunya dijadikan sebuah latar belakang yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan kedua belah pihak. Nyatanya, yang tampil di layar justru sebaliknya. Sang ibu menjadi aktor utama dalam kehidupan sang anak dan secara tidak sadar anak dijadikan boneka sebagai perpanjangan tangan ambisi ibunya sendiri. Banyaknya mimpi dan pesan yang berusaha disampaikan kadang tidak membuat penonton mencerna dengan seksama. Sebaliknya, malah membuat penonton merasa dicecoki sesuatu yang berlebihan dan kemudian justru kehilangan esensinya.

Demi Ucok | 2011 | Sutradara: Sammaria Simanjuntak | Negara: Indonesia | Pemain: Geraldine Sianturi, Lina Marpaung, Sunny Soon, Saira Jeihan

Also featured on cinemapoetica.com

2 comments:

Tata Surya said...

satu koreksi dunk.. "Mak Gondut pun berceletuk, “Lho, kau Batak? Kok cantik?” ">>> yg ngomong gitu bukan Mak Gondut, tapi tantenya Glo.. ^^

Gayatri Nadya said...

Ah, iya ya? Makasih koreksinya Tata :)