Monday, January 02, 2012

Film Berkesan, Lebih dari Sekadar Terbaik dan Terburuk di 2011

Memilih film terbaik atau terburuk nampaknya agak kurang adil, mengingat belum semua film saya tonton tahun ini. Banyak juga film yang kabarnya bagus namun ada keinginan untuk menikmatinya di layar lebar agar lebih terasa sensasinya. Selama satu tahun munculnya ratusan film yang menarik ditonton, berikut sederet film yang cukup mengena bagi saya secara pribadi.

A Separation

Tema keluarga dengan latar sederhana merupakan salah satu tema favorit saya dalam film. Kadang hasilnya lebih menimbulkan efek yang tidak biasa. Film karya Ashgar Farhadi bercerita tentang sepasang suami istri yang memutuskan berpisah karena Nader, sang suami menolak ikut istrinya pindah ke luar negeri karena Nader harus mengurus ayahnya yang mengidap alzheimer. Menyuguhkan konflik keluarga yang terasa akrab di hampir semua orang termasuk keinginan perempuan yang mau diperjuangkan ketika laki-laki berjuang sendiri untuk demi label seorang kepala keluarga. Memisahkan berbagai macam masalah yang ada dengan logika dan perasaan cinta memang bukan hal mudah. A Separation mencoba mengaduk-aduk dua unsur tersebut sepanjang menonton film ini.

Shelter

Berawal dari kicauan beberapa orang di linimasa twitter, diketahui kalau film ini merupakan salah satu film yang masuk dalam festival bergengsi Berlinale Film Festival. Film pendek berdurasi lebih kurang 15 menit ini berlatar sangat sederhana, perjalanan sebuah bus di malam hari. Kesederhanaan film ini tercipta dari minimnya dialog dan latar yang perlahan-lahan menggugah imajinasi penonton untuk menerka-nerka, sebenarnya kisah apa yang sedang berjalan?

FISFIC : Rumah Babi

Salah satu segmen di FISFIC inilah yang paling menempel di hati dibanding lima film lainnya. Kisah tentang pembantaian sekeluarga etnis China menjadi pusat dari film ini. Unsur mistik, reliji, adat berpadu jadi satu menciptakan kisah misteri lewat akting pemeran utama yang cukup maksimal. Ada sedikit twist yang terpikir saat menonton film ini, apakah ini film hantu atau slasher? Isu yang ditampilkan juga termasuk isu favorit saya, berhubungan dengan etnis China. Film ini juga banyak mengangkat unsur-unsur semiotik yang berkaitan kuat dengan isu pembataian etnis China yang marak terjadi pra reformasi.

Hobo With A Shotgun

Film slasher atau horor bukanlah genre favorit saya, tetapi di salah satu festival film tahun ini, INAFFF 2011 nampaknya saya sudah cukup tahan dengan berbagai adegan sadis atau munculnya mahluk-mahluk ajaib dalam film-film yang disuguhkan. Salah satu yang begitu sadis tapi bisa dinikmati adalah film ini. Film yang awalnya merupakan pemenang kontes fake trailer dari House of Terror & Grindhouse ini, menampilkan seorang Hobo yang berusaha menjadi pahlawan dengan shotgunnya melawan hierarki di sebuah kota yang tak mengenal perikemanusiaan. Bagi saya, film ini lebih dari sekadar film slasher, banyak simbol yang menyindir situasi politik yang banyak mengekang sebuah kelompok masyarakat. Warna yang ditampilkan dan juga wardrobenya mengingatkan saya dengan kejayaan band Pet Shop Boys.

Drive


Waktu mewawancarai sutradara The Raid, Gareth Evans, ia berpesan untuk segera menonton salah satu film terbaik tahun ini, Drive. Beberapa bulan kemudian saya dibuat ternganga dengan akting Ryan Gosling yang dingin di tengah film yang beralur lambat tetapi menyayat hati di film ini. Tanpa banyak bicara dan penuh adegan gory yang berturut-turut, Drive memberikan sensasi tersendiri bagi penonton untuk menunggu apa yang dialami Gosling di film ini dengan dada berdebar-debar. Salah satu unsur yang juga mendapat perhatian adalah scoring yang mencoba membawa penonton kembali ke sepuluh sampai dua puluh tahun ke belakang.

Tree of Life


Pemenang Golden Palm Cannes Festival 2011 ini hanya diputar beberapa layar saja di Jakarta. Pengalaman menonton film Sean Penn, Brad Pitt dan Jessica Chastain ini terasa begitu personal bagi setiap orang lewat sinematografi dan potongan-potongan dialognya. Beberapa menganggap film ini sangat relijius, bagi saya film ini merefleksikan hubungan manusia dengan semesta yang tidak bisa diduga dan digambarkan. Efeknya yang begitu berbeda tiap satu adegan yang terkesan acak, membebaskan penonton menilai sendiri bagaimana rasanya. Satu yang pasti, Terrence Malick membuat 139 menit film ini terasa indah!


Killer Elite

Satu genre yang juga bukan favorit saya adalah film laga. Lewat film ini, pertama kalinya sebuah film laga bisa terasa keindahannya. Meskipun plot cerita dan pemainnya tidak terlalu mengena, laga dalam tiap adegannya terasa berharga dan memanfaatkan ruang saat adegan berkelahi atau baku hantam secara maksimal. Setelah film ini, memahami dan menikmati film laga tidak lagi menyebalkan dan monoton bagi saya.

The Raid

Merasa beruntung menjadi satu dari lima ratus penonton eksklusif yang berkesempatan menonton untuk pertama kalinya! Film yang memenangkan People Choice Awards di Midnight Madness Toronto Film Festival begitu dinanti oleh khalayak Indonesia. Lewat adegan laga yang diciptakan khusus oleh Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais, film ini menjadi salah satu penyegar di kala film lokal penuh dengan genre drama atau horor yang menbuatnya kadang dipandang sebelah mata. Tanpa menyisakan ruang bernafas bagi penontonnya, film ini sukses membuat pengalaman menonton film laga yang menyenangkan dan tentu menegangkan plus menghadirkan Ray Sahetapy sebagai jawara sepanjang film.
Review The Raid di sini


Rise of The Planet of The Apes

Yes, it’s James Franco that i adored so much in this movie but yet Andy Serkis gave one of his best performances here. Film franchise ini sebelumnya sudah pernah dibuat dengan judul Planet of The Apes, satu versi Charlton Heston tahun 1968 dan Mark Walberg tahun 2001 dengan sentuhan yang berbeda. Lewat film karya Rupert Wyatt ini, tergambar bagaimana evolusi sekawanan primata berjuang untuk berevolusi demi kaumnya sendiri. Film ini juga memberikan efek mengerikan tersendiri terhadap kelompok binatang yang sempat merasakan kenikmatan hidup sebagai manusia lalu kemudian merasa terbuang.
Review Rise of The PLanet of The Apes di

Garuda di Dadaku 2

Film ini merupakan film Indonesia pamungkas yang ditonton di penghujung tahun. Film sekuel Garuda Di Dadaku menampilkan permasalahan baru Bayu (Emir Mahira) yang mulai menjejakkan kaki di lapangan hijau sebagai kapten timnas junior dan juga di dunia yang lebih dewasa. Lewat berbagai masalah yang dihadapi Bayu, Rudi Soedjarwo memberikan formula lamanya ketika menggodok Ada Apa dengan Cinta yang menjadikan penyelesaiannya sebuah film yang memberikan rasa nyaman, kehangatan, dan tepat di sasaran hati para penonton.


Most Anticipated Movies This Year!


Masih banyak deretan film yang ingin saya tonton, terutama di layar besar. Alasan belum ditontonnya film-film berikut, mostly karena film-film tersebut belum (atau tidak) menyambangi bioskop di Jakarta. Walaupun selalu ada versi download, dvd atau streaming, beberapa saya tahan karena masih percaya bisa menontonnya di bioskop. Mungkin ini saatnya menyerah!

Melancholia
Warna dalam trailer film ini begitu menggoda, nampaknya mata bisa terhibur secara maksimal. Meski banyak yang mengomentari film ini secara negartif, keinginan menikmati film ini di layar besar masih sangat besar, mungkinkah?


The Ides of March


Setelah Drive dan Crazy, Stupid, Love, rasanya akan lengkap menikmati akting Gosling di film ini sebagai penutup. Nampaknya, Gosling menjadi idola baru bagi saya tahun depan setelah selama setahun ini begitu tergila-gila dengan James Franco.

One Day

Komentar buruk mengiringi penampilan Anne Hathaway dan Jim Sturgess di film ini. Kabarnya, Hathaway gagal menampilkan aksen Inggris mengimbangi Sturgess yang memang terlahir dengan aksesn Inggrisnya. Nevermind, saya masih mau nonton film ini.

127 Hours


Pengakuan dosa terbesar, sebagai penggemar Franco saya belum menonton film yang membuatnya masuk ke dalam nominasi Oscar awal tahun ini. Sensasi film yang sudah saya tunggu hancur berantakan ketika gagal menontonnya di pertunjukan midnight dan hilang di peredaran karena kasus pajak film impor. Sekarang sungguh sangat terlambat mau menontonnya di layar televisi yang kecil!

2 comments:

timo said...

senang sekali melihat Drive ada di daftar ini. gue sangat sangat mendukung film ini meraih penghargaan sebanyak-banyaknya di awards season tahun ini! :D

Gayatri Nadya said...

Pastinya! Drive terlalu brutally beautiful buat dilewatkan tapi kok gue ga berharap banyak ya? Saingannya lumayan sih menurut gue untuk beberapa segmen